Tag Archives: Kolom Blog Adhi Ksp

Kolom Blog Adhi Ksp: Universitas Multimedia Nusantara dan Industri Kreatif

PENGANTAR
Grup Kompas Gramedia yang selama ini sukses dalam bisnis media (Kompas dan puluhan jenis media lainnya), penerbitan buku (Gramedia Pustaka Utama, Elex, Grasindo, BIP dll), toko buku (Gramedia), perhotelan (Santika) dan sejumlah bisnis lainnya, kini merambah ke bidang jasa pendidikan. Pada 5 September 2008, Kompas Gramedia membangun kampus Universitas Multimedia Nusantara. Bekerja sama dengan raksasa properti PT Summarecon Agung Tbk (yang sukses membangun dan mengembangkan kawasan Kelapa Gading dari “tempat jin buang anak” menjadi lokasi permukiman berkelas). Pak Jakob Oetama mengaku bangga dengan kampus UMN karena dari kampus inilah, diharapkan muncul lulusan yang mampu mendirikan industri kreatif yang menggerakkan ekonomi Indonesia. Dan siapa tahu, dari kampus UMN, lahir orang-orang seperti Bill Gates dan Steve Jobs? Siapa tahu? (KSP)

Kolom Blog Adhi Ksp

Universitas Multimedia Nusantara dan Industri Kreatif

HARI Jumat (5/9) pagi, saya menghadiri acara pemancangan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Kelurahan Curugsareng, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, yang masuk wilayah kawasan perumahan Summarecon Serpong di Gading Serpong.

Hadir pada pagi itu, pemilik Kompas Gramedia, Pak Jakob Oetama dan pemilik Summarecon Agung (yang sukses membangun kawasan Kelapa Gading dan kini Summarecon Serpong) Sutjipto Nagaria. Juga tampak CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Ketua Yayasan Multimedia Nusantara Teddy Surianto, Rektor UMN Yohanes Surya, Direktur PT Summarecon Sjarif Benjamin dan undangan lainnya.

Pak Jakob dalam sambutannya mengaku minder ketika masuk kawasan Gading Serpong, karena beliau membandingkan dengan Palmerah (kawasan kantor pusat Kompas Gramedia) yang saat dibangun disebut sebagai lokasi “jin buang anak”, sedangkan kawasan Gading Serpong itu disebutnya sebagai “tempat para malaikat memuji”. Kata-kata bersayap Pak Jakob itu menyiratkan kekagumannya pada wilayah berkembang seperti Gading Serpong.

Kampus UMN seluas delapan hektar itu akan dibangun dalam waktu satu tahun, dan dijadwalkan beroperasi pada September 2009. Mungkin tanggal 9 bulan 9 tahun 09. Lantai tertinggi pada gedung kampus UMN adalah lantai 9. Angka 8 dan 9 agaknya menjadi angka keramat yang diyakini membawa kesuksesan bagi UMN.

Tetapi di luar utak-atik angka itu, yang terpenting adalah Pak Jakob Oetama berharap UMN sebagai salah satu elemen penggerak industri kreatif, mempersiapkan tenaga berbakat tersebut menjadi trampil dan berdaya saing tinggi untuk berhasil dalam industri kreatif. UMN merancang kurukulum berorientasi kreatif dan kewirausahaan berikut sarana laboratorium yang baik di bidang ICT dan multimedia.

Pak Jakob mengatakan Indonesia memiliki potensi kekayaan seni budaya yang beragam sebagai pondasi tumbuhnya industri kreatif. Keragaman budaya ini merupakan bahan baku industri kreatif, munculnya aneka ragam kerajinan dan berbagai produk Indonesia, memunculkan juga berbagai bakat dari masyarakat Indonesia di bidang industri kreatif.

Nah, yang menarik adalah kuliah umum dari Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Mari menegaskan industri kreatif saat ini bagian penting perekonomian Indonesia. Kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu bagiannya. Industri kreatif harus terus dikembangkan agar dapat membantu mengurangi kemiskinan di negeri ini. Peranan perguruan tinggi sangat penting untuk mendukung suburnya industri kreatif di Tanah Air.

Menurut Mari Pangestu, bahan dasar industri kreatif adalah ide yang muncul dari pemikiran. Ide akan menjadi nilai tambah jika dimanfaatkan dan dilindungi hak ciptanya. Yang harus dikembangkan adalah bagaimana mengomersialisasi kreativitas agar memiliki nilai ekonomi, dan bagaimana kreativitas dapat menjadi sumber ekonomi.

Saat ini terdapat 14 subsektor industri kreatif di Indonesia, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, riset dan pengembangan, dan film, video dan fotografi.

