Tag Archives: Fauzi Bowo

Kolom Blog Adhi Ksp: Blog Kompasiana: Reformasi Birokrasi dan Filosofi Orkestra

Kolom Blog Adhi Ksp

Blog Kompasiana

Reformasi Birokrasi dan Filosofi Orkestra

ADA yang menarik di Balaikota DKI Jakarta hari Selasa (19/8) malam. Gubernur DKI Fauzi Bowo menghadirkan orkestra musik di Balai Agung. Di depan 60-an pimpinan Satuan Kerja Pelaksana Daerah, Fauzi Bowo ingin mengingatkan kepada para pembantunya bahwa memimpin organisasi besar seperti Pemprov DKI Jakarta itu layaknya memimpin orkestra musik.

Semua orang dalam orkestra memainkan peran masing-masing dengan baik. Jika salah satu saja bermain buruk, maka seluruh penampilan orkestra otomatis buruk.

Saat ini Fauzi Bowo diibaratkan sebagai konduktor yang memimpin orkestra raksasa bernama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebagai Gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat, Fauzi Bowo bertekad melakukan reformasi birokrasi. Fauzi ingin melakukan perubahan mendasar dalam pelayanan masyarakat. Untuk itu dia mengajak pimpinan SKPD dari kepala dinas sampai kepala biro, juga pimpinan BUMD DKI, untuk merenungkan filosofi sebuah orkestra.

Fauzi mengutip buku yang memuat pemikiran Alfred P Sloan, pendiri General Motors dan pakar manajemen dunia. Organisasi, swasta atau pemerintah, pasti dihadapkan pada perubahan yang konstan. Untuk itu, Fauzi meminta jajarannya siap menghadapi perubahan, bukan sekadar formalitas.

Demi perubahan, Pemprov DKI harus melakukan reformasi birokrasi. Fauzi mengajak para pimpinan SKPD untuk memiliki sikap yang pro-perubahan, yang dapat menjadi teladan bagi orang lain.

Apa yang dilakukan Fauzi Bowo dengan menghadirkan orkestra pimpinan Widya Kristanti di Balai Agung, Balaikota DKI, tentu memiliki makna filosofi yang mendalam. Bukan sekadar mendengarkan musik, tetapi ikut memahami bagaimana proses sebuah orkestra menampilkan pertunjukan musik yang indah.

Obsesi Fauzi sebagai Gubernur, dia ingin menjadi “konduktor” bagi orkestra bagi 80.000 pegawai Pemprov DKI Jakarta, yang mampu “memainkan musik indah” sesuai harapan masyarakat.

Persoalannya, apakah aparat birokrasi Pemprov DKI sudah siap berubah? Inilah soalnya. Layanan kependudukan seperti pembuatan KTP, masih menjadi “ladang” uang bagi oknum birokrat. Pedagang kaki lima yang menempati trotoar dan lokasi ilegal, acapkali sudah “membayar” ke oknum petugas Tramtib. Pungli-pungli dalam penerbitan perizinan, sudah menjadi semacam rahasia umum. Bahkan dalam urusan kematian pun, masih ada saja pungli.

Fauzi Bowo tentu tak ingin menjadi konduktor orkestra, di mana menampilkan pertunjukan musik yang amburadul. Dia ingin menjadi konduktor orkestra di mana para pemainnya yang berjumlah 80.000 orang dengan aneka peran, dapat menyajikan pertunjukan yang baik.

Tidak gampang memang mengelola 80.000 pegawai. Namun tak ada satu orang pun yang diabaikan. Ibarat sebuah arloji, bagian-bagian terkecil sekali pun harus berfungsi dengan baik agar jam itu berjalan semestinya, selalu tepat waktu. Lagi-lagi Fauzi memaknai fungsi arloji untuk analogi organisasi besarnya di Pemprov DKI. Pegawai kecil sekali pun, harus tetap dihargai karena mereka juga memainkan peran masing-masing.

Inilah cara Fauzi Bowo, “tukang insinyur” lulusan Jerman, memberi motivasi jajarannya. Siap menjadi “konduktor” orkestra Pemprov DKI, Pak?

Palmerah, Jakarta, 20 Agustus 2008

*) Catatan: Tulisan di blog ini juga dimuat di Blog Kompasiana http://adhikusumaputra.kompasiana.com

FOTO ILUSTRASI diambil dari http://orbitingfrog.com/blog/wp-content/uploads/2007/04/orchestra.jpg

Iklan

Jakarta Great Sale: Mungkinkah Jakarta Saingi Singapura?

KOMPAS
Selasa, 29 Juli 2008
TEROPONG, halaman 34

JAKARTA GREAT SALE
Mungkinkah Jakarta Saingi Singapura?



R ADHI KUSUMAPUTRA

Jakarta Great Sale 2008 berakhir pada hari Minggu (27/7). Setelah digelar selama satu bulan sejak 27 Juni, pesta diskon Jakarta ini mampu mencapai target omzet sekitar Rp 6 triliun. Pada masa depan, mampukah Jakarta Great Sale menyaingi Great Singapore Sale?

Untuk saat ini harapan itu masih terlalu tinggi dan sulit dicapai. Sebab, siapa pun tahu Great Singapore Sale (GSS) betul-betul digarap secara profesional dan terpadu. Dukungan penuh Pemerintah Singapura mampu membuat GSS menjadi salah satu agenda wisata yang ditunggu-tunggu.

