Tag Archives: Taman Impian Jaya Ancol

Kolom Blog Adhi Ksp: Menikmati Liburan (2) Ancol Masih Favorit bagi Wisatawan Nusantara

Kolom Blog Adhi Ksp

Menikmati Liburan (2)

Ancol Masih Favorit bagi Wisatawan Nusantara

ANCOL. Kami menikmati suasana Ancol pada awal pekan ini dan memilih menginap di Hotel Mercure Convention Center Ancol (dulu Hotel Horison).

Hotel yang dikelola Accor Hospitality ini ternyata penuh oleh mereka yang sedang berlibur. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Baik yang akan check-in maupun yang sedang mengurus check-out, antre panjang.

Kami memesan kamar yang menghadap pemandangan ke laut, dengan balkon di luar. Di kamar itu terdapat dua tempat tidur yang lebar plus satu sofa. Sejak dikelola Accor, hotel ini dipermak dan dipercantik. Saya memang memanfaatkan kartu keanggotaan Accor Advantage Plus, yang saya beli awal tahun ini. Bagi mereka yang suka plesiran dan hobi makan, kartu ini salah satu “jalan” yang tepat.

Kereta gantung (cable car) “Gondola” tampak dari kamar tempat kami menginap. Rupanya “Gondola” salah satu favorit pengunjung Ancol, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Keluarga yang bersama kami di satu kabin, ternyata berasal dari Surabaya. Setiap orang yang naik kereta gantung ini dikenakan biaya Rp 35.000. Dari atas, kami dapat melihat suasana Ancol, termasuk suasana pantai umum yang airnya berwarna kecoklatan.

Selain kereta gantung, Ancol punya Sea World Indonesia, yang dikembangkan Grup Lippo (keluarga Riady). Beragam ikan dari perairan Indonesia, dapat disaksikan di sini, termasuk ikan perairan laut dalam. Atraksi “memberi makan ikan” yang dapat disaksikan dari akuarium raksasa, menjadi menarik. Aneka hewan laut tampak mendekat saat waktu pemberian makan tiba. Hewan-hewan laut ini dapat pula dilihat dari terowongan transparan.

Anak-anak terpukau menyaksikan “anak-anak buaya” tidur-tiduran, termasuk “buaya putih”. Ikan duyung yang sering digambarkan sebagai “putri duyung” ternyata wajahnya ya wajah ikan. Hanya saja bentuk tubuh bawahnya, memang aduhai, mirip lekukan tubuh perempuan. Pengunjung Sea World Indonesia juga terpukau melihat ikan-ikan hiu berkeliaran dalam akuarium khusus. Juga menyaksikan ratusan ikan piranha menghabisi ikan lainnya dalam sekejab.


Semasa liburan ini, pengunjung Sea World rata-rata 10.000 orang dalam sehari. Tarif masuk Rp 50.000 per orang. Biaya masuk lebih murah untuk kakek atau nenek (lansia). Tapi pada hari-hari biasa, bukan masa liburan, jumlah pengunjung berkisar antara 1.000 dan 3.000-an.
Dunia Fantasi atau Dufan, tetap unggulan Ancol. Selain itu ada juga Gelanggang Samudra dan Gelanggang Renang Atlantis.
Ancol harus bekerja keras agar Atlantis tetap memikat karena kini bermunculan permainan air serupa seperti Ocean Park Water Adventure di BSD City (Tangerang), The Jungle (Bogor), Water Boom Lippo Cikarang (Bekasi), Water Boom Pantai Indah Kapuk (Jakarta). Juga ada permainan serupa dalam skala kecil di sejumlah perumahan.

Atraksi Police Academy akan berlangsung hingga Agustus 2008 mendatang, juga menarik pengunjung. Grup stuntman dan stuntwoman yang baru saja selesai syuting film James Bond terbaru itu, berasal dari Italia.

Selain menawarkan aneka ragam permainan dan pertunjukan, Ancol juga memiliki resto-resto berkelas yang lokasinya di tepi laut. Bandar Djakarta, restoran seafood, yang tak pernah sepi. Backstage yang lebih cocok untuk anak muda yang menikmati “hang out”, Segarra dengan sofa di tepi pantai, ataupun Jimbaran bernuansa Bali. Pengunjung resto-resto ini tetap dapat menikmati suasana deburan ombak tepi pantai. Kami memilih Jimbaran dengan suasana Bali, sebagai tempat makan malam.

