Tag Archives: Pulau Sepa

Kolom Blog Adhi Ksp: Menikmati Liburan (1) Deburan Ombak di Pantai: Kapan Pariwisata Menjadi Unggulan?

Kolom Blog Adhi Ksp

Menikmati Liburan (1)

Deburan Ombak di Pantai

Kapan Pariwisata Menjadi Unggulan?

KEMANA Anda menikmati liburan panjang lalu? Masa liburan memang hampir selesai. Kali ini, saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang liburan. Banyak tempat wisata yang indah di Indonesia, mengapa harus berlibur ke luar negeri?

Lha, orang asing saja banyak yang berlibur ke tempat-tempat wisata di Indonesia, mengapa kita malah pergi ke luar negeri, untuk buang-buang devisa?

Pekan lalu, saya sekeluarga menikmati keindahan Pulau Sepa, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu dan masih masuk wilayah Jakarta. Pulau Sepa yang berjarak 54 mil dari Marina Ancol, dapat digapai dengan kapal cepat.

Pulau ini masih memiliki pasir putih dan pantai bersih yang dapat digunakan bermain oleh anak-anak. Tentu saja kondisi pantai di Pulau Sepa, berbeda dengan pantai di Ancol yang relatif kotor. Air laut di pantai Pulau Sepa masih bening.



Dua turis asal Belanda yang menginap di Pulau Sepa, menyampaikan kekagumannya. “Beautiful island,” katanya. Pasangan wisatawan Belanda itu mungkin usianya sudah hampir 60 tahun. Mereka terbang dari Bandara Schipol Amsterdam, langsung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Saudara saya bekerja di Jakarta,” kata mereka.

Keluarga orang asing lainnya yang menikmati keindahan Pulau Sepa adalah keluarga besar Korea Selatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka. Ternyata reuni besar keluarga itu di Pulau Sepa. “Putri saya lama bermukim di Amerika. Setelah dia menikah, kami jarang bertemu. Baru kali ini kami bertemu lagi,” kata Ny Lee.

Pak Lee membawa saksofon dan alat karaoke produk Korea. Dia mengajak menyanyi bersama saat malam tiba. Begitulah keakraban sesama tamu terjalin di pulau indah, yang dapat ditempuh hanya 1,5 jam dari Marina Ancol.

Pagi hari, kami menyaksikan pantai yang berada tepat di vila tempat kami menginap, menyurut. Batu karang, yang menjadi rumah ikan terlihat jelas. Namun angin laut bertiup sangat kencang.

Menjelang siang, air laut mulai pasang dan kembali normal. Ombak berkejar-kejaran. Suara deburan ombak dan semilir angin laut, membuat suasana di Pulau Sepa betul-betul suasana berlibur. Duduk di kursi santai di tepi pantai, sambil membaca buku dalam suasana tenang dan damai.

Bagi yang menyukai privasi, menginap pada saat weekdays saat yang tepat. Sebaliknya, bagi yang suka keramaian, pada weekends, pulau resor ini selalu ramai.

Pulau Sepa ternyata merupaka lokasi berlibur yang favorit bagi orang asing, baik mereka yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, maupun yang sengaja datang dari negara mereka.

Indonesia memiliki ribuan pulau, dan beberapa di antaranya merupakan pulau indah seperti Pulau Sepa. Seandainya saja pemerintah menyadari betapa pentingnya memperkuat sektor pariwisata sebagai tambang devisa negara, tentu pulau-pulau nan indah yang tersebar di banyak lokasi itu akan dibenahi dan menjadi destinasi.

Kapan pariwisata jadi unggulan?
Empat belas tahun silam, saya pernah ke Pulau Aruba di kawasan Karibia, Amerika Tengah. Pulau itu koloni Belanda, sekitar 50 mil barat laut dari Curacao. Waktu itu saya berpikir, Pulau Bali lebih baik dibandingkan Aruba. Bali memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tapi jumlah turis yang datang, waw, gila-gilaan. Aruba dibantu Belanda, menang promosi.