GSS dipadukan dengan agenda wisata lainnya, seperti Singapore Arts Festival, Singapore Food Festival, Singapore Heritage Festival, dan atraksi wisata lainnya. Pusat aktivitas GSS tak hanya di kawasan Orchard Road, di mana banyak orang Indonesia suka suasana pedestrian lebar dengan puluhan pusat perbelanjaan. GSS juga meluas ke Marina Bay, tempat banyak wisatawan menghabiskan malam dan menikmati suasana tepi sungai yang kini sudah bersih.

Suasana berbelanja yang menyenangkan ini dilengkapi dengan kenyamanan dalam melakukan akses transportasi karena siapa pun mengakui, mass rapid transit (MRT) Singapura termasuk yang terbaik di dunia, yang menjangkau semua wilayah di kota-negara itu.

Bagaimana dengan JGS?
Nah, bagaimana dengan Jakarta Great Sale? Mampukah JGS menggaet wisatawan mancanegara agar mau berbelanja dalam pesta diskon di Jakarta? Sampai penyelenggaraan JGS ke-10 tahun 2008, JGS masih membidik wisatawan nusantara atau lebih tepatnya masyarakat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. JGS masih sebatas slogan pesta diskon, tetapi belum digarap maksimal.

Kondisi ini diakui oleh Suryadi Sasmita, yang terlibat penyelenggaraan JGS sejak awal, tahun 1999. Bahkan, Suryadi pernah kecewa pada sikap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang belum satu suara mendukung JGS. Gubernur (waktu itu) Sutiyoso sudah menyetujui keringanan pajak reklame bagi sponsor yang mendukung JGS untuk spanduk-spanduk yang dipasang di seputar Jakarta, tetapi pada kenyataannya, Pemprov DKI tetap menagih pajak reklame. Insentif yang dijanjikan hanya janji kosong belaka.

Keadaan ini menyiratkan dukungan setengah hati dari Pemprov DKI Jakarta. Bagaimana JGS dapat menyaingi Singapura jika dukungan pemerintah setengah-setengah? Sebab, jika kita ingin belajar dari GSS, justru sinergi pemerintah dan swasta yang membuat GSS menjadi daya tarik Singapura selama ini.

JGS 2008 sebetulnya minim biaya promosi. Ini diakui Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Arie Budhiman. Bahkan, tahun ini Pemprov DKI sama sekali tidak memberi kontribusi biaya promosi.
Wajar jika gaung JGS belum terasa ke mancanegara. Jangan harap banyak orang asing tahu ada JGS, seperti mereka tahu ada Great Singapore Sale, Malaysia Mega Sale atau Hongkong Great Sale. Sebab, badan pariwisata asing rutin memasang iklan di media-media di Indonesia. Bukan hanya itu, Singapore Tourism Board rajin mengundang jurnalis Indonesia agar GSS dilaporkan dalam media masing-masing.

Ketua Panitia Pelaksana JGS 2008 Benjamin Mailool mengakui target utama JGS masih tetap wisatawan nusantara. Untuk memasang iklan di media asing atau mengundang jurnalis asing ke Jakarta, panitia JGS masih berpikir ulang, mengingat anggaran promosi yang terbatas.

Tidak kalah
Uniknya, meski dalam persiapan tidak maksimal pun, JGS 2008 tetap mampu mencapai target dengan omzet Rp 6 triliun. Jumlah pengunjung JGS 2008 juga naik sampai 25 persen dibandingkan dengan JGS 2007. Kondisi riil ini dipengaruhi oleh dibukanya sejumlah mal papan atas, seperti Pacific Place di kawasan Sudirman Center Business District, Grand Indonesia di kawasan Bundaran HI, Senayan City di kawasan Senayan, dan Pluit Junction di kawasan CBD Pluit.

Empat pusat perbelanjaan baru ini meyakinkan kita sebenarnya Jakarta sangat layak menggelar JGS yang membidik target wisatawan mancanegara dan nusantara. Vice President Luxury Shopping Mall Pacific Place Dianne Pearce bahkan yakin Jakarta dapat menyaingi Singapura karena sebenarnya kualitas mal-mal di Jakarta tidak kalah dengan mal-mal di negeri singa itu. Singapura dapat membuat GSS seperti sekarang dalam waktu 15-20 tahun.

Program JGS yang digelar Senayan City dengan midnight sale dan Plaza Indonesia dengan midnight shopping, kata Roy Mandey, event organizer, salah satu faktor membeludaknya pengunjung. Diskon gede yang ditawarkan Debenhams, Seibu, sampai brand Mango membuktikan JGS cukup mengena di hati masyarakat Indonesia yang ”gila belanja”.

Kualitas mal-mal di Jakarta saat ini dianggap sebanding dengan mal-mal di Singapura, Malaysia, Hongkong. Lihatlah misalnya Grand Indonesia, pusat perbelanjaan dan rekreasi dengan luas terpakai 110.000 meter persegi yang menghadirkan nuansa kawasan beragam dari suasana Timur Tengah sampai Oriental. TB Gramedia bahkan untuk kali pertama menampilkan wajah desain ”mewah” dan menghadirkan kafe di sini.

Pacific Place dengan penyewa brand-brand terkemuka mencari pasar pembelanja menengah atas. Supermarket Kem Chiks menjadi salah satu daya tarik orang asing datang ke Pacific Place. Sementara itu, Senayan City memikat sebagai tempat makan dan nongkrong.