Pekan sebelumnya, saya sempat bertemu dengan Direktur Utama PT Jaya Ancol Budi Karya Sumadi saat pembukaan Jakarta Great Sale di Pacific Place. Pak Budi cerita bahwa target Ancol dalam masa liburan awal Juni hingga pertengahan Juli ini adalah dua juta pengunjung. Saya kira target itu terpenuhi. Ancol memang lautan manusia selama masa liburan ini. Bahkan saat makan pagi di Hotel Mercure Ancol pun, karyawan hotel kewalahan. Tamu hotel yang datang menjelang waktu makan pagi selesai, sulit menemukan gelas, piring dan sejenisnya karena kehabisan!


Saat menikmati liburan di Ancol, saya melihat wajah-wajah gembira ada di mana-mana. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Ancol masih memikat bagi wisatawan Nusantara, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Serpong, 12 Juli 2008

FOTO-foto di blog ini dari ATAS ke BAWAH (1) Suasana di Gelanggang Renang Atlantis Ancol (2) Kereta Gantung “Gondola” Ancol (3) Hotel Mercure Convention Center Ancol (4) Pantai Ancol yang makin habis (5) Suasana penyelam memberi makan makan ikan di Sea World Indonesia – Ancol (6) Suasana di Teluk Jakarta – Ancol. FOTO-FOTO oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS Daily

Iklan

Ancol dan BNI Luncurkan Atraksi "Police Academy"

Pengantar
Bagi Anda yang ingin mengisi liburan panjang, silakan datang ke Ancol. Ada atraksi baru dari Italia. Tiga pemainnya menjadi pemain “stunt” film terbaru James Bond yang disyuting di Roma, Italia. Keren kan?
Saya berkesempatan berfoto bersama sejumlah pemain “stunt” Police Academy usai “show” di Ancol, Senin (19/5) malam. (Thanks to Mbak Metty, Manajer Promosi TIJA yang mengabadikan foto di sebelah kanan ini).

KOMPAS
Senin, 19 Mei 2008
Halaman 25 Metropolitan

Ancol dan BNI Luncurkan Atraksi “Police Academy”

JAKARTA, KOMPAS – Sebuah atraksi rekreasi baru bernama ”Police Academy” diluncurkan oleh Taman Impian Jaya Ancol yang bekerja sama dengan BNI, Minggu (18/5).

”Police Academy” merupakan atraksi spektakuler berkonsep stunt show dari Italia, digelar di Pantai Karnaval selama tiga bulan, hingga 20 Agustus.
Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi dan Direktur Consumer BNI Darwin Suzandi mengungkapkan hal ini kepada pers saat meluncurkan atraksi ”Police Academy” di Kafe Segarra, kawasan Ancol, Jakarta Utara, Minggu kemarin.

Direktur pertunjukan ”Police Academy”, Danilo Zaccaria, mengungkapkan, grup stunt ini terdiri dari 30 personel, semuanya berasal dari Italia. ”Kami baru saja syuting film terbaru James Bond,” kata Danilo.

Budi Karya mengatakan, ”Police Academy” merupakan nilai tambah bagi pengunjung Ancol, terutama pada masa liburan panjang Juni-Agustus mendatang.
Investasi bisnis pertunjukan ”Police Academy” ini mencapai Rp 14 miliar, sebagian besar ditanggung Bank BNI. Menurut Darwin, Bank BNI mendapat hak promo dan atraksi ini menjadi nilai tambah bagi nasabah bank itu. Jumlah pengunjung ditargetkan 1,5 juta selama tiga bulan.


Budi menjelaskan, sekolah-sekolah di daerah sudah mendaftarkan diri menyaksikan atraksi ini dan jumlahnya 500.000-an orang. Budi optimistis target 1,5 juta pengunjung tercapai.

Wakil Direktur Rekreasi PT Pembangunan Jaya Ancol Teuku Sahir menambahkan bahwa lokasi atraksi itu seluas 1 hektar, berkapasitas 4.000 orang. Selama musim liburan, pertunjukan digelar 4-6 kali sehari, dengan harga tiket bervariasi, Rp 40.000- Rp 100.000 per orang. (KSP)


FOTO di blog ini, foto atas oleh Metty J Harahap (Manajer Promosi TIJA) dan foto bawah adegan stunt Academy Police di Ancol oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Kolom Blog Adhi Ksp: Taman Impian Jaya Ancol, "Disneyland" Indonesia di Jakarta

Kolom Blog Adhi Ksp

Taman Impian Jaya Ancol, “Disneyland” Indonesia di Jakarta

ANCOL. Bekas rawa-rawa di Jakarta Utara ini kini disulap menjadi taman rekreasi keluarga dengan luas 552 hektar, paling luas di kawasan Asia.