Mengapa peduli industri kreatif
Mengapa kita harus peduli pada industri kreatif? Mari Pangestu mengatakan industri kreatif mampu mengangkat citra bangsa, sumber daya terbarukan dan menciptakan inovasi dan menjadi unggulan. “Pekerja industri kreatif pasti lebih happy dan biasanya memiliki penghasilan lebih besar dibandingkan pekerja lainnya,” ungkapnya.

Menurut Mari, kita perlu memiliki visi dan misi industri kreatif karena industri ini mampu meningkatkan kualitas hidup insan Indonesia, meningkatkan muatan lokal dalam semangat kontemporer, meningkatkan lapangan kerja. “Warisan budaya dapat dikemas dalam seni kontemporer agar tetap hidup dan berkembang. Misalnya wayang. Jika wayang hanya diperagakan dalam bahasa Jawa, wayang tak dipahami banyak orang, namun jika dikemas dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan kemasan kontemporer, wayang akan diminati,” ujarnya.


Kontribusi PDB industri kreatif Indonesia dalam tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB Nasional dengan nilai Rp 104,6 triliun. Sedang nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp 81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total nilai ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta orang. PDB industri kreatif menduduki peringkat ketujuh dari 10 lapangan usaha utama di Indonesia.
Peluang dalam industri kreatif, menurut Mari Pangestu, terjadinya perubahan perilaku konsumen dalam pasar berbasis teknologi. “Cara kita melakukan marketing saat ini berbeda dengan masa lalu akibat perkembangan teknologi dan kecanggihan peralatan yang dimiliki konsumen. Konsumen akan menghakimi produk melalui blog, dan ini di luar ‘way of marketing’. Perusahaan harus kreatif memanfaatkan blog. Di negara maju, bahasan produk tertentu di blog sudah berkembang,” ungkapnya.
Mari mengungkapkan, di masa lalu, pabrik memproduksi dalam jumlah besar. Kini, akibat dampak teknologi informasi, kita masuk dalam produksi nonmassal. Contohnya produk distro, distribution store, bisnis yang berkembang di tengah kelompok anak muda di Bandung. Modal bisnis ini adalah desain t-shirt dan dibuat dalam jumlah terbatas. Ternyata bisnis mereka berhasil, mendapatkan pembeli dari luar negeri, dan menjadikan Bandung kota kreatif.
Dalam dunia internasional, kata Mari, 60 persen pasar dihabiskan untuk industri kreatif. “Di Indonesia, kita harus menanamkan mindset dalam pendidikan. Peranan lembaga pendidikan seperti UMN yang mendalami teknologi informasi sangat besar untuk menanamkan mindset ini. Dari kampus ini diharapkan muncul penciptaan bari dari inovasi, seperti yang dilakukan i-pod,” ujarnya.
Keberpihakan lembaga pembiayaan pada industri kreatif. juga disorot. Tapi, seperti di negara maju, yang berperan adalah modal ventura. Nah, bagaimana dengan industri kreatif di Indonesia? Pangsa pasar masih terbuka lebar, bahkan sangat lebar. UMN diharapkan mampu mencetak lulusan yang bisa menciptakan industri-industri kreatif baru sekaligus menyediakan lapangan kerja. Semoga!

FOTO di blog ini foto ketika Presiden Komisaris Komas Gramedia Jakob Oetama menandatangani prasasti pemancangan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Multimedia Nusantara milik Kompas Gramedia di kawasan Perumahan Gading Serpong, Tangerang, Banten. Foto diambil 5 September 2008, oleh Robert Adhi Kusumaputra

Iklan

Kolom Blog Adhi Ksp: Blog Kompasiana: Reformasi Birokrasi dan Filosofi Orkestra

Kolom Blog Adhi Ksp

Blog Kompasiana

Reformasi Birokrasi dan Filosofi Orkestra

ADA yang menarik di Balaikota DKI Jakarta hari Selasa (19/8) malam. Gubernur DKI Fauzi Bowo menghadirkan orkestra musik di Balai Agung. Di depan 60-an pimpinan Satuan Kerja Pelaksana Daerah, Fauzi Bowo ingin mengingatkan kepada para pembantunya bahwa memimpin organisasi besar seperti Pemprov DKI Jakarta itu layaknya memimpin orkestra musik.

Semua orang dalam orkestra memainkan peran masing-masing dengan baik. Jika salah satu saja bermain buruk, maka seluruh penampilan orkestra otomatis buruk.

Saat ini Fauzi Bowo diibaratkan sebagai konduktor yang memimpin orkestra raksasa bernama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebagai Gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat, Fauzi Bowo bertekad melakukan reformasi birokrasi. Fauzi ingin melakukan perubahan mendasar dalam pelayanan masyarakat. Untuk itu dia mengajak pimpinan SKPD dari kepala dinas sampai kepala biro, juga pimpinan BUMD DKI, untuk merenungkan filosofi sebuah orkestra.