Di pojok pertigaan Jalan Sudirman-Jalan Pintu Satu Senayan, baru dibuka mal gaya hidup, FX-Generation, yang menonjolkan tempat hang out dan clubbing. Mal yang dikelola Grup Plaza Indonesia ini pun jadi incaran penikmat hidup yang dapat nongkrong hingga pukul 02.00 pada akhir pekan. Suasana Orchard Road Singapura dan Bukit Bintang Kuala Lumpur dapat ditemukan di FX.

Sebetulnya dengan ”modal” mal-mal yang secara kualitas tidak kalah dengan mal-mal di Singapura, Malaysia, Thailand, dan Hongkong, JGS dapat bersaing dengan pesta-pesta diskon di berbagai negara itu. Persoalannya, adakah niat menjadikan JGS agenda wisata Jakarta yang ditunggu banyak orang? Gubernur Fauzi Bowo yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata tentu lebih paham bagaimana membuat JGS destinasi wisata Jakarta.

Namun, sayangnya, sejauh ini belum ada sinergi antara maskapai penerbangan, kalangan perhotelan, pengusaha restoran, pengusaha taksi, dan pengelola mal. Semua masih berjalan sendiri dengan ego masing-masing. Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi berharap pusat rekreasi keluarga itu juga dapat menjadi salah satu destinasi wisatawan yang datang ke JGS.

Jaringan hotel internasional, seperti Accor dan Aston, ataupun jaringan hotel nasional, seperti Santika, dapat diajak dalam program JGS. Maskapai penerbangan nasional, pengusaha taksi, pengusaha restoran, patut dilibatkan. Betapa dahsyatnya JGS jika semua bersinergi.

Tiga koridor baru bus transjakarta yang beroperasi September mendatang membuat jangkauan transportasi massa makin luas. Mungkin ini bisa membantu Jakarta mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas, sambil menunggu MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas beroperasi pada tahun 2014, sesuai janji Gubernur Fauzi Bowo.

Memang dibutuhkan sinergi terpadu agar JGS pada tahun-tahun mendatang menjadi atraksi wisata Jakarta yang ditunggu-tunggu. Tak ada kata lain kecuali sinergi!


Koleksi Buku Fauzi Bowo di Pesta Buku Jakarta

Ketika membalik-balikkan buku peta “Java en Madoera” yang dipajang di salah satu stan di Pesta Buku Jakarta di Istora Senayan (yang akan berakhir Minggu 6 Juli), saya sempat membayangkan, seandainya kawasan Kota Tua di Jakarta menjadi kawasan wisata sejarah, alangkah indahnya. Wisatawan mancanegara terus berdatangan, menyaksikan “sejarah” Batavia. Tapi sayang beribu sayang, banyak gedung abad ke-19 dan 20 kini nyaris roboh, tak terurus dan tergerus air laut. Kapan ya Kota Tua Jakarta benar-benar menjadi kawasan wisata yang menakjubkan, seperti halnya kota-kota tua di mancanegara? (KSP)

KOMPAS.com
Jumat, 4 Juli 2008 pukul 20:32

JAKARTA, JUMAT – Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memamerkan buku-buku koleksi pribadinya di stan Perpustakaan Umum Daerah di Pesta Buku Jakarta di Istora Senayan. Ada 37 buku koleksi pribadi Gubernur Fauzi Bowo yang dipamerkan di sini.

“Sebagian besar merupakan buku-buku tentang Jakarta Tempo Doeloe,” kata Kepala Perpustakaan Umum DKI Jakarta, Tuti Mulyaty, Jumat (4/7). Salah satu yang dipamerkan adalah buku peta berjudul Java en Madoera karya Gerrit Knaap.
Buku peta ini diberikan salah satu pejabat Belanda kepada Gubernur Fauzi Bowo saat berkunjung ke salah satu kota di negeri kincir angin itu belum lama ini. Buku tersebut hanya dicetak 1.600 eksemplar dan koleksi yang dipamerkan di Pesta Buku Jakarta adalah buku yang ke 1.581.
Java en Madoera diterbitkan November 2007, merupakan edisi kedua dari Grote Atlas van de Verenigde Oost-Indische Compagnie atau Comprehensive Atlas of The Dutch United East India Company . Editor-in-Chief buku ini adalah drs JR van Diessen.
Koleksi buku Fauzi Bowo lainnya adalah Oud Batavia oleh Dr F De Haan. Buku ini menceritakan bagaimana Kota Batavia dibangun dan bagaimana pengembangan kota itu hingga tahun 1850, serta bagaimana pola kehidupan dan pembangunan daerah di sekitar Batavia.
Selain itu, buku berjudul Gedenboek yang diterbitkan berkaitan dengan HUT ke-25 berdirinya Perkumpulan Kesenian Hindia Belanda di Batavia (1902-1927).Buku lainnya adalah The Dutch Overseas, Architechtyural Survey, Mutual Heritage of Four Centuries in Three Continents oleh CL Temmicks Groll. Juga buku Oude Hollandsche Buitenplaatsen van Batavia oleh dr V.L. Van de Wall yang berisi tempat-tempat di sekitar Batavia.
Disertasi Fauzi Bowo saat meraih gelar Doktor Ingenieur dari Universitas Kaiserlautern, Jerman tahun 2000 juga dipajang di sini. Disertasi itu berjudul Dasar-dasar Pembangunan dan Pengembangan Metropolitan Jakarta .Sebagian koleksi buku Fauzi Bowo ini dapat dibaca di Perpustakaan Umum DKI Jakarta.
Perpustakaan ini memiliki sekitar 50.000 koleksi buku dari semua disiplin ilmu, termasuk buku fiksi. Gedung perpustakaan ini di Gedung Nyi Ageng Serang di Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Perpustakaan Umum DKI Jakarta dibuka setiap hari tujuh hari seminggu dari pukul 09.00 sampai 20.00, kecuali hari libur nasional. Perpustakaan ini dilengkapi fasilitas wifi gratis. “Kami menyediakan pula fasilitas internet gratis untuk mereka yang tidak membawa laptop,” kata Kepala Sub Bidang Kerja Sama dan Promosi Perpustakaan Umum DKI Jakarta, Mudjiono.