Pulau Aruba seluas 193 km2 (Bayangkan luas Pulau Bali 5.633 km2) itu mulai menggalakkan pariwisata sejak tahun 1985 setelah sebelumnya dilanda krisis ekonomi. Nah sekarang banyak orang kaya dunia memilih berlibur di Aruba, pulau kecil di Karibia itu.

Kembali ke soal pariwisata. Malaysia sudah menyadari bahwa sumber daya alam mereka akan habis. Sepuluh tahun terakhir ini, Malaysia giat menggalakkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa. Bagaimana dengan Indonesia?

Pulau-pulau nan indah jumlahnya ribuan, tapi dibiarkan terlantar, sia-sia. Kita ini seperti kelaparan di lumbung padi. Mungkin ada baiknya kita mengimbau presiden mendatang untuk peduli pariwisata. Bisa nggak buat gebrakan agar Indonesia, negeri nan indah dan rupawan ini, dikenal sebagai destinasi wisata utama di Asia?

Serpong, 12 Juli 2008


FOTO di blog ini, ATAS: foto saya saat mencoba “marine walk” di bawah laut di perairan Pulau Sepa, Kepulauan Seribu, Jakarta. BAWAH: suasana pantai pasir putih Pulau Sepa.

Iklan

Jalan-Jalan: Pasir Putih di Pulau Sepa

KOMPAS

Metropolitan

Sabtu, 26 April 2008

Jalan-jalan
Pasir Putih di Pulau Sepa

Oleh R Adhi Kusumaputra

Apa mungkin kita masih bisa menikmati udara bersih, air laut yang jernih, dan pasir putih di Kepulauan Seribu? Pertanyaan ini muncul di benak ketika berangkat ke Pulau Sepa dengan kapal cepat dari Dermaga 19 di Marina Ancol, pekan lalu.

Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam ke Pulau Sepa, yang jaraknya sekitar 54 mil dari Marina Ancol, Jakarta Utara, keraguan itu pun sirna. Pantai pasir putih terhampar di pulau itu. Bukan hanya itu, air laut yang jernih dan udara yang bersih masih dapat ditemukan di pulau seluas 6,2 hektar itu.

Jadi, siapa bilang Jakarta tak punya tempat berlibur yang eksotis? Pulau Sepa layak disebut sebagai ”Little Bali”.

Sejumlah wisatawan mancanegara berjemur di pantai berpasir putih itu. Beberapa di antaranya membaca buku di bawah pohon kelapa. Sebagian lagi terlihat menggunakan peralatan snorkeling, berputar-putar di laut di sekeliling pulau.

”White sand, white beach. Very beautiful,” komentar Anthony O’Hern (26), wisatawan Australia yang menikmati snorkeling di seputar pulau itu dan mengayuh kano hingga ke pulau-pulau sekitar.

Ricko Wijaya, pengusaha Jakarta yang sudah empat kali menghabiskan akhir pekan di Pulau Sepa bersama keluarganya, mengaku jatuh cinta dengan keindahan alam di pulau ini. Sebelum tahu info soal Pulau Sepa, Ricko mencari lokasi yang cukup jauh dari Jakarta, yakni di Pangdeglang dan Lebak di Banten, atau Karimunjawa (Jawa Tengah) dan Lombok.


”Kini, kami sekeluarga memilih Pulau Sepa. Kami dapat memancing ikan dan cumi di pantai. Kami juga dapat menikmati terang bulan di pulau ini,” kata dia, pengusaha garmen yang datang bersama istri dan anaknya.

Ricko bahkan mengajak 150 karyawan pabrik garmennya berwisata bahari di Pulau Sepa, akhir tahun lalu. ”Banyak karyawan yang bertanya kapan bisa berlibur lagi di pulau ini,” cerita Ricko yang punya hobi memancing. Dia pernah mendapatkan ikan marlin di sini.

Wisatawan India, Vikram Sodhi, bersama lima rekannya, menikmati Pulau Sepa dalam one day trip. Vikram menikmati snorkeling dan banana boat. ”Saya sudah empat kali berkunjung ke Jakarta, tetapi baru kali ini ke Pulau Sepa. Wau, luar biasa. Saya tak pernah menyangka Jakarta masih memiliki laut jernih. Apalagi menyaksikan lumba-lumba di laut ini,” kata Vikram.