Fauzi mengutip buku yang memuat pemikiran Alfred P Sloan, pendiri General Motors dan pakar manajemen dunia. Organisasi, swasta atau pemerintah, pasti dihadapkan pada perubahan yang konstan. Untuk itu, Fauzi meminta jajarannya siap menghadapi perubahan, bukan sekadar formalitas.

Demi perubahan, Pemprov DKI harus melakukan reformasi birokrasi. Fauzi mengajak para pimpinan SKPD untuk memiliki sikap yang pro-perubahan, yang dapat menjadi teladan bagi orang lain.

Apa yang dilakukan Fauzi Bowo dengan menghadirkan orkestra pimpinan Widya Kristanti di Balai Agung, Balaikota DKI, tentu memiliki makna filosofi yang mendalam. Bukan sekadar mendengarkan musik, tetapi ikut memahami bagaimana proses sebuah orkestra menampilkan pertunjukan musik yang indah.

Obsesi Fauzi sebagai Gubernur, dia ingin menjadi “konduktor” bagi orkestra bagi 80.000 pegawai Pemprov DKI Jakarta, yang mampu “memainkan musik indah” sesuai harapan masyarakat.

Persoalannya, apakah aparat birokrasi Pemprov DKI sudah siap berubah? Inilah soalnya. Layanan kependudukan seperti pembuatan KTP, masih menjadi “ladang” uang bagi oknum birokrat. Pedagang kaki lima yang menempati trotoar dan lokasi ilegal, acapkali sudah “membayar” ke oknum petugas Tramtib. Pungli-pungli dalam penerbitan perizinan, sudah menjadi semacam rahasia umum. Bahkan dalam urusan kematian pun, masih ada saja pungli.

Fauzi Bowo tentu tak ingin menjadi konduktor orkestra, di mana menampilkan pertunjukan musik yang amburadul. Dia ingin menjadi konduktor orkestra di mana para pemainnya yang berjumlah 80.000 orang dengan aneka peran, dapat menyajikan pertunjukan yang baik.

Tidak gampang memang mengelola 80.000 pegawai. Namun tak ada satu orang pun yang diabaikan. Ibarat sebuah arloji, bagian-bagian terkecil sekali pun harus berfungsi dengan baik agar jam itu berjalan semestinya, selalu tepat waktu. Lagi-lagi Fauzi memaknai fungsi arloji untuk analogi organisasi besarnya di Pemprov DKI. Pegawai kecil sekali pun, harus tetap dihargai karena mereka juga memainkan peran masing-masing.

Inilah cara Fauzi Bowo, “tukang insinyur” lulusan Jerman, memberi motivasi jajarannya. Siap menjadi “konduktor” orkestra Pemprov DKI, Pak?

Palmerah, Jakarta, 20 Agustus 2008

*) Catatan: Tulisan di blog ini juga dimuat di Blog Kompasiana http://adhikusumaputra.kompasiana.com

FOTO ILUSTRASI diambil dari http://orbitingfrog.com/blog/wp-content/uploads/2007/04/orchestra.jpg

Kolom Blog Adhi Ksp: Selamat untuk Elfa’s Singer, Raih Grand Champion di Austria

Kolom Blog Adhi Ksp

Selamat untuk Elfa’s Singer, Raih Gelar Grand Champion di Austria

SAYA baru saja menerima pesan singkat dari Agus Wisman, salah satu personel Elfa’s Singer. Isinya, “Alhamdullilah, Elfa’s Singer mendapat dua lagi Grand Champion untuk kategori Jazz dan Pop di World Choir Games, Graz, Austria. Horeee, kita Juara Dunia lagi… Lagu Indonesia Raya dua kali berkumandang…”

Saat ini Agus Wisman masih berada di Graz, Austria. Elfa’s Singer pimpinan Elfa Secioria, komposer dan arranger ini mengalahkan peserta dari 93 negara di dunia yang membawakan lagu dalam 28 kategori. Sejak World Choir Games digelar tahun 2000 di Linz, Austria tahun 2000, Elfa’s Singer selalu ikut dan selalu menang, menjadi Juara Dunia.

Pada WCG ke-2 tahun 2002 di Busan, Korea Selatan, WCG ke-3 tahun 2004 di Bremen, Jerman, WCG ke-4 di Xianmen, China dan WCG ke-5 di Graz, Austria, Elfa’s selalu menang dalam kategori Jazz dan Pop. Berita sekilas soal kemenangan Elfa’s di Austria, dapat di baca di sini.

Dua kali lagu “Indonesia Raya” berkumandang pada hari Minggu sekitar pukul 14.00 waktu Austria. Selamat untuk Elfa’s Singer yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah musik dunia…

Berita tentang ini dapat dibaca pula di Kompas, Rabu 16 Juli 2008

Nama & Peristiwa

Agus Wisman

“INDONESIA RAYA” DI AUSTRIA

Agus Wisman, salah seorang personel Elfa’s Singers, hari Minggu (13/7) malam memberi kabar gembira melalui pesan singkat. “Alhamdulillah, Elfa’s Singers mendapat dua lagi Grand Champion untuk kategori jazz dan pop di World Choir Games, Graz, Austria. Horeee, kita juara dunia lagi. Lagu ‘Indonesia Raya’ dua kali berkumandang.”.

