Tag Archives: jakarta

Jakarta No 2 Termahal Setelah Singapura di ASEAN

KOMPAS.com

Kamis, 24 Juli 2008 pukul 10:51

Survei Mercer Worldwide tentang Biaya Hidup 2008
Jakarta No 2 Termahal Setelah Singapura di ASEAN

JAKARTA,KAMIS -Jakarta merupakan kota kedua termahal di kawasan ASEAN setelah Singapura. Menyusul setelah itu berturut-turut Ho Chi Minh City (Vietnam), Bangkok (Thailand), Kuala Lumpur (Malaysia) dan Manila (Filipina ). Demikian hasil survei Mercer Worldwide tentang biaya hidup kota besar 2008 yang diumumkan hari Kamis (24/7).

Di tingkat global, Jakarta berada di urutan ke-82, sementara Singapura di posisi ke-13 kota-kota termahal di dunia. Kota-kota di kawasan ASEAN yang biaya hidupnya lebih murah dibandingkan Jakarta adalah Manila (posisi 110), Kuala Lumpur (106) , Bangkok (105 ) dan Ho Chi Minh ( 100).

Menurut Mutiarawaty Thaher, Business Leader Information Product Solutions di Mercer Indonesia, biaya hidup yang relatif tinggi bisa memengaruhi tingkat kompetitif Jakarta sebagai lokasi investasi. Jakarta mengalami kenaikan dalam biaya kebutuhan hidup, pendidikan dan tarif jalan tol selama satu tahun terakhir. Akibatnya, terjadi peningkatan di semua indeks biaya hidup (dibanding New York). Namun demikian, Jakarta turun 27 tingkat dari posisi 55 ke -82 pada pemeringkatan tahun 2008 ini. Hal ini mungkin menjadi indikasi lonjakan pertumbuhan, juga kenaikan tingkat inflasi, yang dialami kota-kota besar lainnya di dunia.

Survei Mercer ini melibatkan 143 kota di enam benua dan mengukur biaya perbandingan yang meliputi harga 200 jenis barang di setiap lokasi, termasuk perumahan, transportasi, sandang, pangan, peralatan rumah tangga serta hiburan. Survei ini survei biaya hidup paling komprehensif di dunia dan dipakai untuk membantu perusahaan multinasional serta pemerintah menentukan santunan biaya hidup untuk pegawai ekspatriat.

Yvonne Traber, Manager Riset Mercer mengatakan kondisi pasar sekarang ini menuju berlanjutnya pelemahan dollar Amerika, dibarengi penguatan Euro dan mata uang lainnya, yang mengakibatkan perubahan nyata pada pemeringkatan tahun ini. Meskipun kota-kota di Eropa Barat dan Asia, yang secara tradisi memang mahal, kota-kota di Eropa Timur, Brazil dan India merambat naik dalam daftar. Sebaliknya, sejumlah kota seperti Stockholm dan New York kini justru kelihatan tidak mahal dalam perbandingan.


“Riset kami memastikan adanya kecederungan kenaikan harga pada beberapa jenis bahan pangan dan bahan bakar, meskipun kenaikan itu tidak konsisten di semua kota . Hal ini sebagian diimbangi dengan penurunan harga untuk beberapa jenis komoditas seperti barang elektronik dan semacamnya. Hal ini menurut kami disebabkan impor yang lebih murah dari negara berkembang, terutama Cina, juga teknologi yang semakin canggih,” demikian Traber.

Menurut Traber, menjaga tetap berada di atas perubahan dalam biaya hidup untuk ekspatriat adalah penting sehingga perusahaan dapat meyakinkan karyawan mereka mendapat kompensasi yang adil serta upah yang kompetitif saat ditugaskan di luar negeri.


Tokyo termahal di Asia
Survei Mercer Worldwide ini juga menunjukkan, Tokyo di Jepang menjadi kota Asia termahal, di posisi 2 (skor 127), dua peringkat naik dari tahun lalu. Seoul di peringkat 5 (skor 117,7) dan Hong Kong menempel ketat dengan selisih skor tipis 117,6. Singapura di posisi 13 dengan skor 109,1. Sementara Karachi di Pakistan tetap sebagai kota paling tidak mahal di kawasan ini dengan skor 54,7 di posisi 141.


Sementara kota-kota yang ada pada lima besar di Asia tetap stabil di peringkatnya, ada perubahan signifikan terjadi dalam daftar. Di India, Mumbai naik 4 peringkat ke 48 (skor 90,3), se mentara New Delhi merambat naik 13 posisi ke 55 (skor 87,5) akibat penguatan rupee India terhadap dollar AS. Meskipun India mengalami inflasi relatif tinggi, hal ini juga terjadi pada New York dan akibatnya mengurangi dampak pada kenaikan peringkat pada ko ta-kota tersebut. Manila melambung 27 posisi ke posisi 110 dengan skor 73,4, sebagian besar disebabkan kenaikan harga pada akomodasi berstandar internasional.

Asia Pacific Head of Information Product Solutions Mercer , Neo Siew Khim seperti disampaikan Marketing & Public Relations Mercer Indonesia Rini Firdaus menyebutkan, kenaikan pada pemeringkatan biaya hidup untuk kota-kota seperti Singapura, India dan Filipina berpangkal pada tingginya kenaikan kualitas hidup (pada kasus di Singapura), pertumbuhan ekonomi yang kuat dibarengi tuntutan konsumen (seperti di India), dan naiknya pesona Filipina sebagai alternatif lokasi investasi usaha selain China dan India.

Sejumlah kota tertentu mengalami penurunan tajam di dalam daftar. Contohnya Jakarta yang turun dari peringkat 55 ke 82 (skor 80,5) dan Bangkok yang merosot dari 9 5 ke 105 dengan skor 75,1. Di Vietnam, Hanoi luruh 35 tingkat ke posisi 91 (skor 79) dan Ho Chi Min City tersungkur 40 tingkat ke posisi 100 (skor 76,3). Penye bab utamanya karena mata uang dong Vietnam tetap stabil terhadap dolar AS sehingga mendorong kota in i turun peringkat. Tingkat inflasi yang diamati pada barang-barang di kota-kota Vietnam dibanding New York makin memperlebar jurang pemisah.

Menurut Neo, meskipun kota-kota Asia mendominasi 10 tempat termahal untuk dihuni serta banyaknya kota Asia yang merambat naik tahun ini, biaya hidup di Asia tetap tidak menyurutkan minat banyak perusahaan untuk tetap datang ke Asia dan mengembangkan oper asi atau memperoleh pengalaman kerja di kawasan tersebut. Hal ini bisa jadi disebabkan lingkungan usaha yang menarik di Asia yang menjadi fokus bagi investasi asing langsung dari organisasi multinasional yang berupaya untuk meningkatkan pendapatan serta m enanguk keuntungan yang nyata.

Survei Mercer ini menyebutkan pula, Sydney tetap menjadi kota termahal bagi ekrpatriat di kawasan ini, naik enam tingkat di pemeringkatan secara keseluruhan ke posisi15 (skor 104,1). Melbourne mengikuti di posisi 36 (skor 94,2) , melonjak 28 posisi dan Perth merayap 31 posisi ke peringkat 53 (skor 88,5).

Kota-kota di Australia dan Selandia Baru merambat naik di dalam daftar akibat apresiasi terhadap mata uang local terhadap dollar AS. Kota-kota di Selandia Baru yang menjadi pi lihan tidak terlalu mahal bagi para ekspatriat adalah Auckland yang berada di peringkat 78 (skor 81) dan Wellington di posisi 93 (skor 77,6).

R Adhi Kusumaputra

Iklan

Jakarta Juga Berambisi Menjadi Kota Budaya

KOMPAS

Minggu, 29 Jun 1997

Halaman: 4

Penulis: KSP

JAKARTA JUGA BERAMBISI MENJADI KOTA BUDAYA

JAKARTA kini berambisi menjadi kota budaya, selain diarahkan
menjadi kota jasa, perdagangan dan wisata. Keinginan ini diungkapkan
Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja belum lama ini. Mampukah
Jakarta dengan segala hiruk-pikuk metropolitan dan “hutan beton”-nya,
menjadi sebuah kota budaya?

Tak dapat dibantah, kegiatan seni dan budaya merupakan salah satu
urat nadi sebuah kota budaya. Jakarta tampaknya tak ingin sekadar men-
jadi kota jasa dan perdagangan, di mana warganya hanya sibuk dengan
urusan bisnis belaka. Jakarta juga butuh “darah” untuk menghidupkan
aktivitas warga kota.

Mengacu pada kota-kota di mancanegara, kegiatan seni dan budaya
menjadi salah satu prioritas kegiatan untuk menghidupkan kota, memberi
jiwa bagi warganya, sekaligus menggaet wisatawan. Melalui kegiatan
seni dan budaya, hubungan antarkota dan negara pun makin mesra, karena
kesenian dan kebudayaan mampu menembus segala kendala yang ada dalam
dunia politik dan diplomatik.