FOTO di blog ini hasil repro dari buku “Java en Madoera” karya Gerrit Knaap. Foto di atas, peta pulau-pulau di Kepulauan Seribu, sedangkan foto di bawah, suasana di depan Balaikota Batavia (sekarang menjadi Museum Fatahillah). Foto repro oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Kolom Blog Adhi Ksp: Jakarta Great Sale, Mungkinkah Saingi Singapura?

Kolom Blog Adhi Ksp

Jakarta Great Sale, Mungkinkah Saingi Singapura?
HARI Jumat (27/6) malam lalu, saya iseng ke Hotel Grand Hyatt Jakarta di Jalan MH Thamrin. Awalnya saya tidak terlalu “ngeh” bahwa pada malam itu di Plaza Indonesia, akan ada Midnight Sale. Setelah kesulitan mencari parkir lebih dari 30 menit (teman saya lebih stres lagi, lebih dari satu jam, tetap tak dapat tempat parkir), barulah saya tersadar bahwa malam itu akan digelar Midnight Sale.
Saya ingat sepekan sebelumnya, di Senayan City, juga ada Midnight Sale selama empat malam. Gila. Banyak sekali orang yang berbelanja produk-produk berkelas dengan harga diskon.

Debenhams, ritel baru di bawah pengelolaan PT Mitra Adi Perkasa (MAP) ini menjual produk berkelas dengan harga diskon, seperti yang biasa dibeli banyak orang Indonesia bila sedang ke Singapura. Sukses Debenhams ini terulang lagi ketika ritel yang sama di Plaza Indonesia, menggelar Midnight Sale serupa pada 27 Juni lalu.

Pada malam itu, bukan hanya Plaza Indonesia, tetapi juga Grand Indonesia, pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, yang lokasinya bertetangga dengan Plaza Indonesia, yang menggelar Midnight Sale. Pantas, Jalan MH Thamrin, di seputaran Bundaran HI selepas pukul 21.00 masih padat. Dari Midnight Sale selama dua pekan terakhir ini, saya mengambil kesimpulan betapa orang Indonesia “haus” berbelanja. Pantas saja selama ini banyak yang mencari produk berkelas berharga murah di Singapura.
Hari Minggu (29/6) sore, Jakarta Great Sale resmi dibuka Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di atrium pusat belanja dan rekreasi keluarga baru, Pacific Place di kawasan superblok SCBD, Jakarta. Dalam acara yang menonjolkan seni dan budaya Betawi itu, hadir pemilik Pacific Place (termasuk apartemen dan Hotel The Ritz-Carlton) adalah Sugianto Kusuma alias Aguan dan Tan Kian. Asal tahu saja, Pacific Place dibangun dengan nilai investasi sekitar 500 juta USD.
Pak Fauzi kemudian bilang bahwa Jakarta Great Sale akan dikemas sedemikian rupa sehingga dapat menyaingi Great Singapore Sale, Malaysia Mega Sale ataupun Hongkong Great Sale. Saya sependapat dengan pernyataan Pak Gubernur.
Saya pernah mendapat tugas meliput Great Singapore Sale (GSS) beberapa tahun lalu. GSS dikemas sedemikian rupa. Singapore Tourism Board atau STB memadukan semua pihak sehingga event GSS menjadi atraktif. Jadi tidak sekadar mengajak wisatawan asing berbelanja, tetapi juga mengajak mencicipi kuliner dalam Singapore Food Festival dan mengajak menonton acara seni budaya dalam Singapore Art Festival, yang waktunya disesuaikan dengan waktu pernyelenggaraan GSS, yang biasanya digelar sejak Mei hingga Juli.
Ketika wartawan Indonesia termasuk saya diajak ke Safari Night di Singapura, saya pun bertanya-tanya, apa bagusnya ya Safari Night di sana. Menurut saya, Taman Safari Indonesia milik Pak Frans Manangsang lebih bagus kok, lebih lengkap koleksi satwanya. Ternyata Singapura jago “menjual”. Promosi mereka gencar, sehingga kata-kata lebih indah dari faktanya.

Lalu wartawan Indonesia diajak ke lokasi spa. Waktu saya bilang sama “guide” STB bahwa spa di Indonesia lebih bagus dibandingkan spa di negeri itu. Petugas STB bilang spa itu berasal dari Thailand. Saya bilang lagi, wah kalau di Indonesia, spa-spa dengan aroma khas di Jawa Tengah dan Yogyakarta masih yang terbaik. Tetapi saya akui bahwa pengorganisasian dan promosi GSS oleh STB memang luar biasa. “Marketing” Singapura oke punya.