Setiap akhir pekan dan hari libur nasional, Ancol selalu ramai dikunjungi baik oleh warga Jakarta dan Bodetabek maupun dari luar kota. Aneka permainan rekreasi dan edukasi untuk keluarga, dapat dinikmati di sini.

Dilihat dari aneka permainan yang tersedia, Taman Impian Jaya Ancol (selanjutnya disebut Ancol) dapat dikategorikan sebagai Disneyland. Bedanya, Ancol yang menamakan diri sebagai Jakarta Baycity ini tidak memiliki ikon tokoh-tokoh Disneyland. Tapi punya ikon khusus seperti misalnya Dufan dan Dufi yang sering menyapa anak-anak yang mengunjungi kawasan Dunia Fantasi.

Di Ancol, pengunjung dapat menikmati Gelanggang Samudra di mana ada atraksi lumba-lumba, singa laut, kuda nil, paus putih, yang pandai berhitung dan melakukan aksi sesuai perintah pelatih. Ada juga Gelanggang Renang Atlantis yang masih terbesar di Asia Tenggara (meskipun mulai ada saingan seperti misalnya Ocean Park Water Adventure di BSD City, Serpong, Tangerang).

Selain itu, primadona Ancol adalah Dunia Fantasi. Aneka permainan yang memacu adrenaline membuat pengunjung Ancol memiliki kenangan tak terlupakan. Salah satu yang terbaru adalah permainan Tornado, di mana pengunjung dikocok-kocok, dibolak-balik. Istana Boneka dan Balada Kera sejak dulu menjadi primadona anak-anak. Pengunjung dapat pula menikmati pemandangan dari udara melalui Gondola.

Menurut Corporate Communication Manager PT Pembangunan Jaya Ancol Sofia Cakti, tahun ini juga Ancol akan menambah wahana baru yaitu Police Academy di mana terdapat adegan stuntman yang mendebarkan. Informasi selanjutnya dapat diklik di http://www.ancol.com/.
Selain itu, datang ke Ancol bukan hanya sekadar menikmati permainan rekreasi keluarga. Di sini terdapat restoran berkelas yang sangat ramai dikunjungi mulai dari Bandar Djakarta (restoran seafood), Backstage, Segara (kafe dan restoran western, internasional) dan Jimbaran (khas Bali).
Kita juga dapat menginap di Putri Duyung Cottage, resor di tepi pantai Ancol. Harga per malam berkisar Rp 1 jutaan, termasuk sarapan pagi. Kita dapat menikmati fasilitas bersepeda di kawasan nan hijau, naik sepeda air dan beberapa lainnya.
Mereka yang datang ke Ancol juga dapat menikmati bermain golf karena di sini tersedia lapangan golf. Jadi memang semuanya lengkap. Ancol betul-betul pusat rekreasi keluarga.

Tahun 2007, Ancol meraup pendapatan Rp 500 miliar dari 13 juta pengunjung dan pendapatan makanan dan pintu masuk. Tahun 2008 ini, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi menargetkan jumlah pengunjung bertambah menjadi 14 juta pengunjung. Budi yang juga alumnus SMA Xaverius I Palembang ini, mengatakan pada tahun 2008 ini Ancol memperhatikan wisatawan mancanegara.

Berita tentang rencana Ancol membidik wisman negara jiran ini, dimuat di Kompas Senin 5 Mei 2008, halaman Metropolitan
PARIWISATA

JAKARTA, KOMPAS – Pusat Rekreasi Taman Impian Jaya Ancol atau TIJA tahun 2008 ini membidik wisatawan mancanegara dari kawasan Asia Tenggara. Target wisman yang dibidik sebesar 3 persen dari total target pengunjung TIJA sebanyak 14 juta orang.