Karolina, wisatawan Ukraina, malah akan kembali lagi ke Pulau Sepa dalam waktu dekat. ”Menghabiskan akhir pekan di pulau ini lebih menyenangkan. Pulau ini relatif lebih sepi sehingga kami dapat menikmati suasana privasi,” kata perempuan yang sudah sering berlibur ke Bali itu.

Pulau Sepa merupakan satu dari dua pulau resor yang masih bertahan. Pulau lainnya, Pulau Putri, juga masih menerima tamu yang datang, namun pengelola pulau itu dikabarkan memangkas jumlah pekerjanya. Pulau-pulau di resor lainnya, seperti Pulau Pantara, hanya mau menerima tamu dalam jumlah tertentu. Pulau Matahari dan Pulau Kotok terpaksa tutup.

Mutiara terpendam
Pulau Sepa memang mutiara yang terpendam. ”Sangat jarang ada pulau dengan pasir putih. Ini memang ’Little Bali’. Punya potensi luar biasa untuk menjadi destinasi wisata jika mendapat dukungan pemerintah,” kata Presiden Direktur PT Bali Marine Walk, I Made Suardana.


Made menanamkan investasi lebih dari satu miliar rupiah untuk permainan baru, marine walk, yakni alat pelindung kepala semacam helm untuk jalan-jalan di dasar laut. Lima marine walk itu memungkinkan bagi pengunjung berjalan kaki di bawah laut, menyaksikan keindahan karang dan memberi makan ikan.

Achmad, pengusaha asal Jambi, sebelumnya akan berlibur ke Bali. Namun, dia kemudian mencari alternatif berlibur di Kepulauan Seribu. ”Saya cari info di internet dan mendapatkan resor di Pulau Pantara, Putri, dan Sepa. Saya baru tahu, ternyata ada pulau indah di sini.”


Jakarta bukan sekadar kota yang penuh gemerlap kehidupan malam ataupun padat dengan acara MICE (meeting, incentive, convention, exhibition). Jakarta ternyata memiliki wisata pantai yang luar biasa.

Namun ironisnya, kata Ari Wijaya, konsultan perjalanan, tidak ada gebrakan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempromosikan wisata bahari.

”Visit Indonesia terasa tak ada gaungnya sama sekali di Jakarta,” katanya.

FOTO di blog ini foto suasana pantai berpasir putih di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Sensasi Berjalan Kaki di Dasar Laut…

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 26 Aprl 2008

R. Adhi Kusumaputra

Berjalan kaki di dasar laut? Kita dapat memberi makan ikan yang berseliweran di dekat wajah kita ataupun menikmati keindahan karang di bawah laut. Wouw, asyik.

Atraksi baru di Pulau Sepa yang dinamakan marine walk ini sudah dapat dinikmati wisatawan yang berkunjung ke pulau ini sejak akhir April ini. Bagaimana caranya agar kita dapat berjalan kaki di dasar laut? Sebuah alat berupa helm teknologi Jepang, dimanfaatkan untuk menikmati keindahan bawah laut.

Anda tak perlu waswas turun ke laut dengan alat ini. Para penyelam membantu turun hingga ke dasar laut dengan kedalaman enam meter. Helm seberat 37,5 kilogram itu dipasang ketika kepala kita akan menyentuh air laut. Saat di dalam air, helm ini malah terasa ringan.

Ketika sudah di dasar laut, biskuit yang disimpan dalam plastik dipecah kecil-kecil. Dalam sekejap, rombongan ikan pun mendekat. Ikan-ikan itu berseliweran di depan wajah, menanti makanan. Pengalaman berjalan kaki di dasar laut itu sensasi luar biasa. Sungguh tak terbayangkan kita dapat memberi makan ikan langsung di bawah laut, bukan di akuarium yang biasa dipajang di rumah.

