Arsip Tag: Kalimantan Barat

Waspadai Provokator

Pengantar
Berita konflik etnis di Sambas, Kalimantan Barat berawal dari peristiwa di Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, persis pada Hari Raya Idul Fitri. Ini sejarah kelam republik ini. (KSP)

KOMPAS
Sabtu, 23 Jan 1999
Halaman: 8
Penulis: ZAL/NTS/KSP

WASPADAI PROVOKATOR
Manado, Kompas
Untuk mencegah kerusuhan di wilayahnya, Gubernur Sulawesi Utara
EE Mangindaan hari Jumat (22/1) menginstruksikan aparat desa dan
kelurahan mewaspadai gerakan provokator, dan mengaktifkan kembali
sistem keamanan lingkungan dan mengenakan wajib lapor bagi para
pendatang.

Sementara itu, aparat keamanan di Kabupaten Cilacap (Jateng)
dan Kabupaten Sambas (Kalbar) sibuk menengahi tawuran antarwarga
dua desa berdampingan. Tawuran itu di Cilacap bermula dari tindakan
pemalakan terhadap sopir bus, dan tawuran di Sambas bermula dari
pengeroyokan seorang maling.

Di Manado, instruksi gubernur itu dikeluarkan setelah
berlangsung pertemuan dengan Ketua DPRD Sulut, Rolin Tanos, Muspida
Sulut, serta para bupati dan wali kota, pimpinan agama, tokoh
masyarakat, unsur pimpinan organisasi pemuda dan mahasiswa serta
para pejabat instansi terkait di Sulawesi Utara.

Mengindaan menekankan, kewaspadaan harus terus dilakukan,
terutama terhadap orang yang dicurigai dan tidak memiliki identitas
sama sekali atau yang tidak jelas identitasnya. Adanya orang yang
demikian harus segera dilaporkan kepada aparat keamanan terdekat.

Gubernur juga minta aparat keamanan, aparat hukum, serta para pejabat
pemerintah selalu berada bersama-sama masyarakat di daerah tugas
masing-masing, sehingga bila ada kejadian bisa segera diatasi.

“Jangan tinggalkan tokoh agama dan masyarakat, dan pemuda,
karena mereka semua merupakan pilar utama untuk menjaga stabilitas
daerah ini,” kata Mangindaan.

Dalam suasana religius merayakan Natal, Tahun Baru, dan Idul
Fitri, harus dijaga dan dipelihara bersama situasi aman, dan tenteram
saat ini untuk menghadapi Pemilu dan Sidang Umum MPR 1999 sebagai
pintu gerbang menuju demokrasi. “Silakan berpolitik, tetapi tetap
harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Mangindaan.

Sebagai antisipasi kemungkinan munculnya kerusuhan di Sulut,
Mangindaan meminta masyarakat waspada penuh terhadap isu provokator
yang mengadu domba antarumat beragama dan kelompok masyarakat. Ia
juga menambahkan, aparat keamanan dan pemerintah daerah tetap harus
waspada setelah mampu mengendalikan keamanan. “Perlu diwaspadai munculnya aksi susulan,” katanya.

Sementara itu, Komandan Korem 131/Santiago, Kolonel (Inf) R
Simorangkir mengungkapkan adanya kegiatan provokasi yang dilakukan
orang tertentu di beberapa tempat dengan tujuan memicu kerusuhan di
Manado. Provokator itu sering berpindah-pindah hotel atau rumah untuk
menghilangkan jejaknya.

Aparat keamanan dari Korem 131/Santiago dan kepolisian bersama
petugas terkait akan terus berupaya melakukan pendeteksian dini agar
usaha atau aksi para provokator itu dapat dieleminir dan sekaligus
menangkap pelakunya.

Aksi palak
Bentrokan antara warga Desa Adipala dan Desa Penggalang di
Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jateng, Kamis hingga Jumat
menyebabkan 21 warga kedua desa itu luka terkena lemparan batu.

Korban umumnya mengalami luka memar di kepala dan wajah. Namun Tasno (21), warga Desa Adipala luka parah dan dalam keadaan kritis di Rumahsakit
Umum Cilacap. Bus Wisnu Rahayu yang sedang berada di terminal bus
Adipala rusak diamuk massa.

Tawuran yang melibatkan ribuan warga kedua desa itu, menurut
Camat Adipala Muhadi, dan Kapolsek Letda (Pol) Imam Setyono maupun
Komandan Koramil, Pelda Fachrurozi, bermula Kamis pagi ketika
beberapa pemuda Penggalang mencoba memalak seorang sopir bus yang kebetulan warga Adipala. Karena permintaannya tidak dipenuhi, seorang pemuda Penggalang menusuk kepala sopir itu dengan sebilah garpu.

Kejadian itu kemudian menyulut perselisihan dan bentrok massal
antardesa. Menurut Muhadi, Jumat siang sebenarnya sudah diadakan
perdamaian. Warga kedua desa bertetangga sepakat menghentikan
permusuhan. “Akan tetapi entah kenapa kesepakatan damai itu
dilanggar,” ujarnya.

Suasana di perbatasan kedua desa hingga kemarin sore masih
sangat mencekam. Ribuan warga kedua desa itu melengkapi dirinya
dengan batu, parang, pedang, pentungan, batangan besi, katapel,
bahkan senapan angin. Sejak Jumat pagi mereka sudah berhadap-hadapan dan dalam kondisi “siap tempur”.


Jarak kedua kubu hanya sekitar 30 meter hingga 40 meter. Belasan pemuda Adipala dengan sepeda motor hilir mudik mengangkut karung plastik berisi batu, ke garis depan. Berbeda dari kubu Adipala yang sebagian besar anak-anak muda, “pasukan” dari kubu Penggalang tidak hanya terdiri anak-anak muda, tetapi juga kaum ibu sampai kakek-nenek ikut bersiap menghadapi kubu lawan. Polres Cilacap telah mengerahkan pasukan pengendalian massa
untuk memperkuat petugas keamanan dari Polsek dan Koramil setempat.

Mengeroyok maling
Sementara itu, situasi Desa Paritsetia di Kecamatan Jawai,
Kabupaten Sambas, kemarin berangsur-angsur pulih, setelah terjadi
bentrokan antardesa. Namun sebagian besar penduduk masih mengungsi
karena khawatir akan terjadi serangan susulan. Komandan Korem 121/ABW
Kolonel (Inf) Encip Kadarusman mengimbau penduduk yang mengungsi
untuk segera kembali ke rumah masing-masing. “Petugas menjamin keamanan. Silakan kembali,” ujar Encip Kadarusman.

Lebih 90 persen dari 3.000 penduduk Desa Paritsetia sejak
Selasa sore lalu mengungsi ke desa lain setelah terjadi serangan
massa berjumlah sekitar 300-an orang bersenjata tajam ke desa mereka.

Polisi Sambas sudah menahan sembilan orang tersangka. Dua
tahanan terakhir adalah warga Desa Paritsetia yang disangka
mengeroyok Hasan (yang tertangkap basah hendak mencuri). Sedangkan tersangka dari Desa Sarimakmur tetap satu orang, yaitu Nian bin Tolok, ayah Hasan. (zal/nts/ksp)

Bentrokan di Sambas dan Bolaang Mongondow

Pengantar
Berita adalah bagian dari sejarah. Berita konflik etnis di Sambas, Kalimantan Barat juga bagian dari sejarah kelam hidup bermasyarakat di republik ini. Berita-berita masa lalu tentang Sambas bukan ingin menghidupkan suasana masa silam, tetapi mungkin ada sesuatu yang dapat kita pelajari, kita ambil hikmahnya, agar kejadian serupa tidak pernah terulang lagi. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 22 Jan 1999
Halaman: 1
Penulis: KSP/NTS/ZAL/THY

BENTROKAN DI SAMBAS DAN BOLAANG MONGONDOW

Singkawang, Kompas
Suasana Lebaran di Desa Paritsetia, Kecamatan Jawai, Kabupaten
Sambas (Kalbar) berubah menjadi duka dan mencekam sejak Selasa (19/1)
hingga hari Kamis (21/1) sore, akibat serbuan warga desa tetangga yang
menyebabkan tiga orang tewas dan dua lainnya luka berat. Warga yang
tewas, Ayub (45), Wasli (35), dan Mahli (45); sedang yang luka Rasyim
Ayub dan Pani Bujang.

Bukan hanya di Sambas. Sebagian warga Kecamatan Lolayan,
Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulut) juga tercekam, menyusul bentrok
antardua desa pada hari kedua Lebaran, Rabu (20/1) lalu. Peristiwa
ini menyebabkan sembilan rumah terbakar dan belasan lainnya rusak.

Di Banyumas dan Pemalang (Jateng) juga terjadi bentrokan,
menyebabkan beberapa orang terluka. Sedang di Kapetakan (Cirebon),
meski bentrok antardua desa setempat sudah agak mengendur, tetapi
tetap mengganggu jalur balik Lebaran antara Cirebon-Indramayu.

3.000 mengungsi
Menurut laporan dari Sambas, lebih 90 persen penduduk desa
yang berjumlah 3.000 orang kini mengungsi. Mereka trauma menyusul
serangan sebanyak 300-an orang bersenjata tajam ke desa yang berawal
dari kasus pencurian dan pemukulan. Sehubungan bentrok tersebut,
Batalyon Infanteri 641/ Beruang (Singkawang) dan Polres Sambas masih
berjaga-jaga di lokasi.

Para pengungsi termasuk camat, dokter Puskesmas, bahkan tukang
ojek. Mereka mengungsi ke tempat lain, karena tak berani tinggal di
rumah masing-masing.

Menurut Herman, warga Desa Paritsetia, sudah puluhan tahun
desanya aman tenteram, tak terusik keributan. “Entah mengapa,
kekerasan menjalar ke tempat kami yang jauh dari hiruk-pikuk kota,”
ungkapnya sedih.

Bupati Sambas, Tarya Aryanto di depan tokoh masyarakat Kecamatan
Jawai mengimbau agar warga tidak terpancing isu adu-domba. Menurut
Tarya, sudah ada kesepakatan damai, di mana yang salah tetap
diproses secara hukum.

Kasus itu sendiri dipicu kejadian hari Minggu dinihari lalu
ketika seorang warga Desa Sarimakmur, Hs, tertangkap saat mencuri di
sebuah rumah warga Desa Paritsetia. Hs ditangkap dan dipukuli kemudian
dibebaskan setelah dirawat di Puskesmas tanpa dilaporkan ke polisi.

Berikutnya, saat warga saling bersilaturahmi Lebaran, massa
mendatangi Desa Paritsetia dan memukul siapa saja yang terlihat di
jalan. Polisi kini sudah mengamankan Ni bin Tl, warga Desa Sarimakmur,
tersangka pemukul yang menyerahkan diri. Menurut informasi, enam
tersangka lain diduga menganiaya Hs.

Banyumas
Laporan dari Purwokerto menyebutkan, sepanjang Rabu malam
hingga Kamis pagi kemarin, sedikitnya terjadi dua peristiwa tawuran
antarwarga dan dua peristiwa amuk massa yang meminta empat korban luka
dan enam buah rumah rusak.

Tawuran yang melibatkan ratusan orang, terjadi di jalur jalan
Cindaga (Banyumas)-Sampang (Cilacap), yakni antara kelompok dari Desa
Cindaga, Kecamatan Kebasen, dengan kelompok massa dari Desa Sampang,
Kecamatan Sampang. Tawuran yang berawal dari serempetan sepeda motor
itu berakibat empat warga luka-luka.