Demikian dikatakan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya S, Minggu (4/5) siang, di sela-sela peluncuran Rumah Pintar di Gelanggang Samudra Ancol, Jakarta Utara. Acara itu juga dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal.
Pihaknya kini tengah mempresentasikan keunggulan pusat rekreasi keluarga ke mitra usaha wisata di Malaysia dan Singapura. Di sisi lain, manajemen mengundang wartawan negeri jiran berkunjung ke Ancol.
”Kami juga agresif menarik mereka datang ke Ancol dengan menawarkan berbagai paket murah ke wisatawan mancanegara. Paket itu mulai dari kunjungan ke berbagai pusat wisata di Ancol, bermain golf, serta wisata kuliner. Bahkan untuk membuat lebih menarik, kita gabungkan juga wisata belanja di pusat perbelanjaan di Jakarta,” kata Budi.
Tahun 2007, Ancol dikunjungi 13 juta orang dengan pendapatan Rp 500 miliar. Tahun ini Ancol menargetkan 14 juta pengunjung. Pihaknya selama ini belum serius menggarap wisatawan asing.
Saat ini, Ancol mengembangkan wisata budaya di Pasar Seni setiap Sabtu malam dan Minggu malam. ”Di sana digelar aneka tarian tradisional dari berbagai wilayah di Indonesia. Ke depan, kami akan mengemasnya dengan acara dinner. Dengan demikian, wisatawan asing dapat makan malam sambil menikmati aneka budaya Indonesia di Pasar Seni,” ujar Budi.
Rumah pintar
Di tempat yang sama, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meresmikan wahana baru yang diberi nama Rumah Pintar di Gelanggang Samudra Ancol. Di rumah berkapasitas 50 orang yang dibuka pukul 09.00-16.00 itu, pengunjung dapat menikmati cerita dengan beragam tema tentang dunia laut. Pada jam tertentu ada permainan edukasi dan pemutaran film dokumenter.
Rumah Pintar ini kerja sama dengan Solidaritas Istri Kabinet Bersatu yang dipimpin Ny Murniati Widodo AS. ”Rumah Pintar ini sarana mengajak anak untuk tidak hanya berekreasi, tetapi juga edukasi,” kata Fauzi. (KSP)

Jakarta Juga Berambisi Menjadi Kota Budaya

KOMPAS

Minggu, 29 Jun 1997

Halaman: 4

Penulis: KSP

JAKARTA JUGA BERAMBISI MENJADI KOTA BUDAYA

JAKARTA kini berambisi menjadi kota budaya, selain diarahkan
menjadi kota jasa, perdagangan dan wisata. Keinginan ini diungkapkan
Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja belum lama ini. Mampukah
Jakarta dengan segala hiruk-pikuk metropolitan dan “hutan beton”-nya,
menjadi sebuah kota budaya?

Tak dapat dibantah, kegiatan seni dan budaya merupakan salah satu
urat nadi sebuah kota budaya. Jakarta tampaknya tak ingin sekadar men-
jadi kota jasa dan perdagangan, di mana warganya hanya sibuk dengan
urusan bisnis belaka. Jakarta juga butuh “darah” untuk menghidupkan
aktivitas warga kota.

Mengacu pada kota-kota di mancanegara, kegiatan seni dan budaya
menjadi salah satu prioritas kegiatan untuk menghidupkan kota, memberi
jiwa bagi warganya, sekaligus menggaet wisatawan. Melalui kegiatan
seni dan budaya, hubungan antarkota dan negara pun makin mesra, karena
kesenian dan kebudayaan mampu menembus segala kendala yang ada dalam
dunia politik dan diplomatik.

Lagi pula, apalah arti kehidupan ini tanpa kegiatan seni dan budaya?
Sebuah kota di mana warganya hanya sibuk memikirkan bisnis, adalah
kota yang tidak memiliki jiwa, kota yang “kering”. Dan Jakarta tak
ingin menjadi seperti itu.

Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta memiliki potensi bagi pengembangan
kegiatan seni dan budaya. Jakarta memiliki Institut Kesenian Jakarta
(IKJ) yang melahirkan banyak seniman terkenal yang mampu melahirkan
kreativitas seni yang menarik untuk ditonton.

“Kalau dikemas dengan menarik, tentunya atraksi seni dan budaya itu
akan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk datang
ke Jakarta,” kata Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Ir Fauzi Bowo
kepada Kompas, Kamis (26/6) malam.

Kehadiran Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dibangun Gubernur DKI
Jakarta Ali Sadikin, dan kini dalam tahap pemugaran, diharapkan mampu
menjadi pusat kesenian terbesar di Jakarta.

Kini di Jakarta ada sekitar 3.000 sanggar seni dan budaya yang
dikelola swasta atau pribadi, serta kegiatan lain di gelanggang-
gelanggang remaja di kotamadya. Dari seni tari, seni rupa, seni teater,
seni musik, sampai seni dalang.

“Sejumlah sanggar seni disiapkan untuk menyelenggarakan kursus,
penataran, workshop guna meningkatkan kualitas seniman kita,” kata
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Drs Azhari Baedlawie.

Azhari yakin Jakarta akan menjadi kota budaya, meski masih merupakan
proses. Dia optimis, antara lain karena selama ini Gubernur DKI Jakarta
Surjadi Soedirdja sangat serius memfokuskan pembinaan seni dan budaya di
Ibu Kota. Misalnya dengan membangun Teater Besar di TIM yang nantinya
akan berstandar internasional, serta pusat-pusat kesenian di lima
wilayah kotamadya. Juga memfungsikan kembali gelanggang remaja tidak
hanya untuk kegiatan olahraga dan pendidikan, tapi juga untuk kegiatan
seni dan budaya.