Menurut Agus, Elfa’s Singers mengalahkan ribuan peserta dari 93 negara yang terbagi dalam 28 kategori. Dengan kemenangan ini, Elfa’s Singers sudah lima kali berturut-turut menjadi juara dunia untuk kategori jazz dan pop. Di Austria, Elfa’s Singers pimpinan Elfa Secioria, komposer dan arranger, ini meraih nilai 92,88 untuk kategori jazz dan nilai 94,13 untuk kategori pop.

“Dua kali lagu ‘Indonesia Raya’ berkumandang sekitar pukul 14.00 waktu Austria atau pukul 20.00 WIB,” demikian cerita Agus.

World Choir Games sudah digelar lima kali dan diadakan setiap dua tahun. Yang pertama, tahun 2000, di Linz, Austria. WCG ke-2 tahun 2002 digelar di Busan, Korea Selatan, WCG ke-3 tahun 2004 di Bremen, Jerman. WCG ke-4 tahun 2006 di Xianmen, China, dan WCG ke-5 tahun 2008 di Graz, Austria. “Elfa’s Singers selalu meraih juara dalam dua kategori, jazz dan pop. Jadi Elfa’s Singers sudah lima kali meraih gelar Grand Champion,” cerita Agus lagi.(KSP)

FOTO ILUSTRASI di blog ini dikutip dari http://www.kapanlagi.com/free/elfa’s_singer_0.jpg

Kolom Blog Adhi Ksp: Menikmati Liburan (3) Suasana Alam di Bogor

Kolom Blog Adhi Ksp

Menikmati Liburan (3)

Suasana Alam di Bogor

SETELAH menikmati suasana laut dengan deburan ombaknya, kami memilih berlibur dalam suasana alam di Bogor. Meski jaraknya relatif dekat dengan Jakarta, Bogor adalah tempat beristirahat dari panasnya Jakarta. Kami menginap di Hotel Novotel Bogor yang asri.

Hotel yang dikelola Accor Hospitality dan memiliki 178 kamar itu ternyata juga penuh. Separuh di antaranya diisi peserta rapat perusahaan, dan setengahnya wisatawan, baik orang Indonesia maupun orang asing.

Saat kami datang, ada sekelompok wisatawan asal Perancis yang juga baru tiba. Lokasinya di tengah permukiman Golf Estate Bogor Raya, tak jauh dari gerbang tol Jagorawi.

Keunikan hotel resor ini adalah memiliki halaman rumput yang luas serta pepohonan yang meneduhkan. Taman nan hijau ini menjadi keunggulan hotel ini karena sebagian besar kamar memiliki view langsung ke taman


Kami memilih kamar dengan bathtub di luar sehingga saat membersihkan badan pun menjadi aktivitas unik. Suasana seperti ini mirip dengan resor-resor di tepi pantai seperti di Tanjung Lesung, Pandeglang (Banten) atau pun resor di Bali.

Kamar berlantai kayu ini memiliki satu kamar tidur berukuran besar dengan satu sofa santai untuk menonton televisi.

Saat petang, kami menikmati suasana teduh di taman nan hijau. Kolam renang dengan desain eksotis, berbeda dengan desain kolam renang umumnya di hotel. Pengelola hotel menyediakan fasilitas olahraga lainnya seperti lapangan tenis, meja pingpong, lapangan voli pantai.


Dan seperti halnya hotel-hotel Novotel lainnya, Dolfi Kids Club merupakan fasilitas bermain untuk anak. Semua dindingnya terbuat dari kaca. Ada sejumlah buku yang dapat dibaca saat waktu luang. Saya sempat membaca komik petualanganTin Tin di Sovyet, dalam format ukuran lebih kecil (sekarang diterbitkan Gramedia, bukan lagi Indira).


Saat malam tiba, kami memilih makan di “Bale Bengong”, tempat makan lesehan yang lokasinya dibuat sedemikian rupa sehingga suasana makan malam begitu romantis. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Restoran Meranti, restoran utama di Novotel Bogor. Tamu-tamu di “Bale Bengong”, saya tebak dari Korea Selatan dan India (bisa jadi orang Singapura atau Malaysia keturunan India).

Restoran lainnya. Capriccio” menyajikan pasta-pizza “home-made” dan menu Mediterania. Tamu bisa menikmati makan malam romantis dengan terang lilin.

Accor Hospitality merupakan perusahaan pengelola hotel terkemuka di dunia. Accor yang bermarkas di Perancis ini, mengelola hotel dan resor Sofitel, Grand Mercure, Novotel, Mercure, all seasons, Ibis, Formule-1.