Di Desa Gancang, Kecamatan Gumelar (Banyumas) juga terjadi
amuk massa antardua kubu pendukung calon kepala desa. Insiden ini
mengakibatkan enam buah rumah dan satu tempat ibadah rusak.

Kasus pemukulan juga terjadi di Purwokerto, Rabu malam oleh
lima orang terhadap Satpam Doyo Wiratmoko (33) dan penjaga malam pada
bengkel Bintang Wijaya, Slamet (21). Di pantura Jateng, Kamis malam
terjadi dua tawuran antarkelompok pemuda dan tawuran massal juga
terjadi di lokawisata Pantai Widuri, Kabupaten Pemalang.

Komandan Korem 071/Wijaya Kusuma (Banyumas-Pekalongan), Kolonel
(Inf) M Noer Muis mengimbau agar masyarakat tidak mudah terhasut
isu-isu yang negatif.

Bolaang Mongondow
Sementara itu, dari Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulut) dilaporkan,
sembilan rumah penduduk ludes terbakar dan belasan rumah lainnya rusak
total dalam tawuran antardesa di Kecamatan Lolayan, sekitar 220 km
Selatan Manado, Rabu lalu.

Bupati Bolaang Mongondow, Muda Mokoginta, mengatakan, suasana
desa telah pulih kembali. Mokoginta mengatakan, akibat tawuran itu,
enam warga dari kedua desa menderita cedera dan harus dirawat.

Kadispen Polda Sulut, Mayor (Pol) Petrus Rualemba, menyebutkan
aparat telah mengamankan beberapa pelaku utama pertikaian.
Ditambahkan, pihak keamanan telah menempatkan pasukan terdiri dari
unsur Polres Kotamobagu dan Kodim setempat.

Cirebon
Di jalur alternatif mudik Lebaran Cirebon-Indramayu (Jabar)
juga terjadi tawuran antarpenduduk empat desa di Kecamatan Kapetakan,
yang menyebabkan setidaknya 28 rumah rusak terkena lemparan batu dan
empat rumah dibakar. Sampai Kamis malam, ketegangan masih berlanjut.

Komandan Korem 063/ Sunan Gunungjati, Kolonel (Inf) Herry
Cahyana mengatakan, pasukannya baru mendapat bantuan 60 personil
kendaraan bermotor dari Kodam III Siliwangi. “Masyarakat tidak perlu
khawatir saat melintasi jalur pantura Jabar karena kami jamin
keamanannya,” kata Herry Cahyana.

Di Porsea (Sumut), massa menghadang kendaraan yang melalui
Porsea, Kabupaten Tapanuli Utara, pada hari Kamis, sehingga para
pengemudi angkutan umum dan pribadi dari Sibolga menuju Medan, banyak
mengalihkan jalur. Selain menghentikan kendaraan, massa juga membakar
ban-ban dan merintangkan kayu di tengah jalan.

Para penumpang bus umum diperiksa dan dimintai uang, demikian
juga terhadap pengemudi kendaraan pribadi. “Kami terpaksa ikut para
pengemudi kendaraan lainnya yang mengalihkan jalur Porsea-Medan,
akhirnya melalui Dolog Sanggul- Dairi-Kabanjahe dan Berastagi yang
jaraknya lebih jauh menuju Medan,” tutur Budi bersama keluarganya
yang tiba di Medan. Belum diketahui motif kejadian di Porsea ini.
(ksp/nts/zal/thy/Ant)

Menghidupkan Kota Air Pontianak


KOMPAS
Senin, 08 Mar 1999
Halaman: 24
Penulis: KSP

MENGHIDUPKAN KOTA AIR PONTIANAK


JANGAN bandingkan Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat
dengan Kota Amsterdam di Belanda atau Venezia di Italia. Kota-kota
di mancanegara itu betul-betul sudah memanfaatkan kehadiran sungai
sebagai salah satu obyek wisata tirta. Ratusan ribu bahkan jutaan
turis datang dan menikmati wisata tirta yang ada di sana, serta
menyumbang bagi devisa negara. Sedangkan Pontianak, meski sama-sama
kota air, belum mampu melakukannya.

DI Amsterdam, turis bisa mengitari kanal-kanal di kota itu
dengan kapal wisata, sambil menikmati bangunan tua yang masih terawat
baik dan melihat kincir angin berputar-putar. Di Venezia, wisatawan
bisa naik gondola di sungai, singgah di lapangan San Marco, lalu
bermain dengan burung-burung di depan gereja tua, minum kopi di kafe,
atau berbelanja cinderamata.

Di London, turis menikmati keindahan jembatan dan Sungai Thames,
atau makan di restoran terapung di tepi sungai itu. Betapa asyiknya,
menyaksikan turis-turis menikmati suasana romantis di sungai.

Kota-kota yang usianya ratusan tahun di mancanegara itu memang
berada di negara maju. Sehingga orang pasti berpikir, sulit untuk
membandingkannya dengan Pontianak. Akan tetapi, mengapa kota Kuching
(berpenduduk sekitar 400.000 jiwa)-yang dibelah Sungai Sarawak
(Malaysia Timur) dan lokasinya sama-sama di Borneo-mampu menarik
wisatawan?
***

LIHATLAH misalnya, kawasan waterfront di Kuching yang dibangun
Pemerintah Sarawak tahun 1988 dan rampung empat tahun kemudian. Kini
tempat itu menjadi salah satu primadona wisata kota itu. Perkampungan
kumuh di kiri-kanan Sungai Sarawak itu dibenahi dan dipercantik dengan
biaya 89 juta ringgit Malaysia (RM).

Kawasan sepanjang 800 meter dan akan ditata sampai tiga kilometer
itu, kini menjadi pusat rekreasi dan hiburan masyarakat. Lampu-lampu
hias dipasang. Bangku-bangku pelepas lelah disediakan. Restoran
berkelas internasional, bahkan kafe cyber-yang menyediakan fasilitas
internet-pun menjamur. Padahal, pengembangan Kota Kuching baru terjadi
satu dasawarsa terakhir ini.

Menurut pejabat pariwisata Sarawak, sekitar satu juta turis datang
ke negara bagian Malaysia itu setiap tahunnya. Mereka bukan hanya
menikmati Kota Kuching dengan waterfront-nya, tetapi juga mengunjungi
Museum Sarawak, Museum Kuching (semua yang berkaitan dengan binatang
kucing ada di sini), dan juga obyek-obyek wisata alami bernuansa
petualangan (adventure tourism). Kondisi Sarawak mirip dengan kondisi
Borneo secara umum.

Namun mengapa Kalbar tak mampu menarik wisman yang datang ke
Sarawak, untuk melanjutkan perjalanannya ke Pontianak dan kota-kota
lainnya?
***

PERTANYAANNYA kemudian, bagaimana pengelolaan pariwisata Pontianak
yang usianya sudah 227 tahun ini? Mungkinkah ada yang salah urus?
Ataukah tak ada keinginan ngotot untuk menjadikan Pontianak salah satu
daerah tujuan wisata yang menarik?

Lihat saja kanal atau acap disebut parit (sungai kecil dengan
lebar satu-dua meter) yang mengitari kota berpenduduk sekitar 500.000
jiwa ini. Banyak sampah dan limbah. Kotor dan bau. Belum lagi
parit-parit ini sudah banyak berubah menjadi jalan, tempat parkir toko
dan sebagainya. Kekhasan Pontianak sebagai kota air pun makin luntur.

Tak ada yang bisa menahan pejabat mengeluarkan izin pengalihan fungsi
parit. Mungkin uang lebih “berbicara”, sehingga tata ruang kota pun
diobrak-abrik seenaknya.

Lalu soal museum. Jangan anggap Pontianak tidak memiliki museum.
Tetapi, seperti juga terjadi di kota-kota lain, langkanya pengunjung
ke museum, membuat prihatin. Bandingkan dengan pengunjung Museum
Sarawak di Kuching (tak usah jauh-jauh ke museum-museum terkenal di
Eropa). Ramai dan penuh dengan turis. Pengunjung museum di Kuching
dapat mengetahui sejarah Sarawak secara jelas melalui foto. Mereka
juga dapat memahami akar budaya masyarakat Sarawak, yang didominasi
etnis Dayak, Cina, dan Melayu, mirip dengan Kalbar.

Sebagai kota yang dilintasi garis khatulistiwa, Pontianak memiliki
monumen tak ada duanya di dunia, yaitu Tugu Khatulistiwa. Tetapi
berapa jumlah pengunjung Tugu Khatulistiwa setiap hari? Penjaganya
mengatakan, bisa dihitung dengan jari. Pengunjung baru agak ramai
jika ada peristiwa kulminasi Matahari. Alangkah merananya.
***

JIKA dirinci secara detail, potensi pariwisata Kota Pontianak
tidak sedikit. Selain wisata tirta dengan mengajak turis menyusuri
Sungai Kapuas dan menyaksikan aktivitas masyarakat di sungai, yang
juga bisa dikembangkan adalah wisata etnik yang menampilkan atraksi
budaya masyarakat Dayak, Melayu, dan Cina.

Pesta Gawai masyarakat Dayak di Rumah Betang (rumah panjang)
masih berkesan diadakan dari dan untuk kalangan sendiri. Mengapa
tidak dikembangkan menjadi atraksi yang bisa dinikmati wisatawan?
Misalnya, bekerja sama dengan agen-agen perjalanan wisata yang biasa
mendatangkan turis. Asalkan jadwalnya tetap, pesta Gawai Dayak-seperti
yang ada di Sarawak-pasti diminati banyak wisatawan.

Atraksi kebudayaan Melayu pun menarik ditonjolkan. Restoran
“Warung Dangau” sudah menampilkan budaya Melayu. Dari pelayannya
yang mengenakan pakaian adat Melayu, sampai lagu-lagu khas Melayu.

Bagaimana dengan atraksi kebudayaan Cina? Belum lama ini atraksi
barongsai mewarnai Cap Go Meh. Mungkin ini sinyal baik untuk menggelar
atraksi budaya Cina di pentas resmi. Jika di Sarawak, wisata etnik ini
bisa “dijual” kepada turis asing, mengapa di Pontianak tidak bisa?
***

MENGAPA Pontianak belum mampu mengembangkan sektor pariwisatanya?
Sebagai kota tanpa sumber daya alam olahan, Pontianak seharusnya mampu
menciptakan keuntungan ekonomi dengan memanfaatkan Sungai Kapuas dan
lokasi tepian sungainya sebagai daya tarik.

Konsep pengembangan Pontianak Waterfront City sudah digulirkan
sejak dua tahun silam. Namun sebagaimana halnya sebuah konsep, isinya
pasti indah-indah, tetapi pelaksanaannya masih menunggu waktu, entah
kapan bisa direalisasi.

Beberapa simpul dikembangkan untuk mewujudkan cita-cita ini.
Makam Batu Layang, antara lain makam Sultan Syarif Abdulrachman,
pendiri Kota Pontianak pada tahun 1771 silam, dikembangkan sebagai
wisata sejarah. Pelabuhan Nipahkuning, kawasan Jeruju, Tugu
Khatulistiwa, Siantan, Alun-alun, Siantan Hulu, Beting Permai,
Pelabuhan Seng Hi, serta kaki jembatan tol Sungai Kapuas Kecil dan
Sungai Landak, akan dikembangkan menjadi tempat wisata masa depan.