Selain itu, menurut Azhari, hampir dalam setiap event yang
diselenggarakan berbagai instansi pemerintah dan swasta, selalu
dimunculkan atraksi seni dan budaya. Bahkan kini hampir di setiap
hotel, apakah hotel melati atau hotel berbintang di Jakarta, atraksi
seni dan budaya menjadi salah satu primadona.

Hotel Indonesia yang berlokasi di jantung Ibu Kota, menyajikan
atraksi tari-tarian daerah dari 27 propinsi. Atraksi itu diadakan di
Restoran “Nusantara”, di lantai VIII hotel tertua di Jakarta itu.

Menurut Henny Puspitasari, Humas Hotel Indonesia, atraksi tarian
itu diadakan setiap malam (kecuali Minggu malam), dan mampu mengundang
wisatawan mancanegara, yang selain ingin bersantap malam, juga ingin
menikmati atraksi tari-tarian. Selain itu di lobi Hotel Indonesia, ada
degung Sunda, bumbung Bali dan gamelan Jawa.

Bukan itu saja. Di Terminal Lebakbulus dan di Stasiun KA Kota,
ungkap Azhari, pertunjukan seni seperti Lenong dan Tanjidor akan
dihidupkan kembali dan digelar dalam kesempatan-kesempatan tertentu
agar dapat dinikmati masyarakat. Itu hanya contoh bagaimana Pemda DKI
berusaha menghidupkan seni dan budaya di Ibu Kota.

Grup-grup kesenian Betawi ini dimanfaatkan Dinas Kebudayaan DKI
Jakarta untuk mengisi berbagai acara Gubernur DKI. Di antara grup
kesenian tradisional ini, kata Azhari, masih ada 35 grup Tanjidor dan
25 grup Ondel-ondel. Pembinaan Pemda DKI terhadap grup-grup kesenian
Betawi ini diwujudkan dengan memberi bantuan alat-alat kesenian oleh
Gubernur DKI, dan subsidi untuk kegiatan mereka.

Untuk meningkatkan kualitas, grup-grup kesenian itu mengadakan
perlombaan antarmereka sendiri. Selain itu, lomba juga untuk menjaga
agar kesenian Betawi tidak punah, bahkan makin dapat berkembang.

Untuk skala nasional, berbagai pertunjukan seni dan budaya dari 27
propinsi di Indonesia selalu dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), Pasar Seni di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), atau Gedung
Kesenian Jakarta (GKJ).

Faalah K. Djafar, Kepala Humas Taman Impian Jaya Ancol (TIJA)
menjelaskan, setiap Sabtu malam, kesenian daerah dari berbagai
propinsi digelar di panggung Pasar Seni secara bergantian. TIJA juga
selalu memberi kesempatan Dinas Kebudayaan masing-masing propinsi
untuk menampilkan kesenian andalannya di Pasar Seni. TIJA juga bekerja
sama dengan beberapa sanggar seni yang ada di Jakarta, untuk memberi
mereka kesempatan mengembangkan apresiasi seni dan budaya.

TMII secara periodik menampilkan atraksi seni dan budaya dari 27
propinsi, diselenggarakan di tiap anjungan. GKJ dengan bangunan yang
sudah dipoles, selalu menampilkan berbagai pertunjukan kesenian dan
kebudayaan. Sedangkan Taman Ria Senayan yang segera dibuka resmi akhir
tahun 1997, akan menyajikan pertunjukan seni dan budaya Indonesia dari
27 propinsi secara bergiliran. “Misalnya Reog Ponorogo, Debus,
Keroncong Night, Tari Bali dan sebagainya,” kata Monika Irayati, Humas
Taman Ria Senayan.

Jakarta yang kini dirambah berbagai atraksi modern, juga masih
menyisakan gedung kesenian tradisional seperti Wayang Orang Bharata
dan Miss Tjitjih (yang hangus terbakar beberapa waktu lalu), meski
kondisinya memprihatinkan.