Selama di dasar laut, wisatawan dikawal penyelam profesional. Dengan demikian jika wisatawan belum dapat berenang, tetap dapat menikmati sensasi bawah laut ini dengan tenang. Bahkan anak 6 tahun ke atas pun dapat menikmati sensasi ini karena disediakan helm khusus.

Pengelola Pulau Sepa bekerja sama dengan PT Bali Marine Walk saat ini memasang harga 50 dollar AS sekali turun ke dasar laut selama 10 menit. Apakah alat ini aman? Sejauh ini, kata Presiden Direktur PT Bali Marine Walk, I Made Suardana, semuanya berjalan dengan baik.
Di Jepang dan di Hawaii (Amerika Serikat), serta di Bali, helm marine walk ini menjadi atraksi dunia bawah laut yang menyenangkan.

”Snorkeling” dan ”diving”
Selain itu, wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sepa juga dapat menikmati pantai berpasir putih. Duduk-duduk di bawah pohon yang teduh di tepi pantai sambil membaca buku, acap dilakukan mereka yang datang ke pulau yang dijuluki sebagai ”Little Bali” ini.
Jangan kaget ketika sedang asyik berjalan kaki di pulau, Anda bertemu biawak raksasa. Tak usah panik karena tidak berbahaya. Di pulau ini, pengunjung diizinkan memancing ikan (asal bukan ikan hias) dan cumi-cumi.

Mereka yang datang pada hari Minggu hingga Kamis biasanya lebih suka membaca buku di tepi pantai. Bagi mereka yang datang pada akhir pekan, lebih suka menikmati keindahan bawah laut dengan snorkeling, diving (menyelam), mengayuh kano ke tengah laut, dan menaiki banana boat. Aktivitas lain seperti jetskiy, glass board, dan watersky juga dapat dilakukan. Setiap alat yang digunakan disewa dengan harga bervariasi dan tergantung waktu pemakaian.

Vila di Pulau Sepa bukan penginapan yang mewah. Menurut Direktur Utama PT Pulau Sepa Permai, Leonarno, pihaknya tidak menyediakan kamar mewah. Mereka yang datang ke pulau itu umumnya tidak mencari kemewahan.

Oleh karena itulah, jika Anda datang ke Pulau Sepa, kamar yang tersedia tidak terlalu ”wah”. Bahkan pada beberapa kamar, alat pendingin udara pun kelihatan kuno, pintu kamar tidak diperbarui. Tetapi, sebetulnya yang penting lokasi. Vila yang menghadap pantai pasir putih harganya lebih mahal.

Berapa harga yang harus Anda keluarkan jika ingin berlibur di Pulau Sepa? Pengelola Pulau Sepa menyediakan tiga paket. Paket lengkap dengan transportasi kapal boat dari Marina Ancol ke Pulau Sepa (pergi pulang) Rp 1 juta-Rp 1,3 juta per orang per malam. Jika Anda ingin menambah satu malam menginap, menambah Rp 588.000- Rp 818.000 per orang.

Ini sudah termasuk biaya akomodasi, welcome drink, tiga kali makan, dan dua kali snack. Jika Anda membawa empat orang, ada potongan 20 persen dari biaya yang harus dibayar. ”Apalagi jika 50 orang lebih yang datang, ada potongan khusus,” kata Direktur Operasional PT Pulau Sepa Permai, Firmanto. Anak berumur 2-10 tahun dapat potongan 50 persen dari biaya paket.

Jika Anda berangkat sendiri, Anda menghemat Rp 400.000. Dan bila Anda tak ingin menginap, Anda pun dapat menikmati paket satu hari dengan membayar Rp 648.000. Harga ini sudah termasuk biaya transportasi Marina Ancol-Pulau Sepa (pp), welcome drink, satu kali makan siang dan gratis menggunakan kano. Anda tertarik? (KSP)

Pariwisata Bahari di Jakarta Masih Anak Tiri

KOMPAS

Senin, 21 April 2008

Metropolitan, Halaman 27

Pariwisata Bahari di Jakarta Masih Anak Tiri

Oleh R Adhi Kusumaputra

Gema promosi Visit Indonesia 2008 tidak bergaung hingga ke pariwisata bahari di Jakarta. Bahkan, pemerintah terkesan setengah hati mendukung industri pariwisata bahari.
Padahal, keindahan alam di pulau-pulau di gugusan Kepulauan Seribu dan kehidupan di bawah laut, yang masih masuk wilayah DKI Jakarta, diakui oleh banyak wisatawan mancanegara. Di kawasan itu bukan hanya pemandangannya yang indah, tetapi kualitas udaranya juga masih bersih.