Tadi saya sempat ngobrol dengan Vice President Luxury Shopping Mall PT Pacific Place Indonesia Dianne Pearce. Dia bilang Singapura mampu merealisasikan itu dalam waktu 15-20 tahun. Dianne yakin Jakarta Great Sale pun punya potensi menyaingi GSS asal semua pihak bersinergi dengan dukungan pemerintah. Infrastruktur transportasi juga perlu diperhatikan karena masalah kemacetan lalu lintas merupakan persoalan tersendiri.
Menunggu MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas selesai dan beroperasi tahun 2014, wah terlalu lama. Busway? Belum menjangkau semua wilayah, termasuk kawasan SCBD. Menurut Dianne, perlu terobosan lain misalnya monorel yang menghubungkan mal satu dengan yang lainnya. Dan ini akan lebih mengundang banyak wisatawan asing datang ke Jakarta.
JGS mendatang lebih baik?
Pak Fauzi Bowo pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta tahun 1990-an. Karena itu tentu kita berharap “sentuhan” Pak Fauzi Bowo dalam JGS mendatang membuat JGS makin lebih baik.
Kualitas mal-mal di Jakarta tidak kalah dari mal di Singapura. Bahkan Grand Indonesia (milik Grup Djarum dan Grup Wings) dan Pacific Place (milik Sugianto Kusuma dan Tan Kian) dapat disebut pusat perbelanjaan modern dengan segmen pasar kelas menengah dan menengah atas. Senayan City pun demikian. Gerai waralaba dan produk yang dijual, tak jauh beda dengan di Singapura, Malaysia, Hongkong dan lainnya.
Cobalah Anda datang ke mal-mal baru itu. Susah cari parkir dan selalu penuh. Jarang ada mal di Jakarta yang lahan parkirnya lengang. Mungkin berapa pun mal baru yang dibangun, akan selalu ramai, terutama mal-mal middle-up. Mungkin ini pertanda kelas menengah Indonesia terus tumbuh berkembang. Mungkin ini juga pertanda ekonomi kota ini terus menggeliat, meski tingkat inflasi masih tinggi.
Bukan hanya mal baru yang ramai, tetapi juga pusat-pusat belanja yang sudah lama berdiri juga masih ramai. Plaza Senayan, Pondok Indah Mal, Mal Taman Anggrek, Mal Ciputra, Mal Kelapa Gading dan sebagainya. Di pinggiran Jakarta, di daerah perumahan yang sedang berkembang ada Summarecon Mal Serpong dan Supermal Karawaci, juga Cibubur Junction.
Nah, kembali ke soal Jakarta Great Sale. Saya sempat tanyakan kepada Pak Benjamin Mailool (CEO dan Presiden PT Matahari Putra Prima Tbk), Ketua Pelaksana JGS 2008 dan Surjadi Sasmita (Presiden PT Indonesia Wacoal), Sekretaris Pelaksana JGS, mengapa JGS kurang promosi. Mereka bilang karena persiapannya hanya satu bulan. Tetapi, mereka katakan bahwa JGS tahun-tahun mendatang, akan lebih baik.
Aneh jika misalnya JGS tak punya anggaran promosi dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta. Pak Arie Budhiman, Kepala Dinas Pariwisata bilang, dia pun belum lama menjabat sehingga persiapan pun kurang. Tapi JGS mendatang, Pak Arie bilang anggaran promosi pasti ada.

Lha, siapa yang mau datang, jika tak ada promosi tentang JGS? Sebagus apa pun produk, tapi kalau tidak diinformasikan, ya akan sedikit yang datang, kata Pak Fauzi.
Saya sempat ngobrol dengan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi. Pak Budi bilang kalau saja JGS dipadukan dengan paket hotel, penerbangan, agen perjalanan, dan pusat rekreasi keluarga seperti Ancol, tentu hasilnya akan lebih maksimal.
Peran pemerintah menjadi fasilitator menjadi sangat penting karena biasanya masing-masing asosiasi lebih sering menonjolkan ego sendiri daripada bersinergi. Nah Pak Mara Oloan Siregar, Asisten Perekonomian DKI Jakarta mengatakan ke depan, pihaknya akan menjadi fasilitator agar JGS dikerjakan dengan sinergi antar-asosiasi.
Kita tunggu realisasinya, Pak!

FOTO DIBLOG INI FOTO GUBERNUR DKI JAKARTA FAUZI BOWO SAAT BERBELANJA DI “M” PACIFIC PLACE, MINGGU 29 JUNI 2008 USAI MERESMIKAN JAKARTA GREAT SALE. FOTO OLEH R ADHI KUSUMAPUTRA/KOMPAS

Kolom Blog Adhi Ksp: Setelah 62 Tahun Indonesia Merdeka, Baru Sekarang Listrik Menyala di Kepulauan Seribu

Kolom Blog Adhi Ksp

Setelah 62 Tahun Indonesia Merdeka, Baru Sekarang Listrik Menyala di Kepulauan Seribu

Sungguh sulit dipercaya, Kepulauan Seribu yang masih masuk wilayah DKI Jakarta selama 62 tahun Indonesia merdeka, belum menikmati listrik. Baru awal tahun 2008 ini, sebagian masyarakat di Kepulauan Seribu betul-betul menikmati listrik tidak byar-pet, dan tidak tergantung genset yang sering padam.

Dalam perjalanan ke Kepulauan Seribu bulan Maret 2008 ini, saya melihat senyuman masyarakat Pulau Untung Jawa. Memang aneh, masih ada wilayah DKI Jakarta yang gelap gulita, masih tergantung genset, sementara di banyak bagian lain Jakarta selalu gemerlap.

