Tag Archives: BSD

Pasar Flohmak, Jangan Malu Beli Barang Bekas

KOMPAS

Metropolitan
Rabu, 16 Mei 2007

Pasar Flohmak

Jangan Malu Beli Barang Bekas

R Adhi Kusumaputra

Pasar Flohmak dibuka sejak sebulan terakhir ini di kawasan Granada Square, BSD City, Kecamatan Serpong, Kabupaten Tangerang. Pusat jual beli barang bekas itu ternyata diminati. Cukup banyak orang melepas barang-barang mereka di pasar yang dibuka setiap Sabtu dan Minggu itu.
Umumnya pembeli puas mendapatkan barang yang masih layak pakai dengan harga miring.

Konsep Pasar Flohmak diadopsi oleh pendiri Pasar Flohmak, Winarto A Rasul (51), warga Serpong, Tangerang. Winarto yang delapan tahun tinggal di Vienna, Austria, itu melihat di sejumlah negara di Eropa pasar jual beli barang bekas sangat berkembang.

“Banyak orang bilang tinggal di negara-negara di Eropa sangat mahal, tetapi sebetulnya tergantung bagaimana kita mencari barang bagus dengan harga murah,” papar pria kelahiran Yogyakarta itu.

Mengacu pada konsep fleamarket di sejumlah negara di Eropa (dan juga Amerika Serikat), Winarto Rasul yang belum lama kembali ke Indonesia mendirikan PD Pasar Flohmak.

Nama Flohmak diadopsinya dari kata Jerman, flöhmark (pasar barang bekas layak pakai dan koleksi), namun karena orang Indonesia menyebut flöhmark menjadi Flohmak, akhirnya Winarto mengambil nama Flohmak, yang kemudian didaftarkannya sebagai hak paten.

Ketika kali pertama Pasar Flohmak dibuka pada 21 dan 22 April 2007, ada 18 lapak masing-masing berukuran 2 meter x 3 meter yang digelar, mengambil lahan parkir Granada Square. Aneka barang bekas dijual mulai dari pakaian, tas, sepatu, furnitur, buku, sepeda, lukisan, sampai stik golf.

Setelah sebulan berlalu, Winarto mengaku mulai kewalahan. “Sekarang sudah ada 54 penyewa lapak. Saya terpaksa menolak karena tempatnya sudah habis,” kata penulis roman Setangkai Mawar di Donau itu.

Winarto menyewakan setiap lapak seharga Rp 50.000 per hari tanpa mengutip persentase barang yang terjual. Karena itulah banyak orang yang antre menyewa lapak di Pasar Flohmak. “Bahkan transaksi dilanjutkan di rumah, dan itu milik mereka,” kata Winarto, yang puas dengan perkembangan Pasar Flohmak.

Ny Evita (49), warga Taman Chrysant 1 BSD, sejak awal menyewa lapak di Pasar Flohmak. “Awalnya iseng-iseng untuk mengisi kegiatan pada Sabtu dan Minggu. Ternyata barang-barang pribadi yang dijajakan di sini 40 persen sudah terjual. Lalu banyak saudara saya yang menitipkan barang-barang mereka untuk dijual di sini,” cerita Ny Evita, yang hanya melanjutkan usaha menjual barang bekas di Pasar Flohmak.

“Saya ditemani putri saya, yang setiap Senin sampai Jumat bekerja di kantor. Sedangkan Sabtu dan Minggu dia menemani saya di sini,” ungkap Evita, yang menjual peralatan rumah tangga dan pakaian.

Pengamatan Kompas, Pasar Flohmak ramai sejak pukul 07.00. Para pembelinya tidak hanya warga Serpong, Tangerang, tetapi juga dari berbagai daerah lain di Jabodetabek. Penyewa lapak umumnya memiliki mobil.

Sebagian warga Serpong, tetapi ada juga datang dari Cimanggis, Depok; Lebak Bulus, Jakarta; dan Bekasi. Jumlah mobil yang diparkir pun makin banyak.

Seorang penyewa lapak yang punya posisi penting dalam perusahaan pengembang besar menjual mebel dengan harga miring, demikian pula pernak-pernik seperti ikat pinggang, tas, dan dompet. “Dia menyewa lapak sampai dua bulan ke depan, mungkin untuk menghabiskan barang-barang di rumahnya,” tutur Winarto. “Lumayan, saya dapat sofa dan meja mebel bagus, harga per satuannya Rp 300.000,” kata Ida, seorang pembeli di Pasar Flohmak.

Barang-barang yang dijual di Pasar Flohmak ini harganya bervariasi dari Rp 5.000 sampai puluhan juta untuk barang koleksi. Uniknya, Winarto membuka sesi gratis setiap pukul 15.00. Untuk barang-barang tertentu, seperti mainan, sepatu, pakaian, dan pernak-pernik diberikan secara gratis kepada masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat sekitar yang kurang mampu dapat juga menikmati barang-barang di Pasar Flohmak. Dalam waktu singkat, barang yang digratiskan itu sudah habis,” tuturnya menambahkan.

Barang yang dijual antara lain lukisan 8 Bidadari seharga Rp 12 juta. “Lukisan serupa dipajang di Galeri Maria Theresia, Ratu Austria,” kata Winarto.
Ada juga replika pabrik sepeda Alexander Pollock tahun 1883 dijual Rp 1 juta, topi yang mengabadikan kemenangan Michael Schumacher yang kali keenam dalam F1 di Jerman dijual seharga Rp 225.000.