Sejumlah wisatawan mancanegara yang menikmati keindahan Pulau Sepa, sekitar 54 mil dari Marina Ancol, Jakarta, Minggu (20/4), kagum dengan keindahan pasir putih dan air laut yang jernih. Takano, misalnya, wisatawan asal Jepang ini mengaku lebih menyukai Pulau Sepa dibandingkan Bali yang sudah terlalu crowded.

Hal senada diungkapkan Anthony O’Hern (26), wisatawan asal Australia yang menikmati snorkeling, melihat aneka ragam ikan dan karang di bawah laut.
Wisatawan asal India, Vikram Sodhi, bahkan menikmati permainan banana boat saat terjatuh ke dalam laut. ”Inilah yang dinamakan menikmati hidup. Tak pernah saya sangka masih ada laut yang jernih dan udara yang bersih di pulau ini, hanya dua jam dari Jakarta,” kata Vikram yang baru pertama kali ke Pulau Sepa.

Tak ada dukungan
Melihat antusiasme wisatawan mancanegara berkunjung ke Pulau Sepa, Direktur Utama PT Pulau Sepa Permai, Leonardo berbesar hati. Namun, Leo mengaku iri melihat wisata di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Pemerintah di negara tetangga ini menyadari bahwa pariwisata dapat meraup devisa.

Di Indonesia, tak ada dukungan dari pemerintah untuk mengembangkan pulau-pulau resor di Kepulauan Seribu menjadi destinasi wisata. Tak ada promosi terintegrasi seperti yang dilakukan Malaysia Tourism Board atau Singapore Tourism Board. Padahal, tahun ini dicanangkan Visit Indonesia.

Salah satu bukti tak adanya dukungan pemerintah adalah keharusan kapal-kapal wisata yang menuju resor di Kepulauan Seribu menggunakan pertamax. ”Keputusan pemerintah yang dikeluarkan sejak pertengahan Maret 2008 sangat memberatkan. Padahal, kami sedang giat mempromosikan pulau ini menjadi alternatif wisata bahari di Jakarta,” kata Direktur Operasional PT Pulau Sepa Permai Firmanto.

Persoalan bahan bakar menjadi salah satu kendala pengembangan wisata bahari di Jakarta. Bupati Kepulauan Seribu Djoko Ramadhan pernah menyampaikan kekecewaannya ketika empat kapal milik pemda hanya menganggur di Dermaga Marina Ancol karena tak ada suplai bahan bakar.

Selain minimnya dukungan pemerintah, pengembangan wisata bahari di Jakarta juga belum terkoordinasi dengan baik. Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan, pariwisata Jakarta sebenarnya dapat dikemas dengan atraktif. Wisatawan dapat diajak ke Taman Impian Jaya Ancol dan berlanjut ke pulau-pulau resor yang ada di gugusan Kepulauan Seribu.

Belum ada sinergi antarpihak- pihak yang terkait dalam bidang pariwisata. Padahal, jika paket wisata dijual bekerja sama antara pengelola produk pariwisata dan agen perjalanan, hotel, serta maskapai penerbangan, harga paket wisata itu akan lebih murah dan memikat wisatawan.
Namun, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berpendapat, pulau dan pantai bukan keunggulan komparatif dan kompetitif Jakarta.

”Apakah kita mau menonjolkan pulau sebagai daya tarik unggulan? Apakah pulau di Kepulauan Seribu bisa bersaing dengan Pulau Langkawi?”
Fauzi lebih memfokuskan pada meeting, incentive, convention, exhibition (MICE) daripada leisure tourism.