Di Jakarta sendiri, belum ada Hotel Novotel. Yang ada Sofitel, Gran Mahakam di Blok M. Yang banyak, jaringan Hotel Ibis (mulai Ibis Slipi, Ibis Kemayoran, Ibis Mangga Dua, Ibis Tamarin, Ibis Arcadia) dan Mercure (Hayam Wuruk dan Ancol). Ada juga Formule-1 di Menteng.

Nah, kembali ke Bogor. Menikmati liburan di Bogor, kami menikmati pula masakan Sunda. Karena lama pernah tinggal di Bandung, kami sangat menikmati nasi timbel komplet di rumah makan “Sunda Kelapa” dan “Bale Kabayan” di kota itu, saat makan siang dalam dua hari berlibur di Bogor. Sungguh nikmat….

Satu saja yang “kurang nyaman” di Bogor, yaitu kemacetan lalu lintas akibat angkot-angkot. Terlalu banyak angkot di kota itu.


Meski begitu, kami merindukan suasana alam yang asri dan teduh. Di Bogor, “refresh your mind, focus and have fun”. Liburan yang berkesan dan menyenangkan, tetap dapat dinikmati di negeri nan indah ini.

Orang asing saja terkagum-kagum pada keindahan alam dan keramahtamahan penduduk Indonesia. Tentunya kita sebagai warga negara Indonesia harus bangga pada negeri indah nan rupawan ini.


Anda setuju kan jika kita berharap para pemimpin Indonesia termasuk Presiden mendatang, akan memperhatikan sektor pariwisata.

Kita berharap Presiden Indonesia dapat melihat betapa potensialnya kekayaan wisata negeri ini, kemudian mencanangkan bahwa pariwisata akan dijadikan tambang devisa negara, dan membenahi semua lokasi wisata.

Kita berharap suatu saat kelak nama Indonesia akan dikenal sebagai destinasi utama di kawasan Asia, tak hanya Bali dan Lombok, tetapi juga berbagai daerah lainnya.

Serpong, 13 Juli 2008


FOTO di blog ini, foto-foto suasana di Hotel Novotel Bogor. Semua foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS Daily

Kolom Blog Adhi Ksp: Menikmati Liburan (2) Ancol Masih Favorit bagi Wisatawan Nusantara

Kolom Blog Adhi Ksp

Menikmati Liburan (2)

Ancol Masih Favorit bagi Wisatawan Nusantara

ANCOL. Kami menikmati suasana Ancol pada awal pekan ini dan memilih menginap di Hotel Mercure Convention Center Ancol (dulu Hotel Horison).

Hotel yang dikelola Accor Hospitality ini ternyata penuh oleh mereka yang sedang berlibur. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Baik yang akan check-in maupun yang sedang mengurus check-out, antre panjang.

Kami memesan kamar yang menghadap pemandangan ke laut, dengan balkon di luar. Di kamar itu terdapat dua tempat tidur yang lebar plus satu sofa. Sejak dikelola Accor, hotel ini dipermak dan dipercantik. Saya memang memanfaatkan kartu keanggotaan Accor Advantage Plus, yang saya beli awal tahun ini. Bagi mereka yang suka plesiran dan hobi makan, kartu ini salah satu “jalan” yang tepat.

Kereta gantung (cable car) “Gondola” tampak dari kamar tempat kami menginap. Rupanya “Gondola” salah satu favorit pengunjung Ancol, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Keluarga yang bersama kami di satu kabin, ternyata berasal dari Surabaya. Setiap orang yang naik kereta gantung ini dikenakan biaya Rp 35.000. Dari atas, kami dapat melihat suasana Ancol, termasuk suasana pantai umum yang airnya berwarna kecoklatan.

Selain kereta gantung, Ancol punya Sea World Indonesia, yang dikembangkan Grup Lippo (keluarga Riady). Beragam ikan dari perairan Indonesia, dapat disaksikan di sini, termasuk ikan perairan laut dalam. Atraksi “memberi makan ikan” yang dapat disaksikan dari akuarium raksasa, menjadi menarik. Aneka hewan laut tampak mendekat saat waktu pemberian makan tiba. Hewan-hewan laut ini dapat pula dilihat dari terowongan transparan.

Anak-anak terpukau menyaksikan “anak-anak buaya” tidur-tiduran, termasuk “buaya putih”. Ikan duyung yang sering digambarkan sebagai “putri duyung” ternyata wajahnya ya wajah ikan. Hanya saja bentuk tubuh bawahnya, memang aduhai, mirip lekukan tubuh perempuan. Pengunjung Sea World Indonesia juga terpukau melihat ikan-ikan hiu berkeliaran dalam akuarium khusus. Juga menyaksikan ratusan ikan piranha menghabisi ikan lainnya dalam sekejab.