“Saya juga punya koleksi lukisan Jan Mintaraga yang dibuat tahun 1992, imajinasinya tentang BSD. Saya jual Rp 9 juta,” kata Winarto. Banyak lukisan yang dibelinya dari Austria dan negara di Eropa, dijual Winarto sebagai barang koleksi seharga jutaan rupiah.

Winarto A Rasul memang serius menekuni Pasar Flohmak. Dia membeli tanah seluas 250 meter persegi, tak jauh dari lokasi, untuk dijadikannya gudang.
“Kalau ada orang yang mau menitipkan barang-barangnya, saya simpan di gudang itu,” kata Winarto, yang sudah mematenkan nama Pasar Flohmak.

“Saya akan membuka waralaba Pasar Flohmak. Kalau setiap kabupaten atau kota punya satu Pasar Flohmak, ini sangat bagus,” katanya yakin. Begitu Pasar Flohmak dibuka di Granada Square BSD, Winarto langsung dihubungi pihak Gading Serpong agar membuka pasar serupa di kawasan itu.
Winarto melihat berkembangnya Pasar Flohmak karena saat ini masyarakat masih menghadapi situasi krisis ekonomi.

“Saya mengutip kata-kata Sri Sultan Hamengku Buwono X agar jangan malu membeli barang bekas,” kata Winarto yang juga mengaku menjajakan pakaian dan barang-barang bekas milik Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisurinya, GKR Hemas.

Pakaian bekas Sri Sultan HB X dan istrinya itu akan dilelang Winarto pada Juni mendatang, dan dibuka dengan harga per potong Rp 450.000. “Saya akan ke Yogya dulu, melengkapi koleksi Sri Sultan HB X yang akan dilelang,” ungkapnya. Winarto mengaku, ia beli dari orang dalam Keraton. Sistemnya kalau laku baru dibayar.

Kepala Divisi Sarana dan Prasarana Kota Real Estate Indonesia (REI) Ir Dhony Rahajoe melihat kehadiran Pasar Flohmak yang digagas warga akan menghidupkan sebuah kota karena di sana komunitas terbentuk. “Komunitas seperti inilah yang menghidupkan sebuah kota,” kata Dhony.

Pasar Flohmak memang mengadopsi fleamarket seperti di Salzburg dan Vienna (Austria), Bruges, Brussels, dan Antwerp (Belgia), Zagreb (Kroasia), Copenhagen (Denmark), Lille, Paris (Perancis), Muenchen (Jerman), Dublin (Irlandia), Amsterdam (Belanda), Lisabon (Portugal), Barcelona, Madrid, dan Sevilla (Spanyol), dan banyak negara lainnya.

Antusiasme masyarakat melakukan jual beli di fleamarket sangat besar. Ekonomi rakyat pun makin hidup. Jadi, jangan pernah malu membeli barang bekas, apalagi menjualnya!

FOTO di blog ini, foto suasana Pasar Flohmak yang dibuka setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 07.00-17.00 di kawasan niaga Granada Square, BSD City, Tangerang, Banten. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

Kolom Blog Adhi Ksp: Jajan Jazz

Kolom Blog Adhi Ksp

Jajan Jazz

Jajan Jazz? Ya, Jajan Jazz! Menikmati jazz tak harus di lounge hotel bintang lima sembari meneguk wine, menyeruput jus jeruk atau pun menikmati cappucino. Menikmati jazz ya cukup di Taman Jajan BSD Serpong Tangerang, tempat pedagang kaki lima mangkal. Ada roti bakar, ada indomi rebus, ada soto, ikan bakar dan hidangan kaki lima lainnya.

Jajan Jazz kini menjadi ikon baru dalam dunia musik jazz Indonesia. Di sini, setiap Kamis malam pekan pertama, grup jazz pemula dan senior berkumpul menjadi satu. Grup jazz anak-anak muda itu bukannya baru belajar, tetapi mereka yang tampil, yang sudah pe-de muncul di depan khalayak pencinta musik jazz.

Saya rutin menikmati pergelaran Jajan Jazz di Taman Jajan BSD setiap Kamis malam pekan pertama. Pertama, lokasinya dekat dengan tempat tinggal. Kedua, ya memang suka jazz. Jadi, kalau setiap Jajan Jazz digelar, kalau tidak datang, rasanya ada yang kurang.

Pada Kamis malam kemarin dulu, salah seorang begawan jazz Indonesia, Ireng Maulana menyempatkan hadir. Yang menggembirakan, Ireng Maulana, begitu tahu ada potensi dan bakat luar biasa dari grup-grup jazz anak muda ini, langsung menyatakan akan membuat panggung Jajan Jazz dalam pergelaran Jakjazz November mendatang.

Ireng terpesona. Dia mengaku kaget karena dalam suasana “sederhana” dalam aroma kaki lima, Jajan Jazz justru eksis dan diminati penggemarnya. “Yang main, juga bagus-bagus,” kata Ireng yang baru kali pertama hadir di Jajan Jazz. Ireng terkagum-kagum melihat grup jazz anak muda membawa sendiri peralatan musik mereka.