Namun, Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta Nurmansjah Lubis melihat Dinas Pariwisata DKI kurang percaya diri terhadap wisata bahari karena dikotomi permasalahan tsunami. Padahal, DPRD DKI sudah setuju mendukung pembangunan bandara di Pulau Panjang.

”Buat apa wisatawan ke Jakarta hanya diajak untuk enjoy shopping dan enjoy golf? Padahal, wisata bahari di Kepulauan Seribu sangat prospektif. Aneh jika Gubernur DKI yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata enggan mengembangkan wisata bahari,” kata Nurmansjah.
FOTO di blog ini suasana pantai pasir putih di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu, 54 mil dari Marina Ancol Jakarta. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Kolom Blog Adhi Ksp: Sensasi Marine Walk di Pulau Sepa

Kolom Blog Adhi Ksp

Sensasi Marine Walk di Pulau Sepa

BERJALAN kaki di dasar laut? Inilah sensasi terbaru yang saya alami pada akhir pekan ini. Menikmati suasana dasar laut dengan santai. Memberi makan ikan-ikan yang lewat seliweran di depan mata.

Sampai hari Minggu nanti, saya berada di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu, sekitar 54 mil dari Marina Ancol Jakarta. Ditemani Pak Rachmat, dive master, saya tidak hanya menikmati marine walk, tetapi juga sempat menikmati diving di perairan Pulau Sepa.


Marine Walk adalah atraksi terbaru yang ada di Indonesia. Desember 2007, atraksi ini diperkenalkan pertama di Bali. Lalu pada April 2008 ini, PT Bali Marine Walk mencari pangsa pasar baru di Kepulauan Seribu.

Pulau Sepa dipilih karena hanya pulau inilah yang layak. Pantainya berpasir putih dan lautnya masih jernih.

Presiden Direktur PT Bali Marine Walk, I Made Suardana S bersama Managing Director Freddy SPS ke Pulau Sepa untuk mempersiapkan pre-launching marine walk di Pulau Sepa ini, hari Sabtu (19/4).


Pak Made (foto di sebelah kanan) mengatakan, dasar laut Pulau Sepa sangat baik karena masih jernih. Aneka ikan dapat ditemui di sini.

Nah, terbayang nggak sih Anda bermain dan bercanda bersama ikan-ikan di dasar laut?

Direktur Operasional PT Pulau Sepa Permai, Firmanto optimistis turis asing akan datang ke pulau itu untuk menikmati marine walk.

Sensasi baru yang saya alami di dasar laut Pulau Sepa ini sempat direkam oleh Pak Freddy, Managing Director PT Bali Marine Walk dengan kamera digital waterproof.

Memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Anda harus merasakan sendiri betapa indahnya hidup ini ketika kita berada di bawah laut, menyaksikan ikan-ikan berseliweran di depan mata. Anda harus datang sendiri ke Pulau Sepa, yang masih masuk wilayah DKI Jakarta. Percuma mengobral kata-kata indah jika Anda belum merasakan sendiri sensasi ini.

Keindahan alam ini seharusnya dilihat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sayang sekali jika pulau-pulau resor di Kepulauan Seribu ini dibiarkan berkembang sendiri, tanpa dukungan pemerintah.

Sesungguhnya Jakarta memiliki kekayaan wisata alam yang luar biasa, yang dapat menghasilkan devisa negara.

(Yang berminat menikmati keindahan Pulau Sepa, silakan hubungi +62 21 63863477 atau HP Margono + 62 815 887 4482, atau Fax ke +62 21 63863478)

FOTO-FOTO di blog ini diambil hari Jumat 18 April 2008. Dari atas ke bawah (1) Foto saya sedang mengenakan helm marine walk bersama Pak Rachmat (2) Foto saya sedang diving (3) Foto Presdir PT Bali Marine Walk I Made Suardana dengan helm marine walk (4 dan 5) foto saya sedang bercanda dengan ikan-ikan di dasar laut Pulau Sepa. Foto 1,2,4,5 oleh Freddy SPS dan Slamet. Foto 3 oleh Adhi Kusumaputra.