Semasa liburan ini, pengunjung Sea World rata-rata 10.000 orang dalam sehari. Tarif masuk Rp 50.000 per orang. Biaya masuk lebih murah untuk kakek atau nenek (lansia). Tapi pada hari-hari biasa, bukan masa liburan, jumlah pengunjung berkisar antara 1.000 dan 3.000-an.
Dunia Fantasi atau Dufan, tetap unggulan Ancol. Selain itu ada juga Gelanggang Samudra dan Gelanggang Renang Atlantis.
Ancol harus bekerja keras agar Atlantis tetap memikat karena kini bermunculan permainan air serupa seperti Ocean Park Water Adventure di BSD City (Tangerang), The Jungle (Bogor), Water Boom Lippo Cikarang (Bekasi), Water Boom Pantai Indah Kapuk (Jakarta). Juga ada permainan serupa dalam skala kecil di sejumlah perumahan.

Atraksi Police Academy akan berlangsung hingga Agustus 2008 mendatang, juga menarik pengunjung. Grup stuntman dan stuntwoman yang baru saja selesai syuting film James Bond terbaru itu, berasal dari Italia.

Selain menawarkan aneka ragam permainan dan pertunjukan, Ancol juga memiliki resto-resto berkelas yang lokasinya di tepi laut. Bandar Djakarta, restoran seafood, yang tak pernah sepi. Backstage yang lebih cocok untuk anak muda yang menikmati “hang out”, Segarra dengan sofa di tepi pantai, ataupun Jimbaran bernuansa Bali. Pengunjung resto-resto ini tetap dapat menikmati suasana deburan ombak tepi pantai. Kami memilih Jimbaran dengan suasana Bali, sebagai tempat makan malam.

Pekan sebelumnya, saya sempat bertemu dengan Direktur Utama PT Jaya Ancol Budi Karya Sumadi saat pembukaan Jakarta Great Sale di Pacific Place. Pak Budi cerita bahwa target Ancol dalam masa liburan awal Juni hingga pertengahan Juli ini adalah dua juta pengunjung. Saya kira target itu terpenuhi. Ancol memang lautan manusia selama masa liburan ini. Bahkan saat makan pagi di Hotel Mercure Ancol pun, karyawan hotel kewalahan. Tamu hotel yang datang menjelang waktu makan pagi selesai, sulit menemukan gelas, piring dan sejenisnya karena kehabisan!


Saat menikmati liburan di Ancol, saya melihat wajah-wajah gembira ada di mana-mana. Anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Ancol masih memikat bagi wisatawan Nusantara, yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Serpong, 12 Juli 2008

FOTO-foto di blog ini dari ATAS ke BAWAH (1) Suasana di Gelanggang Renang Atlantis Ancol (2) Kereta Gantung “Gondola” Ancol (3) Hotel Mercure Convention Center Ancol (4) Pantai Ancol yang makin habis (5) Suasana penyelam memberi makan makan ikan di Sea World Indonesia – Ancol (6) Suasana di Teluk Jakarta – Ancol. FOTO-FOTO oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS Daily

Kolom Blog Adhi Ksp: Menikmati Liburan (1) Deburan Ombak di Pantai: Kapan Pariwisata Menjadi Unggulan?

Kolom Blog Adhi Ksp

Menikmati Liburan (1)

Deburan Ombak di Pantai

Kapan Pariwisata Menjadi Unggulan?

KEMANA Anda menikmati liburan panjang lalu? Masa liburan memang hampir selesai. Kali ini, saya ingin berbagi cerita dan pengalaman tentang liburan. Banyak tempat wisata yang indah di Indonesia, mengapa harus berlibur ke luar negeri?

Lha, orang asing saja banyak yang berlibur ke tempat-tempat wisata di Indonesia, mengapa kita malah pergi ke luar negeri, untuk buang-buang devisa?

Pekan lalu, saya sekeluarga menikmati keindahan Pulau Sepa, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu dan masih masuk wilayah Jakarta. Pulau Sepa yang berjarak 54 mil dari Marina Ancol, dapat digapai dengan kapal cepat.

Pulau ini masih memiliki pasir putih dan pantai bersih yang dapat digunakan bermain oleh anak-anak. Tentu saja kondisi pantai di Pulau Sepa, berbeda dengan pantai di Ancol yang relatif kotor. Air laut di pantai Pulau Sepa masih bening.



Dua turis asal Belanda yang menginap di Pulau Sepa, menyampaikan kekagumannya. “Beautiful island,” katanya. Pasangan wisatawan Belanda itu mungkin usianya sudah hampir 60 tahun. Mereka terbang dari Bandara Schipol Amsterdam, langsung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. “Saudara saya bekerja di Jakarta,” kata mereka.