Untuk skala internasional, sejak delapan tahun terakhir ini, Pemda
DKI Jakarta bersama Yayasan Promosi Jakarta (dikenal dengan nama
Jakprom) dan Garuda Indonesia menyelenggarakan “pesta budaya” dengan
nama Jakfest (Jakarta International Festival). Jakfest diikuti berbagai
peserta dari luar negeri yang menampilkan berbagai pertunjukan seni
dan budaya, selain menampilkan kesenian Indonesia sendiri. (Baca:
Jakfest, “Gado-gado” Pesta Budaya Jakarta)
***

NAMUN untuk menjadi sebuah kota budaya, tentu tak cukup hanya
dengan menghidupkan pertunjukan seni dan budaya. Wakil Gubernur DKI
Jakarta bidang Ekonomi Pembangunan Ir Tubagus Muhammad Rais dalam
percakapan dengan Kompas menegaskan, Jakarta juga membutuhkan sentuhan budaya melalui pembangunan fisik.

Lampu-lampu penerangan jalan dengan sentuhan artistik, kini sudah
dapat dilihat. Bukan lagi sekadar tiang listrik konvensional, tapi
sudah cukup nyeni. Demikian pula lampu-lampu taman yang dipasang di
Taman Medan Merdeka di Silang Monas, taman di halaman depan Balai Kota
DKI Jakarta, serta di berbagai lokasi lainnya.

Selain itu, Jakarta juga membutuhkan hasil karya seni seperti
patung yang dibangun di berbagai sudut kota, untuk mempercantik wajah
kota dan mengimbanginya dari gedung-gedung bertingkat yang jumlahnya
makin banyak. Penampilan secara fisik karya-karya seni sudah waktunya
menghiasi sudut-sudut kota Jakarta, sehingga mampu menjadi furniture
Jakarta.

Peninggalan budaya seperti museum dengan bangunan berusia tua di
Jakarta, yang meski tidak banyak jumlahnya, sebenarnya merupakan aset
yang potensial untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota budaya.
Pemerintah DKI Jakarta sejak tahun ini berencana memperbaiki wajah
museum agar tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda antik.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun kafe dan toko
suvenir di kawasan museum itu. Di berbagai kota di mancanegara, konsep
ini sejak lama diterapkan dan mampu menggaet jutaan wisman ke
museum-museum terkemuka.

Namun, baik Wagub DKI Ir Tb M Rais maupun Kepala Dinas Pariwisata
DKI Ir Fauzi Bowo mengakui, apresiasi sebagian besar masyarakat Jakarta
terhadap pertunjukan seni dan budaya masih sangat kurang. Mereka yang
memiliki apresiasi seni dan budaya, jumlahnya masih terbatas. Seiring
dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, apresiasi seni dan budaya
diharapkan juga meningkat. (adhi ksp)

FOTO ilustrasi Gedung Kesenian Jakarta diambil dari

KOMPAS
Jumat, 23 Aug 1996
Halaman: 18
Penulis: KSP

Pesta Teluk Jakarta
MENCOBA MENGGAIRAHKAN WISATA BAHARI?

Nenek moyangku orang pelaut,
Gemar mengarung luas samudera,
Menerjang ombak tiada takut,
Menembus badai sudah biasa…

LAGU yang didendangkan pada masa kanak-kanak itu menunjukkan
betapa sebenarnya pada masa lampau bangsa Indonesia berjaya di bidang
bahari dan kelautan. Tapi apakah kejayaan itu akan tinggal kenangan ?

“Bisa terjadi demikian, karena anak-anak muda kita kurang mengenal
laut dan belum cinta bahari. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bisa
jadi hanya nenek moyang saja yang cinta laut. Padahal wilayah
Indonesia 70-80 persen merupakan laut,” kata Djafar Tirtosentono,
Ketua Perwita Pusri (Perhim-punan Wisata Kepulauan Seribu), asosiasi
pengusaha resor dan pulau di gugusan Kepulauan Seribu.

Djafar betul. Kota Jakarta sebetulnya kaya dengan potensi wisata
bahari. Pulau-pulau di gugusan Kepulauan Seribu, Pelabuhan Sunda
Kelapa hingga Taman Impian Jaya Ancol yang penuh sejuta pesona. Namun
kesan utama yang terjadi selama ini, wisata bahari hanya untuk
orang-orang berduit. Olahraga jetski, menyelam, berlibur ke pulau.
Semuanya membutuhkan biaya yang relatif mahal.

Pergi ke pantai ? Di Jakarta, untuk masuk Taman Impian Jaya Ancol,
masyarakat tetap harus membayar tiket masuk. Jadi pergi ke pantai pun
tetap membutuhkan biaya. Sehingga wajar saja kalau akhirnya
pengembangan wisata bahari di Jakarta be-lum mampu menyentuh semua
lapis-an masyarakat.