Dalam Jajan Jazz Kamis pertama bulan April ini, muncul juga M Hindarto, mantan Kepala Polda Metro Jaya. “Wah saya muter-muter sampai satu setengah jam, mencari lokasi Taman Jajan ini. Sampai ke Puspiptek segala,” cerita Hindarto waktu saya temui dalam acara Jajan Jazz.

(Saya kenal Pak Hindarto sudah lamaa banget, waktu beliau masih jadi Direktur Samapta Polri, saya dapat tugas ikut polisi naik kapal Polri dari Tanjungpriok ke Batam selama 28 jam. Alhasil, saya mabukkk laut, tak tertahankan lagi. Lalu ketika Pak Hindarto jadi Kepala Polda Metro Jaya, saya masih wartawan kepolisian, dan namanya harum berkat cepatnya pengungkapan kasus pembunuhan pelukis Basoeki Abdullah oleh jajarannya, Adang Rismanto dkk).

Nah, kembali ke Jajan Jazz, Pak Hindarto memuji acara ini karena di sinilah bakat dan talenta musisi jazz Indonesia terlihat jelas. “Jajan Jazz boleh disebut sebagai wahana pencari bakat dan talenta. Ini bagus sekali,” kata penggemar jazz itu. Dia lalu membandingkannya dengan bidang olahraga. Seharusnya cabang-cabang olahraga juga punya wadah semacam Jajan Jazz ini. Ada tempat untuk bakat dan talenta baru, yang memudahkan mencari dan mendapatkannya.

Pak Hindarto sudah memakai tongkat, wah tanda usia sudah lanjut ya Pak. Tapi semangat Pak Hindarto dan istrinya tetap membara. Buktinya, meskipun pusing cari alamat Taman Jajan BSD, tempat Jajan Jazz digelar, toh Pak Hindarto tetap datang, menikmati suasana seadanya.

Suasana Kamis malam kemarin lebih ramai dari biasanya. Parkir mobil sampai harus di luar. Ini artinya jumlah pengunjung bermobil lebih banyak dari biasanya. Rupanya penggemar jazz di Jabodetabek sudah mulai tahu ihwal Jajan Jazz ini. Makanya tidaklah heran cukup banyak penggemar dan penikmat jazz datang dari berbagai wilayah.

Meskipun suasana Taman Jajan sangat natural dengan aroma kaki lima, toh penikmat musik jazz bermobil, tetap datang. Apalagi anak-anak muda yang baru belajar musik. Pedagang kaki lima di Taman Jajan BSD pun ternyata mulai menikmati musik jazz.

Saya kira kita semua harus memberi apresiasi kepada penggagas Jajan Jazz, sahabat saya Yunus Arifin, warga Nusa Loka BSD. Penggemar jazz ini bersama kawan-kawannya menggelar Jajan Jazz di Taman Jajan, dengan maksud agar jazz bisa dinikmati semua kalangan, semua lapisan masyarakat. Biayanya? Untuk membuat panggung, mereka urunan. Sekarang ada yang menyumbang meminjam sound-system. Pengembang BSD pun sejak dua bulan lalu, membantu pembuatan panggung.

Jajan Jazz kini menjadi ikon baru jazz Indonesia. Memang ada pergelaran internasional Java Jazz dan Jakjazz di panggung yang wah. Tapi Jajan Jazz cukup di panggung sederhana di lokasi sederhana dikelilingi pedagang kaki lima. Tapi dari sinilah, bakat dan talenta baru jazz Indonesia masa depan, lahir.

FOTO-FOTO di blog ini suasana di Jajan Jazz. Salah satunya foto saya bersama Ireng Maulana.

Kolom Blog Adhi Ksp: Ocean Park (Usul ke Manajemen BSD)

Pengantar

Ketika menikmati aneka permainan air di Ocean Park BSD, terlintas ide: bagaimana jika Ocean Park tak sekadar pusat rekreasi, tetapi diperluas menjadi sarana pendidikan, memiliki akuarium raksasa, pemutaran film berkaitan tentang kehidupan di air?, diperluas memiliki tempat outbound anak dan orang dewasa, bahkan mempunyai hutan dan kebun binatang? Catatan ringan setelah bersantai di Ocean Park. (KSP)

Kolom Blog Adhi Ksp

Ocean Park (Usul ke Manajemen BSD)

Ocean Park, nama pusat rekreasi dan petualangan air (water adventure) yang berlokasi di kawasan BSD City, Tangerang, Banten. Dibuka menjelang liburan akhir tahun 2006 lalu, Ocean Park kemudian menjadi magnet baru di BSD.

Liburan panjang ini saya manfaatkan untuk menikmati Ocean Park, mulai dari sensasi kolam ombak (wave pool), kolam arus (lazy pool) sampai pada seluncuran (spiral race) yang mengasyikkan. Saya termasuk ribuan pengunjung yang memenuhi Ocean Park hari ini.

Sejak pagi, Ocean Park sudah penuh. Gila juga, pikir saya. Datang jam 08.00 pagi, ternyata halaman parkir sudah mulai penuh. Hingga siang hari, bus-bus pariwisata diparkir di halaman yang sudah disediakan. Halaman parkir penuh sesak. Saya sempat membaca nomor polisi, wah dari Semarang. Ada juga dari Bandung. Rupanya banyak warga daerah yang menikmati wisata air di Ocean Park BSD.

Saya sempat iseng bertanya pada seorang pengunjung dari Grogol, Jakarta Barat. Saya tanya sudah berapa kali datang ke Ocean Park, dan dijawab dua kali. Mengapa tidak ke Ancol? Bapak itu menjawab fasilitas rekreasi air di Ocean Park lebih lengkap dan arealnya lebih luas, serta lebih asyik.

Saya “terpaksa” berkenalan dengan bapak itu karena ketika saya sedang asyik menikmati suasana ombak sambil tiduran di ban, eh tiba-tiba ban bapak itu terbalik. Putrinya berpegangan pada ban saya, dan eh si bapak itu mengangkat putrinya “menumpang” ban saya. Tapi tak berapa lama, karena ombak yang tinggi, ban saya pun terbalik. Dan kami semua tercebur dalam air. Tapi tak apa. Setidaknya saya sudah membantu orang lain.

Favorit saya di Ocean Park memang kolam ombak. Saya bisa sampai tiga-empat kali bermain di kolam ombak, yang dimainkan setiap satu jam sekali itu. Bayangkan kita bisa tiduran dengan tenang di ban, ketika ombak tinggi hingga dua meter. Filosofinya, dalam keadaan badai dan ombak menerjang, saya bisa tenang dan santai. Mungkin itu yang dinamakan “menikmati hidup”. Seolah tak terjadi sesuatu. (Saya jadi ingat ketika saya meliput konflik etnis di Sambas, Kalimantan Barat, ketika menyaksikan pembantaian sadis, kok saya bisa tenang dan kuat pada waktu itu).

Selain menikmati kolam ombak, saya juga menikmati kolam arus. Saya tiduran di ban, mengelilingi kolam sepanjang 500 meter dalam waktu 20 menit. Asyik juga. Namanya juga pusat rekreasi air, dalam perjalanan sepanjang kolam arus itu, ada “kapal bajak laut”, putri duyung, kepiting, pesawat terbang, ikan lumba-lumba dan banyak lagi.

Di “spiral race”, waw, banyak juga yang antre, menikmati sensasi seluncuran berbelok-belok. Betul-betul petualangan air yang mengasyikkan, mendebarkan.

Di kolam anak-anak, jumlah pengunjung lebih ramai lagi. Favorit di sini, pengunjung senang disiram air dari ember raksasa. Ocean Park memang menyediakan lengkap, balita, anak-anak sampai orang dewasa. Pada hari Sabtu, Minggu dan Senin ini, jumlah pengunjung luar biasa banyak. Bisa sampai 18.000 orang!

Dalam blog ini, saya ingin menyampaikan usul kepada pengelola dan manajemen BSD, bagaimana jika Ocean Park “diperluas”? Maksud saya, bukan hanya sekadar rekreasi air, tetapi juga ditekankan juga pada sisi pendidikan. Misalnya, menyediakan akuarium raksasa, yang isinya beragam macam ikan dan binatang laut. Anak-anak akan makin paham tentang beragam jenis ikan. Mungkin juga perlu dibangun semacam teater, tempat pemutaran film khusus mengenai ikan, jenis-jenis binatang air.

Kalau ingin diperluas lagi, termasuk arealnya diperluas, mungkinkah di Ocean Park BSD dibangun pula semacam hutan buatan atau hutan beneran, di mana ada tempat untuk outbound anak-anak dan dewasa, tempat menginap (betul-betul rumah pohon, misalnya) yang mungkin menarik minat orang asing yang suka suasana alami. Bahkan, kalau dimungkinkan, diperluas dengan kebun binatang, yang dilengkapi dengan permainan lain yang menggetarkan.

Wah, saya bisa membayangkan Ocean Park BSD betul-betul menjadi destinasi wisata sesungguhnya. Tak hanya tingkat Jabodetabek dan Indonesia, tetapi bisa jadi berkelas dunia.

Terus terang, ide ini muncul ketika saya naik tangga menuju spiral race, dan melihat, wah masih banyak lahan kosong dengan pohon yang masih rindang di ujung sana. Kalau Ocean Park betul-betul diperluas, ini akan dapat menjadi ikon baru edutainment. Rekreasi ya, pendidikan juga ya.

FOTO di blog ini suasana di Ocean Park, Water Adventure di BSD City, Tangerang, Banten, oleh R. Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Kantor Bernuansa Pedesaan, Tonjolkan Suasana Alam

Pengantar
Mengapa banyak kantor memiliki konsep ruangan yang sama? Di German Centre, BSD Tangerang, ada kantor bernuansa pedesaan yang menonjolkan suasana alam. Namanya Sigma, perusahaan softare yang memberi layanan electronic data processing pada lebih 50-an bank.

KOMPAS
Jumat, 13 Jun 2003
Halaman: 35
Penulis: ksp

KANTOR BERNUANSA PEDESAAN, TONJOLKAN SUASANA ALAM

DESAIN kantor di gedung- gedung tinggi kerap mengacu pada standar
internasional. Steril, bersih, dan mengilap. Karyawan dikotak-
kotakkan pada satu meja dengan batas pemisah yang tegas. Sementara
pimpinan kantor memiliki ruangan tersendiri yang lebih luas dan mewah
dengan penjagaan keamanan berlapis.

Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang software, satu di antara banyak perusahaan yang menepikan hierarki atasan-bawahan. Perusahaan yang membuka kantornya di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, ini mengedepankan unsur alam pada desain kantornya yang asri.

Mereka yang baru kali pertama menginjakkan kaki di kantor seluas
2.000 meter persegi tersebut seakan tak percaya, sebuah kantor yang
berbasis teknologi canggih yang memberikan pelayanan electronic data
processing (EDP) pada hampir 50 bank, dengan kreatif memilih desain
bernuansa pedesaan Jawa Barat yang menonjolkan suasana alam.

“Dari sebuah desa, bisa ditemukan suasana kekeluargaan, gotong
royong, kemurnian, dan keluguan. Unsur-unsur ini penting untuk
dikembangkan menjadi semacam jiwa sebuah keluarga besar,” kata Eddy
Sugiri (51), Direktur Sigma, pekan lalu.

Pemilihan desain suasana pedesaan pada kantor ini dilakukan oleh
pimpinan, staf, dan karyawan melalui proses kreatif. Semua sepakat
perlunya kembali ke alam agar tercipta perasaan bebas dan damai, yang
pada gilirannya membuka keinginan berkontemplasi. Dari sini muncul
kesadaran yang membawa segenap karyawan menjadi lebih bernilai.
Filosofi inilah yang dikembangkan di Sigma.

Dengan desain interior kantor seperti ini, tak ada garis hierarki
atasan-bawahan yang menyolok. Setiap karyawan bebas menggunakan
komputer di meja mana saja untuk melakukan pekerjaan mereka.

“Siapa yang punya leadership, dia yang tampil di depan,” kata
Eddy Sugiri, yang mendirikan Sigma bersama saudara kandungnya, Totok
Sugiri (50). Kantor yang paperless, tidak menggunakan kertas, ini
mengutamakan komunikasi dengan web, menggunakan laptop, dan komputer.

Interior kantor yang khas seperti ini menghilangkan hambatan
karena karyawan bisa bertemu dan berkomunikasi dengan pimpinan kapan
saja. Tak ada kesan karyawan “menghadap” pimpinan yang berada di
ruangan tersendiri.

Desain suasana pedesaan Jawa Barat dengan musik tradisional
degung Sunda ini mencerminkan sifat kesederhanaan, tata krama yang
sopan, dan nilai kegotongroyongan. “Ini semua menjadi nilai tambah.
Suasana seperti ini membuat karyawan betah di kantor. Saya tidak
melihat karyawan yang bergegas membereskan meja dan buru-buru ingin
pulang,” kata Eddy, arsitek lulusan universitas di Aachen, Jerman.

Ada pertanyaan, apakah suasana kantor seperti ini membuat
karyawan mengantuk? “Kalau mengantuk, ya tidur saja asal pekerjaan
beres,” sahutnya. Eddy memilih desain pedesaan yang mengutamakan
unsur kayu, batu, batu bata, juga menghadirkan lampu tradisional dan
boboko.

Penggunaan bahan-bahan material lokal ini malah membuat biaya
lebih murah separuh dibandingkan dengan desain kantor pada umumnya.
Jika banyak perusahaan berpikir seperti dilakukan perusahaan ini,
dampaknya baik bagi ekonomi rakyat.

Satu hal yang unik adalah kantor ini memiliki kantin makanan, di
mana anggota keluarga pun bisa diajak makan bersama di kantin itu.
Harga makanan disubsidi perusahaan sehingga harganya relatif murah.

“Konsep ini sebenarnya ingin menonjolkan nilai-nilai keluarga
yang tak boleh hilang. Jika keluarga bahagia dan sejahtera,
produktivitas pun akan naik,” jelasnya.

Eddy Sugiri mengaku terinspirasi oleh desainer interior Erwin H
yang memperkenalkan desain perkantoran yang memiliki cluster
individual, namun memiliki kebebasan membawa akuarium dan kandang
burung. Dari sinilah inspirasi berkembang.

Eddy Sugiri dan adiknya, Totok Sugiri, yang berasal dari Bandung,
Jawa Barat, ini memiliki kerinduan akan suasana pedesaan dan
kerinduan itu diwujudkannya pada desain kantor mereka. Mereka membuat
terobosan baru dalam desain interior kantor. (KSP)

Foto: 3
Kompas/Robert Adhi KSP
1.SUSANA PEDESAAN DI KANTOR BERBASIS TEKNOLOGI CANGGIH – Kantor Sigma
yang berbasis teknologi canggih ini menonjolkan alam pedesaan di
kantornya. Tampak batu bata dan boboko yang menonjol.

2.KANTOR BERDESAIN PEDESAAN – Inilah dua ruangan di kantor yang
bersuasana pedesaan (atas dan bawah). Pemilihan desain suasana
pedesaan pada kantor ini dilakukan oleh pimpinan, staf, dan karyawan
melalui proses kreatif. Semua sepakat perlunya kembali ke alam agar
tercipta perasaan bebas dan damai, yang pada gilirannya membuka
keinginan berkontemplasi. Kompas/Robert Adhi ksp

LINK TERKAIT http://www.sigma.co.id

Shuttle Bus di Kawasan Perumahan Sangat Dibutuhkan

Pengantar
Buruknya kondisi transportasi di Indonesia, terutama dari kawasan permukiman menuju Jakarta dan sebaliknya, menyebabkan sejumlah pengusaha menangkap peluang itu dengan menyediakan shutlle bus. Peminatnya orang kantoran. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 11 Apr 2003
Halaman: 36
Penulis: adhi ksp, robert

“SHUTTLE BUS” DI KAWASAN PERUMAHAN SANGAT DIBUTUHKAN


BANYAKNYA pekerja kantoran yang tinggal di kawasan perumahan di
luar Kota Jakarta, membuat jarak antara kantor dan tempat tinggal
kini makin jauh. Sementara kondisi angkutan umum biasa belum banyak
berubah: masih berdesak-desakan, berimpit-impitan, dan rawan
kejahatan.

KONDISI ini membuat orang berpikir perlunya membeli mobil
pribadi, baik yang baru maupun yang bekas. Jumlah mobil pun terus
bertambah, sedangkan panjang jalan tak banyak berubah. Akibatnya,
kemacetan pun kian parah. Dalam situasi seperti ini, kehadiran
shuttle bus (bus terjadwal) semakin dibutuhkan, terutama oleh mereka
yang bekerja di perkantoran di Jakarta.

Pengembang yang menyadari pentingnya menyediakan bus- bus
terjadwal sebagai salah satu fasilitas bagi penghuni kawasan
perumahan adalah pengembang yang membangun perumahan Lippo Karawaci
dan yang membangun perumahan Bumi Serpong Damai (BSD) di Kabupaten
Tangerang. Dua pengembang besar ini menyadari pentingnya bus
terjadwal untuk mengangkut para penghuni yang umumnya pekerja
kantoran ke dan dari tempat kerja mereka di Jakarta.

Bus terjadwal BSD misalnya, disediakan pengembang sejak akhir
tahun 2000, bekerja sama dengan perusahaan bus PT Arimbi Jaya Agung.
Terminal bus terjadwal di Lippo Karawaci sudah lebih dulu ada, yaitu
sejak perumahan itu dibangun sepuluh tahun silam, dan dioperasikan
anak perusahaan di grup Lippo yang bergerak di bidang transportasi,
PT Dinamika Intertrans.

Sejak bus-bus terjadwal dioperasikan, kehadirannya sangat
ditunggu para pekerja kantoran. “Banyak penumpang bus terjadwal yang
kini memutuskan untuk tidak membawa mobil pribadi ke kantornya lagi,
dan beralih naik bus terjadwal ini. Dari rumah di kawasan BSD ke
terminal bus yang berlokasi di Sektor I, mereka bisa menempuhnya
dengan angkutan kota dan ojek,” kata Kepala Hubungan Masyarakat BSD,
Dhony Rahajoe, Selasa (8/4) siang.

Yang menarik, saking dibutuhkannya bus-bus terjadwal tersebut,
para penumpang pelanggan bus BSD-Jakarta patungan membelikan pulsa
telepon seluler untuk para sopir bus. Menurut Junaedi (30), salah
seorang pengemudi bus terjadwal BSD-Jakarta yang ditemui Kompas
sedang ngetem di terminal BSD pada Rabu siang, para penumpang sering
menghubungi para sopir bus untuk menanyakan posisi bus ada di
mana. “Pada umumnya para penumpang selalu mengucapkan
kalimat, Ætunggu saya, jangan ditinggal yaÆ, kepada kami para
sopir,” katanya.

Sopir-sopir bus terjadwal BSD-Jakarta pada umumnya sudah hafal
dengan para penumpang, termasuk nama dan tempat tinggal
mereka. “Hampir setiap hari kerja kami berjumpa dengan mereka. Jadi,
kami sudah hafal wajah para penumpang, yang sebagian besar pekerja
kantoran di Jakarta,” ungkap Junaedi yang menambahkan, para penumpang
yang naik bus terjadwal biasanya tertidur di dalam bus ber-AC
tersebut saat jam berangkat kerja.

Bus terjadwal BSD-Jakarta berangkat dari terminal di depan kolam
renang Griya Loka Sektor I BSD, lalu berhenti di halte Al-Azhar BSD,
halte Taman Perkantoran 2 di Sektor VI BSD. Setelah melewati gerbang
tol Kebon Nanas, bus ini melewati tol Tangerang-Jakarta, lalu di
simpang Tomang, berbelok ke kanan ke arah Slipi, selanjutnya ke arah
Semanggi, lalu Sudirman-Thamrin-Harmoni-Lapangan Banteng-Gambir dan
kembali lagi ke Harmoni dengan rute yang sama saat berangkat.

Di Jakarta, bus terjadwal BSD berhenti di sejumlah terminal,
yaitu Slipi-Gatot Subroto-Semanggi-Sudirman-MH Thamrin-Merdeka Barat-
Majapahit-Harmoni/Juanda-Jalan Pos-Lapangan Banteng-Pejambon-
Gambir/Merdeka Timur- Merdeka Utara. Setiap hari Senin sampai Sabtu,
bus terjadwal BSD berangkat paling pagi pukul 05.45 dengan prakiraan
tiba di Harmoni sekitar pukul 07.15. Adapun bus terakhir berangkat
dari Harmoni pukul 20.00 dan tiba di BSD diperkirakan pukul 21.30.

Halte kedatangan di BSD adalah halte kantor pemasaran BSD di Sektor
IV, halte Taman Giri Loka, dan halte terminal terakhir di depan kolam
renang Griya Loka.

Khusus pada hari Minggu dan hari libur nasional, bus terjadwal
BSD berangkat paling pagi pukul 07.00, sedangkan bus terakhir
berangkat dari Harmoni pukul 18.45. Mulai Senin 7 April, tarif bus
terjadwal BSD naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per penumpang.

Jumlah bus terjadwal BSD saat ini ada lima unit dan pada hari
Senin sampai Sabtu beroperasi sesuai jadwal setiap 15 menit sekali
mulai pukul 05.45 sampai 06.45. Setelah itu satu jam sekali antara
pukul 09.00 dan pukul 12.00. Lalu keberangkatan bus dari BSD selang
dua jam (14.00) dan satu setengah jam (15.30). Setelah itu selang
setengah jam sampai pukul 17.30, dan terakhir pukul 18.30 dari BSD.

Menurut Dhony Rahajoe, idealnya warga BSD tinggal dan bekerja di
BSD juga. Tapi cita- cita itu belum bisa terwujud, dan masih banyak
penghuni BSD yang bekerja di Jakarta sehingga fasilitas transportasi
bus yang nyaman ber-AC dan terjadwal sangat dibutuhkan.
***
PENGEMBANG yang lebih dulu menyadari pentingnya bus terjadwal
adalah yang membangun perumahan Lippo Karawaci, Tangerang. Menurut
Kepala Unit PT Dinamika Intertrans, yang mengelola transportasi
perumahan itu, Ambari Karim, kepada Kompas, Selasasiang, pihaknya
mengoperasikan sembilan unit bus berkapasitas antara 27 dan 40
penumpang mulai pukul 05.30 hingga pukul 21.30.

“Sebelumnya sampai pukul 22.30, tetapi karena jumlah penumpang
terlalu sedikit sehingga kami anggap kurang efektif. Dan sejak
Desember 2002, kami mengambil langkah efisiensi,” kata Ambari yang
ditemui di terminal bus terjadwal Lippo Karawaci.

Para penumpang bus Lippo Karawaci sebagian besar adalah para
penghuni perumahan tersebut, dan hanya sebagian kecil saja yang
tinggal di luar perumahan. “Kami sebetulnya tidak membatasi
penumpang, asalkan bisa membayar Rp 7.500 per orang,” katanya. Namun
di masa depan, pihaknya berencana mengeluarkan semacam smart card
sehingga penumpang tak perlu membayar tiket, tinggal menunjukkan
kartu pintar.

Lokasi terminal cukup strategis, di samping Matahari Supermal
Karawaci, sehingga menguntungkan pusat perbelanjaan terbesar di
Tangerang itu. Jumlah penumpang yang naik bus Lippo Karawaci setiap
hari rata-rata 1.500-an orang.

“Konsep kami adalah point to point, tidak ada yang berhenti di
halte di Tangerang dan Jakarta. Jadi dari terminal bus Lippo Karawaci
menuju terminal akhir,” jelasnya.

Ada empat rute menuju terminal akhir, yaitu Citra Graha di Jalan
Gatot Subroto (dekat perempatan Kuningan) yang berangkat 15 kali
mulai pukul 05.50 paling pagi dan terakhir pukul 21.30. Lalu dari
Lippo Karawaci ke Blok M (depan Lapangan Mabes Polri) berangkat 15
kali, mulai pukul 06.00 dan terakhir pukul 21.30. Bus yang ke Grogol
(melewati Mal Ciputra berbelok ke arah Terminal Grogol dan berhenti
di depan Kampus Universitas Trisakti dan melewati depan Kampus
Universitas Tarumanegara, lalu masuk tol Jakarta-Tangerang) berangkat
10 kali mulai pukul 06.10 dan terakhir pukul 18.35.

Adapun bus yang berangkat ke Kebon Jeruk (keluar gerbang tol
Kebon Jeruk, melewati Jalan Panjang, berputar di Hero Srengseng Sawah
dan masuk lagi tol Jakarta-Tangerang) berangkat tiga kali mulai pukul
06.40, 17.30, dan 19.00. Jam-jam keberangkatan dan rute-rute itu,
kata Ambari, sudah disesuaikan dengan penelitian, kapan bus banyak
penumpang.

Di areal perumahan Lippo Karawaci, perusahaan menyediakan 11 bus
berkapasitas 14 dan 27 orang yang terus-menerus di jalan utama sampai
ke jalan lingkungan di perumahan, khususnya di Kompleks Taman Elok,
Taman Bromo, Taman Imam Bonjol, dan Taman Ubud di perumahan Lippo
Karawaci. Sedangkan dari luar perumahan yang datang ke kawasan Lippo,
terutama ke Supermal Karawaci, sudah ada angkutan kota resmi dari
berbagai jurusan di wilayah Tangerang.

Demikianlah, keberadaan bus-bus terjadwal di perumahan yang sudah
menjadi kebutuhan utama para penghuni warga yang bekerja di kantor-
kantor di Jakarta. Kebutuhan ini dilihat oleh pengembang yang jeli.

Meski tak terlalu menguntungkan, tetapi investasi di sektor ini
membuat banyak warga tertarik membeli rumah, terutama warga perumahan
yang harus berangkat pagi dan pulang sore sesuai jam kantor.