Keluarga orang asing lainnya yang menikmati keindahan Pulau Sepa adalah keluarga besar Korea Selatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka. Ternyata reuni besar keluarga itu di Pulau Sepa. “Putri saya lama bermukim di Amerika. Setelah dia menikah, kami jarang bertemu. Baru kali ini kami bertemu lagi,” kata Ny Lee.

Pak Lee membawa saksofon dan alat karaoke produk Korea. Dia mengajak menyanyi bersama saat malam tiba. Begitulah keakraban sesama tamu terjalin di pulau indah, yang dapat ditempuh hanya 1,5 jam dari Marina Ancol.

Pagi hari, kami menyaksikan pantai yang berada tepat di vila tempat kami menginap, menyurut. Batu karang, yang menjadi rumah ikan terlihat jelas. Namun angin laut bertiup sangat kencang.

Menjelang siang, air laut mulai pasang dan kembali normal. Ombak berkejar-kejaran. Suara deburan ombak dan semilir angin laut, membuat suasana di Pulau Sepa betul-betul suasana berlibur. Duduk di kursi santai di tepi pantai, sambil membaca buku dalam suasana tenang dan damai.

Bagi yang menyukai privasi, menginap pada saat weekdays saat yang tepat. Sebaliknya, bagi yang suka keramaian, pada weekends, pulau resor ini selalu ramai.

Pulau Sepa ternyata merupaka lokasi berlibur yang favorit bagi orang asing, baik mereka yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, maupun yang sengaja datang dari negara mereka.

Indonesia memiliki ribuan pulau, dan beberapa di antaranya merupakan pulau indah seperti Pulau Sepa. Seandainya saja pemerintah menyadari betapa pentingnya memperkuat sektor pariwisata sebagai tambang devisa negara, tentu pulau-pulau nan indah yang tersebar di banyak lokasi itu akan dibenahi dan menjadi destinasi.

Kapan pariwisata jadi unggulan?
Empat belas tahun silam, saya pernah ke Pulau Aruba di kawasan Karibia, Amerika Tengah. Pulau itu koloni Belanda, sekitar 50 mil barat laut dari Curacao. Waktu itu saya berpikir, Pulau Bali lebih baik dibandingkan Aruba. Bali memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tapi jumlah turis yang datang, waw, gila-gilaan. Aruba dibantu Belanda, menang promosi.

Pulau Aruba seluas 193 km2 (Bayangkan luas Pulau Bali 5.633 km2) itu mulai menggalakkan pariwisata sejak tahun 1985 setelah sebelumnya dilanda krisis ekonomi. Nah sekarang banyak orang kaya dunia memilih berlibur di Aruba, pulau kecil di Karibia itu.

Kembali ke soal pariwisata. Malaysia sudah menyadari bahwa sumber daya alam mereka akan habis. Sepuluh tahun terakhir ini, Malaysia giat menggalakkan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa. Bagaimana dengan Indonesia?

Pulau-pulau nan indah jumlahnya ribuan, tapi dibiarkan terlantar, sia-sia. Kita ini seperti kelaparan di lumbung padi. Mungkin ada baiknya kita mengimbau presiden mendatang untuk peduli pariwisata. Bisa nggak buat gebrakan agar Indonesia, negeri nan indah dan rupawan ini, dikenal sebagai destinasi wisata utama di Asia?

Serpong, 12 Juli 2008


FOTO di blog ini, ATAS: foto saya saat mencoba “marine walk” di bawah laut di perairan Pulau Sepa, Kepulauan Seribu, Jakarta. BAWAH: suasana pantai pasir putih Pulau Sepa.

Kolom Blog Adhi Ksp: Anak-anak Indonesia Peduli Lingkungan Hidup

Kolom Blog Adhi Ksp

Anak-anak Indonesia Peduli Lingkungan Hidup

KEPEDULIAN anak-anak Indonesia terhadap lingkungan hidup harus dipupuk sejak dini. Kepekaan dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, harus dimunculkan sejak dini.

Dan saya melihat 40 anak Indonesia dari seluruh Indonesia yang mengikuti “Creative Writing bagi Penulis Muda” telah menunjukkan kepedulian tersebut. Bahkan saya berpendapat seharusnya Kementerian Negara Lingkungan Hidup memberikan penghargaan kepada Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia yang berinisiatif menggelar Lomba Menulis Nasional untuk Remaja 2008. Sebab dari lomba menulis ini, muncul tulisan-tulisan bernas dari siswa SMP dan SMA seluruh Indonesia, yang menggambarkan kepedulian dan kesadaran mereka akan pelestarian lingkungan hidup.




Kesan ini muncul setelah saya bertemu dengan para penulis muda (SMP dan SMA se-Indonesia) ketika menjadi salah satu pembicara dalam “Creative Writing bagi Penulis Muda” yang digelar YKAI dan UNICEF di NAM Center, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin 7 Juli lalu.

Acara ini diikuti 40 penulis muda dari seluruh Indonesia. Sebagian pemenang lomba menulis nasional 2007 dan sebagian lagi pemenang 2008. Saya merasakan semangat mereka yang menggebu-gebu.