Namun langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun kabel bawah laut sepanjang 43 km dari Gardu Induk Tanjungpasir di Teluknaga, Tangerang hingga ke Pulau Untung Jawa, menghilangkan kesenjangan itu.

Fahmi Mochtar yang sebelumnya General Manager PT PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, yang dipromosikan sebagai Direktur Utama PT PLN dengan suka cita meresmikan pengoperasian listrik di Kepulauan Seribu bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto. Ini peresmian pertama dilakukan Fahmi sejak duduk sebagai Dirut PT PLN tiga hari sebelumnya.

Tahun lalu, ketika saya ke Kepulauan Seribu untuk menikmati keindahan bawah laut, saya memang merasakan betapa listrik di sana dijatah. Pukul 07.00 hingga 17.00, listrik padam dan baru nyala kembali malam harinya. Bagi mereka yang ounya aktivitas menyelam dan jalan-jalan, tentu itu tak masalah. Tapi bagi masyarakat setempat? Apa yang dapat mereka lakukan di rumah jika seharian lampu padam? Setelah masak, kaum ibu ternyata mengaku lebih banyak ngerumpi. Sungguh aktivitas yang tak produktif.

Setelah listrik menyala di Kepulauan Seribu, usaha kecil dan menengah di sini mungkin bisa lebih hidup. Karena itu, janji Fauzi Bowo “menerangi” Kepulauan Seribu sudah terwujud dan secara bertahap, listrik akan menyala di semua gugusan pulau di Kepulauan Seribu.

Berikut catatan ringan erjalanan ke Pulau Untung Jawa pada Kamis 13 Maret lalu.


KOMPAS
Jumat, 14 Mar 2008
Halaman: 26
Penulis: R. Adhi Kusumaputra

Infrastruktur
LISTRIK PUN MENYALA DI KEPULAUAN SERIBU…

Suryati (49), warga RT 01 RW 01, Kelurahan Untung Jawa, Kecamatan
Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,
kini tersenyum. Impiannya agar listrik tetap menyala sepanjang waktu
tanpa dibatasi sudah terwujud.

“Sudah 62 tahun Indonesia merdeka, baru sekarang listrik sampai di
Pulau Untung Jawa. Walaupun terlambat, kami berterima kasih listrik
betul-betul menyala di pulau ini,” kata ibu dari lima anak itu, Kamis
(13/3).

Suryati hanya salah satu dari 20.000-an penduduk di Kepulauan
Seribu yang sejak lama mendambakan aliran listrik PLN masuk ke kawasan
tersebut.

Selama ini, kata Ny Elisa Rosita (37), dia kesulitan
mencuci pakaian karena listrik dari genset acap kali padam. Padahal,
warga butuh listrik untuk menyedot air dari pompa dan menyetrika
pakaian pada siang hari. Persoalannya, listrik dari genset pasti padam
mulai pukul 08.00 hingga 17.00.

Kepala Dinas Pertambangan DKI Jakarta Peni Susanti mengungkapkan,
selama ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membiayai Rp 42 miliar per
tahun untuk menyediakan 39 genset yang beroperasi di 11 pulau
berpenduduk dan satu pulau untuk operasionalisasi kantor dinas teknis
(Pulau Karya) sejak 2002. Namun, listrik dari genset tidak
memaksimalkan aktivitas masyarakat di Kepulauan Seribu.

Bupati Kepulauan Seribu Djoko Ramadhan mengatakan, dengan anggaran
Rp 220 miliar untuk pembangunan kabel listrik bawah laut sepanjang 42
kilometer yang tahan hingga 30 tahun, pemprov berhemat Rp 1 triliun.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto dan Direktur Utama PT PLN
Fahmi Mochtar mengatakan, Kepulauan Seribu merupakan proyek
percontohan penggunaan voucher listrik. “Nelayan dapat mengatur
pemakaian listrik sesuai dengan kebutuhan,” kata Prijanto.

Saat ini baru tujuh pulau di tiga kelurahan (Untung Jawa, Pari,
dan Tidung) yang menerima listrik PLN. Tahun 2009, warga di semua
pulau di Kepulauan Seribu akan menikmati listrik PLN.
(R ADHI KUSUMAPUTRA)

Transportasi Kota: Pembangunan MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas Dimulai 2009

KOMPAS
Senin, 10 Mar 2008
Halaman: 35
Penulis: R Adhi Kusumaputra

Transportasi Kota
PEMBANGUNAN MRT LEBAK BULUS-DUKUH ATAS MULAI 2009

Oleh R Adhi Kusumaputra

Apa kabar proyek mass rapid transit atau MRT Lebak Bulus-Dukuh
Atas? Banyak warga yang sudah bosan dengan kondisi kemacetan lalu
lintas di Jakarta menanyakan perkembangan terakhir proyek ini. Mereka
tentu tak ingin proyek MRT yang sudah dijanjikan pemerintah itu hanya
sekadar rencana, apalagi wacana.

Jika MRT tidak dibangun sekarang juga, sungguh tak bisa
dibayangkan bagaimana kondisi lalu lintas di Ibu Kota empat-lima tahun
mendatang. Kendaraan pribadi tetap membanjiri jalan di Jakarta dan
sekitarnya. Jalan tol bukan lagi jalan bebas hambatan, lalu akan makin
banyak orang yang stres dengan kemacetan lalu lintas. Dan, Jakarta
akan dicap sebagai kota dengan layanan transportasi paling buruk di
Asia Tenggara.