“Itu realitasnya, sasaran wisata bahari selama ini masih pada
masyarakat menengah ke atas. Saya sendiri ikut prihatin. Tapi akan
kita cari solusi bagaimana semua orang suka pada wisata bahari,” kata
Djafar.
***

SOAL mahalnya berwisata bahari, memang sulit dipungkiri. Tapi
bagaimana dengan upaya menjaring wisatawan nusantara dan wisatawan
mancanegara agar berkunjung ke Teluk Jakarta dan menikmati liburan
dengan memanfaatkan fasilitas di sana ? Sejak tahun 1995, Kantor
Wilayah Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Kakanwil
Depparpostel) DKI Ja-karta menyelenggarakan event pariwisata yang
dinamakan Pesta Teluk Jakarta.

Mampukah Pesta Teluk Jakarta menggairahkan wisata bahari di
Jakarta ? “Kami sadar betul, itu tak mungkin dilakukan dalam waktu
yang singkat, apalagi dengan dua kali penyelenggaraan Pesta Teluk.
Namun setidaknya kami sudah memperkenalkan dan memberi informasi
kepada khalayak tentang beragam jenis wisata bahari yang dapat
dinikmati,” kata Kakanwil Depparpostel DKI Jakarta, Pudjo Basuki
MBA.

Pudjo memang tidak menargetkan yang muluk-muluk dari pelaksanaan
Pesta Teluk Jakarta. “Setidaknya, penyelenggaraan ini ingin menun-
jukkan bagaimana kita bisa membangun image, citra kepada wisatawan,
bahwa Jakarta juga memiliki pesona wisata bahari,” katanya.
Lokasi yang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan utama Pesta
Teluk Jakarta adalah Pantai Marina Jaya Ancol. Selain itu beberapa
kegiatan dilakukan di sejumlah pulau di kawasan wisata Kepulauan
Seribu dan Pelabuhan Sunda Kalapa.

“Terus terang, kami sebenarnya menumpang pengunjung Ancol. Kami
berharap pengunjung Ancol yang sudah membayar karcis masuk, dapat pula
melihat-lihat pameran di pantai marina, sekaligus menyaksikan berbagai
atraksi yang diadakan, termasuk aneka lomba,” ungkap Pudjo.

Seorang staf pemasaran TIJA juga menargetkan jumlah pengunjung
Ancol naik sekitar 30 persen setelah penyelenggaraan Pesta Teluk
Jakarta diadakan 18 Agustus hingga 25 Agustus 1996 mendatang.
“Wisata bahari memang harus terus dikembangkan agar mampu menjadi
daya tarik wisata unggulan Kota Jakarta,” kata Wakil Gubernur DKI
Jakarta bidang Ekonomi dan Pembangunan, Ir Tubagus Muhammad Rais
ketika membuka Pesta Te-luk Jakarta hari Minggu (18/8) yang lalu.

Promosi wisata bahari tampaknya masih kurang gencar. Banyak
ma-syarakat yang belum mengetahui potensi wisata bahari di Jakarta.
Ambil contoh, informasi berlibur ke pulau-pulau wisata di gugusan
Kepulauan Seribu, masih belum memasyarakat. Tidak sedikit warga Kota
Jakarta dan juga wisatawan yang belum tahu apa saja yang dapat
dinikmati dalam paket wisata bahari.

“Liburan ke pulau ? Ah, mahal,” ucap seorang rekan. Apalagi kalau
tujuannya hanya ke satu pulau. “Karena itulah kami membuat paket
wisata bahari,” kata Djafar Tirto-sentono. “Orang tak hanya pergi ke
satu pulau, tapi bisa ke pulau-pulau lainnya. Ke Pulau Bira Besar
bermain golf, sorenya bisa ke Pulau Pu-tri atau pulau lainnya
beristirahat atau ke diskotek. Biayanya tak lebih dari seratus dollar
AS per orang,” kata Djafar. Kalau dibilang mahal, memang relatif. Bagi
penggemar olahraga air yang berduit, tentu saja liburan ke pulau
dengan harga itu dianggap cukup.

Namun menurut Pudjo Basuki, masyarakat menengah ke bawah pun
sebenarnya bisa menikmati li-buran ke pulau. Caranya ? “Yah, tidak
perlu naik kapal yang ongkosnya mahal. Jangan pilih yang mahal, dong.
Dengan uang sekitar Rp 25.000 atau Rp 30.000 per orang, warga bisa
menikmati wisata bahari, dengan catatan makanan dibawa sendiri. ‘Kan
bisa saja mereka naik kapal yang murah sampai ke Pulau Kelapa. Setelah
itu, dengan menggunakan kapal nelayan, mereka bisa mengunjungi
pulau-pulau terdekat lainnya ,” jelas Pudjo yang membantah wisata
bahari hanya untuk orang-orang berduit.