Lagi pula, apalah arti kehidupan ini tanpa kegiatan seni dan budaya?
Sebuah kota di mana warganya hanya sibuk memikirkan bisnis, adalah
kota yang tidak memiliki jiwa, kota yang “kering”. Dan Jakarta tak
ingin menjadi seperti itu.

Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta memiliki potensi bagi pengembangan
kegiatan seni dan budaya. Jakarta memiliki Institut Kesenian Jakarta
(IKJ) yang melahirkan banyak seniman terkenal yang mampu melahirkan
kreativitas seni yang menarik untuk ditonton.

“Kalau dikemas dengan menarik, tentunya atraksi seni dan budaya itu
akan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk datang
ke Jakarta,” kata Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Ir Fauzi Bowo
kepada Kompas, Kamis (26/6) malam.

Kehadiran Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dibangun Gubernur DKI
Jakarta Ali Sadikin, dan kini dalam tahap pemugaran, diharapkan mampu
menjadi pusat kesenian terbesar di Jakarta.

Kini di Jakarta ada sekitar 3.000 sanggar seni dan budaya yang
dikelola swasta atau pribadi, serta kegiatan lain di gelanggang-
gelanggang remaja di kotamadya. Dari seni tari, seni rupa, seni teater,
seni musik, sampai seni dalang.

“Sejumlah sanggar seni disiapkan untuk menyelenggarakan kursus,
penataran, workshop guna meningkatkan kualitas seniman kita,” kata
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Drs Azhari Baedlawie.

Azhari yakin Jakarta akan menjadi kota budaya, meski masih merupakan
proses. Dia optimis, antara lain karena selama ini Gubernur DKI Jakarta
Surjadi Soedirdja sangat serius memfokuskan pembinaan seni dan budaya di
Ibu Kota. Misalnya dengan membangun Teater Besar di TIM yang nantinya
akan berstandar internasional, serta pusat-pusat kesenian di lima
wilayah kotamadya. Juga memfungsikan kembali gelanggang remaja tidak
hanya untuk kegiatan olahraga dan pendidikan, tapi juga untuk kegiatan
seni dan budaya.

Selain itu, menurut Azhari, hampir dalam setiap event yang
diselenggarakan berbagai instansi pemerintah dan swasta, selalu
dimunculkan atraksi seni dan budaya. Bahkan kini hampir di setiap
hotel, apakah hotel melati atau hotel berbintang di Jakarta, atraksi
seni dan budaya menjadi salah satu primadona.

Hotel Indonesia yang berlokasi di jantung Ibu Kota, menyajikan
atraksi tari-tarian daerah dari 27 propinsi. Atraksi itu diadakan di
Restoran “Nusantara”, di lantai VIII hotel tertua di Jakarta itu.

Menurut Henny Puspitasari, Humas Hotel Indonesia, atraksi tarian
itu diadakan setiap malam (kecuali Minggu malam), dan mampu mengundang
wisatawan mancanegara, yang selain ingin bersantap malam, juga ingin
menikmati atraksi tari-tarian. Selain itu di lobi Hotel Indonesia, ada
degung Sunda, bumbung Bali dan gamelan Jawa.

Bukan itu saja. Di Terminal Lebakbulus dan di Stasiun KA Kota,
ungkap Azhari, pertunjukan seni seperti Lenong dan Tanjidor akan
dihidupkan kembali dan digelar dalam kesempatan-kesempatan tertentu
agar dapat dinikmati masyarakat. Itu hanya contoh bagaimana Pemda DKI
berusaha menghidupkan seni dan budaya di Ibu Kota.

Grup-grup kesenian Betawi ini dimanfaatkan Dinas Kebudayaan DKI
Jakarta untuk mengisi berbagai acara Gubernur DKI. Di antara grup
kesenian tradisional ini, kata Azhari, masih ada 35 grup Tanjidor dan
25 grup Ondel-ondel. Pembinaan Pemda DKI terhadap grup-grup kesenian
Betawi ini diwujudkan dengan memberi bantuan alat-alat kesenian oleh
Gubernur DKI, dan subsidi untuk kegiatan mereka.

Untuk meningkatkan kualitas, grup-grup kesenian itu mengadakan
perlombaan antarmereka sendiri. Selain itu, lomba juga untuk menjaga
agar kesenian Betawi tidak punah, bahkan makin dapat berkembang.

Untuk skala nasional, berbagai pertunjukan seni dan budaya dari 27
propinsi di Indonesia selalu dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), Pasar Seni di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), atau Gedung
Kesenian Jakarta (GKJ).

Faalah K. Djafar, Kepala Humas Taman Impian Jaya Ancol (TIJA)
menjelaskan, setiap Sabtu malam, kesenian daerah dari berbagai
propinsi digelar di panggung Pasar Seni secara bergantian. TIJA juga
selalu memberi kesempatan Dinas Kebudayaan masing-masing propinsi
untuk menampilkan kesenian andalannya di Pasar Seni. TIJA juga bekerja
sama dengan beberapa sanggar seni yang ada di Jakarta, untuk memberi
mereka kesempatan mengembangkan apresiasi seni dan budaya.

TMII secara periodik menampilkan atraksi seni dan budaya dari 27
propinsi, diselenggarakan di tiap anjungan. GKJ dengan bangunan yang
sudah dipoles, selalu menampilkan berbagai pertunjukan kesenian dan
kebudayaan. Sedangkan Taman Ria Senayan yang segera dibuka resmi akhir
tahun 1997, akan menyajikan pertunjukan seni dan budaya Indonesia dari
27 propinsi secara bergiliran. “Misalnya Reog Ponorogo, Debus,
Keroncong Night, Tari Bali dan sebagainya,” kata Monika Irayati, Humas
Taman Ria Senayan.

Jakarta yang kini dirambah berbagai atraksi modern, juga masih
menyisakan gedung kesenian tradisional seperti Wayang Orang Bharata
dan Miss Tjitjih (yang hangus terbakar beberapa waktu lalu), meski
kondisinya memprihatinkan.

Untuk skala internasional, sejak delapan tahun terakhir ini, Pemda
DKI Jakarta bersama Yayasan Promosi Jakarta (dikenal dengan nama
Jakprom) dan Garuda Indonesia menyelenggarakan “pesta budaya” dengan
nama Jakfest (Jakarta International Festival). Jakfest diikuti berbagai
peserta dari luar negeri yang menampilkan berbagai pertunjukan seni
dan budaya, selain menampilkan kesenian Indonesia sendiri. (Baca:
Jakfest, “Gado-gado” Pesta Budaya Jakarta)
***

NAMUN untuk menjadi sebuah kota budaya, tentu tak cukup hanya
dengan menghidupkan pertunjukan seni dan budaya. Wakil Gubernur DKI
Jakarta bidang Ekonomi Pembangunan Ir Tubagus Muhammad Rais dalam
percakapan dengan Kompas menegaskan, Jakarta juga membutuhkan sentuhan budaya melalui pembangunan fisik.

Lampu-lampu penerangan jalan dengan sentuhan artistik, kini sudah
dapat dilihat. Bukan lagi sekadar tiang listrik konvensional, tapi
sudah cukup nyeni. Demikian pula lampu-lampu taman yang dipasang di
Taman Medan Merdeka di Silang Monas, taman di halaman depan Balai Kota
DKI Jakarta, serta di berbagai lokasi lainnya.

Selain itu, Jakarta juga membutuhkan hasil karya seni seperti
patung yang dibangun di berbagai sudut kota, untuk mempercantik wajah
kota dan mengimbanginya dari gedung-gedung bertingkat yang jumlahnya
makin banyak. Penampilan secara fisik karya-karya seni sudah waktunya
menghiasi sudut-sudut kota Jakarta, sehingga mampu menjadi furniture
Jakarta.

Peninggalan budaya seperti museum dengan bangunan berusia tua di
Jakarta, yang meski tidak banyak jumlahnya, sebenarnya merupakan aset
yang potensial untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota budaya.
Pemerintah DKI Jakarta sejak tahun ini berencana memperbaiki wajah
museum agar tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda antik.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun kafe dan toko
suvenir di kawasan museum itu. Di berbagai kota di mancanegara, konsep
ini sejak lama diterapkan dan mampu menggaet jutaan wisman ke
museum-museum terkemuka.