Bangkok dan Kuala Lumpur yang dulu sama dengan Jakarta
kini sudah memiliki MRT. Padahal, sejak 17 tahun lalu, Jakarta sudah
punya rencana membangun MRT dengan rute Blok M-Kota. Entah kenapa,
pemerintah tak pernah mampu merealisasikannya.
Apakah rencana pembangunan MRT kali ini juga sekadar wacana?

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo tentu tak ingin sekadar mengucap janji
manis. Dia memastikan pembangunan konstruksi dimulai pada tahun 2009.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah membentuk perusahaan
operator mass rapid transit atau MRT yang dinamakan MRT Corporation.
Saat ini Pemprov masih mencari orang yang berkompeten untuk menduduki
jabatan direktur utama perusahaan gabungan antara Pemprov DKI dan
Departemen Perhubungan,” kata Fauzi Bowo dalam percakapan dengan
Kompas di Balaikota DKI, Kamis (6/3) pagi.

Pembiayaan
Bagaimana dengan soal pembiayaan? Apakah nasibnya sama dengan
proyek monorel yang kini menyisakan tiang-tiang dengan beton berkarat
dan mengganggu pemandangan, bahkan memacetkan Jakarta?
Soal biaya, Fauzi Bowo menegaskan kembali pembiayaan pembangunan
MRT tidak ada masalah karena pinjaman Japan Bank for International
Cooperation (JBIC) dipastikan turun karena sudah ada hitam di atas
putih.

“Saat ini kami masih mencari orang yang layak menduduki jabatan
direktur utama. Orang inilah yang akan menangani proyek MRT Lebak
Bulus-Dukuh Atas,” kata Fauzi.

MRT Corporation, penyelenggara MRT itu, akan menerapkan mekanisme
one window sebagai organisasi pelaksana dan memastikan adanya
integrasi yang konsisten mulai dari tahap perencanaan, tahap
konstruksi, sampai pada tahap operasi dan pemeliharaan. MRT
Corporation ini akan merekrut 20 sampai 40 pimpinan agar perusahaan
yang berstatus badan usaha milik daerah (BUMD) DKI Jakarta ini dapat
beroperasi mulai April 2008.

Proyek MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,3 kilometer ini
dibiayai melalui pinjaman JBIC sebesar 96.082.000.000 yen Jepang,
dengan catatan nilai kurs 1 yen pada posisi Rp 80. Pinjaman tahap
pertama yang sudah ditandatangani sebesar 1.869.000.000 yen digunakan
untuk kegiatan engineering service MRT, sedangkan pinjaman tahap kedua
akan ditandatangani pada tahun 2009 dengan nilai 94.213.000.000 yen
untuk pembangunan fisik atau konstruksi MRT.

Komposisi pembagian beban pembiayaan yang disepakati adalah 42
persen biaya proyek menjadi kewajiban pemerintah pusat dan 58 persen
biaya proyek menjadi kewajiban Pemprov DKI Jakarta. Biaya proyek ini
akan diteruskan melalui skema penerusan pinjaman atau sub-loan
agreement (on lending) dari pemerintah pusat melalui pinjaman tahap
kedua.

Selain bertanggung jawab atas 58 persen biaya proyek, Pemprov DKI
Jakarta juga memiliki kewajiban terhadap pembebasan tanah di sepanjang
jalur MRT yang membutuhkan dana Rp 160 miliar, melakukan penetapan
skema subsidi, serta working capital MRT Corp pada tahap rekayasa
desain, konstruksi, dan tahun pertama operasi hingga tahun 2014 dengan
biaya sekitar Rp 365 miliar.

12 stasiun
Berapa stasiun pemberhentian yang akan dibangun pada ruas Lebak
Bulus hingga Dukuh Atas? Proyek MRT sepanjang 14,3 kilometer ini
direncanakan memiliki 12 stasiun pemberhentian, terdiri atas delapan
stasiun layang dan empat stasiun bawah tanah. Delapan stasiun layang
berlokasi di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A,
Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan. Stasiun bawah tanah berlokasi
di Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas. Satu depo akan
dibangun di Terminal Lebak Bulus.

Kecepatan rata-rata MRT direncanakan 32 kilometer per jam, dengan
waktu tempuh Lebak Bulus hingga ke Dukuh Atas 26 menit. MRT ini
memiliki kapasitas angkut 23.000 penumpang per jam untuk satu arah,
dan sekitar 400.000 penumpang per hari. Kapasitas angkut penumpang
pada tahun 2020 diestimasi mencapai 315.000 penumpang per hari.
Dalam proyek MRT ini, Stasiun Dukuh Atas diproyeksikan menjadi
stasiun terbesar yang terintegrasi dengan stasiun KA Jabodetabek yang
dapat berfungsi sebagai MRT feeder, stasiun waterway, stasiun monorel
yang sudah direncanakan, stasiun busway, serta pemberhentian taksi dan
bus umum.

Sementara Stasiun Blok M akan terintegrasi dengan Terminal Blok M,
di mana bus berbagai jurusan berada di sini, dan terminal
transjakarta. Stasiun Bendungan Hilir direncanakan terkoneksi dengan
stasiun monorel di Jalan Setiabudi, sementara Stasiun Istora Senayan
akan terintegrasi dengan stasiun monorel dan pusat jasa komersial di
sekitarnya.