Mungkin Pudjo benar. Tapi apa yang telah dilakukan oleh Perwita
Pusri, para pengusaha resor dan pulau di Kepulauan Seribu selama ini
terbukti hanya mencari sasaran kalangan kelas menengah ke atas. Dari
lapangan golf, olahraga jetski, menyelam, sampai memancing. Semuanya
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Solusinya, pemerintahlah yang seharusnya mengambil inisiatif,
bagaimana agar wisata bahari digarap untuk semua lapisan masyarakat
sehingga dapat dinikmati semua orang dari semua golongan ekonomi
manapun juga.

Caranya ? “Mungkin bisa diadakan paket tabungan. Adakah bank yang
bisa diajak kerja sama ? Dengan menabung Rp 100/hari misalnya, uang
yang terkumpul dalam satu tahun bisa Rp 36.500, atau dengan menabung
Rp 1.000/hari, uang yang terkumpul Rp 365.000. Dengan tabungan
sejumlah itu, anak-anak atau pelajar dan mahasiswa ataupun pekerja
bisa memilih paket mana yang dituju untuk berliburan dan berwisata.

Tentu saja harus ada biro perjalanan yang menangani,” kata Pudjo
Basuki melontarkan usul bagaimana agar masyarakat khususnya anak-anak
sekolah- dapat berwisata secara terencana.

Itu soal mengajak anak-anak sekolah agar makin mencintai dunia
bahari dengan menawarkan berwisata bahari. Bagaimana pula dengan
mengajak wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara agar mau
menikmati wisata bahari di teluk Jakarta ? Para pengusaha resor,
restoran, pulau yang berkaitan dengan wisata bahari kini mulai
berlomba-lomba menarik wisman agar datang ke tempat mereka.

Kapal pesiar Awani Dream dari Grup Modern diluncurkan setahun
terakhir ini, mengajak wisatawan nusantara dan mancanegara untuk
menikmati paket wisata bahari antara lain ke Kepulauan Seribu.

Pengusaha lainnya menawarkan mereka agar mau berlibur di pulau-pulau
dengan pesona wisata. “Upaya menggaet wisatawan mulai dilakukan
secara serius,” kata Djafar.
***

DALAM bidang pengembangan wisata bahari, Jakarta sebenarnya masih
di atas daerah-daerah lainnya di Indonesia karena Jakarta memiliki
banyak pilihan. Bunaken di Sulawesi Utara memang indah. Tapi keindahan
lautnya masih hanya satu-satunya wisata unggulan di sana.

Sedangkan di Jakarta, orang bosan liburan di pulau, bisa berbelanja
di Mangga Dua atau mal-mal lainnya yang kini mulai bertebaran di
Jakarta dan sekitarnya. Wisatawan juga bisa menikmati pesona Taman
Impian Jaya Ancol dengan Dunia Fantasi dan Seaworld-nya. Juga bisa
datang ke Taman Mini Indonesia Indah. Mereka yang suka sejarah, dapat
mendatangi sejumlah museum. Jadi sekali datang ke Jakarta, wisatawan
bisa mendatangi berbagai lokasi wisata dan menikmatinya.

Pertumbuhan kepariwisataan di DKI Jakarta sekarang ini menunjukkan
peningkatan yang pesat baik kunjungan wisatawan mancanegara maupun
pertumbuhan sarana-prasarana pariwisata. Sebagai gambaran, kunjungan
wisatawan mancanegara pada tahun 1993 berjumlah 1.107.956 orang, pada
tahun 1994 naik menjadi 1.276.660 orang dan pada tahun 1995 naik lagi
menjadi 1.388.980 orang.

Ini berarti rata-rata pertumbuhan wisatawan mancanegara dalam tiga
tahun terakhir ini meningkat sekitar 10 persen. Dalam tahun 2000,
diperkirakan jumlah wisman yang datang ke Jakarta mencapai dua juta
orang bahkan lebih.

Dari jumlah itu, berapakah kontribusi sektor wisata bahari menggaet
wisatawan mancanegara ? “Tak bisa dihitung secara khusus. Namun kami
bertekad pada tahun-tahun mendatang, wisata bahari mampu menjadi salah
satu wisata unggulan bagi Kota Jakarta,” kata Pudjo Basuki. Kita harap
begitu dan mari kita lihat nanti. (adhi ksp)

Teks Foto:
Kompas/ksp
BERPESTA — Ikut menyemarakkan suasana Pesta Teluk Jakarta 1996, anak-
anak menampilkan kesenian daerah. Selain aktraksi seni, pesta juga
menggelar berbagai lomba.