Dua di antara mereka, Alfinda Agyputri (SMA Dian Harapan Jakarta) yang menulis “Milikku, Bukan Milikku” dan Nurul Khusnul Khotimah (SMP Negeri Bolo, Bima, Nusa Tenggara Barat) yang menulis “Mengenal, Mencintai, dan Melestarikan Lingkungan Hidup” meraih penghargaan dari UNICEF atas karya-karya mereka yang bernas.

Saya mendapat kumpulan naskah terbaik Lomba Menulis Nasional untuk Remaja 2008 yang disunting Sondang K. Susanne Siregar dan Anto Ikayadi. Setelah membaca sekilas naskah-naskah tersebut, saya berkesimpulan, ada kepedulian anak-anak Indonesia terhadap kelestarian lingkungan. Luar biasa.

Rajinlah menulis dan membaca
Saya berpesan agar mereka tetap rajin menulis setiap hari. Mengacu pada pengalaman saya saat masih remaja seusia mereka, saya rajin menulis catatan harian di buku sejak SMP.

Kehadiran weblog beberapa tahun terakhir ini sebenarnya akan sangat membantu mereka yang memulai menulis. Menuangkan ungkapan, gagasan, ide, pemikiran di weblog sejak dini, akan menjadi catatan sejarah hidup. Sebab apa yang tertuang dan tercatat dalam weblog, tidak akan hilang sepanjang tidak dihapus sendiri oleh pemilik blog.

Saya menyarankan kepada peserta, para penulis muda, untuk selalu kreatif menulis. Dan weblog merupakan salah satu sarana yang pas bagi mereka. Ternyata 40 penulis muda ini sudah membentuk Komunitas Remaja Pena Anak Kreatif dan memiliki weblog http://bacatulisrenung.blogspot.com.

Agar tulisan mereka lebih berwarna, saya menyarankan agar mereka rajin membaca buku, majalah dan suratkabar setiap hari. Karena dengan membacalah, kita dapat melihat dunia dengan optimistis.

Bu Lily, Ketua Umum YKAI yang sempat hadir mengingatkan para penulis muda ini untuk melengkapi tulisan dengan data dan angka, dan memanfaatkan internet. Bu Lily benar. Atas bantuan “Om Google”, kita dapat mencari informasi, memperoleh data dan angka tentang berbagai topik, dari mesin pencari Google, selain Yahoo, Windows Live dan lainnya.

Bahkan jika pemerintah benar-benar ingin mencerdaskan bangsa ini, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan bagaimana agar biaya koneksi internet semakin murah dan terjangkau, terutama oleh mereka yang tinggal di daerah pelosok.

Sebab saya merasakan betapa anak-anak Indonesia dari desa-desa di NTB, Aceh, Maluku, Sumatera Selatan, Bengkulu, DI Yogyakarta, Bali, Jawa Tengah, penuh semangat. Dan semangat mereka untuk menjadi penulis kreatif ini sebaiknya difasilitasi, misalnya ketika mereka ingin mencari informasi lebih dari internet. Koneksi internet yang lambat, harus segera diatasi.

Saya membayangkan koneksi internet menjangkau desa-desa di Bima, NTB. Saya mendengar cerita seorang peserta bahwa suratkabar Kompas pun tidak beredar di kabupaten itu. Mungkin pemimpin daerah yang baru menang Pilkada NTB dapat mendorong bagaimana mencerdaskan anak-anak daerah, salah satunya dengan cara memudahkan akses internet hingga ke pelosok.

Saya mengimbau para pemimpin daerah baru di Jawa Tengah, Pak Bibit dan Bu Rustriningsih, dan para pemimpin daerah lainnya untuk merealisasikan janji mereka untuk peduli pendidikan. Nasib bangsa ini kelak, ada di tangan anak-anak muda ini.

Semua pemimpin daerah pasti berjanji saat kampanye. “Bangun banyak perpustakaan di semua pelosok desa agar makin banyak anak Indonesia yang rajin membaca. Perbaiki gedung-gedung sekolah yang rusak agar anak-anak Indonesia dapat belajar dengan nyaman. Perbaiki kualitas pendidikan, termasuk perhatian terhadap nasib guru yang telah mengabdikan hidup mereka untuk mencerdaskan bangsa”. Kita tinggal menunggu realisasi janji-janji itu.

Ayo, adik-adikku di seluruh Indonesia, teruslah rajin menulis dan membaca. Menulis di weblog, seperti ini, salah satu sarana yang tepat untuk belajar.

Jakarta, 9 Juli 2008

FOTO di blog ini ATAS: foto saya bersama para penulis muda, pelajar SMP dan SMA se-Indonesia. BAWAH: foto saya bersama Panitia Creative Writing bagi Penulis Muda.