Namun, baik Wagub DKI Ir Tb M Rais maupun Kepala Dinas Pariwisata
DKI Ir Fauzi Bowo mengakui, apresiasi sebagian besar masyarakat Jakarta
terhadap pertunjukan seni dan budaya masih sangat kurang. Mereka yang
memiliki apresiasi seni dan budaya, jumlahnya masih terbatas. Seiring
dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, apresiasi seni dan budaya
diharapkan juga meningkat. (adhi ksp)

FOTO ilustrasi Gedung Kesenian Jakarta diambil dari

Taman, Kali, dan Udara Segar

KOMPAS
Minggu, 22 Jun 1997
Halaman: 4
Penulis: KSP

TAMAN, KALI BERSIH DAN UDARA SEGAR

MASALAH urbanisasi dan kependudukan tampaknya menjadi persoalan
utama yang harus dihadapi Pemerintah DKI Jakarta sampai kapan pun.
Gemerlap Jakarta tetap menjadi daya tarik bagi kaum pendatang dari
berbagai daerah di Indonesia.

Setiap tahun, sedikitnya 200.000 wajah baru muncul di Ibu Kota.
Sebagian mengadu nasib, dan sebagian bahkan datang tanpa memiliki
keterampilan cukup, sehingga mereka inilah yang terpaksa hidup melata,
mendirikan perumahan kumuh di bantaran sungai dan beberapa lokasi
lainnya.

Lalu ketika mereka diusir, tindakan ini acap kali diartikan oleh
sebagian orang sebagai penggusuran. Namun Surjadi Soedirdja bersama
jajarannya tak patah semangat. Bukan penggusuran namanya, ujar kepala
daerah khusus Ibukota Jakarta itu, tapi penataan lingkungan.

Kaum pendatang yang kalah bersaing dan terpaksa hidup di permukiman
kumuh tak layak huni ini, bukannya tidak berhak hidup di Jakarta. Tapi
menurut Surjadi, mereka harus hidup lebih manusiawi. Bagaimanapun,
warga Jakarta tak pantas hidup melata di pinggiran sungai. Itulah
konsep yang disampaikan Surjadi Soedirdja.

Namun ia tidak menutup mata melihat ulah oknum karyawannya. Ber-
ulang kali ia menyatakan kemarahannya melihat oknum karyawan Pemda DKI
yang memanfaatkan kehadiran penduduk musiman yang tinggal di bantaran
sungai. Warga acapkali dimintai “uang tinggal sementara” sehingga
mereka pun beranggapan sah-sah saja tinggal di sana.

Derasnya arus urbanisasi masuk ke Ibu Kota, membuat Pemda DKI harus
memutar otak untuk mengatasinya. Melarang orang datang ke Jakarta,
tentunya bukan solusi yang tepat. Imbauan agar orang yang datang ke
Jakarta memiliki keterampilan yang memadai, bisa didengar bisa tidak.
Sebab Jakarta adalah magnet yang mampu menarik ribuan orang dalam
sekejap.

Bahwa Jakarta tetap merupakan pilihan utama bagi penduduk luar
Jakarta untuk mencari uang, itu fakta yang tak terbantah. Apa pun yang
dilakukan orang di Jakarta, bisa menjadi uang, asal mereka kreatif dan
tidak gengsi. Dari mengatur mobil-mobil di putaran jalan (U-turn)
sampai menjadi joki three-in-one. Dari peminta-minta sampai pedagang
kaki lima. Dari pembantu rumah tangga sampai penyanyi di klub malam.
Mereka yang sukses bertahan hidup di Jakarta, setiap pulang kampung
pada usai Lebaran, mengajak kerabat, kenalan dan saudaranya ikut
mengadu nasib di Ibu Kota.

Kondisi ini melahirkan sejumlah problem baru. Dengan lahan yang
makin terbatas (luas Jakarta saat ini 650 km2), persoalan yang kemudian
muncul berkaitan dengan penyediaan permukiman. Karena itulah, Surjadi
Soedirdja berkeinginan, Pemda DKI dapat membangun rumah susun murah
bagi masyarakat lapisan menengah bawah. Tapi apa daya, dana pemerintah
terbatas. Ia pun mengajak swasta membantu pemerintah, membangun rumah
susun murah.

Bukan itu saja, pengembang kawasan (developer) pun dimintanya
membangun rumah susun (atau apartemen) bagi kelas menengah yang
jumlahnya semakin banyak di Jakarta. Ini semua untuk mengantisipasi
persoalan terbatasnya lahan di Ibu Kota. Kini selain rumah susun
murah, ada kecenderungan pengembang kawasan membangun apartemen kelas
menengah, menggeser keinginan membangun kondominium mewah.

Rencana memperluas Kota Jakarta melalui reklamasi pantai utara,
saat ini memang masih dalam pembahasan. Namun ia sudah memikirkan,
20-30 tahun mendatang, kejayaan Kota Jakarta sebagai pelabuhan
terkemuka pada masa silam, akan terulang kembali jika proyek reklamasi
pantura itu terwujud pada waktunya.

Tapi ia tidak menutup mata atas kritik-kritik yang dilontarkan
sejumlah orang. Surjadi menegaskan proyek reklamasi pantura
direncanakan oleh para pakar yang ahli di bidangnya masing-masing.
* * *

DENGAN jumlah penduduk yang mencapai lebih dari sembilan juta jiwa,
harus diakui Jakarta semakin menyandang beban berat. Masalah paling
mendesak adalah penyediaan angkutan umum massal. Pemandangan
sehari-hari yang dapat disaksikan di sini, betapa sulitnya orang di
Jakarta mendapatkan angkutan umum yang aman dan nyaman. Naik bus kota
berarti harus bersedia berdesakan, bahkan diperlakukan bak ikan
pindang.

Surjadi Soedirdja menyadari betul kondisi buruk angkutan umum di
Jakarta. Gagasan membangun kereta bawah tanah (subway) jurusan Blok
M-Kota, berusaha diwujudkan. Meskipun usulannya masih mentok setelah
rancang dasarnya selesai, namun setidaknya ada keinginan kuat Pemda
DKI menyediakan angkutan massal bagi masyarakat Jakarta. Usulan swasta
membangun triple decker (jalan layang tiga tingkat) dari poros
selatan-utara pun disambut baik. Harapan warga tentunya, rencana-
rencana itu segera direalisasikan. Sebab kalau ditunda terlalu lama,
Jakarta bakal tambah macet dan sumpek.

Keluhan ini sah-sah saja. Hidup di Ibu Kota ternyata toh tak selalu
enak. Bayangkan, ketika bangun pagi, warga Jakarta sudah harus menghirup
polusi, bukan lagi udara segar dan bersih. Polusi udara semakin parah,
menjadikan hidup di Ibu Kota semakin tak nyaman lagi.

Surjadi Soedirdja pun menyadari betul keadaan ini. Gerakan sejuta
pohon, gerakan sejuta taman, program udara bersih, program langit biru
dicanangkan. Kota Jakarta harus lebih nyaman. Maka, taman-taman kota
pun dibangun di berbagai lokasi. Taman Medan Merdeka di kawasan Monas
misalnya, dibenahi dengan anggaran milyaran rupiah. Kota ini harus
ramah dengan warganya. Keramahan antara lain bisa diwujudkan dengan
ketersediaan taman, di mana orang dapat duduk-duduk melepas lelah di
tempat yang hijau dan teduh. Taman Medan Merdeka yang kini masih dalam
tahap pembenahan, kelak akan menjadi taman kota yang memungkinkan hal
itu terjadi.

Dari luas Jakarta 650 km2 atau 65.000 hektar, Pemda DKI Jakarta
mentargetkan membangun taman 6.500 hektar atau sepersepuluh luas kota.
Namun hingga saat ini, baru sekitar 50 persen (sekitar 3.250 hektar)
taman yang dapat dibangun. Idealnya, luas ruang terbuka hijau di
Jakarta 9.750 hektar, dengan rincian 3.250 hektar hutan kota dan 6.500
hektar taman kota. Tapi nyatanya, saat ini baru ada 4.000 hektar ruang
terbuka hijau (873 hektar hutan kota dan 3.250 hektar taman kota).

Sisi kanan dan kiri kali Mookervaart yang telah diturap di sepanjang
sisi selatan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat sampai ke Kodya Tangerang
akan dibangun taman unggulan sebagai upaya memperindah pintu gerbang
Jakarta di wilayah barat. Pembangunan taman unggulan akan dilaksanakan
bulan Oktober 1997.

Gencarnya upaya mewujudkan keindahan dan penghijauan di Jakarta,
juga bisa terlihat dari data di Suku Dinas Pertamanan Jakarta Barat.
Jumlah taman di Jakarta Barat tahun 1995 baru 55 lokasi dengan luas
10,64 hektar, jalur hijau jalan 131 lokasi dengan luas 64,78 hektar,
dan jalur hijau kota 28 lokasi luasnya 6,63 hektar. Dua tahun kemudian,
yakni 1997 jumlah taman dan jalur hijau bertambah. Jumlah taman
menjadi 94 lokasi luasnya 12 hektar, jalur hijau jalan 150 lokasi
luasnya 66 hektar, dan jalur hijau kota 35 lokasi luasnya 8,5 hektar.