Akar persoalan semua ini kembali pada kemauan pemerintah dan
dukungan masyarakat. Pemerintah selalu mengemukakan alasan soal
minimnya anggaran. Tetapi, seperti kata pepatah, di mana ada kemauan,
di situ ada jalan. Kalau pemerintah memberi dukungan dan memberi
iklim kondusif, pengusaha swasta yang bergerak di bidang pariwisata
pun dengan senang hati mendukung program pariwisata kota.
***

ALEX Toersanto, pengelola Biro Perjalanan Ateng Tour Pontianak,
sejak satu setengah tahun silam sudah berupaya menyediakan kapal
wisata Kapuas Cruise untuk wisatawan mancanegara dan wisatawan
nusantara. Sayangnya, krisis ekonomi berkepanjangan membuat niat
promosinya tertunda. Namun Alex tetap optimis. Sejak Januari 1999 ia
merencanakan Kapuas Cruise berkapasitas 50 orang itu akan menyusuri
Sungai Kapuas sedikitnya satu minggu sekali.

Kepala Kantor Wilayah Pariwisata, Seni dan Budaya (Kakanwil
Parsenibud) Kalbar, Ries Hartadi, menyambut baik usaha Alex
memperkenalkan Pontianak melalui Sungai Kapuas. “Bahkan sebetulnya,
orang bisa saja mengadakan rapat di atas kapal di tengah sungai.
Mengapa tidak dicoba?” kata Hartadi.

Tetapi itu baru satu langkah ke depan. Langkah lain, instansinya
membentuk forum Masyarakat Peduli Kapuas. Tujuannya antara lain
memikirkan bersama bagaimana Sungai Kapuas-yang dikenal sebagai sungai
terpanjang di Indonesia dengan panjang lebih dari 1.000 km ini-dapat
dimanfaatkan maksimal. (Robert Adhi Ksp)

FOTO ilustrasi di blog ini diambil dari http://www.ucnet.pe.kr/Asia-Indonesia/ENGLISH-WFB%20Asia-Indonesia-Borneo.html


Sukartadji dan Wisata Alam Kalbar

KOMPAS
Selasa, 12 Jan 1999
Halaman: 12
Penulis: ADHI KSP

SUKARTADJI DAN WISATA ALAM KALBAR

MENDAMBAKAN suasana pantai yang masih alami? Datanglah ke
Taman Pasir Panjang Indah, sekitar 17 km menjelang kota Singkawang,
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Selain menikmati deburan ombak,
Anda menyaksikan tupai dan kera berloncatan di pepohonan, dan
mendengar kicauan burung yang menyejukkan hati dari tempat menginap.

Suasana hutan asli ini sengaja dibuat sedemikian rupa oleh
pengelolanya, Sukartadji (58). “Bangunan di sini tak ada harganya
dibanding suasana alam yang masih asli,” kata pengusaha kelahiran
Trenggalek, Jawa Timur itu. Sukartadji yakin, suasana alam yang asli,
mampu memberikan kesegaran dan kesejukan bagi pengunjung yang datang
ke tempat wisatanya.

Tupai, kera, dan aneka burung sejak awal ada di hutan itu,
Sukartadji tinggal melestarikannya. Tamu-tamu dilarang membawa
anjing, kucing, dan ayam, agar mereka yang menggelar tikar di pantai tak
terganggu. Pengunjung juga dilarang menembak aneka burung di kawasan
itu.

Taman Pasir Panjang Indah (TPPI) seluas 230 hektar (dan yang
baru terjamah sekitar 50 hektar) pernah dipasarkan di Monaco dalam
pasar wisata Eropa. Hasilnya? Ada grup investor Eropa yang merespons.
Namun saat itu, Sukartadji mengaku agak “terpeleset” karena terlalu
menonjolkan bangunan penunjang dan kolam renang. “Padahal bagi turis
Eropa, yang utama adalah unsur alami. Mereka kurang suka wisata
buatan,” jelasnya.

Tahun berikutnya, 1997, ketika akan memasarkan TPPI di pasar
wisata Berlin, Sukartadji mencari obyek wisata alam untuk pendukung,
dari Gunung Niut hingga air terjun di Desa Dawar. Ia khusus menyewa
fotografer Inggris untuk memotret obyek-obyek wisata alam di Kalbar.

Apa yang dipromosikan Sukartadji, tak sia-sia. Asosiasi
Perjalanan Wisata Jerman menanggapi positif. Ketuanya Heike Gollner,
April 1998 lalu datang ke Kalbar, menjajaki kemungkinan menjalin
kerja sama wisata. “Turis Eropa lebih suka wisata alami. Misalnya, menginap
di pondok peristirahatan yang dibuat mirip Rumah Betang (rumah
panjang masyarakat Dayak) sambil mendengar gemuruh air terjun dan menyaksikan orangutan bermain-main,” jelas Gollner.

Keyakinan Sukartadji, wisata alam akan diminati turis Eropa,
mengacu pengalamannya di pasar wisata Berlin. Saat itu tetangga kita,
Filipina menampilkan foto petani nongkrong di sawah membawa cangkul
dengan latar belakang gunung. Ternyata peminatnya banyak. Fenomena
“kembali ke alam” ini ternyata digemari.

Maret 1999 nanti, di pasar wisata yang sama, Sukartadji
berencana menjual wisata alam Kalbar, menampilkan gambar ukuran 4 m x
8 m, memuat perempuan Dayak sedang menambang emas di sungai
dilatarbelakangi air terjun.

Dari promosi di pasar wisata, beberapa investor asing ada yang
berminat. Grup Kempinski misalnya, sudah melakukan survei, berencana
membangun hotel berbintang di kawasan Pasir Panjang.

Namun, kedatangan calon investor, acapkali tidak diantisipasi
aparat pemda. Berulangkali mereka datang, tapi surat-surat macet
karena perlu “uang pelicin”. “Orang mau menanam modal, kok
dipersulit,” kritik Sukartadji menyayangkan mental aparat. Ia menilai
visi aparat tentang pariwisata tidak ada. Soalnya, kedatangan orang
asing menanam investasi, selalu dianggap sebagai rezeki untuk kantung
pribadi.
***

NAMA Sukartadji memang identik dengan Taman Pasir Panjang
Indah, Singkawang. Pria inilah yang “menemukan” pantai ini dan
menyulapnya menjadi tempat wisata alami yang senantiasa ramai
dikunjungi.

Ketika tidur di atas karung garam di kapal yang membawanya
dari Surabaya ke Pontianak sekitar 37 tahun silam, Sukartadji tak
pernah bermimpi suatu hari akan menjadi pengusaha. Perjalanan selama
lima hari itu, membuat Sukartadji mabuk laut, sehingga ia tak bisa
menikmati petualangan barunya. Waktu itu usianya masih 21 tahun.

Namun anak kedua dari sembilan bersaudara pasangan Sukardjiman
(guru SD) dan Ny Yatini ini sudah bertekad mencari pengalaman baru di
Kalimantan Barat. Sejak masih duduk di kelas V SD di Trenggalek, Jawa
Timur, ia sudah rajin membantu ibunya memasarkan barang (seperti
kelom dan beha) ke tetangga dan pegawai.

“Itulah cara ibu mendidik saya menjadi wiraswasta,” tutur
Sukartadji dalam percakapan dengan Kompas di Taman Pasir Panjang
Indah, Singkawang, Kabupaten Sambas, Kalbar. Tempat wisata itu
dikelola secara profesional, dan menjadi salah satu primadona
pariwisata Kalbar.

Setamat dari SMAN I Malang tahun 1961, Sukartadji memutuskan
mengadu nasib ke Kalbar, karena bosan menjadi penganggur. “Masa’ saya
harus jual beha terus dari rumah ke rumah,” katanya.

Awalnya, pada tahun 1962, ia bekerja di PLN Cabang Pontianak.
Setelah bekerja enam bulan, Ong Kong Ann, pimpinan PLN saat itu,
memindahkannya ke PLN Ranting Singkawang, dan ditempatkan di bagian
logistik (angkutan) perminyakan. Tugasnya mengurusi logistik minyak
ke Pontianak. Di Singkawang, ia mendapat jodoh, menikah dengan Suharti
(55), dianugerahi empat putra dan lima cucu.

Lima tahun kemudian, karena dinilai berhasil, Sukartadji
dipercaya mengurus logistik minyak se-Kalbar. Ia pun ikut berbisnis
minyak bersama pedagang Kalbar.

Namun pada 1969, keluar peraturan pegawai negeri dilarang
berdagang, ia mengajukan mundur dari PLN. Tahun 1971, permintaan
pengunduran dirinya disetujui dengan catatan, ia masih membantu
bidang
transportasi. Sukartadji mengembangkan PT Wahyu Niaga yang bergerak di bidang transportasi minyak.

Mundur dari PLN bukan berarti tak berhubungan lagi. Sukartadji
yang mendirikan CV Wahyu dan bergerak di bidang konstruksi, mendapat
tender PLN dari membangun tangki di Kabupaten Sambas hingga
rumah-rumah dinas PLN di kawasan Siantan, Pontianak.

Pekerjaan paling menguntungkan, pada 1975 membangun tegangan
tinggi pada jalur Pontianak-Mempawah-Anjungan, dan
Singkawang-Pemangkat. Keuntungan yang diperolehnya, dijadikan modal
membangun Hotel Palapa di Singkawang pada 1976, dan satu-satunya
hotel megah di kawasan itu. Kapolri (waktu itu) Jenderal Pol Widodo
Budidarmo tercatat sebagai tamu pertama yang menginap di sana,
disusul pejabat lain. Sayang, hotel itu salah urus dan terpaksa dijual tahun
1996, setelah 20 tahun beroperasi.

Tapi Sukartadji yang hobi mandi di pantai ini masih memiliki
aset pariwisata lain. Tahun 1976, secara tak sengaja ia “menemukan”
pantai Pasir Panjang. Setelah tiga tahun membersihkan hutan belantara
di tepi Laut Natuna itu, akhirnya secara bertahap ia membangun motel,
cottage, restoran, kolam renang. Dari sinilah, Sukartadji makin
memahami dunia pariwisata.

Ia juga membeli Pulau Randaian (kira-kira dua jam naik perahu
motor dari pantai Pasir Panjang). Pulau yang dipenuhi pohon kelapa
itu, kini menjadi salah satu sasaran turis. Laut yang mengelilingi
pulau itu masih jernih dan cocok bagi para penyelam, terutama dari
Sarawak. “Masih banyak yang harus dibenahi untuk membuat pulau ini
diminati turis asing,” kata Sigmund Schwarz, warga Jerman yang
singgah di Pulau Randaian.

Obsesi Sukartadji adalah menggarap wisata alam di Kalbar yang
berlimpah-ruah menjadi obyek wisata menarik bagi wisatawan
mancanegara dan nusantara. Caranya? “Kembalilah ke alam,” katanya.

“Kalau Bali berhasil menjual wisata budaya, mengapa Kalbar
tidak mampu menjual wisata alamnya yang berlimpah-ruah? Air terjun,
gunung, sungai, hutan belantara, pantai, pulau dan banyak lagi yang
belum digarap. Itu semua potensi besar yang harus disadari semua
pihak,” ujarnya. (Adhi Ksp)

Foto:1
Kompas/ksp
Sukartadji

Taman Nasional Bentuang Karimun: Hutan Perawan, Sungai Jernih Bebas Polusi

KOMPAS

Senin, 21 Dec 1998

Halaman: 15

Penulis: ADHI KSP

Taman Nasional Bentuang Karimun
HUTAN PERAWAN, SUNGAI JERNIH BEBAS POLUSI

PENGANTAR REDAKSI
BELUM lama ini, sejumlah peneliti WWF (World Wide Fund for
Nature) Indonesia melakukan ekspedisi ke Taman Nasional Bentuang Karimun (TNBK) di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Wartawan Kompas Robert Adhi KSP yang menyertai rombongan peneliti WWF itu, menuliskan catatan dan kesan-kesannya menjelajahi hutan dan sungai selama satu minggu di kawasan TNBK itu.

MAKAN ikan segar langsung dari tepi lubuk tempat menangkapnya,
tentu sangat jarang dinikmati orang kota.
Apalagi di tengah alam yang boleh dikata liar. Tidur pun
harus berteman nyamuk hutan, diantar musik semesta berupa gemericikair
sungai.

TAMAN Nasional Bentuang Karimun (TNBK) di Kabupaten Kapuas
Hulu Kalimantan Barat, menawarkan suasana menggetarkan seperti itu.
Kawasan ini ideal sebagai kawasan wisata alam. Selain menyimpan
kekayaan alam, juga penuh tantangan dan petualangan.

Dari perjalanan Kompas dengan sekitar 15 peneliti WWF (World Wide
Fund for Nature) Indonesia belum lama ini ke kawasan TNBK terlihat
nyata, betapa belantara di TNBK masih “perawan”. Sungai-sungai kecil
mengalir dengan air yang masih bening, tanpa polusi, di tengah
kerimbunan hutan yang hijau. Mandi dan berenang di sungai ini pun
serasa seperti berada “di air aqua”, bersih dan jernih. Sungguh
kontras dibanding sungai-sungai di Jakarta yang penuh aneka limbah.

Perjalanan dengan perahu motor berkekuatan 40 PK milik WWF
Bentuang Karimun dimulai dari tepi Sungai Kapuas di Kota Putussibau,
ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, wilayah paling timur di Kalimantan
Barat. Jarak Pontianak-Putussibau lewat jalan darat ditempuh sekitar
700 km, atau kira-kira 15 jam naik bus umum.

Untuk mencapai kawasan TNBK dengan perahu motor, dibutuhkan waktu
sekitar lima jam. Perjalanan melelahkan di terik matahari diselingi
hujan deras, harus melewati sejumlah riam berbahaya.
“Makin ke hulu, riam yang harus dilewati makin besar dan banyak,”
kata Haran yang mahir mengendalikan perahu motor menuju hulu Sungai
Mendalam.
***

KAMPUNG terakhir yang ada di luar kawasan TNBK di pesisir Sungai
Mendalam adalah Kampung Nangahovaat (disebut penduduk setempat
Nangaobat). Kampung ini didiami sekitar 200 orang masyarakat Dayak
Punan-Bukat, yang seluruhnya-pria dan wanita-mengandalkan hidup dari
berburu binatang di hutan. Masyarakat kampung ini masih mempertahankan
adat, membagi-bagi hasil buruan ke semua tetangga.

Sebelum menuju camp I di kawasan TNBK, yang menjadi tempat
peristirahatan para peneliti WWF, rombongan singgah di kampung ini dan
berbincang-bincang dengan tokoh masyarakat setempat. Dalam ekspedisi
kali ini, WWF membagi dua camp, kelompok peneliti flora di camp I dan
kelompok peneliti fauna di camp II.

Pengalaman tidur di tengah hutan belantara Kalimantan merupakan
pengalaman berkesan. Tidur di hutan berarti sudah harus siap
“berkawan” dengan nyamuk, serangga kecil (agas) dengan gigitan
menyengat, serta serangga lainnya. Lotion anti-nyamuk seperti Autan
atau Sari Puspa tampaknya tidak mempan menghadapi aksi berbagai jenis
serangga itu.

“Yang paling pas, membawa kelambu,” kata Mering Ngo, seorang
antropolog-peneliti asal masyarakat Dayak, mengingatkan semua anggota
rombongan sebelum berangkat. Alhasil, kelambulah yang paling ampuh
menghindari serangan serangga pada malam hari.

Lokasi camp I di tengah belantara tak jauh dari tepi Sungai
Mendalam dan anak Sungai Rungun. Setiap malam pada saat semua sudah
tertidur, yang terdengar adalah suara air sungai mengalir tak henti.
Demikian pula lokasi camp II yang makin ke hulu, yang bisa ditempuh
dalam waktu 45 menit dengan perahu motor dari camp I.

Salah satu keuntungan masyarakat yang tinggal di tepian sungai
adalah dapat mengonsumsi ikan segar kapan saja. Mereka tinggal
memancing, lalu menggoreng atau merebusnya sebagai santapan lezat.

Itulah yang dilakukan sejumlah peneliti. Ketika bosan menyantap
makanan kaleng kornet dan sarden, mereka pergi ke lubuk (tempat ikan
berkumpul) di Sungai Mendalam, dan memancing ikan. Yang paling banyak
didapat adalah ikan pati, berkumis, dan tulangnya sedikit. Setelah
dibersihkan, ikan-ikan segar itu digoreng, disantap dengan bumbu kecap
dan cabe rawit. Kenikmatan seperti ini tentu jarang ditemukan di
kota-kota besar.
***

BAGI mereka yang menyukai tantangan, perjalanan menjelajahi hutan
dan sungai di belantara Kalimantan ini pasti menyenangkan. Untuk ke
lokasi TNBK saja, perahu motor harus melewati sungai dengan riam-riam
yang berbahaya selama berjam-jam. Belum lagi, menjelajahi hutan
“perawan” yang jarang didatangi manusia dan melintas di (anak)
sungai-sungai kecil yang dangkal dengan air yang jernih.

Ada empat “pintu masuk” menuju TNBK, semuanya melalui sungai.
Selain Sungai Mendalam, tiga lainnya adalah Sungai Embaloh di kawasan
barat, Sungai Kapuas di kawasan timur, dan Sungai Sibau di kawasan
tengah, sama dengan Sungai Mendalam.

Dari Putussibau ke kawasan barat, dibutuhkan waktu sekitar
sembilan jam menggunakan perahu motor, melintasi Sungai Kapuas dan
masuk Sungai Embaloh sampai ke kampung terakhir di Kampung Sadap
setelah melewati daerah Banuamartinus, ibu kota Kecamatan Embaloh
Hulu. Dari kampung Sadap ke perbatasan TNBK, dibutuhkan waktu sekitar
tiga jam.

Jika masuk melalui Sungai Sibau-sama seperti Sungai Mendalam-
dibutuhkan waktu sekitar lima jam untuk mencapai perbatasan TNBK.

Apabila masuk ke kawasan timur, harus melintas di Sungai Kapuas,
sampai ke Kampung Nangabungan di perbatasan TNBK. Itu butuh waktu 10
jam berperahu. Jika ingin melanjutkan perjalanan ke Tanjunglokang
(kampung masyarakat Dayak Hovongan di dalam kawasan TNBK) dibutuhkan
waktu sembilan jam lagi. Perjalanan itu pun harus melewati tiga jeram
besar, jeram Homatop, Hororoi, dan Bakang. Karenanya, pembangunan
jalan darat lintas utara dari Putussibau ke Nangabadau (perbatasan
Kalimantan Barat-Sarawak) dinilai amat penting bagi pengembangan TNBK
yang diarahkan sebagai daerah ekowisata.
***

PETUALANGAN semacam itulah yang selalu dialami para peneliti.
Sebut misalnya Dr Tukirin Partomihardjo PhD, yang bersama tiga
asistennya, Sahirsyah, Albertus, dan Yuliana Suliyati, menjelajahi
hutan di TNBK. Tukirin, ahli botani lulusan Universitas Kagoshima,
Yokohama, Jepang, dan rombongannya siap dengan peralatan, termasuk
kaus kaki “anti-lintah” buatan sendiri. Maklum, masuk hutan yang belum
pernah didatangi orang, tentu harus serba hati-hati.

Pekerjaan peneliti seperti mereka membutuhkan waktu relatif lama.
Mereka menginap di tengah hutan selama satu bulan, menginventarisasi
jenis-jenis flora yang ada di TNBK. Setiap hari, mereka mendaki dan
menuruni bukit dengan kecuraman tinggi. Mereka menyusuri tepi sungai,
tak jarang harus berbasah-basah ketika melintas di sungai kecil dengan
arus yang cukup deras.

Tukirin sebagaimana para peneliti dan pakar flora, yakin kawasan
ini memiliki kekayaan flora yang melimpah. Ia malah menyebutnya
sebagai “laboratorium alam” setara dengan hutan Amazon di Brasil.
“Banyak jenis endemik dan beberapa catatan baru dijumpai dalam
penjelajahan yang relatif singkat dan terbatas, menjadikan kawasan
TNBK sangat penting dan menarik untuk dipelajari lebih jauh,” katanya.

Tukirin optimis dapat mengubah image hutan Amazon paling kaya di
dunia, jika penelitian di TNBK dilakukan secara intensif dan
berkesinambungan. Dari pengalamannya melakukan beberapa kali
penelitian, Tukirin yakin kawasan TNBK menyimpan kekayaan flora tiada
bandingannya. *

CATATAN: NAMA TAMAN NASIONAL BENTUANG KARIMUN DIGANTI MENJADI TAMAN NASIONAL BETUNG KARIHUN

Foto:
Kompas/ksp
BELUM ADA POLUSI – Sungai-sungai yang mengalir di pedalaman
belantara hutan di Taman Nasional Bentuang Karimun, Kabupaten
Kapuas Hulu, Kalbar, sebagian besar belum terkena polusi. Airnya
masih bening sekali dan menyimpan ikan yang berlimpah-limpah.

FOTO di blog ini suasana Sungai Sibau di kawasan Taman Nasional Bentuang Karimun, yang sekarang berganti nama menjadi TN Betung Karihun. Foto ilustrasi diambil dari http://www.dephut.go.id/informasi/tamnas/bent_3.html

Kapet Sanggau: Potensi Besar, Prospek Cerah, Tapi…

KOMPAS
Senin, 14 Dec 1998
Halaman: 19
Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

Kapet Sanggau:
POTENSI BESAR, PROSPEK CERAH, TETAPI…

BULAN April 1998 lalu, serombongan warga Jerman yang berencana
menanamkan investasinya di Kalbar, melakukan survei, menelusuri
sejumlah daerah yang memiliki potensi pariwisata. Mereka sempat
menginap di Rumah Betang (rumah panjang) masyarakat Dayak di Desa
Saham di Kabupaten Pontianak. Mereka diterima dengan ramah oleh
masyarakat setempat.

Orang-orang bule itu memang suka wisata alami. Jadi kalau
tidur dengan kelambu di Rumah Betang pun, tak masalah asalkan bebas
dari serangan nyamuk malaria. Lalu ada komentar, mengapa tidak
menciptakan wisata Rumah Betang seperti di Sarawak? Turis bisa datang
kapan pun, 24 jam, dan penduduk sudah siap menerima tamu. Agaknya,
itulah yang belum ada di sini.

Bagi orang-orang asing itu, wisata petualangan di Kalimantan
lebih mengasyikkan. Makanya ketika perjalanan ke lokasi air terjun
Dawar di Kecamatan Sanggauledo, Kabupaten Sambas, harus mengalami
hambatan luar biasa akibat jalan ke lokasi berlumpur, orang-orang
Jerman itu tidak terlalu mengeluh. “Tetapi kalau mau menjual air
terjun ke turis Eropa, jalan ini tentu saja harus diperbaiki,” kata
Kepala Dinas Pariwisata Kalbar Herzi Hamidi.

Orang-orang Jerman itu juga plesiran ke Pulau Randaian di
Kabupaten Sambas, kira-kira dua jam naik perahu motor dari pantai
Pasirpanjang, Singkawang. Mereka mengagumi laut yang mengelilingi
pulau itu yang masih jernih, tanpa polusi. “Tempat ini paling cocok
untuk menyelam. Orang-orang Sarawak dan Brunei sering kemari,” kata
Sukartadji, pemilik Pulau Randaian dan pengelola Pantai Taman
Pasirpanjang Indah, Singkawang.