Stasiun Fatmawati akan memiliki kawasan tempat penitipan kendaraan
yang disebut park and ride. Warga dapat memarkirkan mobil dan motornya
di tempat penitipan ini. Stasiun ini akan terhubungkan dengan pusat
komersial Cilandak Town Square (Citos). Sementara Stasiun Lebak Bulus
akan menjadi kawasan depo MRT dan terhubung dengan terminal bus umum
dan bus transjakarta.

Kita tunggu janji Bang Fauzi Bowo dan jajaran Pemprov DKI
merealisasikan proyek MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas ini. Jangan lupa,
Bang, warga Jakarta sudah muak dengan kondisi kemacetan di kota ini.

FOTO di blog ini contoh MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas, yang segera dibangun tahun 2009 mendatang.

Fauzi Bowo: Komitmen Menjaga NKRI


KOMPAS

Jumat, 10 Aug 2007

Halaman: 60

Penulis: R. Adhi Kusumaputra

Fauzi Bowo
KOMITMEN MENJAGA NKRI

Oleh R Adhi Kusumaputra

Fauzi Bowo akhirnya menjadi gubernur baru DKI Jakarta. Lelaki
berkumis ini sudah 30 tahun berkarier di lingkungan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta, serta sangat menguasai persoalan dan problem
Kota Jakarta.

Kemenangan Fauzi Bowo-Prijanto, menurut aktivis politik Budiman
Sudjatmiko, adalah kemenangan nasionalis, pluralis,dan Islam
kebangsaan. Ini modal awal bagi gubernur baru untuk membangun dan
menyejahterakan warga Jakarta.

Kemenangan Fauzi Bowo, menurut pengamat pemerintahan Ryaas
Rasyid, bukan hal mengejutkan dan sudah diprediksi sejak awal. Namun,
perolehan suara yang ditargetkan lebih dari 60 persen suara tidak
tercapai. Meski demikian, Ryaas melihat hasil penghitungan cepat dari
sejumlah lembaga independen akurat dan secara metodologi dapat
dipertanggungjawabkan.

Ia melihat kemenangan Fauzi bukan karena strategi kampanye,
tetapi karena kepentingan tiga kelompok yang bersatu padu.
Pertama, 20 parpol pendukung punya beban psikologis untuk
memenangkan Fauzi-Prijanto sehingga mereka bekerja keras. Kedua,
kelompok yang ingin pluralisme dipertahankan. Ketiga, kelompok yang
ingin pembangunan tetap dilanjutkan. Menurut Ryaas, koalisi inilah
yang bekerja keras memenangkan Fauzi Bowo-Prijanto dalam Pilkada DKI
Jakarta.

Berikut petikan wawancara dengan Fauzi Bowo, Rabu (8/8) sore,
beberapa saat setelah sejumlah lembaga independen mengumumkan hasil
penghitungan cepat.

Menurut hasil penghitungan cepat, Anda dan Prijanto unggul tipis.
Komentar Anda
?
Hasil quick count Rabu sore ini memang menyampaikan berita
gembira bagi kami. Saya dan Prijanto disebutkan menang dalam pilkada
ini. Saya akui pasti ada margin error dalam quick count. Namun, itu
menjadi taruhan profesionalisme lembaga yang mengumumkan hasil quick
count tersebut.
Kami memang tidak menang mutlak. Pengalaman di kota-kota besar,
hasil pemilihan kepala daerah umumnya selisih tipis. Ini juga biasa
terjadi di luar negeri. Bagi saya, yang paling penting adalah
legitimasi. Selisih satu persen sekali pun sudah dianggap menang.
Bagi saya, kemenangan ini kemenangan seluruh warga Jakarta yang
peduli pada keberagaman, pluralisme, dan kebersamaan. Mari kita
bangun bersama Kota Jakarta dengan rasa kebersamaan.

Apa yang akan Anda kerjakan pada hari pertama menjabat Gubernur
DKI Jakarta kelak?
Saya akan berkeliling Kota Jakarta, mendengarkan masukan warga
Jakarta. Bahkan, saya sudah rencanakan, saya luangkan waktu bertemu
dengan masyarakat Jakarta untuk mendengarkan problem dan persoalan
mereka.

Saya dan Prijanto akan merumuskan visi dan misi untuk menjadi
rancangan dasar pembangunan di DKI Jakarta lima tahun ke depan. Kami
juga akan mengupayakan APBD DKI Jakarta tahun 2008 berpihak kepada
rakyat.

Sesuai janji, kami akan membangun tata pemerintahan yang baik
dengan menerapkan kaidah- kaidah good governance. Kami juga akan
menerapkan pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

Ada yang menyebutkan setelah Anda menang, Anda harus bagi-bagi
kekuasaan dengan 20 parpol pendukung. Komentar Anda?
Isu semacam itu tidak relevan. Saya melihat 20 parpol pendukung
itu punya komitmen bersama untuk menjaga Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI), mengawal Pancasila sebagai dasar negara.

Banyak harapan dari kepala daerah di daerah penyangga DKI Jakarta
agar Anda peduli pada wilayah Bodetabek. Komentar Anda?

Saya pasti memerhatikan wilayah Bodetabek. Saya dan Prijanto akan
menjaga silaturahmi dengan para bupati dan wali kota di Bodetabek.
Banyak hal yang bisa dikerjasamakan dengan mereka.
FOTO Fauzi Bowo, oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS