Tag Archives: Dhony Rahajoe

Kolom Blog Adhi Ksp: Jajan Jazz Tak Boleh Mati!

Kolom Blog Adhi Ksp

Jajan Jazz Tak Boleh Mati!

JAJAN Jazz tak boleh mati. Pernyataan ini diungkap seorang warga BSD, Andy F Noya. Datang bersama istri dan anaknya, Andy mengaku menikmati pertunjukan Jajan Jazz dalam suasana kaki lima di Taman Jajan BSD, Serpong, Tangerang, Sabtu (1/3) malam.

Menurut Andy, dalam perjalanan waktunya selama 24 kali pentas atau dalam dua tahun terakhir ini, Jajan Jazz mampu merekatkan hubungan antarwarga BSD. “Musik jazz mungkin hanya saluran, alat. Tapi esensi utama adalah kita, warga BSD bisa bertemu dan berkumpul di sini,” kata Andy F Noya, yang juga host Andy Kick di Metro TV itu.

Pemred Metro TV itu tampak kelihatan santai.

Jajan Jazz, komunitas musisi dan penggemar jazz yang selalu tampil di Taman Jajan BSD (dekat kolam renang Sektor 1) setiap Kamis malam pekan pertama, hadir untuk kali ke-25 dengan fotmat istimewa edisi ulang tahun.

Dua grup yang akan tampil di Java Jazz 7-9 Maret di Jakarta Convention Center, yaitu Tiwi Sakuhaci dan Bibus, muncul di Jajan Jazz. Selain itu grup pilihan seperti Bianglala Voice, Tiga Mawarni (bukan Iga Mawarni lho), New Breeze dan Travel, meramaikan Jajan Jazz yang merayakan ulang tahun kedua. Jumlah pengunjung tiga kali lebih banyak dari biasanya.

Suasana kaki lima di Taman Jajan BSD tetap akan dipertahankan oleh penggagas Jajan Jazz, Yunus Arifin. Dia menolak ajakan membawa Jajan Jazz ke lokasi “bintang lima”. Sebab tujuan utama Jajan Jazz saat didirikan adalah memperkenalkan musik jazz ke semua lapisan, termasuk di kawasan kaki lima.

Dedengkot jazz Indonesia, Peter F Gontha mengaku kaget ketika melihat betapa suasana Jajan Jazz BSD sangat merakyat. “Sungguh luar biasa usaha panitia membuat Jajan Jazz dapat dinikmati masyarakat di Taman Jajan ini. Saya sampaikan selamat kepada panitia,” kata Peter, yang mengaku sempat nyasar ke Lippo Karawaci.

Peter F Gontha, yang pekan depan akan menggelar Java Jazz di Jakarta Convention Center dan mendatangkan musisi jazz dari mancanegara itu, seakan tak percaya dengan apa yang disaksikannya di Jajan Jazz BSD. “Banyak orang bilang jazz hanya dinikmati kalangan atas. Ternyata di Jajan Jazz BSD, pendapat itu terbukti salah,” gumamnya.

Dedengkot jazz Indonesia lainnya, Benny Likumahuwa yang juga baru kali pertama ke Jajan Jazz BSD, mengatakan Jajan Jazz dapat mengantikan event jazz di Pasar Seni Ancol yang sudah lama lenyap. Benny suka dengan suasana kaki lima, di mana pengunjung bisa menikmati soto betawi atau pisang bakar dengan wedang jahe, sambil menikmati pertunjukan musik jazz bermutu.

BSD tentu saja beruntung memiliki warga pencinta musik jazz seperti Yunus Arifin dan kawan-kawannya. “Ini sebetulnya usaha warga BSD. Selama 24 kali pentas tanpa henti di Taman Jajan ini, Jajan Jazz tak pernah sepi. Karena itu wajar kalau pengembang Sinar Mas yang membangun BSD City memberi dukungan penuh acara ini,” kata Dhony Rahajoe, warga BSD yang juga pejabat komunikasi Grup Sinar Mas.

Benar kata Andy F Noya, Jajan Jazz tak boleh mati. Suasana guyub di BSD harus dipertahankan, antara lain melalui Jajan Jazz. Yopie Hidayat, Pemred Harian Kontan yang juga warga BSD malah mengusulkan BSD menciptakan suasana serupa di Taman Jajan setiap akhir pekan. Banyak warga BSD dari kalangan profesional, sengaja datang menyaksikan Jajan Jazz. Sukses selalu untuk Jajan Jazz!

FOTO di blog ini foto paling atas, saya bersama dedengkot jazz Indonesia Peter F Gontha (kiri) dan Benny Likumahuwa (tengah). Thanks to Mas Yudha. Foto tengah, foto grup Bibus di Jajan Jazz, dan foto bawah, foto para panitia Jajan Jazz, yang hampir semuanya warga BSD. Foto tengah dan bawah oleh Adhi Kusumaputra.

Iklan

Kolom Blog Adhi Ksp: Bakti Keluarga BSD Gelar Dialog Tentang Narkoba: "Asyik Narkoba" Bersama Andy F Noya

Kolom Blog Adhi Ksp

Bakti Keluarga BSD Gelar Dialog Tentang Narkoba:

“Asyik Narkoba” Bersama Andy F Noya

PERNAH dengar tentang Bakti Keluarga BSD? Ini semacam paguyuban warga yang tinggal di kawasan perumahan Bumi Serpong Damai atau BSD, Tangerang. Nah, hari Sabtu (24/11) kemarin, Bakti Keluarga BSD bekerja sama dengan Forum Insan Media BSD dan pengembang BSD City menggelar acara diskusi dan dialog tentang narkoba.

Acara ini diadakan oleh warga BSD dan untuk warga BSD. Pemandu diskusi adalah Andy F Noya, yang kita kenal dalam acara Kick Andy di Metro TV. Andy adalah warga Anggrek Loka, BSD, yang “diberdayakan” agar paguyuban warga BSD ini makin berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Andy juga Ketua Forum Insan Media BSD, sebuah paguyuban wartawan yang tinggal di BSD.

Dialog tentang narkoba ini menghadirkan sejumlah pembicara yaitu legenda sepakbola Indonesia, Ronny Pattinasarani, yang membagi pengalamannya bagaimana dia berhasil menyembuhkan kedua anaknya dari kecanduan narkoba. “Kuncinya adalah berserah kepada Tuhan, dan tetap memberikan kasih sayang kepada dua anak saya yang kecanduan narkoba. Jangan jauhkan mereka. Tapi tetaplah mengasihi anak-anak itu dengan cinta orangtua terhadap anak,” kata Ronny Pattinasarani memberikan resep.

Pembicara lainnya dr Andy Hukom dari Yayasan Cinta Anak Bangsa, LSM yang khusus menangani masalah narkoba. Selain itu Komjen Purn Pol Ahwil Lutan, yang sekarang konsultan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan dr Alfred S dari Omni International Hospital. Semuanya bicara tentang narkoba, yang kini mengancam keluarga di Indonesia.

Acara ini dibuka resmi oleh Bupati Tangerang Ismet Iskandar, yang pada awal tahun depan ikut berlaga dalam Pilkada Kabupaten Tangerang. Acara yang dihadiri warga BSD ini digelar di BSD Junction. “Jangan pulang dulu, ada makanan yang bisa disantap. Bakso gepeng, pempek, bakwan dan dawet,” kata Andy F Noya, yang “menghidupkan” suasana dengan joke dan komentarnya khas Kick Andy.

Dhony Rahajoe, warga BSD yang juga Humas BSD mengatakan, acara ini sebetulnya untuk mengakrabkan warga perumahan ini. Jika sudah saling kenal, warga BSD kian akrab. Inilah model paguyuban warga perumahan kelas menengah. Saya bilang pada Dhony dan Andy, acara semacam ini layak dilanjutkan. “Tiga bulan lagi, kita akan bahas soal seks remaja,” kata Dhony.

Dari acara soal narkoba tadi, setidaknya kaum orangtua makin waspada pada anak-anak mereka yang mulai malas belajar, badan mulai kurus, mudah tersinggung, rapor jelek, dan suka menyendiri di kamar tidur dan berlama-lama di kamar mandi. Kaum ibu memang harus lebih waspada karena bahaya narkoba setiap saat mengancam anak-anak mereka, anak-anak kita semua.

FOTO di blog ini foto suasana diskusi soal narkoba (atas) dan foto saya bersama Andy F Noya (bawah).

Resapan Air Perlu Dibangun di Permukiman Skala Besar

Festival Hijau yang digelar BSD City, tahun 2007 ini memasuki tahun keempat. Acara ini sebetulnya terkait dengan Hari Lingkungan Hidup yang diperingati setiap tanggal 5 Juni. Tahun lalu, acara ini dipusatkan di Taman Kota 1 seluas 2,5 hektar, sedangkan tahun ini di Taman Kota 2 seluas 10 hektar. Yang menarik, di Taman Kota 2 ini terdapat danau buatan. Ternyata di seluruh kawasan BSD City, terdapat 11 danau buatan. Ini salah satu faktor mengapa kawasan BSD tidak kebanjiran saat di banyak lokasi di Jabodetabek, tergenang bahkan terendam banjir dahsyat. Ini bukan promosi. Tapi fakta bahwa BSD peduli pada lingkungan. Buktinya, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, selalu hadir dalam acara Festival Hijau yang digelar BSD.

KOMPAS
Senin, 25 Jun 2007
Halaman: 26
Penulis: ksp

DIBANGUN RESAPAN DI PERMUKIMAN
Sebelas Danau Buatan Diresmikan
TANGERANG, KOMPAS
Setiap pengembang perumahan diimbau untuk membangun kawasan
resapan air. Hal ini hendaknya sudah direncanakan sejak awal
pembangunan sehingga warga perumahan terbebas dari ancaman banjir.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menegaskan hal
ini ketika meresmikan sebelas danau buatan dengan total luas 23
hektar di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), dalam Festival Hijau IV
bertema “Air Sahabatku” di Taman Kota 2, Tangerang, Banten, Minggu
(24/6) pagi. Hadir dalam acara itu antara lain Komisaris PT BSD G
Sulistyanto, yang juga Managing Director Sinar Mas Group.

Rachmat Witoelar memuji upaya pengembang PT Bumi Serpong Damai
memenuhi kaidah- kaidah lingkungan hidup, melaksanakan pembangunan
berwawasan lingkungan. “Ini bisa menjadi contoh bagi pengembang lain
untuk peduli pada lingkungan,” kata Rachmat.

Kehadiran 11 danau di kawasan ini, menurut Direktur PT BSDJohanes
Hariyanto, memberi dampak positif bagi warga. Pada saat banyak
wilayah di Jabodetabek tergenang banjir, wilayah BSD sama sekali
tidak terendam banjir. “Danau-danau itu menjadi tempat parkir air,
mencegah wilayah BSD dari banjir bulan Februari lalu,” kata
Hariyanto.

Salah satu danau buatan yang diresmikan berlokasi di Taman Kota 2
di Taman Tekno. Danau buatan seluas 23.955 meter persegi atau 2,4
hektar itu salah satu bagian penting Taman Kota 2 seluas 10 hektar.

Sepuluh danau buatan lainnya di kawasan BSD tersebut lima di
antaranya berlokasi di Bukit Golf, masing-masing dengan luas 4.578
m2, 12.739 m2, 3.241 m2, 35.206 m2, dan 6.540 m2. Danau buatan
lainnya adalah Danau Titicaca DeLatinos (2.708 m2, Danau Coasta Del
Sol The Green (12.423 m2), Danau Terrace Lake Vermont Parkland (3.688
2), Danau Virginia Lagoon (13.794 m2), dan Danau Giri Loka (110.000
2).

“Danau-danau buatan ini merupakan komitmen kami melaksanakan
pembangunan berwawasan lingkungan. Selain 11 danau, PT BSD juga
menyediakan paru- paru kota berupa Taman Kota 1 seluas 2,5 hektar,
Taman Kota 2 seluas 10 hektar, dan tahun depan Taman Kota 3 di dekat
German Center,” kata Corporate Communication Sinar Mas Group
Division Real Estate and Property Dhony Rahajoe.

Menjawab pertanyaan pers, Rachmat Witoelar mengatakan, realisasi
dari komitmen Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Departemen
Pekerjaan Umum ihwal penyediaan situ-situ di sejumlah daerah di
Jabodetabek pascabanjir belum dapat diwujudkan dalam waktu singkat.
“Itu program jangka panjang, lima hingga sepuluh tahun ke
depan,” kata Rachmat. (KSP)

FOTO di blog ini foto (atas) Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar (tengah) menebar benih ikan di danau buatan di Taman Kota 2 BSD, bersama Direktur PT BSD Johanes Hariyanto (kiri) dan Corporate Communication General Manager Sinar Mas Group Division Real Estate and Property Dhony Rahajoe (kanan). Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas. Sedangkan foto (bawah) foto saya bersama Komisaris PT BSD G. Sulistyanto, yang juga Managing Director Sinar Mas Group (kanan) dan Dhony Rahajoe (tengah).

Kolom Blog Adhi Ksp: Pagi di Pasar Flohmak

Kolom Blog Adhi Ksp

Pagi di Pasar Flohmak

Anda sudah pernah ke Pasar Flohmak? Pusat jual beli barang bekas dan barang koleksi ini berlokasi di kawasan parkir Granada Square, Kencana Loka, BSD, Tangerang, Banten. Di sini, setiap Sabtu dan Minggu, digelar lapak-lapak yang menjual barang bekas yang masih layak pakai dengan harga miring.

Penggagas dan pengelola Pasar Flohmak adalah Winarto A Rasul, yang pernah bermukim di Wina, Austria selama delapan tahun. Winarto, warga Serpong ini sejak akhir April 2007 lalu membuka Pasar Flohmak dengan belasan lapak. Sekarang jumlahnya lebih dari 80.
Minat warga besar karena motif mereka membuka lapak ini sebetulnya sederhana. Mereka ingin “menghabiskan” barang-barang tak terpakai lagi di rumahnya. Sebagian lagi memang ingin berdagang. Namun sebagian besar yang membuka lapak memang warga perumahan.
Saya berkeliling dari ujung ke ujung Pasar Flohmak. Ternyata kesimpulan saya, yang menjaga lapak, ya sekeluarga. Ada bapaknya, ada ibunya, ada gadisnya, remaja laki-lakinya, keponakannya dan sebagainya. Penjual atau penjaga lapak penampilannya bersih-bersih, bermobil, bahkan ada penyewa lapak yang menurunkan barang dari sedan Mercedes atau BMW-nya.

Ada yang menjual sepatu, buku, pakaian, CD, sepeda anak, sepeda orang dewasa, jaket, topi, pernak-pernik, bahkan pernah mebel. Ibaratnya, Pasar Flohmak, pasar loak elite. Barang loak orang-orang kelas menengah, dijual dengan harga miring.

Ternyata peminatnya semakin hari semakin banyak. Saya tahu persis karena saya mengamati langsung Pasar Flohmak yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal.
Hari Sabtu pagi, saya bertemu dengan Winarto A Rasul (Pengagas, Pendiri dan Pengelola Pasar Flohmak), Dhony Rahajoe (Corporate General Manager Real Estate and Property Division Sinar Mas Group) dan Adjie Ekawarman (Presiden mailing-list bsd-society), sekadar ngumpul dan ngobrol tentang perkembangan Pasar Flohmak dari hari ke hari.

Gagasan Winarto diadopsi dari Floemarkt atau feamerket yang biasa digelar di negara-negara di Eropa (dan juga Amerika Serikat). Dalam konteks ekonomi Indonesia, Pasar Flohmak bisa menjadi salah satu solusi bagi masyarakat saat situasi masih krisis seperti sekarang. Ekonomi rakyat tetap hidup karena di sinilah transaksi bisnis yang secara nyata dibutuhkan.

Kini berkembang pula ada perusahaan 3G Net yang rencananya akan memasang fasilitas wi-fi gratis di seputar Pasar Flohmak pada pekan-pekan depan. Ini kemajuan pesat. Pasar Flohmak, kalau tetap dikelola konsisten sesuai konsep awalnya, akan menjadi salah satu ikon BSD. Sekarang saja, banyak pengunjung datang dari berbagai daerah, hanya untuk cari tahu dan belanja di Pasar Flohmak.

Rencananya, selama musim liburan anak sekolah mendatang, Winarto akan buka Pasar Flohmak setiap hari khusus anak-anak. Ini pun menjadi keunikan tersendiri jika hal itu digarap serius.

Selamat untuk Pak Winarto atas gagasan dan idenya yang terwujud! Semoga Pasar Flohmak sukses selalu!

LINK TERKAIT http://winnsbury.blog.com/2006/12/

FOTO di blog ini (dari kanan) foto saya bersama Dhony Rahajoe, Adji Ekawarman, staf 3G Net, dan Winarto A Rasul.

Pasar Flohmak, Jangan Malu Beli Barang Bekas

KOMPAS

Metropolitan
Rabu, 16 Mei 2007

Pasar Flohmak

Jangan Malu Beli Barang Bekas

R Adhi Kusumaputra

Pasar Flohmak dibuka sejak sebulan terakhir ini di kawasan Granada Square, BSD City, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang. Pusat jual beli barang bekas itu ternyata diminati. Cukup banyak orang melepas barang-barang mereka di pasar yang dibuka setiap Sabtu dan Minggu itu.
Umumnya pembeli puas mendapatkan barang yang masih layak pakai dengan harga miring.

Konsep Pasar Flohmak diadopsi oleh pendiri Pasar Flohmak, Winarto A Rasul (51), warga Serpong, Tangerang. Winarto yang delapan tahun tinggal di Vienna, Austria, itu melihat di sejumlah negara di Eropa pasar jual beli barang bekas sangat berkembang.

“Banyak orang bilang tinggal di negara-negara di Eropa sangat mahal, tetapi sebetulnya tergantung bagaimana kita mencari barang bagus dengan harga murah,” papar pria kelahiran Yogyakarta itu.

Mengacu pada konsep fleamarket di sejumlah negara di Eropa (dan juga Amerika Serikat), Winarto Rasul yang belum lama kembali ke Indonesia mendirikan PD Pasar Flohmak.

Nama Flohmak diadopsinya dari kata Jerman, flöhmark (pasar barang bekas layak pakai dan koleksi), namun karena orang Indonesia menyebut flöhmark menjadi Flohmak, akhirnya Winarto mengambil nama Flohmak, yang kemudian didaftarkannya sebagai hak paten.

Ketika kali pertama Pasar Flohmak dibuka pada 21 dan 22 April 2007, ada 18 lapak masing-masing berukuran 2 meter x 3 meter yang digelar, mengambil lahan parkir Granada Square. Aneka barang bekas dijual mulai dari pakaian, tas, sepatu, furnitur, buku, sepeda, lukisan, sampai stik golf.

Setelah sebulan berlalu, Winarto mengaku mulai kewalahan. “Sekarang sudah ada 54 penyewa lapak. Saya terpaksa menolak karena tempatnya sudah habis,” kata penulis roman Setangkai Mawar di Donau itu.

Winarto menyewakan setiap lapak seharga Rp 50.000 per hari tanpa mengutip persentase barang yang terjual. Karena itulah banyak orang yang antre menyewa lapak di Pasar Flohmak. “Bahkan transaksi dilanjutkan di rumah, dan itu milik mereka,” kata Winarto, yang puas dengan perkembangan Pasar Flohmak.

Ny Evita (49), warga Taman Chrysant 1 BSD, sejak awal menyewa lapak di Pasar Flohmak. “Awalnya iseng-iseng untuk mengisi kegiatan pada Sabtu dan Minggu. Ternyata barang-barang pribadi yang dijajakan di sini 40 persen sudah terjual. Lalu banyak saudara saya yang menitipkan barang-barang mereka untuk dijual di sini,” cerita Ny Evita, yang hanya melanjutkan usaha menjual barang bekas di Pasar Flohmak.

“Saya ditemani putri saya, yang setiap Senin sampai Jumat bekerja di kantor. Sedangkan Sabtu dan Minggu dia menemani saya di sini,” ungkap Evita, yang menjual peralatan rumah tangga dan pakaian.

Pengamatan Kompas, Pasar Flohmak ramai sejak pukul 07.00. Para pembelinya tidak hanya warga Serpong, Tangerang, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Jabodetabek. Penyewa lapak umumnya memiliki mobil.

Sebagian warga Serpong, tetapi ada juga datang dari Cimanggis, Depok; Lebak Bulus, Jakarta; dan Bekasi. Jumlah mobil yang diparkir pun makin banyak.

Seorang penyewa lapak yang punya posisi penting dalam perusahaan pengembang besar menjual mebel dengan harga miring, demikian pula pernak-pernik seperti ikat pinggang, tas, dan dompet. “Dia menyewa lapak sampai dua bulan ke depan, mungkin untuk menghabiskan barang-barang di rumahnya,” tutur Winarto. “Lumayan, saya dapat sofa dan meja mebel bagus, harga per satuannya Rp 300.000,” kata Ida, seorang pembeli di Pasar Flohmak.

Barang-barang yang dijual di Pasar Flohmak ini harganya bervariasi dari Rp 5.000 sampai puluhan juta untuk barang koleksi. Uniknya, Winarto membuka sesi gratis setiap pukul 15.00. Untuk barang-barang tertentu, seperti mainan, sepatu, pakaian, dan pernak-pernik diberikan secara gratis kepada masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat sekitar yang kurang mampu dapat juga menikmati barang-barang di Pasar Flohmak. Dalam waktu singkat, barang yang digratiskan itu sudah habis,” tuturnya menambahkan.

Barang yang dijual antara lain lukisan 8 Bidadari seharga Rp 12 juta. “Lukisan serupa dipajang di Galeri Maria Theresia, Ratu Austria,” kata Winarto.
Ada juga replika pabrik sepeda Alexander Pollock tahun 1883 dijual Rp 1 juta, topi yang mengabadikan kemenangan Michael Schumacher yang kali keenam dalam F1 di Jerman dijual seharga Rp 225.000.

“Saya juga punya koleksi lukisan Jan Mintaraga yang dibuat tahun 1992, imajinasinya tentang BSD. Saya jual Rp 9 juta,” kata Winarto. Banyak lukisan yang dibelinya dari Austria dan negara di Eropa, dijual Winarto sebagai barang koleksi seharga jutaan rupiah.

Winarto A Rasul memang serius menekuni Pasar Flohmak. Dia membeli tanah seluas 250 meter persegi, tak jauh dari lokasi, untuk dijadikannya gudang.
“Kalau ada orang yang mau menitipkan barang-barangnya, saya simpan di gudang itu,” kata Winarto, yang sudah mematenkan nama Pasar Flohmak.

“Saya akan membuka waralaba Pasar Flohmak. Kalau setiap kabupaten atau kota punya satu Pasar Flohmak, ini sangat bagus,” katanya yakin. Begitu Pasar Flohmak dibuka di Granada Square BSD, Winarto langsung dihubungi pihak Gading Serpong agar membuka pasar serupa di kawasan itu.
Winarto melihat berkembangnya Pasar Flohmak karena saat ini masyarakat masih menghadapi situasi krisis ekonomi.

“Saya mengutip kata-kata Sri Sultan Hamengku Buwono X agar jangan malu membeli barang bekas,” kata Winarto yang juga mengaku menjajakan pakaian dan barang-barang bekas milik Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya, GKR Hemas.

Pakaian bekas Sri Sultan HB X dan istrinya itu akan dilelang Winarto pada Juni mendatang, dan dibuka dengan harga per potong Rp 450.000. “Saya akan ke Yogya dulu, melengkapi koleksi Sri Sultan HB X yang akan dilelang,” ungkapnya. Winarto mengaku, ia beli dari orang dalam Keraton. Sistemnya kalau laku baru dibayar.

Kepala Divisi Sarana dan Prasarana Kota Real Estate Indonesia (REI) Ir Dhony Rahajoe melihat kehadiran Pasar Flohmak yang digagas warga akan menghidupkan sebuah kota karena di sana komunitas terbentuk. “Komunitas seperti inilah yang menghidupkan sebuah kota,” kata Dhony.

Pasar Flohmak memang mengadopsi fleamarket seperti di Salzburg dan Vienna (Austria), Bruges, Brussels, dan Antwerp (Belgia), Zagreb (Kroasia), Copenhagen (Denmark), Lille, Paris (Perancis), Muenchen (Jerman), Dublin (Irlandia), Amsterdam (Belanda), Lisabon (Portugal), Barcelona, Madrid, dan Sevilla (Spanyol), dan banyak negara lainnya.

Antusiasme masyarakat melakukan jual beli di fleamarket sangat besar. Ekonomi rakyat pun makin hidup. Jadi, jangan pernah malu membeli barang bekas, apalagi menjualnya!

FOTO di blog ini, foto suasana Pasar Flohmak yang dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 07.00-17.00 di kawasan niaga Granada Square, BSD City, Tangerang, Banten. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Rumah, Kembali ke Gaya Neoklasik

Pengantar
Tren rumah pada tahun 2003 kembali ke gaya neoklasik, kaya dengan tiang tinggi dan besar, mencerminkan kemegahan.

KOMPAS

Jumat, 25 Apr 2003
Halaman: 34
Penulis: Adhi ksp, Robert

RUMAH, KEMBALI KE GAYA NEOKLASIK


TREN rumah kini kembali ke gaya neoklasik-salah satu gaya yang
terkenal adalah arsitektur Romawi, yang kaya dengan tiang tinggi dan
besar, yang memberikan kemegahan. Selama ini, rumah-rumah bergaya
klasik umumnya sering kita lihat pada rumah-rumah mewah di kawasan
elite Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan ukuran rumah yang besar
dan tanah sampai ribuan meter persegi-yang menjadi lambang kesuksesan
pemilik rumah.

Namun, kini orang mulai rasional. Memiliki rumah berukuran besar
dan tanah yang luas membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit.
Karena itu, orang cenderung memiliki rumah yang proporsional, tidak
terlalu luas, tapi juga tak terlalu kecil.

“Jika rumah terlalu luas, sedangkan penghuninya sedikit, rumah
menjadi tak hangat lagi. Bayangkan, orang punya rumah besar seluas
1.000 meter persegi, tapi ketika ayah pulang, dia tak tahu anaknya
ada di kamar yang mana saking banyaknya kamar. Padahal rumah adalah
tempat keluarga berkumpul. Karena itu, tren rumah kembali ke rumah
sedang. Gaya klasik dengan kemegahannya itu menjadi tren rumah kelas
menengah, bahkan juga rumah- rumah kecil,” kata Ir Jo Eddy, arsitek
lulusan Universitas Trisakti Jakarta dalam percakapan dengan Kompas,
pekan lalu.

Ini berarti gaya klasik Romawi atau sering disebut gaya neoklasik
dengan tiang tinggi ini tidak monopoli rumah- rumah bernilai miliaran
rupiah, akan tetapi juga bisa dinikmati kelas menengah karena rumah-
rumah bergaya neoklasik seperti itu, dengan luas bangunan 151 meter
persegi dan luas tanah 300 meter persegi, harganya bisa ditekan di
bawah Rp 1 miliar.

Namun, kemegahan yang sama dapat diperoleh pemiliknya. Bandingkan
dengan rumah- rumah mewah bergaya neoklasik di Pondok Indah, yang
nilainya bisa mencapai miliaran rupiah, bahkan belasan miliar rupiah.

Gaya neoklasik menekankan pada kehadiran tiang tinggi dan besar
dengan ornamen dan profil yang khas. Kusen jendela dan pintu dibuat
melengkung sehingga terkesan megah dan elegan.

Warna yang dipakai pun umumnya warna putih, krem, atau warna
earth. Lampu-lampu jalan di lingkungan perumahan disediakan lampu
hias, tidak seperti lampu jalan biasa yang standar. Ini pun
mempengaruhi suasana sekitar perumahan. “Orang yang melihat rumah
bergaya neoklasik seperti ini dari luar, akan terkesan dengan
kemegahannya,” ujar Jo Eddy.

Tren rumah bergaya klasik ini bahkan juga merasuk ke rumah-rumah
kecil dengan luas bangunan 36 meter persegi dengan luas tanah 72
meter persegi yang harganya seratusan juta rupiah hingga dua ratusan
juta rupiah. Rumah ini sebenarnya berlantai satu, tapi karena tinggi
tiangnya sampai enam meter, maka dari luar, rumah itu terkesan
memiliki dua lantai. Jendela di atas teras rumah merupakan jendela
hiasan, namun mengesankan rumah kecil itu lebih besar dari ukuran
sebenarnya. Jendela yang dibuat pun bentuknya lengkung, sementara
halaman depan tetap ada.

Arsitek lainnya, Ir Dhony Rahajoe, yang bekerja di sebuah
perusahaan pengembang terkenal, menambahkan, gaya rumah sesungguhnya
mirip mode (fashion) pakaian. “Sebagian besar mengikuti tren.
Sehingga, jika selera masyarakat mengarah pada gaya tertentu, maka
pengembang mengikuti selera pasar. Yang tak berubah hanya fungsinya.
Ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dan
halaman,” katanya.

Pada awalnya, gaya rumah di Jakarta menekankan pada gaya modern
dengan dominasi beton. Rumah-rumah di Pluit yang dibangun 30 tahun
lalu, misalnya, mengedepankan unsur cetakan beton. Ketika kesadaran
orang akan gaya rumah makin tinggi, banyak pengembang yang menawarkan
gaya tropis, gaya country yang menonjolkan genting dan kayu sebagai
unsur utama rumah, seperti yang terlihat pada beberapa rumah di
kawasan Bintaro. Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, banyak
rumah didesain dengan gaya mediterania dan gaya Spanyol yang
menonjolkan warna-warna cerah.

Selera pasar kini tampaknya beralih ke gaya neoklasik yang
menonjolkan tiang-tiang tinggi hingga enam meter. Sejumlah pengembang
melihat selera pasar ini dengan kreatif. Rumah yang terkesan megah
tidak harus rumah berukuran besar dengan luas tanah ribuan meter
persegi.

Akan tetapi, rumah-rumah kelas menengah bahkan rumah kecil pun
bisa bergaya neoklasik! (ROBERT ADHI KSP)


Shuttle Bus di Kawasan Perumahan Sangat Dibutuhkan

Pengantar
Buruknya kondisi transportasi di Indonesia, terutama dari kawasan permukiman menuju Jakarta dan sebaliknya, menyebabkan sejumlah pengusaha menangkap peluang itu dengan menyediakan shutlle bus. Peminatnya orang kantoran. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 11 Apr 2003
Halaman: 36
Penulis: adhi ksp, robert

“SHUTTLE BUS” DI KAWASAN PERUMAHAN SANGAT DIBUTUHKAN


BANYAKNYA pekerja kantoran yang tinggal di kawasan perumahan di
luar Kota Jakarta, membuat jarak antara kantor dan tempat tinggal
kini makin jauh. Sementara kondisi angkutan umum biasa belum banyak
berubah: masih berdesak-desakan, berimpit-impitan, dan rawan
kejahatan.

KONDISI ini membuat orang berpikir perlunya membeli mobil
pribadi, baik yang baru maupun yang bekas. Jumlah mobil pun terus
bertambah, sedangkan panjang jalan tak banyak berubah. Akibatnya,
kemacetan pun kian parah. Dalam situasi seperti ini, kehadiran
shuttle bus (bus terjadwal) semakin dibutuhkan, terutama oleh mereka
yang bekerja di perkantoran di Jakarta.

Pengembang yang menyadari pentingnya menyediakan bus- bus
terjadwal sebagai salah satu fasilitas bagi penghuni kawasan
perumahan adalah pengembang yang membangun perumahan Lippo Karawaci
dan yang membangun perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) di Kabupaten
Tangerang. Dua pengembang besar ini menyadari pentingnya bus
terjadwal untuk mengangkut para penghuni yang umumnya pekerja
kantoran ke dan dari tempat kerja mereka di Jakarta.

Bus terjadwal BSD misalnya, disediakan pengembang sejak akhir
tahun 2000, bekerja sama dengan perusahaan bus PT Arimbi Jaya Agung.
Terminal bus terjadwal di Lippo Karawaci sudah lebih dulu ada, yaitu
sejak perumahan itu dibangun sepuluh tahun silam, dan dioperasikan
anak perusahaan di grup Lippo yang bergerak di bidang transportasi,
PT Dinamika Intertrans.

Sejak bus-bus terjadwal dioperasikan, kehadirannya sangat
ditunggu para pekerja kantoran. “Banyak penumpang bus terjadwal yang
kini memutuskan untuk tidak membawa mobil pribadi ke kantornya lagi,
dan beralih naik bus terjadwal ini. Dari rumah di kawasan BSD ke
terminal bus yang berlokasi di Sektor I, mereka bisa menempuhnya
dengan angkutan kota dan ojek,” kata Kepala Hubungan Masyarakat BSD,
Dhony Rahajoe, Selasa (8/4) siang.

Yang menarik, saking dibutuhkannya bus-bus terjadwal tersebut,
para penumpang pelanggan bus BSD-Jakarta patungan membelikan pulsa
telepon seluler untuk para sopir bus. Menurut Junaedi (30), salah
seorang pengemudi bus terjadwal BSD-Jakarta yang ditemui Kompas
sedang ngetem di terminal BSD pada Rabu siang, para penumpang sering
menghubungi para sopir bus untuk menanyakan posisi bus ada di
mana. “Pada umumnya para penumpang selalu mengucapkan
kalimat, Ætunggu saya, jangan ditinggal yaÆ, kepada kami para
sopir,” katanya.

Sopir-sopir bus terjadwal BSD-Jakarta pada umumnya sudah hafal
dengan para penumpang, termasuk nama dan tempat tinggal
mereka. “Hampir setiap hari kerja kami berjumpa dengan mereka. Jadi,
kami sudah hafal wajah para penumpang, yang sebagian besar pekerja
kantoran di Jakarta,” ungkap Junaedi yang menambahkan, para penumpang
yang naik bus terjadwal biasanya tertidur di dalam bus ber-AC
tersebut saat jam berangkat kerja.

Bus terjadwal BSD-Jakarta berangkat dari terminal di depan kolam
renang Griya Loka Sektor I BSD, lalu berhenti di halte Al-Azhar BSD,
halte Taman Perkantoran 2 di Sektor VI BSD. Setelah melewati gerbang
tol Kebon Nanas, bus ini melewati tol Tangerang-Jakarta, lalu di
simpang Tomang, berbelok ke kanan ke arah Slipi, selanjutnya ke arah
Semanggi, lalu Sudirman-Thamrin-Harmoni-Lapangan Banteng-Gambir dan
kembali lagi ke Harmoni dengan rute yang sama saat berangkat.

Di Jakarta, bus terjadwal BSD berhenti di sejumlah terminal,
yaitu Slipi-Gatot Subroto-Semanggi-Sudirman-MH Thamrin-Merdeka Barat-
Majapahit-Harmoni/Juanda-Jalan Pos-Lapangan Banteng-Pejambon-
Gambir/Merdeka Timur- Merdeka Utara. Setiap hari Senin sampai Sabtu,
bus terjadwal BSD berangkat paling pagi pukul 05.45 dengan prakiraan
tiba di Harmoni sekitar pukul 07.15. Adapun bus terakhir berangkat
dari Harmoni pukul 20.00 dan tiba di BSD diperkirakan pukul 21.30.

Halte kedatangan di BSD adalah halte kantor pemasaran BSD di Sektor
IV, halte Taman Giri Loka, dan halte terminal terakhir di depan kolam
renang Griya Loka.

Khusus pada hari Minggu dan hari libur nasional, bus terjadwal
BSD berangkat paling pagi pukul 07.00, sedangkan bus terakhir
berangkat dari Harmoni pukul 18.45. Mulai Senin 7 April, tarif bus
terjadwal BSD naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per penumpang.

Jumlah bus terjadwal BSD saat ini ada lima unit dan pada hari
Senin sampai Sabtu beroperasi sesuai jadwal setiap 15 menit sekali
mulai pukul 05.45 sampai 06.45. Setelah itu satu jam sekali antara
pukul 09.00 dan pukul 12.00. Lalu keberangkatan bus dari BSD selang
dua jam (14.00) dan satu setengah jam (15.30). Setelah itu selang
setengah jam sampai pukul 17.30, dan terakhir pukul 18.30 dari BSD.

Menurut Dhony Rahajoe, idealnya warga BSD tinggal dan bekerja di
BSD juga. Tapi cita- cita itu belum bisa terwujud, dan masih banyak
penghuni BSD yang bekerja di Jakarta sehingga fasilitas transportasi
bus yang nyaman ber-AC dan terjadwal sangat dibutuhkan.
***
PENGEMBANG yang lebih dulu menyadari pentingnya bus terjadwal
adalah yang membangun perumahan Lippo Karawaci, Tangerang. Menurut
Kepala Unit PT Dinamika Intertrans, yang mengelola transportasi
perumahan itu, Ambari Karim, kepada Kompas, Selasasiang, pihaknya
mengoperasikan sembilan unit bus berkapasitas antara 27 dan 40
penumpang mulai pukul 05.30 hingga pukul 21.30.

“Sebelumnya sampai pukul 22.30, tetapi karena jumlah penumpang
terlalu sedikit sehingga kami anggap kurang efektif. Dan sejak
Desember 2002, kami mengambil langkah efisiensi,” kata Ambari yang
ditemui di terminal bus terjadwal Lippo Karawaci.

Para penumpang bus Lippo Karawaci sebagian besar adalah para
penghuni perumahan tersebut, dan hanya sebagian kecil saja yang
tinggal di luar perumahan. “Kami sebetulnya tidak membatasi
penumpang, asalkan bisa membayar Rp 7.500 per orang,” katanya. Namun
di masa depan, pihaknya berencana mengeluarkan semacam smart card
sehingga penumpang tak perlu membayar tiket, tinggal menunjukkan
kartu pintar.

Lokasi terminal cukup strategis, di samping Matahari Supermal
Karawaci, sehingga menguntungkan pusat perbelanjaan terbesar di
Tangerang itu. Jumlah penumpang yang naik bus Lippo Karawaci setiap
hari rata-rata 1.500-an orang.

“Konsep kami adalah point to point, tidak ada yang berhenti di
halte di Tangerang dan Jakarta. Jadi dari terminal bus Lippo Karawaci
menuju terminal akhir,” jelasnya.

Ada empat rute menuju terminal akhir, yaitu Citra Graha di Jalan
Gatot Subroto (dekat perempatan Kuningan) yang berangkat 15 kali
mulai pukul 05.50 paling pagi dan terakhir pukul 21.30. Lalu dari
Lippo Karawaci ke Blok M (depan Lapangan Mabes Polri) berangkat 15
kali, mulai pukul 06.00 dan terakhir pukul 21.30. Bus yang ke Grogol
(melewati Mal Ciputra berbelok ke arah Terminal Grogol dan berhenti
di depan Kampus Universitas Trisakti dan melewati depan Kampus
Universitas Tarumanegara, lalu masuk tol Jakarta-Tangerang) berangkat
10 kali mulai pukul 06.10 dan terakhir pukul 18.35.

Adapun bus yang berangkat ke Kebon Jeruk (keluar gerbang tol
Kebon Jeruk, melewati Jalan Panjang, berputar di Hero Srengseng Sawah
dan masuk lagi tol Jakarta-Tangerang) berangkat tiga kali mulai pukul
06.40, 17.30, dan 19.00. Jam-jam keberangkatan dan rute-rute itu,
kata Ambari, sudah disesuaikan dengan penelitian, kapan bus banyak
penumpang.

Di areal perumahan Lippo Karawaci, perusahaan menyediakan 11 bus
berkapasitas 14 dan 27 orang yang terus-menerus di jalan utama sampai
ke jalan lingkungan di perumahan, khususnya di Kompleks Taman Elok,
Taman Bromo, Taman Imam Bonjol, dan Taman Ubud di perumahan Lippo
Karawaci. Sedangkan dari luar perumahan yang datang ke kawasan Lippo,
terutama ke Supermal Karawaci, sudah ada angkutan kota resmi dari
berbagai jurusan di wilayah Tangerang.

Demikianlah, keberadaan bus-bus terjadwal di perumahan yang sudah
menjadi kebutuhan utama para penghuni warga yang bekerja di kantor-
kantor di Jakarta. Kebutuhan ini dilihat oleh pengembang yang jeli.

Meski tak terlalu menguntungkan, tetapi investasi di sektor ini
membuat banyak warga tertarik membeli rumah, terutama warga perumahan
yang harus berangkat pagi dan pulang sore sesuai jam kantor.

Kehadiran bus-bus terjadwal ini setidaknya membantu warga
perumahan-yang tak perlu bersusah payah menunggu dan mengejar bus
umum karena sudah ada bus yang nyaman dan terjadwal. Juga warga tak
perlu lagi membawa mobil pribadi dari rumah ke kantor dan sebaliknya-
yang acapkali membuat pengendara mobil terjebak kemacetan di jalan
sehingga membuat orang “tua di jalan”. (ROBERT ADHI KSP)