Rombongan pengusaha Jerman itu mengakui Kalbar memiliki potensi
wisata alam yang luar biasa. Mereka terkagum-kagum pada hutan
belantara yang masih hijau alami dengan usia pohon ratusan tahun.
Juga pada air terjun yang masih “perawan” dengan keindahan luar
biasa. Sayang, atraksi kebudayaan masyarakat Dayak (juga masyarakat
Melayu dan masyarakat Cina) belum diperkenalkan secara luas, sehingga
mereka belum bisa menikmatinya.

Akan tetapi orang-orang Jer-man itu belum sempat melancong ke
lokasi lainnya di Kalbar, yang sesungguhnya juga memiliki banyak
potensi wisata alam. Kalau sudah menjelajahi banyak lokasi, mungkin
mereka akan mengatakan, “Wah, Kalimantan Barat ini punya prospek
cerah dan banyak potensinya. Sayang, masih disia-siakan…”

Memang betul. Itu baru potensi di sektor pariwisata. Masih banyak
potensi sumber daya alam lainnya di Kalbar yang masih ditelantarkan,
yang diyakini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya
jika dikembangkan maksimal.
***

PENGEMBANGAN pariwisata memang hanya salah satu prioritas
pembangunan Kapet (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) Sanggau,
yang diresmikan secara simbolik oleh Presiden BJ Habibie pada 26
September 1998 silam, bersama lima Kapet lainnya di penjuru
nusantara.

Prioritas lainnya yang dikembangkan dalam Kapet Sanggau adalah
peningkatan produksi pertanian (terutama perkebunan), produksi
kehutanan (terutama hutan tanaman industri), produksi pertambangan,
dan peningkatan infrastruktur dasar.

Meskipun namanya Kapet Sanggau, namun mencakup wilayah Kabupaten
Sanggau, Kabupaten Sambas, dan sebagian Kabupaten Pontianak (yaitu
Kecamatan Airbesar) dengan luas seluruhnya 30.927,2 km2 atau
3.092.720 hektar.

Mengapa Sanggau yang dipilih sebagai sentral Kapet di Kalbar?
Pertimbangannya terutama pada lokasinya yang strategis di tengah
Kalimantan Barat dan memiliki akses langsung ke Malaysia dan Brunei
Darussalam, melalui Pos Lintas Batas (PLB) Entikong. Jarak Kota
Sanggau ke Entikong 137 km dengan kondisi jalan mulus, sehingga
memudahkan untuk melakukan ekspor ke dua negara jiran itu.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang akan terjadi
ketergantungan secara sosial ekonomi yang begitu besar dari
masyarakat Sarawak dan Brunei terhadap Kalbar,” ujar Setiman Sudin,
Ketua Bappeda Kabupaten Sanggau.

Jika itu yang terjadi, tambah Setiman, petani dan masyarakat
lainnya di Kalbar semakin terdorong mengoptimalkan pembudidayaan
tanaman pertanian, usaha perikanan, serta pariwisata.

Kabupaten Sanggau berpenduduk 494.116 jiwa (data tahun 1997)
tersebar di 22 kecamatan, merupakan daerah tinggi berbukit-bukit dan
berawa-rawa. Sejumlah sungai besar dan kecil, seperti Sungai Kapuas,
Sungai Sekadau, Sungai Sekayam, dan Sungai Tayan, membelah wilayah
kabupaten seluas 1.830.200 hektar atau 18.302 km2. Luas ini 12,5
persen dari luas Propinsi Kalbar.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sanggau pada Pelita V mencapai 9,89
persen. Ini berarti di atas rata-rata pertumbuhan Kalbar 6,55
persen/tahun. Pada Repelita VI, targetnya 13,54 persen per tahun.
Realisasi pada empat tahun pertama Repelita VI sebesar 11,14 persen.

Mengapa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sanggau relatif tinggi?
Perkebunan kelapa sawit di daerah ini memang berkembang pesat.
Pemerintah mencadangkan lahan seluas 648.600 hektar untuk perkebunan
sawit. Sampai Agustus 1998, luas tanaman yang telah menghasilkan
68.935 hektar (dari 34 perusahaan).

Perkebunan karet rakyat juga relatif luas yaitu 113.229 hektar
dengan produksi 26.828 ton/ tahun. Sedangkan perkebunan kakao “hanya”
1.194 hektar.

Perkebunan sawit, karet rakyat, dan kakao itu cukup kuat memberi
ketahanan ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Sanggau. Sebagian besar
menyatakan tidak ikut merasakan krisis ekonomi ketika kurs
dollar-rupiah melambung di atas Rp 10.000. Tentu saja, karena saat
itu harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, getah karet, dan
kakao mengikuti nilai kurs, sehingga masyarakat pun ikut
menikmatinya.

Di sektor kehutanan, hutan tanaman industri (HTI) cukup dominan
melalui pola HTI Trans dan HTI Umum dengan komoditas tanaman albasia,
akasia mangium, karet, dan tanaman penghidupan lainnya. Luas lahan
yang dicadangkan untuk HTI adalah 799.865 hektar dengan luas efektif
339.365 hektar. Realisasi tanam hingga 1998 ini mencapai 40.595,34
hektar.

Potensi bahan tambang di Kabupaten Sanggau seperti bauksit dan
feldspar (bahan baku pembuatan marmer), minyak bumi, emas, dan
batubara cukup besar. Di Kecamatan Tayan Hilir dan Toba misalnya,
terdapat deposit cadangan bauksit sekitar 432 juta ton, dan deposit
feldspar di Kecamatan Bonti sekitar 1,7 juta ton.
***

KABUPATEN Sambas dengan ibu kotanya Singkawang, berpenduduk
880.300 jiwa (data 1997) di 19 kecamatan, memiliki luas 12.296 km2.
Kabupaten ini memiliki kawasan wisata yang relatif banyak. Dari
kawasan wisata Kota Singkawang (yang dikenal dengan kota amoy),
Pantai Pasirpanjang, wisata alam Gunung Poteng dan Gunung Pasir,
Samalantan, Gunung Niut, Pantai Paloh hingga wisata sejarah Keraton
Kerajaan Sambas. Hampir semua obyek wisata di wilayah ini belum
dikelola secara profesional.

Pada masa lalu, Sambas dikenal dengan jeruknya. Namun akibat
salah urus dan banyak campur tangan pemerintah, jeruk Kalbar pun
lenyap tanpa bekas. Kini ada usaha mengembalikan kejayaan jeruk
Kalbar itu, dengan menanam bibit jeruk di Kabupaten Sambas. Mungkin,
suatu saat nanti, wisata agro akan berjaya kembali di Kalbar. Turis-
turis akan membeli jeruk langsung dari kebunnya.

Kecamatan Airbesar di Kabupaten Pontianak seluas 2.390,20 km2
berpenduduk 127.323 jiwa, lokasinya diapit oleh Kabupaten Sambas dan
Kabupaten Sanggau. Kecamatan ini satu-satunya kecamatan di Kabupaten
Pontianak yang termasuk wilayah Kapet Sanggau.

Dengan luas 3,5 kali Kota Jakarta, Kecamatan Airbesar memiliki
potensi wisata alam luar biasa. Jumlah air terjunnya lebih dari
sepuluh, dan itu belum semuanya bisa dijangkau masyarakat melalui
kendaraan bermotor. Setidaknya butuh waktu berhari-hari dengan
berjalan kaki dan menyeberangi sungai, menembus belantara Borneo.
***

RASANYA tak ada yang bisa menyangkal, Kapet Sanggau menyimpan
banyak potensi Kalbar. Potensi pariwisata, perkebunan, pertambangan,
perikanan, hingga kehutanan, berlimpah-ruah.

Kawasan ini diyakini akan mampu menjadi masa depan Kalbar, jika
investor menanamkan modalnya ke berbagai sektor usaha di daerah ini.
Po-tensinya memang besar dan banyak. Prospeknya pun cerah. Tetapi
kendala utama yang selalu menjadi persoalan klasik adalah
infrastruktur dan prasarana pendukungnya. (Jannes EW/Adhi Ksp)

Peta:1
Kawasan Pengembangan Terpadu Sanggau dan wilayah perluasannya.
juli.

LINK TERKAIT http://www.kapet.org/profile/tabPage/view.asp?id=41&barid=143, http://regionalinvestment.com/index.php?option=com_content&task=section&id=12&Itemid=13, http://www.kalbarnetwork.com/kalbar/index.php

Kalimantan Barat: Kaya Sumber Daya Alam, Tetapi Masuk Kategori Miskin

KOMPAS
Senin, 14 Dec 1998
Halaman: 19
Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

Kalimantan Barat
KAYA SUMBER DAYA ALAM, TETAPI MASUK KATEGORI MISKIN


KALIMANTAN Barat tergolong sebagai daerah miskin di Indonesia?
Ah, siapa yang percaya. Lihatlah, sumber daya alam (SDA) yang
dimiliki daerah ini sangat berlimpah. Dengan luas wilayah 146.807
km2, sumber daya alam Kalbar diyakini mampu diolah untuk menghidupi
dan mengangkat derajat hidup 3,8 juta penduduknya.

Sejak puluhan tahun silam, di Pontianak dan sekitarnya telah
berdiri belasan industri pengolahan kayu, seperti kayu lapis
(plywood), mebel, serta enam pabrik karet. Kedua komoditas itu selama
ini menjadi andalan ekspor Kalbar dengan total penerimaan pajak
mencapai Rp 1,738 trilyun per tahun.

Selain itu komoditas pertanian lainnya yang turut diekspor,
seperti kakao, lada, kopi, langsat, duren, serta dari sub-sektor
perikanan, antara lain, ikan dan udang. Komoditas ini sekalipun belum
banyak dikembangkan masyarakat, namun memberi masa depan yang cerah.

Prospek ekonomi ini bertambah cerah setelah sejak tahun 1980-an
mulai dikembangkan perkebunan kelapa sawit besar-besaran dengan
menggunakan pola perkebunan inti rakyat (PIR). Hingga kini tercatat
120 perusahaan mengembangkan areal seluas 700.000 hektar dari 2,1
juta hektar yang dicadangkan.

Sukses pengolahan potensi SDA membuat penerimaan nilai pajak
Kalbar mencapai Rp 2,021 trilyun per tahun atau menempati nomor urut
lima dalam kontribusi pendapatan nasional. Laju pertumbuhan ekonomi
yang tahun 1994 sebesar 7,45 persen, tahun 1995 menjadi 9,50 persen.

Akan tetapi semua data dan angka yang menyebut kesuksesan Kalbar
ini tak diimbangi dengan upaya pemerataan kesejahteraan untuk
meningkatkan kualitas hidup rakyat. Buktinya, hasil penelitian dan
kajian Bappenas tahun 1997 tentang kesejahteraan rakyat, Kalbar
ternyata tergolong daerah yang sangat miskin, yakni nomor 25 dari 27
propinsi.
***

PEMBENTUKAN Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Sanggau
sejak 26 September 1998 lalu, memberikan keyakinan pada Pemda Kalbar
bahwa kualitas hidup masyarakat secara perlahan-lahan mampu teratasi.
Keyakinan ini begitu kuat, sebab pada saat yang sama akan
direalisasikan otonomi daerah yang luas serta perimbangan keuangan
antara pusat dan daerah yang adil serta pantas.

“Pemda Kalbar dipastikan tidak lagi tergantung pada pusat, tetapi
akan lebih kreatif dan inovatif dalam menerapkan kebijakan yang
mengarah pada pemberdayaan rakyat yang berkesinambungan. Berbagai
kekurangan dan kelemahan, terutama infrastruktur pun mampu dibenahi,”
kata Gubernur Kalbar Aspar Aswin.

Alasan lain, Kapet Sanggau yang meliputi Kabupaten Sanggau,
Kabupaten Sambas, dan Kecamatan Air Besar (Kabupaten Pontianak)
dengan luas wilayah seluruhnya 30.927,2 km2 itu memiliki puluhan
jenis potensi sumber daya alam yang layak menjadi sektor unggulan.
Maka kalau diolah sebesar-besarnya diyakini mempercepat pertumbuhan
ekonomi bagi kemakmuran rakyat.
***

PERSOALAN yang sering dihadapi investor adalah birokrasi yang
panjang dalam proses perizinan. Namun menurut Gubernur Aspar Aswin,
kendala tersebut tak akan terulang kembali, sebab semua proses
perizinan langsung ditangani Ketua Badan Pengelola Kapet Sanggau di
Sanggau.

Kebijakan itu salah satu upaya menarik minat investor. Bahkan
investor pun akan diberikan berbagai kemudahan, seperti tidak
dipungut pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas
barang mewah. Misalnya, pembelian dalam negeri dan/atau impor barang
modal dan peralatan lain oleh pengusaha di Kapet Sanggau yang
berhubungan langsung dengan kegiatan produksi.

Kendati demikian kendala utama yang perlu segera diatasi dan
dibenahi adalah kelengkapan infrastruktur, seperti jalan raya dan
kualitas sumber daya manusia (SDM). Kedua hal ini sudah beberapa kali
dipersoalkan masyarakat, namun belum terpecahkan.

Pemantauan Kompas, kualitas jalan raya, baik dari maupun ke
daerah sentra produksi pertanian serta kawasan obyek wisata, yang
terletak di daerah pedesaan, masih belum memadai. Sebagian besar
jalan masih berupa pasir batu.

Sementara jalan raya yang telah beraspal pun akibat struktur
tanah yang labil sehingga cepat rusak. Kenyataan ini menghambat
mobilisasi pemasaran hasil pertanian milik penduduk. Tidak
mengherankan jika hasil produksi selalu hanya menjadi komsumsi
sendiri.

Problem lain yang cukup mendasar adalah rendahnya kualitas sumber
daya manusia (SDM). Masyarakat setempat umumnya hanya tamat sekolah
dasar (SD). Lebih menyedihkan lagi, sebagian besar anak usia sekolah
yang ada di pedesaan dan pedalaman sampai saat ini belum menikmati
pendidikan SD secara baik dan berkualitas, sebab sudah belasan tahun
ketiadaan tenaga guru.

Kenyataan demikian tentu berpengaruh pada perekrutan calon tenaga
kerja dari sejumlah industri berskala menengah dan besar di kawasan
Kapet Sanggau.
***

SAMBIL menata dan mengembangkan Kapet Sanggau menjadi kunci masa
depan Kalbar, Stefanus Djuweng, Direktur Eksekutif Institut
Dayakologi, mengajak pemda untuk memikirkan strategi pembangunan yang
tepat. Menurut dia, kalau strategi pembangunan Kapet Sanggau tetap
mengutamakan pertumbuhan ekonomi seperti yang dipraktekkan selama
Orde Baru, maka sampai kapan pun kemakmuran rakyat tak tercapai.

Alasannya, ukuran kemakmuran dan kesejahteraan rakyat bukan
terletak pada pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi sejauh mana manfaat
kehadiran investor terhadap pemberdayaan ekonomi rakyat secara
berkesinambungan. (jan/ksp)

LINK TERKAIT:
http://kawasan.bappenas.go.id/kajian/data_kajian/kajian_model.pdf, http://regionalinvestment.com/index.php?option=com_content&task=section&id=12&Itemid=13, http://www.kalbarnetwork.com/kalbar/index.php

Suhardiman: Dari Warung Kundil ke Warung Dangau

KOMPAS
Jumat, 24 Apr 1998
Halaman: 16
Penulis: ADHI KSP

Suhardiman
DARI WARUNG KUNDIL KE WARUNG DANGAU


NUANSA Kalimantan memang terasa, setiap kali orang melangkah masuk
ke restoran “Warung Dangau”, di tepi jalan raya menuju Bandara Supadio,
Pontianak. Bangunan restoran-yang berdiri di atas lahan sekitar 6.000
meter persegi-mulai dari dinding ke atap, sampai hiasan di dalam ruangan
seperti relief dinding, hiasan topeng serta ukiran, benar-benar khas
Kalimantan.

Hidangan makanannya pun khas Kalbar, dari sayur keladi, pakis,
ikan asam pedas, mencalok (udang kecil) sampai menu biasa seperti nasi
goreng. Meski cukup jauh dari keramaian kota, sekitar tujuh kilometer
dari Pontianak, namun restoran milik Suhardiman (42) ini boleh dikata
tak pernah sepi. Hal serupa terjadi pula di dua cabang “Warung Dangau”
yang lain di Pontianak dan Singkawang.

Upaya sang pemilik restoran untuk menarik pengunjungnya pun
tak berhenti pada sodoran gaya khas bangunan serta makanannya. Bahkan
sampai perlengkapan makan seperti piring anyaman, mangkuk keramik,
bakul nasi, tempat sendok sampai tempat tisu, semuanya adalah hasil
kerajinan khas daerah Kalbar.

“Sudah lebih dari 2.000 piring dipesan orang Brunei,” ungkap
Suhardiman. Tamu yang makan di restorannya, rupanya tidak hanya
tertarik pada menu makanan yang dihidangkan, akan tetapi juga
peralatan makannya, sampai-sampai harus ‘membawa pulang’ piring
anyaman yang khas itu.

Untuk ‘warung’nya yang berkapasitas 250 orang di jalan Bandara
itu, misalnya, Suhardiman juga perlu mengerahkan penyambut-penyambut
tamu yang berpakaian adat. Dalam tahun 1998 ini, Suhardiman bahkan
menyelesaikan galeri lukisan yang ia padukan dalam bangunan warung
makannya.

“Sebelum terjun ke bisnis restoran, saya memang pelukis.
Karena itulah saya sering mengumpulkan seniman daerah sekaligus
membantu mereka,” kata Suhardiman yang sudah menciptakan lebih 100
lukisan. Banyak lukisan karya rekan-rekannya dipamerkan di
restorannya.
***

PERJALANAN meraih sukses membuka warung makan-di tengah
gelombang waralaba dunia seperti KFC maupun McDonald-memang cukup
berliku. Suhardiman bahkan merintisnya dari bawah, dari sebuah warung
berkapasitas 10 orang di pinggir jalan KH Wahid Hasyim, Pontianak enam
tahun lalu (1992). Warung berukuran 4×8 m yang menempel di pagar
halaman Wisma Pelangi itu menjual hidangan nasi goreng. Harganya
Rp 1.500/piring, di atas harga pasaran waktu itu.

Warung kecil itu pun tak akan terwujud bila istri setianya, Ny
Aslina (29) tak mendukung niat Suhardiman untuk putar haluan, dari
sebuah pekerjaan ‘mapan’ di sebuah pabrik karet.

“Meski ibaratnya hanya menghasilkan uang belanja lima ribu
rupiah sehari, tak apa-apa. Pokoknya Abang berwiraswasta dan mandiri,”
ungkap istrinya.

Berkat dukungan istrinya itu, maka sejak tahun 1992 itu
Suhardiman berhenti sebagai mandor pengawas produksi pabrik karet PT
Sumber Jantin Pontianak yang digelutinya selama 14 tahun. Selain jenuh
dengan pekerjaan di pabrik karet (apalagi bau limbahnya yang
menyengat), ia juga berkeinginan merintis usaha baru.

Dengan modal pesangon Rp 7 juta dari pabrik karet, pria
kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, 3 Juli 1955 ini pun memulai
usahanya dengan membuka warung nasi gorengnya di Jalan KH Wahid
Hasyim, Pontianak.

Rupanya menu yang disajikan sesuai dengan selera pembeli,
sehingga warung sederhananya yang dinamakan “Mak Kundil” ini pun
senantiasa ramai dikunjungi. “Pembelinya rata-rata menggunakan
kendaraan roda empat. Kami cukup berbangga ternyata kelas menengah
jadi pelanggan,” ungkap Suhardiman. “Mak Kundil” adalah nama tokoh
kartun di sebuah surat kabar lokal.

Apa yang membuat warung itu laris? “Sejak awal saya sudah
berorientasi kedaerahan. Artinya, dari menu yang saya sajikan khas
makanan daerah. Sampai pada peralatan makan pun menggunakan hasil
kerajinan daerah, seperti piring anyaman, bakul nasi, tempat sendok,
tempat tisu, mangkok dari keramik,” kata Suhardiman.

Setelah dua tahun sukses membuka warungnya tahun 1994 pria ini
pun mencari lokasi baru yang lebih ‘representatif’, yaitu di Taman
Budaya, Jalan Ahmad Yani, berkapasitas 100 orang. Di sini, ia
menggunakan nama baru, “Warung Dangau”. Menu yang disajikan pun menu
khas daerah Kalbar, seperti yang menjadi ciri khasnya sekarang.

Setahun kemudian, Suhardiman membuka “Warung Dangau” di kota
Singkawang, dan pada tahun 1997 lalu ia mengembangkan “Warung Dangau”
di Pontianak, berlokasi di tepi jalan raya menuju Bandara Supadio. Di
atas lahan seluas 6.000 meter persegi (yang dibelinya tahun 1996
dengan harga Rp 20.000/m2), inilah sukses Suhardiman terkembang.
***

KERJA keras memang sudah menjadi bagian dari semangat
hidupnya. Selain memulai segala sesuatunya dari nol, Suhardiman juga
mengaku terlibat dalam jerih payah menyiapkan hidangan restorannya.

Suhardiman, pada awalnya, ikut terjun langsung, dari membeli
bahan baku di pasar tradisional sampai memasaknya. Berangkat ke pasar
pukul 06.00 pagi. Warung dibuka pukul 09.00-10.00 pagi dan ditutup
pukul 22.00 malam. Keuntungan yang diperolehnya dari hasil
jerih-payahnya bekerja, ditabungnya. Uang itulah yang kemudian
digunakannya untuk memperluas usahanya. Termasuk di antaranya kini,
melibatkan saudara kandungnya untuk mengelola restoran serupa di GOR
Pontianak.

Ketika memulai restoran baru di Taman Budaya, ia berusaha
meminjam uang dari bank. “Tapi terus terang, saya trauma. Karena waktu
itu bank tak percaya pada saya. Maklum, saya dulu ‘kan cuma pedagang
nasi goreng di tepi jalan,” kisahnya.

Berkat bantuan mantan atasannya di pabrik karet, Suhardiman
akhirnya memperoleh pinjaman Rp 20 juta. “Tapi karena pernah ditolak,
saya trauma pada bank. Saya tak pernah minta kredit lagi. Anehnya,
setelah saya sukses begini, banyak bank yang menawarkan kredit. Tapi
saya tak mau punya utang pada bank. Sekarang saya cuma menyimpan uang
di bank,” katanya terus terang.

Pada akhir 1997 lalu, ia juga membuka “Kafe Tanggui”, yang
penuh nuansa seni, mirip kafe-kafe di kawasan Kemang Jakarta Selatan.
“Tanggui” nama topi dalam bahasa Sambas, tempat asal Suhardiman.
Ia tetap memegang teguh prinsip yang dianutnya, “membangun
tempat hiburan malam tidak identik dengan obat-obatan dan perempuan.”

Ia yakin Kafe Tanggui yang selalu ramai dikunjungi pada akhir pekan
dan hari libur ini memberikan hiburan yang sehat bagi masyarakat,
tanpa harus merusak moral.

Ayahnya, Awang Darmawi (70) dulunya pemilik toko buku di
Singkawang. “Tapi setelah terbit buku-buku ejaan baru tahun 1972 dan
buku-buku lama tidak terpakai lagi, toko buku ayah bangkrut. Maklumlah
pengusaha kecil,” cerita anak kedua dari sembilan bersaudara itu.

Tamat SMA St Paulus Pontianak tahun 1973, Suhardiman pernah
menjadi buruh kasar di perusahaan kayu selama enam bulan. “Pekerjaan
saya waktu itu mengangkat dan menyusun kayu,” kisahnya. Pria itu juga
pernah menjadi tukang jahit di rumah orangtuanya di Singkawang selama
tiga tahun.

Bangku kuliah juga pernah ia jalani, tahun 1977, di Fakultas
Sospol Universitas Tanjungpura Pontianak. “Tapi tak selesai, cuma
sempat satu tahun. Problemnya, tak ada biaya. Maklumlah, keluarga kami
sembilan bersaudara,” ujarnya. Setelah itu, Suhardiman berjuang
mencari pekerjaan, dan akhirnya ia diterima di sebuah pabrik karet.

Namun rupanya, posisi mapan di pabrik karet itu pun bukan
akhir perjalanan hidupnya. Setelah 14 tahun, Suhardiman justru kembali
merangkak, meraih sukses dari nol di pinggir jalan membuka warung.

“Tentu, tak ada bayangan bakal punya restoran besar seperti
sekarang ini,” ungkap pengusaha muda, yang kini setidaknya menjadi
gantungan hidup sekitar 140 karyawan restorannya tersebut.
(Adhi Ksp)

Foto:
Kompas/ksp
Suhardiman

Kemiskinan: Ia Tak Pernah Cerita Sedang Kesulitan Uang

KOMPAS
Minggu, 26 Jul 1998
Halaman: 11
Penulis: ADHI KSP

Kemiskinan
“IA TAK PERNAH CERITA SEDANG KESULITAN UANG…”

SUDAH lama keluarga Hiu Po Thin merasakan kemiskinan. Sudah
bertahun-tahun, Po Thin (58) menjadi petani penggarap, selalu
berpindah-pindah tempat, dan sampai akhir hidupnya yang mengenaskan,
belum memiliki rumah sendiri.

“Bagaimana bisa membangun rumah? Untuk hidup sehari-hari saja
susah. Apalagi sekarang harga bahan pokok semuanya naik,” kata Ny
Tjong Siauw Thjin (47), istri mendiang Hiu Po Thin sambil menangis
tersedu. Kamis (23/7) siang, Ny Siauw Thjin menerima sumbangan dari
pembaca Harian Kompas Kalbar sejumlah Rp 1.831.000, disaksikan
Wakapolres Sambas Mayor (Pol) Drs Andi Musa SH.

Jumat (17/7) pekan lalu, wanita itu kehilangan suami dan empat
anaknya, Tjong Djiep Tian (15), Tjong Suk Moy (12), Tjong Kim Lang
(10) dan Tjong Bo Liong (5) yang ditemukan meninggal di gubuk beratap
dan berdinding rumbia serta berlantai tanah di Desa Roban, Singkawang,
Kabupaten Sambas. Lokasinya di tengah hutan, sekitar enam kilometer
dari pusat kota Singkawang, ibu kota Kabupaten Sambas, Kalimantan
Barat.

Ketika ditemukan, mayat Hiu Po Thin memeluk anak bungsunya, Tjong
Bo Liong. Tiga mayat lainnya berjejer di tempat tidur terbuat dari
papan. Jenazah Po Thin tampak berpakaian rapi dan lengkap.

Sejauh ini petugas Polres Sambas menyatakan, kematian lima korban
akibat makan racun. “Tak ada tanda-tanda kekerasan. Pada mulut korban
keluar busa. Dugaan kami, korban meracuni empat anaknya, lalu bunuh
diri, juga dengan racun. Kami menduga, korban tak tahan menderita
akibat krisis ekonomi,” kata Wakapolres Sambas Mayor (Pol) Drs Andi
Musa SH. Sisa makanan yang beracun itu kini diperiksa di Balai POM
Depkes Kalbar di Pontianak.

Sebelum kelima korban ditemukan, Po Thin sempat mendatangi
tetangganya Tjong Tan Lip (58) dan menyatakan “Saya tak sanggup lagi
menanggung beban hidup. Anak-anak harus sekolah, tapi saya tak sanggup
mengurusi mereka lagi. Tolong kembalikan uang Rp 100.000 kepada Bong
Kok Min,” kata Po Thin.
***

SEJAK Juni 1998, keluarga Hiu Po Thin menumpang tanah milik Bong
Kok Min (54) di Desa Roban, dan mencoba membuka ladang padi. Beberapa
kali ia meminjam uang dari Bong Kok Min dan selalu dikembalikan.
Sepuluh hari sebelum kejadian, Po Thin meminjam lagi Rp 150.000 untuk
keperluan anak-anak sekolah. Rupanya pria itu tak kuat lagi, sehingga
nekat mengambil jalan pintas.

“Kami sedih sekali. Seminggu sebelum peristiwa itu, Po Thin datang
ke rumah kami di Desa Sungai Naram (dua kilometer arah ke Pemangkat).
Dia tak bilang apa-apa tentang kesulitan uang untuk anak-anak sekolah.
Padahal kalau dia bilang pada kami, mungkin saudara-saudaranya bisa
membantu sedikit-sedikit, walaupun kehidupan ekonomi kami sendiri
pas-pasan,” kata Hiu Tung Chong (47), adik korban di kantor Polres
Sambas, Kamis (23/7).

Hiu Tung Chong sendiri seorang petani penggarap, yang
penghasilannya sekitar Rp 75.000/bulan. Saudara kandung lainnya, Hiu
Thin Fo (53) mengungkapkan, abangnya memang agak “keras kepala”.

“Kami pernah menawarkan agar Po Thin membuka warung kecil-kecilan,
tapi dia tak mau dan bersikeras ingin bertani, meskipun terus
berpindah-pindah,” ungkap Thin Fo. Kedua saudaranya dan sejumlah
tetangganya mengakui, keluarga Po Thin sangat melarat.

Sebelum menumpang tanah milik Bong Kok Min, selama bertahun-tahun
Hiu Po Thin, anak tertua dari tiga bersaudara ini tinggal di Desa
Salindung, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, menunggui kebun sahang
(lada) milik orang lain. Hiu Po Thin juga pernah menggarap kebun
kelapa milik (mantan) Bupati Sambas Brigjen TNI (Purn) Sumardji
tahun 1980-an (sekarang Ketua DPD Golkar Tingkat I Kalbar).
***

PERIHAL kesulitan uang untuk anak-anak sekolah, diakui Ny Tjong
Siauw Thjin, istri korban yang kini tinggal di rumah mertuanya di Jl
Abadi, Singkawang. “Memang suami saya meminjam uang Rp 150.000 dari
Bong Kok Min, untuk anak perempuan kami Tjong Suk Moy kelas III dan
anak laki-laki Tjong Kim Lang kelas II di SDN Roban.”

Ketika peristiwa “bunuh diri” itu terjadi, Siauw Thjin sedang
membersihkan padi miliknya di penggilingan Desa Sakok, Singkawang,
karena persediaan beras di rumahnya sudah habis. Wanita itu berangkat
Kamis siang (16/7) dan rencananya Jumat (17/7) menjemur padi. “Saya
sungguh tak menduga Po Thin tega melakukan itu. Anak-anak kan tak
bersalah, tak tahu apa-apa,” katanya terisak-isak.

Anak tertuanya, Tjong Lie Kim (19) mengatakan pada Kamis (16/7)
sore, ia sempat singgah di Desa Roban, namun tak menjumpai ibu dan
ayahnya, kecuali empat adiknya. Lie Kim sempat makan nasi di panci.

Pemuda itu lalu naik sepeda ke Pasar Roban, dan bertemu ayahnya di
sebuah warung kopi. Ayahnya bermaksud memberi uang Rp 5.000 kepada
Lie Kim, tapi sang anak mengatakan, “Biarlah uang itu untuk Papa.”
Itulah kali terakhir Lie Kim melihat ayah dan empat adiknya.

Bupati Sambas Tarya Aryanto mengakui, banyak warga etnis Tionghoa
di wilayahnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di Kotif
Singkawang, dari 200.000 orang, 70 persen di antaranya etnis Tionghoa,
mereka antara lain bekerja sebagai buruh tani. “Kami akan memberi
kesempatan warga etnis Tionghoa untuk bertani di lahan yang lebih
subur agar mereka tak terhimpit kesulitan ekonomi.”
(adhi ksp)

Kelapa Sawit, Primadona Agrobisnis

KOMPAS

Sabtu, 21 Mar 1998

Halaman: 9

Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

KELAPA SAWIT, PRIMADONA AGROBISNIS

MASA keemasan industri kayu di Kalbar tampaknya akan
digantikan industri kelapa sawit. Mengapa? Berbekal
lahan yang masih sangat luas, Kalbar kini diincar perusahaan swasta,
sebagian di antaranya PMA, untuk menggarap perkebunan kelapa sawit.

BUKAN hanya karena modal untuk berkebun kelapa sawit yang relatif
mudah dan murah -dibandingkan dengan agroindustri lainnya- tapi juga
hasil olahan kelapa sawit, seperti minyak sawit mentah (CPO= crude
palm oil), minyak goreng, sabun mandi, margarine, sabun cuci, dan
industri derivat lainnya, menjanjikan keuntungan lumayan.

Hingga Oktober 1997, Pemda Tingkat I Kalimantan Barat
mengalokasikan lahan seluas 2.340.348 hektar untuk 164 perusahaan
besar swasta (PBS) menggarap perkebunan kelapa sawit. Dari jumlah
itu, 124 perusahaan dengan luas lahan 1.242.856 hektar sudah
memperoleh izin prinsip pengembangan perkebunan dari Menteri
Pertanian.

Dengan asumsi 60 persen dari luas lahan yang dialokasikan dapat
ditanami secara efektif, luas perkebunan kelapa sawit di Kalbar
diproyeksikan mencapai 1,5 juta hektar. Ini sudah termasuk Program
PIR-Trans KKPA seluas 157.000 hektar dan PMA (perusahaan modal asing)
54.000 hektar yang sedang berjalan. Sampai tahun 1996, sudah terdapat
kebun seluas 204.218 hektar dengan produksi CPO 237.266 ton dan PK
45.197 ton.

Melihat proyeksi luas areal 1,5 juta hektar itu, posisi Kalbar
dalam industri kelapa sawit pada 5-10 tahun mendatang diperkirakan
mencapai urutan pertama se Indonesia. Saat ini Sumatera Utara yang
merupakan pionir perkebunan kelapa sawit skala besar, masih menempati
posisi pertama dengan luas 562.549 hektar dan sentra produksi di
Labuhan Batu, Langkat, Simalungun. Disusul Riau dengan luas 439.426
hektar, dan Kalbar dengan luas 204.218 hektar di tempat ketiga.
Secara nasional, pemerintah pusat menargetkan tahun 2000 luas garapan
kelapa sawit 5,15 juta hektar.

Kebijakan pemerintah melepas larangan PMA menanam modal di sektor
ini melalui Inpres No 6 Tahun 1998, membuat girang Pemda Kalbar. Ini
berarti, 17 PMA (16 dari Malaysia dan satu dari Amerika Serikat)
diizinkan kembali membuka usaha perkebunan kelapa sawit. Rinciannya,
di Kabupaten Sanggau (6), Ketapang (5), Pontianak (3), Kapuas Hulu
(2) dan Sambas (1). Meski demikian pengusaha lokal (PMDN) berharap
masuknya PMA di sektor ini melibatkan mitra kerja perusahaan
Indonesia.

Banyaknya PMA asal Malaysia yang berinvestasi di Kalbar bisa
dimaklumi. Kalbar berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak
dan dapat ditempuh dengan jalan darat. Dari segi geografis, jelas
lebih menguntungkan Malaysia.
***

PERTANYAANNYA, apakah kehadiran PMA dan PMDN dalam sektor ini
ikut membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat? Gugatan
ini penting dimunculkan agar kehadiran industri ini ikut memberi
manfaat bagi masyarakat setempat, dan tidak cuma menguras hasil bumi
dan memperkaya pengusaha dan konglomerat.

Salah satu PMA asal Malaysia, PT Sime Indo Argo, anak perusahaan
multinasional Sime Darmy Berhad yang bermarkas di Kuala Lumpur sedang
membuka perkebunan kelapa sawit seluas 19.000 hektar di Kecamatan
Parindu, Kabupaten Sanggau.

General Manager (GM) PT Sime Indo Argo (SIA), Yazid Ibrahim
mengungkapkan, meski berstatus PMA murni, perusahaannya menaruh
perhatian besar terhadap masyarakat setempat yang sudah dan akan
tergusur. Rencananya, warga setempat akan menerima kebun plasma, yang
berarti warga ditampung dan dilibatkan secara aktif dalam pembangunan
perkebunan. Pendekatan manusiawi PT SIA baik dijadikan contoh bagi
swasta lain. Konflik antara perusahaan dan masyarakat dapat
dihindari.

Salah satu kontribusinya, membuka isolasi daerah. Menurut
Antonius Kimin (52), warga Kampung Luti, Desa Maringinjaya, Parindu,
Sanggau, sebelum jalan dibangun PT SIA, masyarakat harus
menggunakan “jalan tikus setapak”, dan untuk menuju pasar terdekat,
dibutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam (termasuk waktu
menunggu kendaraan). Kini tak sampai setengah jam, warga dapat
mencapai pasar di Bodok.

Seluruh warga Kampung Luti (53 KK) bekerja di PT SIA, mendapat
gaji Rp 126.000/bulan, tergantung produktivitas. Mereka menyerahkan
7,5 hektar lahan kepada PMA, dan kelak PT SIA akan menyerahkan dua
hektar kebun sawit sebagai plasma.

Nilai investasi PMA Malaysia ini 80 juta dollar AS. “Hingga kini
sudah Rp 30 milyar dihabiskan, sebagian untuk pembangunan
infrastruktur dan penanaman kebun sawit di lahan 3.000 hektar,” jelas
Lee Kok Seng, WN Malaysia, manajer operasi PT SIA. Dari rencana
19.000 hektar, 26 persen di antaranya plasma yang disediakan bagi
2.400 KK.

PMA ini merencanakan membangun tiga pabrik pengolah sawit,
mengantisipasi panen besar pada tahun 2003 dan 2006 mendatang. Dengan
membuka kebun di Kalbar, Malaysia agaknya tetap berambisi menjadi
produsen utama minyak sawit dunia.
***

KELAPA sawit memang sudah menjadi salah satu andalan Kalbar. PT
Perkebunan Negara (PTPN) XIII merupakan pionir perkebunan sawit di
wilayah ini. Dari hasil kunjungan Kompas ke sejumlah sentra
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau bulan lalu, para petani
plasma PTPN XIII menuturkan, pendapatan mereka dari hasil sawit
meningkat tajam.

Paulus Panci (45) warga Kampung Empaong, Kecamatan Parindu,
Kabupaten Sanggau mengikuti proyek PIR (perkebunan inti rakyat) dari
PTPN XIII sejak tahun 1987. Setelah kebun sawit berusia tiga tahun,
ia bersama rekan-rekannya memperoleh plasma. Setiap satu KK kebagian
dua hektar.

Tahun pertama setelah konversi (1991), pendapatannya Rp
50.000/bulan. Sekarang ia memperoleh Rp 450.000/bulan dari dua hektar
plasma sawit yang dikelolanya. Jika keluarga yang memiliki enam
hektar plasma, pendapatannya rata-rata sebulan Rp 1,3 juta, jauh jika
dibandingkan ketika mengandalkan hidup dari berladang.

Tanisius Kiun (39) warga Desa Embala, Parindu, sebelum mengikuti proyek PIR-Khusus I Afdeling VII, berladang berpindah dan menoreh karet, pekerjaan yang dilakukan turun-temurun. “Terus terang, berharap dari sana, ekonomi
tidak mencukupi, apalagi anak-anak harus sekolah,” kata Kiun yang
juga guru SD Pelangbacong. Selesai mengajar (07.30-12.30 WIB),
ia bekerja di kebun sawit hingga sore hari.

Penghasilannya sebagai guru, hasil berladang dan menoreh karet
rata-rata Rp 300.000/bulan. Kini, setelah memiliki plasma sawit,
pendapatannya rata-rata Rp 1 juta/bulan. Tanisius yang menyimpan
sebagian penghasilannya di BRI Bodok, Sanggau itu mampu membeli
kendaraan roda empat (bekas), membuka warung yang menjual sembako di
tepi jalan Parindu-Meliau, dan memiliki parabola. Ia bertekad
menyekolahkan dua anaknya hingga ke pendidikan tinggi.

“Kalau pohon sawit sudah berbuah lebat, itu artinya banyak duit,”
katanya tertawa. Buah sawit itu dijual ke PTPN XIII sebagai
perusahaan inti. Dan oleh PTPN XIII, hasilnya dibawa ke pabrik
pengolahan di Meliau, Sanggau. Jumlah pabrik pengolah kelapa sawit
(yang menghasilkan CPO) di Kalbar saat ini delapan unit. Hasilnya
masih harus diantarpulaukan ke Jawa.

Pengembangan usaha perkebunan dengan pola PIR seperti ini harus
terus dilanjutkan dengan berbagai modifikasi, sehingga kerja sama
yang adil, saling menguntungkan dan saling melengkapi dapat dicapai.

Kerja sama inti-plasma yang telah ada, dijanjikan Pemda Kalbar,
akan terus dibina dan dikembangkan sehingga mencapai siklus
peremajaan berikutnya, termasuk penguasaan aset lainnya oleh petani,
selain pemilik kebun. Pola PBS murni akan dimodifikasi melalui
keikutsertaan petani/masyarakat sekitarnya sebagai plasma, sehingga
kelangsungan usaha dan kerja sama PBS dan masyarakat lebih terjamin.
***

MESKI peluang pengembangan industri kelapa sawit masih sangat
terbuka di Kalbar, namun pelaksanaannya ternyata masih dihadapkan
dengan berbagai tantangan.

Sampai sekarang program pengembangan kelapa sawit di Kalbar hanya
dikaitkan dengan paket pengembangan pabrik minyak sawit (PMS) yang
memproduksi CPO dan PK. Sedangkan industri hilir CPO dan PK masih
berpusat di Jawa dan Sumatera. Yang dimaksud dengan industri hilir
kelapa sawit adalah pabrik-pabrik derivat (turunan) CPO antara lain
margarine, sabun, deterjen, shampo, pelumas, kosmetik dan pasta gigi,
pemanis, dan sebagainya. Sedikitnya ada 88 item produk derivat CPO.

Untuk mengembangkan industri hilir yang efisien, dibutuhkan
dukungan infrastruktur yang memadai, antara lain sistem transportasi
(jalan, jembatan, dermaga dan alat-alat transportasi) termasuk
industri pendukungnya seperti perbankan, asuransi dan industri jasa
lainnya.

Sebagian pengusaha perkebunan kelapa sawit saat ini masih
menghadapi persoalan terbatasnya modal, penguasaan teknologi dan
manajemen, sehingga pengembangan usaha masih terbatas pada
pembangunan kebun dan industri hulu. Pembangunan perkebunan juga
masih sering terlambat. Ini disebabkan perusahaan kesulitan
membebaskan lahan dari masyarakat.

Selama ini sebagian besar pengusaha perkebunan kelapa sawit
mengikat kontrak dengan pengusaha industri lanjutan CPO dan PK yang
berada di luar Kalbar.

Memperhatikan keterbatasan sumber-sumber pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi Kalbar, perlu ditetapkan suatu kebijakan
pengembangan industri hilir di Kalbar.

Disarankan agar mulai tahun 1998 ini, pemberian izin prinsip
pembangunan perkebunan kelapa sawit dikaitkan dengan kewajiban
pengembangan industri hilir sebagai satu paket pembangunan yang tak
terpisahkan. Untuk itu diperlukan satu kebijakan pemerintah pusat
yang menunjang konsep pengembangan industri hilir kelapa sawit di
Kalbar.

“Untuk membangun industri hilir yang efisien dan langgeng,
dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, seperti
sistem transportasi, perdagangan, komunikasi dan sarana/prasarana
perekonomian lainnya. Untuk itu dibutuhkan suatu pengkajian dan
rencana menyeluruh dan terpadu,” kata Kepala Dinas Perkebunan Kalbar
Ir Karsan Sukardi.
***

MENGAPA industri hilir kelapa sawit di Kalbar perlu dikembangkan?
Yang pasti, kehadirannya akan memberi manfaat besar. Antara lain,
memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan seluruh pelaku
agrobisnis, dari petani, pengusaha, pemasok sampai masyarakat luas.

Selain itu, meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.
Kesatuan pengelolaan sistem agrobisnis antara sub-sistem produksi,
sub-sistem pengolahan dan sub-sistem pemasaran akan meningkatkan
efisiensi dan daya saing produk, yang pada gilirannya meningkatkan
PDRB dan PDB.

Pengembangan industri hilir kelapa sawit diyakini akan
memperbaiki struktur ekspor yang selama ini masih didominasi hasil
kayu dan karet. Selain itu akan mendorong pengembangan industri
barang dan jasa lainnya, yang tentu berdampak positif bagi struktur
perekonomian Kalbar. Soalnya, kebun seluas 1,5 juta hektar termasuk
industri hilirnya akan membutuhkan mobilisasi barang, penduduk dan
jasa yang membawa efek domino bagi kegiatan ekonomi daerah.

Kondisi ini diharapkan mampu memperluas kesempatan dan lapangan
kerja di berbagai sektor. Pengembangan kebun pada industri kelapa
sawit akan mampu menyerap berbagai jenis dan tingkat keahlian mulai
dari tenaga kerja biasa hingga pada tenaga ahli. Jika banyak dibangun
pabrik, jelas banyak tenaga kerja diserap. Sarjana lulusan perguruan
tinggi di Kalbar misalnya, tak perlu lagi mencari kerja di Jawa.

Program ini pada gilirannya akan menunjang pemerataan pembangunan
dan pertumbuhan daerah dan antardaerah di Kalbar. Sebab lokasi
perkebunan kelapa sawit tersebar di seluruh pedesaan di Kalbar.
Pemda Kalbar sudah berencana membangun pelabuhan samudera di
Teluk Air, (sekitar 40 mil dari kota Pontianak lewat laut). Selama
ini minyak sawit yang dihasilkan dari delapan pabrik pengolah yang
ada di Kalbar, selalu diantarpulaukan ke Jawa dan Sumatera.
(Jannes EW/Adhi Ksp)