Gubernur juga mengancam akan menindak mereka yang menyalahgunakan
jalur hijau. Beberapa SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum)
seperti diketahui, dibangun di atas tanah jalur hijau. Namun untuk ini
Surjadi masih mentolerir dengan catatan, SPBU itu diminta membangun
juga SPBG yang menjual bahan bakar gas (BBG). Kalau tidak, izin usaha
tak diperpanjang dan jalur hijau harus dikembalikan ke fungsi asalnya.

Jakarta harus terasa sejuk dan warganya harus merasa dimanusiakan.
Maka, Surjadi pun merealisasikan pembangunan trotoar lebar untuk
pejalan kaki, dengan pepohonan yang sejuk ditanam di kiri-kanan jalan.
Lihatlah misalnya, trotoar di Jl Kebon Sirih (Jakpus), juga Jl Kyai
Tapa dan Pancoran Glodok (Jakbar).

Pekan lalu, Surjadi mengundang pemilik dan pengelola gedung ber-
tingkat di sepanjang Jl MH Thamrin, mengajak mereka membulatkan tekad
untuk membuat kawasan Jl MH Thamrin lebih nyaman. Caranya? Mereka
diminta membuka pagar dan melebarkan trotoar menjadi tujuh-delapan
meter. Milyaran rupiah bakal dikeluarkan untuk merealisasikan gagasan
indah ini. Kalau keinginan ini bisa dilaksanakan, kelak trotoar
sepanjang 1,6 km di Jl MH Thamrin, akan menjadi salah satu kawasan
tercantik di Jakarta.

Cita-cita Surjadi tak hanya berhenti sampai di sini. Gubernur DKI
ini sudah mencanangkan akan membuat trotoar lebar di kawasan wisata
belanja di Jl Dr Satrio-Casablanca, Jaksel. Ir Ciputra, salah seorang
konglomerat memberi tanggapan positif. Tak heran kelak, trotoar
Jakarta bisa bersaing dengan trotoar lebar di kawasan Orchard Road
Singapura atau kawasan Champ-de-Elysse Paris. Asyik betul.
* * *

SEBUAH kota harus menghargai sejarahnya. Pendapat ini diyakini
betul oleh Surjadi. Revitalisasi kota tua di Jakarta Lama, dan
pembenahan museum-museum di Jakarta agar tampil lebih menarik,
menjadi salah satu program kerja yang direalisasikannya secara
bertahap.

Ketika seorang Surjadi Soedirdja harus berbasah kuyup akibat
jembatan kayu tempat ia berdiri tiba-tiba runtuh saat ia meresmikan
Kali Opak beberapa waktu lalu, orang tersentak. Kali Opak konon
memiliki kisah sejarah panjang dalam perkembangan awal Kota Jakarta.

Suara-suara yang menghendaki agar museum-museum di Jakarta diper-
cantik supaya lebih menarik, ditanggapi positif. Surjadi pun berke-
inginan museum-museum di Jakarta tak hanya sekadar tempat penyimpan
benda antik dan benda mati, tapi mampu menjadi daya tarik wisatawan
mancanegara, seperti halnya museum di berbagai kota di mancanegara.

Angan-angannya, suatu saat kelak setiap tahun jutaan orang mengunjungi
museum. Jakarta pun menjadi salah satu kota wisata yang menyenangkan
di kawasan Asia.
* * *

MEMBERSIHKAN sungai-sungai di Jakarta dari aneka limbah, juga
merupakan salah satu perhatiannya. Melalui Program Kali Bersih
(Prokasih), Surjadi Soedirdja bersama staf-nya berusaha mengurangi
limbah sungai-sungai yang melintas di Jakarta. Usaha itu tidaklah
main-main. Buktinya, dua tahun berturut-turut Propinsi DKI Jakarta
memperoleh penghargaan terbaik Prokasih dari Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup.

Tengok misalnya Kali Banjir Kanal atau dikenal sebagai Kali Malang
yang melintas dari Manggarai sampai kawasan Angke. Tepian kali bebas
dari WC umum yang menjorok ke tengah sungai dan akrab dengan sebutan
“helikopter”. Gubuk-gubuk atau bangunan darurat yang menjamur di
tepian kali tak lagi tersisa. Sementara di Kali Cideng yang mengalir
di kawasan Jakarta Pusat, tepiannya berpagar dan tanaman mengusir
kekumuhannya.

“Perlahan, kali tak lagi dibelakangi, tapi menjadi pemandangan muka
bangunan,” tutur H Abdul Kahfi. Beberapa kantor dan hotel di Jalan
Karet Pasar Baru Timur menghadap ke Kali Malang yang kini tepiannya
hijau oleh tanaman sayuran. “Para petani boleh memanfaatkan lahan
bantaran kali itu, tapi tak boleh tinggal atau membuat bangunan di
sana,” katanya.

Memang saat ini sebagian sungai-sungai di Ibu Kota masih kotor dan
sampah terbawa arus di beberapa tempat. Prokasih memang membutuhkan
proses waktu yang cukup lama. Setidaknya, ini menyadarkan orang agar
tidak membuang limbah langsung ke sungai, dan mengajak pengelola
industri untuk memiliki alat pengolah limbah.

Belajar dari negara lain, misalnya Singapura, Jepang dan Inggris,
upaya membersihkan sungai dari limbah, bukan seperti tukang sulap,
sungai-sungai langsung bersih seketika. Selain membutuhkan anggaran
yang tidak sedikit, juga usaha yang terus-menerus, tanpa henti. Tapi
Surjadi toh berangan-angan, 13 sungai yang melintas di Jakarta suatu
saat kelak betul-betul bersih dari limbah. Bukan cuma itu, alangkah
menyenangkan bila juga bisa melihat ikan-ikan berenang di air sungai
dengan suka cita. (adhi ksp)

Foto: 2
1. Kompas/we
KALI BERSIH – Salah satu persoalan yang dihadapi Jakarta adalah
kebersihan, termasuk kebersihan kali-kali yang melintasi Jakarta.
Untuk mewujudkan hal itu tentu saja tidak mudah, diperlukan upaya
yang tak terputus-putus, juga penyediaan biaya yang tak kecil.

2. Kompas/kr
TERBUKA – Ruang-ruang terbuka yang bisa dinikmati masyarakat Jakarta
diharapkan akan semakin banyak. Bahkan nantinya ruang-ruang terbuka,
taman, dan trotoar menjadi bagian penting dari kota metropolitan yang
sudah penuh sesak ini.

Mengubah Wajah Museum

KOMPAS
Minggu, 04 May 1997
Penulis: ADHI KSP

Mengubah Wajah Museum
BILA TAK BERUBAH, PENGUNJUNG BISA MEROSOT

MUSEUM bisa menarik pengunjung, bisa pula tidak. Agaknya, minimnya
kunjungan bisa menjadi acuan betapa bagi sebagian besar masyarakat,
museum bukan hal yang menarik untuk dibicarakan dan apalagi dikunjungi.
Berapa banyak orang yang berkunjung ke museum-museum di Jakarta saat
ini? Tahun 1996 tercatat 107.751 orang mengunjungi tujuh museum yang
berada di bawah pengawasan Pemda DKI Jakarta. Jumlah ini menurun
dibanding 1995 yang mencatat 172.933 orang.

Museum-museum yang berada di bawah kendali Pemda DKI Jakarta adalah
Museum Sejarah, Museum Wayang, Museum Senirupa, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum Joang, Museum Tekstil dan Museum Prasasti.
Namun jika museum-museum di Jakarta tersebut kondisinya tak berubah,
tetap seperti sekarang, dikhawatirkan jumlah pengunjung semakin menipis
dan pada akhirnya museum hanya menjadi gedung tua yang sunyi. Alangkah
menyedihkan!

Tapi para pencinta museum tak perlu khawatir. Dalam beberapa tahun
mendatang, wajah museum di Jakarta bakal berubah. Museum tidak hanya
merupakan gedung tua yang menyimpan benda-benda antik, tapi akan
menjadi lebih semarak dengan hadirnya kafe, perpustakaan dan toko
suvenir di sana.

Kesan masyarakat selama ini tentang museum diharapkan akan ikut
berubah. Kelak, museum akan menjadi salah satu tempat yang menarik
dikunjungi warga, karena orang tidak hanya datang ke museum untuk
melihat-lihat koleksi, tapi juga menjadi tempat rendezvous. “Kalau
museum juga menyediakan kafe, mengapa tidak?” kata Kepala Dinas Museum
dan Pemugaran DKI Jakarta Drs Haswidi Ahmad Taufik dalam percakapan
dengan Kompas beberapa waktu lalu.

Membangun kafe dan toko suvenir sebagai bagian dari museum,
tampaknya masih “barang baru” di Jakarta. Tapi museum-museum di luar
negeri sudah melakukannya sejak lama. Museum tidak sekadar gedung tua
dengan aneka koleksinya, tapi dilengkapi berbagai fasilitas termasuk
kafe, perpustakaan dan toko cenderamata.

Museum di Jakarta kelak tak sekadar merupakan tempat singgah
wisatawan mancanegara (wisman), tapi akan menjadi tujuan wisman.
Mereka yang datang ke Jakarta, akan mencari di mana museum-museum
dengan kawasan kota tuanya.

“Ini bukan cuma angan-angan, tapi harapan kita semua. Kami mencoba
mengubah wajah museum di Jakarta,” kata Haswidi A. Taufik. Bagaimana
caranya? Museum harus tampil keren. Dari bangunan, lingkungan, tata
pameran, koleksi hingga program kegiatannya harus menarik.

Memang diakui, kepedulian masyarakat dan apresiasi masyarakat tentang
fungsi dan peran museum masih sangat rendah. Kalau pun ada yang
mengunjungi museum, mereka umumnya orang-orang yang punya minat besar pada museum. Kalau mereka anak-anak sekolah, mereka datang ke museum
karena mendapat tugas dari sekolah “wajib ke museum” untuk menambah
nilai rapor.

Kondisi seperti ini harus diubah, tak bisa dibiarkan berlama-lama
begini. Museum harus mampu memberikan kontribusi terhadap citra Kota
Jakarta sebagai kota budaya, kota jasa dan kota tujuan wisata.

Karena itu, langkah Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta memberikan
otonomi kepada kepala-kepala museum di Jakarta menjadi sangat berarti
karena mereka akan lebih leluasa bergerak. Kepala museum dan kurator
museum akan berjalan bersama mengembangkan museum. Orang yang paling
tahu tentang koleksi museum adalah kurator, sehingga peran kurator
sangat penting. Manajemen museum berfungsi sebagai fasilitator. Selama
ini museum-museum di Jakarta tidak memiliki kurator.

Raperda (rancangan peraturan daerah) perihal otonomi museum ini
dalam waktu dekat akan diajukan ke DPRD DKI Jakarta. Jika Raperda itu
disahkan Dewan, berarti setiap museum (yang berada di bawah pengawasan
Pemda DKI Jakarta) akan memiliki kewenangan mengelola museum, dari
melakukan konservasi hingga menyelenggarakan tata pameran.

Sehari-hari kepala museum yang bertanggung jawab dalam pengoperasian
museum. Kepala Dinas Museum dan Pemugaran tidak ikut campur tangan dan hanya melakukan koordinasi. Jadi, dengan siapa akan bekerja sama,
program apa yang akan dilaksanakan, itu semua menjadi wewenang setiap
kepala museum. Dengan pemberian otonomi ini, diharapkan kepala museum
lebih kreatif dan lebih inovatif.
***

USAHA menjadikan museum sebagai tujuan kunjungan wisatawan, memang
tak mudah. Tapi mengacu pada museum-museum di luar negeri yang selalu
dibanjiri pengunjung, Haswidi yakin pada tahun-tahun mendatang, museum
di Jakarta akan menjadi tempat yang menarik dikunjungi.

Orang yang datang ke museum tidak hanya untuk tujuan edukasi,
ilmiah, penelitian, tapi juga sekaligus untuk makan malam dan hiburan.
Kafe museum yang dalam waktu dekat akan beroperasi adalah kafe
Museum Sejarah di Taman Fatahillah, Jakarta Barat. Setelah itu menyusul
Museum Bahari di Jakarta Utara dan Museum Tekstil di Jakarta Pusat.

“Kafe ini tidak akan merusak nilai histori gedung tua tersebut. Hanya
fungsinya saja yang sedikit diubah. Hal ini tak perlu dicemaskan
karena hampir semua museum di mancanegara melakukan hal serupa sebagai
salah satu upaya menarik perhatian pengunjung,” kata Haswidi memberi
alasan.

Kafe museum akan dikelola operator khusus, dan fungsinya akan
mendukung kegiatan museum. Jadi kalau museum sedang menyelenggarakan
pameran berwarna Belanda, kafe museum setidaknya menyediakan masakan
khas Belanda. Demikian halnya jika museum mengadakan kegiatan berwarna
Jawa, masakan yang dihidangkan di kafe museum pun harus yang berkhas
Jawa. Antara kafe dan museum, harus saling menunjang. Beberapa koleksi
museum akan dipinjamkan ke kafe untuk memberikan atmosfer yang
berbeda.

Yang diharapkan dengan kehadiran kafe museum tentunya meningkatnya
jumlah retribusi ke kas daerah Pemda DKI Jakarta. Caranya, setiap
pengunjung kafe otomatis pengunjung museum. Kalau kafe museum sudah
meraup laba, museum pun akan dapat menikmatinya.

Selain dilengkapi kafe, museum di Jakarta juga kelak dilengkapi
dengan toko suvenir dan perpustakaan. Sebuah museum di New York
(Amerika Serikat) memiliki 200 toko di seluruh dunia yang khusus
menjual replika (tiruan) koleksi museum. Meskipun yang dijual hanya
benda tiruan koleksi, tapi pembelinya luar biasa banyaknya.

Kalau museum di Jakarta ingin seperti itu, tentunya koleksinya
harus menarik perhatian masyarakat. Salah satu upaya yang akan dilakukan
Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta adalah meningkatkan kerja sama
dengan mitra pencinta museum, kolektor benda-benda antik, dan industri
yang ada relevansinya.

Koleksi museum tentu saja bukan sekadar memamerkan benda antik,
tetapi benda-benda baru pun -yang unik- tetap dapat menjadi koleksi
museum. Industri dapat meniru desain koleksi sebagai inspirasi,
misalnya industri tekstil.

Kerja sama antara kolektor, pencinta museum dan pengelola museum
semakin terjalin erat. Yang sedang dipikirkan adalah soal hibah kolektor
dan pencinta museum. Bagaimana caranya agar masyarakat tertarik
menghibahkan koleksinya kepada museum. Untuk itu, sedang dicari dasar
hukum yang kuat agar masyarakat pun tergerak dan tertarik. Misalnya, apa
saja kewajiban penerima hibah jika ada warga yang ingin menghibahkan
koleksinya ke suatu museum. Mungkin secara rutin melaporkan bahwa barang
yang dihibah masih ada. Atau mencantumkan nama pemberi hibah di museum tersebut.


Juga perlu dipikirkan bagaimana jika ada masyarakat yang
ingin meminjamkan koleksi ke museum seumur hidup. Artinya barang tetap
disimpan di museum, tapi kepemilikannya tetap milik keluarga
bersangkutan. Demikian halnya dengan koleksi “pinjaman sementara”. Jadi
kalau pemberi hibah meninggal dunia, koleksinya dikembalikan kepada
keluarganya. Dasar hukum seperti inilah yang perlu diperjelas.

Selain itu, jika ada koleksi dihibahkan, dipinjamkan, benda itu
tentunya harus dijamin keamanannya, baik keamanan gedung itu sendiri
maupun keamanan koleksi, seperti kelembaban dan sinar lampu. Dengan
demikian masyarakat yang menghibahkan atau meminjamkan koleksi, tidak
kecewa barangnya rusak.

Satu lagi yang perlu diingat adalah bagaimana museum sanggup
beroperasi sampai malam hari, setidaknya dibuka sampai pukul 20.00.
Sebab kalau museum hanya dibuka sesuai jam kerja pegawai negeri, sulit
rasanya bagi masyarakat untuk datang. Dalam kaitan ini, gaji pegawai
museum dan petugas keamanan pun harus ditingkatkan. Ini semua
menyangkut standar pelayanan, penampilan dan kualitas sumber daya
manusia yang ada. (Adhi Ksp)

Foto:
Kompas/js
MESEUM FATAHILLAH – Bangunan megah Museum Fatahillah diharapkan mampu
menyedot pengunjung bila otonomi museum sudah diberlakukan. Rencananya
di dalam museum juga akan diadakan kafe, restoran seperti yang sudah
dilakukan di museum-musem di luar negeri.

Gunther, Rumitnya Peta Jabotabek

KOMPAS
Kamis, 10 Apr 1997
Halaman: 1
Penulis: ADHI KSP

GUNTHER, RUMITNYA PETA JABOTABEK

GUNTHER W. Holtorf (59), pria berkebangsaan Jerman ini, mungkin
satu-satunya orang yang paling hapal lokasi dan nama jalan di
Jabotabek. Betapa tidak. Ia menyusuri satu persatu ribuan jalan, dari
gang sempit hingga jalan tol di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi,
Depok, Bogor, dan Karawang.

Hasilnya fantastis. Peta terbaru Jabotabek setebal 356 halaman
yang beredar sejak pekan lalu itu, menjadi salah satu buku yang dicari
dan paling laris hari-hari ini.

“Mungkin orang tidak pernah membayangkan bagaimana peta ini dibuat.
Sangat complicated, penuh tantangan, dan sulit. Tapi saya melakukannya
sendiri,” kata Gunther W. Holtorf.

Dua halaman peta misalnya, ia kerjakan lebih daripada satu minggu.
Peta terbarunya itu membutuhkan waktu sekitar dua tahun! Peta ini
memuat 85 halaman peta baru, terutama wilayah Botabek yang belum
pernah dimuat dalam peta edisi sebelumnya yang terbit Oktober 1993.

Hampir semua peta Botabek yang dibuatnya merupakan peta mutakhir yang
pernah ada sejak Indonesia merdeka. Peta Kabupaten Tangerang misalnya,
yang pernah ada buatan tahun 1904.

Untuk membuat tambahan 85 halaman peta dengan 20.000 nama baru, ia
memulainya dari Depok, Cimanggis, dan Bogor. Modal awal adalah foto
udara Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal),
yang diperbesar. Ia kemudian ke lapangan, mencek satu per satu nama
jalan, lokasi fasilitas umum seperti SPBU (stasiun pengisian bahan
bakar umum), mesjid, dan lain-lain. Ia mencek nomor kode pos setiap
kecamatan dan kelurahan/desa, kemudian ia konfirmasikan ke Kantor Pos
Besar di Bandung.

Survai lapangan ini dimulainya pukul enam pagi dan selesai pukul
tujuh malam. Ungkapnya, “Tidak ada hari libur bagi saya”.
Gunther tidak segan bertanya kepada warga setempat, untuk memasti-
kan informasi yang dicarinya. Banyak pengalaman tak enak menimpanya,
seperti misalnya ban mobil Kijangnya dikempesi dan ia diperas oleh
berandalan, atau pernah ia ditodong penjahat. Meski demikian, ia
mengaku mendapat banyak bantuan dari masyarakat Jabotabek yang
dijumpainya. Katanya, “Mereka sangat helpful”.

Kerja sama diperolehnya dari banyak pihak. Ketika ia datang ke
kantor kepala desa, kantor lurah, kantor DPU, mereka memberinya
informasi. Bahkan keterangan rencana pembangunan jalan tol Kalimalang
(yang tercantum dalam edisi terbaru), justru merupakan permintaan
pihak Bina Marga dan Jasa Marga.

Genap setahun ia melakukan survai lapangan, dengan menyetir
sendiri mobil Kijang. Jelasnya, “Kalau pakai sopir, malah lambat”.
Mengamati pesatnya pembangunan kompleks permukiman komersial (real
estate), Gunther merasa surprise. Di Jabotabek saat ini ada sekitar
1.130 perumahan komersial real estate dan sekitar 600 kompleks
perumahan instansi/departemen. Satu per satu kompleks perumahan itu
didatanginya, sehingga ia pun tahu persis kondisi jalan ke lokasi,
apakah jelek atau baik. Dalam peta terbarunya misalnya, Gunther
mencantumkan kondisi jalan dari Parung menuju perumahan Citra Raya di
Cikupa, yang disebutnya bad condition.

Setelah selesai dengan survai lapangan, ia membuat peta dengan
skala yang benar. Ia merampungkannya di Budapest, Hongaria, untuk
pekerjaan art work. Di sana, ia dibantu 10 orang pembuat kartografi.
Setelah semuanya selesai, peta ini dicetak di PT Intermasa Jakarta
dan didistribusikan oleh PT Djambatan Jakarta.
“Hasilnya tak terduga. Banyak toko buku kehabisan stok dan memesan
kembali,” kata Syarifuddin, Direktur PT Djambatan. Edisi ke-11 ini
dicetak 80.000 eksemplar, harganya Rp 58.000 per eksemplar.
* * *

PEMBUATAN peta DKI Jakarta ini dirintis Gunther W. Holtorf sejak
20 tahun silam. Tapi peta DKI yang diterbitkan tahun 1977 (dengan kata
pengantar Gubernur DKI Ali Sadikin) itu baru satu lembar dan
wilayahnya sangat terbatas. Bandara Kemayoran masih jelas tercantum
dalam peta tersebut. Penerbitnya, Falk, sebuah penerbit peta terbesar
di Eropa yang bermarkas di Hamburg.

“Waktu itu saya naik sepeda dan becak. Jakarta ‘kan masih belum
padat seperti sekarang,” kisahnya.
Sekarang, jarak Balaraja (Tangerang) ke Karawang sekitar 120 km,
dan jarak Ancol (Jakarta Utara) ke Ciawi (Bogor) sekitar 70 km.
Tambahnya, “Wilayah yang harus dicek sangat luas. Jadi sekarang saya
menggunakan mobil”.

Ke Jakarta pertama kali pada tahun 1973 sebagai manajer Lufthansa,
Gunther tinggal di Hotel Asoka berlantai dua (sekarang sudah lenyap
dan lokasinya menjadi Plaza Indonesia).
* * *

MENURUT Gunther, semula ia hanya iseng-iseng membuat peta.
“Banyak teman saya menanyakan lokasi daerah di Jakarta. Demikian
pula pelanggan Lufthansa. Itu mendorong saya untuk membuat peta
Jakarta yang lebih baik, dan hasilnya berupa peta DKI Jakarta yang
terbit tahun 1977, untuk menyambut HUT ke-450 DKI Jakarta,” tuturnya.
Peta ini dicetak sampai enam kali dengan berbagai perbaikan di sana-
sini, tapi tetap satu lembar.

Tahun 1990, peta Jakarta edisi ke-7 terbit, wilayahnya lebih luas
dan nama-nama jalan lebih detil. Tahun 1992, peta Jakarta edisi ke-9
setebal 176 halaman beredar dengan harga Rp 26.500. Dalam peta ini,
banyak daerah baru yang muncul seperti Meruya, Bintaro, Pondokgede,
Pondokkelapa, dan Cakung. Tahun 1993, terbit peta 243 halaman dengan
daerah Serpong, Lippo Village, dan Bintaro.

“Saya tidak pernah membayangkan. Hanya dalam waktu 20 tahun, peta
yang saya buat menjadi peta lengkap. Waktu peta tahun 1990 terbit, saya
berpikir inilah peta Jakarta yang terbaik. Saya tak pernah berpikir,
tahun-tahun berikutnya saya akan mengerjakan peta lebih mutakhir,”
ungkap Gunther yang menguasai Bahasa Jerman, Spanyol, Inggris,
Portugis.

Meski peta edisi ke-11 ini sudah beredar, bukan berarti Gunther
selesai bekerja. Mulai September ia menyiapkan pembuatan peta edisi
berikutnya. Sebelumnya, ia akan berlibur empat bulan di Jerman, berama
istrinya Christie (42) dan putrinya Sabine yang tinggal di Frankfurt.

Lelaki yang pernah tinggal di Argentina, Cile, dan Uruguay, sebagai
manajer Lufthansa ini menambahkan, “Saya memang butuh istirahat agar
bisa segar lagi jika bekerja di Jakarta”.

Peta edisi ke-12 tahun 1998 direncanakan terbit dengan jumlah
halaman yang sama, namun dengan sejumlah perbaikan seperti tambahan
nama apartemen dan gedung perkantoran. Pada edisi ke-13 yang akan
terbit tahun 1999, ada 80 halaman baru, 50 halaman peta baru, dan 30
halaman indeks. Peta itu akan memuat daerah Cikampek, Cipanas, Bogor
Raya, dan Jonggol yang diperkirakan bakal tumbuh pesat.

Gunther setuju mencantumkan nomor kode area telepon, lokasi wartel,
dan kantor polisi. Tapi sulit melakukannya untuk rute bus dan jalan
satu arah. Jelasnya, “Rute bus di Jakarta tidak seperti di London,
Frankfurt, atau Tokyo. Sering berubah-ubah. Selain itu, Jakarta sangat
terkenal dengan jalan satu arah, kecuali. Misalnya jalan ini satu arah
kecuali truk, bus, atau kecuali hari libur, atau kecuali pukul
06.00-10.00, dan sebagainya.

Gunther mengakui ada beberapa kesalahan kecil dalam peta buatannya.
Katanya, “Ya, saya menerima sejumlah kritik atas beberapa kesalahan
yang ada. Memang tidak bisa sempurna seratus persen, tapi saya selalu
berusaha memperbaikinya”.

Sekolah Al Izhar misalnya, ditulis Al Azhar, di halaman 74. “Itu
produk peta edisi sebelumnya, yang dicetak ulang pada edisi baru.
Kesalahan itu saya perbaiki pada halaman 84, halaman peta baru,”
katanya.

Ia mengaku sangat gembira jika menerima masukan dan kritikan.
Katanya, sedikitnya ada 200 surat dan puluhan telepon yang masuk ke
PT Djambatan, yang menyampaikan masukan untuk perbaikan petanya.
Tentang peta Jakarta yang dicetak oleh penerbit ilegal, Gunther
mengatakan kejadian itu tidak menguntungkan. “Tapi mungkin bagi orang
lain, itu cara mendapatkan peta dengan harga lebih murah,” kata
Gunther yang menambahkan, kemungkinan besar peta yang dicetak ilegal
berbentuk citymap bukan peta tebal.
* * *

TAMPAKNYA pembuatan peta Jabotabek membuat Gunther semakin berarti.
“Uang bukan tujuan utama. Bagi saya, yang terpenting hasil karya
saya bisa bermanfaat bagi masyarakat Jabotabek, bagi orang Indonesia,”
ujarnya sungguh-sungguh.

Ketika ditanya apakah ia mempunyai kader atau staf untuk melanjut-
kan pekerjaan ini, Gunther mengatakan ia sudah lama mencari orang yang
berminat sungguh-sungguh dalam pembuatan peta.

“Mereka haruslah orang yang teliti dan akurat, serta berpikir
milimeter. Artinya, mereka harus mau teliti mengukur ketepatan skala
agar tidak salah,” kata Gunther yang masih enerjik meski usia
menjelang kepala enam. (Adhi Ksp)

Membangun Trotoar Lebar di Jalan MH Thamrin

KOMPAS
Jumat, 21 Mar 1997
Halaman: 18
Penulis: ADHI KSP

MEMBANGUN TROTOAR LEBAR DI JALAN MH THAMRIN

MEMBANGUN trotoar lebar di Jalan MH Thamrin adalah salah satu dari
rencana Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja untuk “memanusiakan”
warga Ibu Kota. Rencana lainnya antara lain, meningkatkan mutu angkutan
kota -massal, murah dan nyaman- yang pada gilirannya diharapkan bisa
mengobati kemacetan yang kondisinya sudah sangat parah sekarang ini.

Lalu ada program “meruntuhkan” pagar-pagar beton di kawasan Jalan
Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Pagar beton diganti dengan “pagar hidup”,
yakni berupa pepohonan sehingga kawasan bisnis dan perkantoran itu menjadi hijau. Nyaman!

Dan berkaitan dengan program “peruntuhan” itu disusun pula rencana
pembangunan trotoar lebar sepanjang Jalan MH Thamrin. Trotoar untuk
pejalan kaki, yang selama ini tampak seperti tidak mendapat tempat di
dalam “kamus” Ibu Kota. Pejalan kaki sepertinya tidak masuk hitungan
atau diperhitungkan.

Solusi untuk meningkatkan kualitas transportasi kota diwujudkan dengan
membangun kereta bawah tanah (subway) Blok M-Kota dan tripple decker
Bintaro-Kota.

Subway belum lagi jelas kapan mulai dibangun setelah koordinator
konsorsium perusahaan-perusahaan swasta yang menangani mega proyek
itu, Ir Aburizal Bakrie menyatakan pembangunan fisik diundur dari
rencana semula April 1997. Dan hingga kini belum diketahui hingga
kapan pembangunan fisik diundur, meski menurut Antara, Ical -panggilan
akrab Aburizal Bakrie- menyatakan akan dimulai Juli 1997.
Yang sudah pasti adalah proyek tripple decker. Pembangunan fisik
jalan tiga tingkat Bintaro-Kota itu dimulai April 1997 dan selesai
Agustus 2001.

Khusus tentang trotoar lebar, Surjadi sudah memikirkannya sejak dua
tahun lalu dan kemudian mengajak kelompok-kelompok profesi pecinta
“Jakarta Bersih” mewujudkannya.

Konsepnya tak hanya membangun trotoar, tetapi masalah-masalah detail
juga tak dilupakan. Semisal pembuatan rambu pemberhentian bus (yang
menginformasikan bus-bus jurusan tertentu saja yang akan menaikturunkan
penumpang di tempat tersebut), shelter yang didesain lebih menarik (yang
digabungkan dengan kotak telepon umum, kios surat kabar, kios kecil
penjual makanan-minuman ringan dan informasi turis), serta pul (pool)
taksi yang ditempatkan di jalur-jalur penghubung blok utama dan pendukung
(jalan-jalan samping) agar lalu lintas Jalan Thamrin tidak terganggu.

Menurut arsitek Ir Budi Lim yang “dilibatkan” dalam proyek itu, konsep
alur dan arus kendaraan memprioritaskan kenyamanan pejalan kaki.
Prinsipnya, pengaturan arus lalu lintas mengacu pada perputaran yang
berlawanan arah jarum jam. Jadi mobil yang ada sopirnya, harus menurunkan
penumpang di depan, dan penumpangnya berjalan kaki ke gedung. Mobil yang
tak ada sopirnya, langsung ke gedung parkir mobil, tidak diperkenankan
berbelok langsung ke pintu masuk gedung.

Lalu apa nilai tambah pembongkaran pagar beton? “Lantai dasar
gedung-gedung itu bisa menjadi tempat komersial. Nilai sewa bisa meningkat.
Kalau selama ini lobi gedung tidak menghasilkan, bila sudah dibongkar
nilainya bisa menjadi 100-150 dollar AS/meter persegi/bulan.

Konsep ini akan memfungsikan lantai dasar gedung sebagai fasilitas
publik seperti kafe, restoran, pusat jajan, bank, warung telekomunikasi,
tempat penukaran uang, toko buku, binatu, kantor pos, butik eksklusif,
toko perhiasan. Lantai di bawahnya lagi dapat difungsikan sebagai
diskotek, pub, pusat kebugaran, salon kecantikan dan sejenisnya.

Hotel Sari Pan Pacific misalnya, bisa membuka kafe yang mendekati
trotoar. Pejalan kaki yang sudah lelah singgah di kafe itu untuk minum
sambil istirahat. Atau contoh lain, lahan antara kawasan Gedung Jaya dan
Plaza ATD, bisa juga dibangun kafe.

Halaman Gedung Sarinah dan Restoran Mc Donald’s sebenarnya bisa
difungsikan sebagai plaza, taman dan kafe. Lalu di mana kendaraan diparkir?
Solusinya, pemilik gedung membangun tempat parkir di bawah tanah. Menurut perhitungan Budi, pemanfaatan halaman sebagai plaza (yang bisa disewakan) dan pembangunan tempar parkir di bawah tanah, akan lebih menguntungkan.

Dalam konsep umum yang diajukan, idealnya setiap bangunan yang ada di
Jl MH Thamrin diharuskan memiliki fasilitas parkir pada blok penunjangnya.
Kapasitas fasilitas parkir pada tiap gedung, minimal harus dapat menampung
kebutuhan gedung itu sendiri. Atau, pemanfaatan fasilitas parkir bersama
pada tingkat blok sehingga terjadi pemerataan kepadatan parkir pada
setiap tempat.

Soal sekuriti? Dalam kondisi seperti itu, yang menjadi soal bukan
lagi sekuriti gedung-per-gedung tapi sekuriti bersama. Persoalan yang
mungkin muncul adalah halaman kantor kedutaan besar negara sahabat yang
masih ada di Jl MH Thamrin. Tapi Budi berpendapat, gedung Kedubes
Perancis sebenarnya lebih sesuai menjadi pusat kebudayaan, dan kantor
duta besar dipindah ke kawasan Kuningan, Jaksel.
***

RENCANA pembongkaran pagar beton dan pelebaran trotoar di Jl MH
Thamrin dan Sudirman akan segera direalisasikan. “Saya harapkan tahun
1997 sudah mulai dilaksanakan. Sekaranglah saat yang tepat untuk
merealisasikannya,” kata Wagub DKI bidang Ekbang Ir Tb M Rais.

Wali Kotamadya Jakarta Pu-sat Abdul Kahfi awal pekan ini mengatakan,
pemerintah sedang melakukan pendataan status tanah. Akhir bulan Maret
ini, Pemerintah DKI Jakarta akan berdialog dengan pemilik dan pengelola
gedung, sekaligus menjelaskan rencana pembongkaran pagar beton di Jl MH
Thamrin dan pelebaran trotoar.

Pertanggung jawaban hukum rencana itu, Rais menunjuk Surat Keputusan
(SK) Gubernur DKI Jakarta No 270 Tahun 1995 tentang Penggunaan Lantai
Dasar untuk Komersial. Juga SK Gubernur No 678 Tahun 1994 tentang
Peningkatan Intensitas Bangunan di DKI Jakarta. Be-lum diketahui
biaya untuk rencana itu. Namun, menurut Rais cukup besar. Tapi kalau
para pejabat dan konglomerat pemilik gedung-gedung bertingkat di
Jakarta memiliki visi yang sama tentang pentingnya trotoar yang lebar,
masalah biaya bukan merupakan kendala?

Manfaatnya juga akan dinikmati para karyawan yang bekerja di kawasan
itu, selain tentunya menjadikan Jl MH Thamrin kebanggaan Kota Jakarta
dan Indonesia. Jl Thamrin pun akan menjadi daerah tujuan wisata (DTW)
Jakarta, dan menjadi buah bibir setiap wisatawan mancanegara. (Adhi
Ksp)

KOMPAS
Senin, 17 Feb 2003
Halaman: 12 Penulis: Adhi KSP, Robert

DANIEL ZIV
MENULIS JAKARTA

JAKARTA saat ini masih merupakan salah satu kota yang menarik dan
paling hidup di kawasan Asia Tenggara. Kota penuh warna dan tidak
membosankan. Itulah pandangan Daniel Ziv (33), penulis buku Jakarta
Inside Out, sebuah buku panduan bagi orang asing yang baru datang ke
Jakarta,yang ditulis dengan bahasa populer dan kocak.

Buku yang diterbitkan Equinox Publishing, September 2002, dan
dijual di berbagai kota di dunia, termasuk di toko buku maya
http://www.amazon.com dan berbagai kota di Asia, Australia, dan Eropa ini
ternyata laris. “Setelah cetakan pertama 3.000 eksemplar terjual
habis, buku ini sudah dicetak ulang kali kedua pada bulan Februari
2003 dan mulai masuk toko buku pekan ini,” kata Daniel Ziv.

“Ide menulis muncul ketika saya menjadi pemimpin redaksi (pemred)
majalah djakarta. Banyak cerita belum diungkap, tetapi perlu
diketahui orang asing yang datang ke Jakarta,” kata Ziv.
Selama ini, buku-buku yang ditulis orang asing tentang Jakarta
lebih banyak tentang politik, kejatuhan Soeharto dan peristiwa
politik tahun 1998. Juga cukup banyak buku tentang Jakarta yang
mengulas kebudayaan, tarian, museum, dan sejenisnya. Tetapi, buku
yang mengupas kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta?

Celah inilah yang dilihat Ziv, yang sering berkeliling ke
berbagai kota di mancanegara. “Melalui buku ini saya ingin menegaskan
bahwa Jakarta memang kota menarik, sangat hidup, penuh warna, dan
tidak membosankan. Sebagai orang asing yang sudah empat tahun tinggal
di Jakarta, saya punya tanggung jawab menjelaskan kepada pembaca
asing tentang Jakarta dengan jujur,” katanya.

Menulis dengan cara jujur, menurut Ziv, artinya, “Saya tidak mau
dan tidak bisa berbohong. Kalau hanya menceritakan yang bagus-bagus,
saya akan tak dipercaya. Karena itulah saya juga menyelipkan beberapa
kritik kepada Gubernur DKI Jakarta.”

Ziv yang tengah merampungkan pendidikan S3-nya dalam bidang
politik Asia Tenggara di School of Oriental & African Studies di
Universitas London, ketika tiba di Jakarta sekitar empat tahun lalu
langsung membuka mata. Dia mengaku merasakan ada sesuatu yang luar
biasa di Jakarta. Akan tetapi, Ziv tidak melihat majalah khusus yang
memberi informasi untuk orang asing. “Di Bangkok ada Bangkok Metro,
di New York ada New Yorker, tapi di Jakarta? Belum ada penerbitan
semacam itu. Saya lalu berusaha mendirikan majalah djakarta dengan
dukungan dari pengusaha,” ceritanya. “Meski tidak lagi menjabat
pemred di sana, saya tetap bangga dengan majalah djakarta,”ujarnya.

PENGALAMANNYA selama empat tahun bertugas di majalah djakarta
itulah yang mendorong Daniel menulis buku Jakarta Inside Out. “Salah
satu alasan mengapa saya menulis buku ini, karena saya suka kota
besar di seluruh dunia. Saya merasa kita besar karena lingkungan,
lansekap, pemandangan, meski banyak polusi. Lingkunganlah yang punya
banyak cerita. Saya tertarik bagaimana sistem di Jakarta berjalan,
mulai dari korupsi sampai urusan creambath,” cerita Ziv, yang pernah
tinggal di New Delhi, Jerusalem, dan Bangkok itu.

Dia melakukan riset sejak empat tahun lalu, tetapi mulai menulis
sejak sepuluh bulan lalu, termasuk mengambil foto. Separuh foto di
buku ini karya Ziv sendiri, dan sebagian lagi kontribusi teman-teman
fotografer. Ziv turun sendiri ke lapangan dengan naik ojek dan
metromini, atau nongkrong bersama orang-orang jalanan.

“Ketika meneliti pengamen, saya ikut pengamen di bus dan
metromini selama empat hari. Sampai sekarang pun saya masih berteman
dengan pengamen-pengamen itu. Mereka beberapa kali datang ke
apartemen saya dan kami nyanyi bersama,” kisahnya. Di sampul depan
bukunya ada foto penjual cendol. Menurut Ziv, itu temannya, pedagang
cendol di Slipi yang dia undang ketika peluncuran buku pada 21
September 2002 silam di Museum Nasional Jakarta.

ZIV menyampaikan kritik dan saran kepada Gubernur DKI Jakarta,
yang dia sebut sebagai “ide liar atau ide gila”. Pertama, dia
mengusulkan agar gubernur menghentikan penggusuran rumah penduduk.
Jika memang harus menggusur, berilah rumah alternatif yang kondisinya
sama baik atau lebih baik. “Jangan main gusur, apalagi secara paksa,”
usul dia.

Kedua, dia menyarankan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
membersihkan udara Jakarta dengan mengendalikan asap bus yang kotor
dan memberi sanksi keras bagi pelanggar standar emisi yang sudah
ditentukan.

Ketiga, dia menyarankan Gubernur DKI memprioritaskan kembali
anggaran yang mencerminkan kebutuhan sebenarnya Kota Jakarta. Ini
berarti alokasi untuk hal tidak penting harus dibuang, seperti
anggaran pembelian mobil anggota DPRD. Juga alokasi dana studi
banding ke Tokyo dan New York, karena lebih baik jika studi lapangan
dilakukan di Kramat atau Cilincing, karena itu lebih relevan. Pejabat
maupun wakil rakyat bisa bertemu langsung dengan problem sebenarnya
yang dihadapi masyarakat Jakarta, meskipun itu tidak menyenangkan.

Keempat, jangan lupakan harta bersejarah Kota
Jakarta. “Restorasi. Hidupkan kembali dan pelihara tempat bersejarah
di Jakarta. Tirulah Singapura dengan Clark and Boat Quays, distrik
kolonial, pasar, dan museum mereka. Memang ini membutuhkan anggaran
besar. Tetapi, saya yakin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya uang
dan tahu apa yang harus dilakukan,” tandas dia.

“Lihatlah Kota Tua. Dengan perencanaan dan komitmen, Kota Tua
dapat menjadi atraksi kelas dunia yang tidak hanya menarik bagi
turis, tapi juga pebisnis. Aturlah lalu lintas di kawasan itu, pasang
lampu dan AC di museum-museum di Kota. Diskusikan pengurangan pajak
dengan para pengembang kawasan warisan budaya. Bersihkan Kali Besar,
karena bisa menjadi kanal indah, daripada menjadi tempat yang bau dan
merusak pemandangan seperti sekarang,” sarannya lagi.

Dan usul yang kelima, pemerintah harus menciptakan “paru-paru”
Kota Jakarta karena hal ini sangat mendasar. Monas sebagai taman
terbesar di Jakarta dapat menjadi oasis sesungguhnya bagi masyarakat
umum, tempat orang bisa merasakan udara segar dan hening sejenak dari
kesibukan sehari-hari. Tetapi, di sana terlalu banyak serdadu,
polisi, dan satpam, yang menurut pandangannya kurang baik.

Setelah tidak lagi bekerja di majalah djakarta, Ziv kini
memfokuskan diri menulis buku dan mengedit buku-buku yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Lelaki itu pun terjun ke dunia
hiburan, menyanyi duet untuk sinetron Strawberry yang ditayangkan
SCTV. “Saya memang hobi menyanyi. Album itu album pertama saya,”
ungkap dia.

Pengetahuannya yang luas tentang Jakarta membuat Ziv diminta
menjadi pembawa acara Discovery Channel yang membahas Jakarta. “Saya
menjelaskan apa itu Glodok, juga menjelaskan fenomena joki three in
one; memperkenalkan Tanamur, tempat hiburan malam yang populer bagi
orang asing; pusat-pusat belanja versi Indonesia, Museum Fatahillah,
dan Pelabuhan Sunda Kelapa,” urainya. (ROBERT ADHI KSP)