Kehadiran bus-bus terjadwal ini setidaknya membantu warga
perumahan-yang tak perlu bersusah payah menunggu dan mengejar bus
umum karena sudah ada bus yang nyaman dan terjadwal. Juga warga tak
perlu lagi membawa mobil pribadi dari rumah ke kantor dan sebaliknya-
yang acapkali membuat pengendara mobil terjebak kemacetan di jalan
sehingga membuat orang “tua di jalan”. (ROBERT ADHI KSP)

Amrizal, Modal Awal Cuma Rp 120.000

Pengantar

Amrizal adalah contoh keuletan pedagang kaki lima. Bermodalkan uang Rp 120.000, pedagang makanan padang ini akhirnya sukses berjualan di pusat janan BSD Tangerang. Tulisan ini hanya ingin menegaskan bahwa keuletan dan kerja keras, kunci utama kesuksesan. (KSP)

KOMPAS

Senin, 08 May 2006

Halaman: 43

Penulis: ksp


Warung Makan
Amrizal, Modal Awal Cuma Rp 120.000

Jika Anda hanya punya uang Rp 120.000, apa yang dapat Anda
lakukan dengan modal sejumlah itu? Di tangan Amrizal (36), lelaki
kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, modal tersebut dibelikannya lima
liter beras, setengah kilogram ikan kembung, tiga ayam, satu kilogram
daging sapi, dan lima butir telur ayam.

Bersama istrinya, Amrizal mengolahnya menjadi masakan padang dan
dijual di kios kaki lima berukuran 2 x 2 m di Pusat Jajan Golden
Road, di seberang pusat perbelanjaan ITC Bumi Serpong Damai,
Tangerang. Hari pertama berjualan, 24 Januari 2005, ia memperoleh
pendapatan Rp 175.000 dari menjual nasi padang seharga Rp 5.000 per
porsi. Pada hari itu bahan bakunya masih tersisa, 20 potong daging
rendang.

Dalam waktu tiga bulan, omzet dagangan nasi padang yang dia beri
nama Ombak Muaro ini rata-rata Rp 600.000 per hari. Dan sejak ITC
dibuka pada Mei 2005, omzetnya naik lebih dua kali lipat, menjadi
rata-rata Rp 1,5 juta per hari! Hingga kini omzetnya tetap stabil
pada kisaran angka itu.

Sebelum membuka warung nasi padang, Amrizal dan istrinya pusing
tujuh keliling mencari pinjaman uang, mengingat rumah kontrakannya di
Serua Permai sudah harus dibayar, sedangkan tabungannya nol. Satu-
satunya hartanya adalah Honda GL 1995. “Tadinya mau saya gadaikan,
tapi tak ada yang mau memberi pinjaman,” tutur Amrizal, yang pernah
bekerja menjadi kernet dan sopir angkot di Pulo Gadung, Jakarta
Timur. Istrinya bahkan sempat menangis akibat sulitnya mencari
pinjaman.

Akhirnya, motor Honda GL itu laku dijual Rp 5 juta. Dari jumlah
itu, Amrizal dapat membayar rumah kontrakan Rp 2 juta setahun,
membeli etalase kios Rp 1 juta, dan perabotannya seharga Rp 380.000.
Ia masih memiliki sisa untuk pembayaran uang muka membeli motor Honda
Supra X Rp 1,5 juta. “Sisa Rp 120.000 itulah yang saya jadikan modal
awal membeli bahan baku makanan,” papar Amrizal kepada Kompas.

Dalam waktu 11 bulan sejak dia memulai usaha, pada Desember 2005
ia sudah mampu membeli mobil Toyota Kijang tahun 1988 seharga Rp 43
juta dari hasil berjualan nasi padang itu. “Saya punya target, dalam
satu bulan harus dapat menabung sedikitnya sepuluh juta rupiah,”
ungkapnya sambil tertawa riang.

Pernah kuliah
Lelaki yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu
Pendidikan Fakultas Olahraga di Padang tapi tidak tamat ini mengenang
masa-masa sulitnya. “Saya pernah jadi pengojek di Ciputat. Tetapi,
karena saya membawa Honda GL dan mungkin tampang saya seram, banyak
yang takut kalau menumpang ojek saya. Hanya pada saat-saat hujan
orang menggunakan jasa ojek saya,” kenang Amrizal, yang selama lima
bulan sempat menjadi pengojek.

Lalu dia punya tekad kuat untuk mengubah nasibnya. “Tuhan tak
akan mengubah nasib manusia jika kita tak mengubah nasib kita
sendiri,” ungkapnya. Berbekal kesabaran, keuletan, kerendahhatian,
Amrizal yang bermental baja ini pun memutar otak dan akhirnya
memutuskan untuk berdagang masakan padang, yang menjadi keahlian
turun-temurun keluarganya di Pariaman, Sumatera Barat.

Kini harga masakan padangnya Rp 7.000 per porsi, sudah termasuk
tambah nasi. “Yang sering dicari adalah ikan bakar karena racikan
bumbunya asli dari kampung saya di dekat laut,” tuturnya.

Amrizal selalu menegur sapa siapa saja yang lewat di pusat jajan
kaki lima itu, walaupun yang dipesan adalah makanan lain. Ia memberi
potongan harga Rp 1.000 untuk anggota satpam dan semua pedagang di
pusat jajan itu. Ia juga sering memberi insentif kepada orang yang
memesan makanan kepadanya. Selain itu, ia juga menerima layanan jasa
pesan-antar dalam radius 3 kilometer tanpa tambahan biaya. Ia rajin
mendatangi para pedagang toko emas dan telepon seluler di ITC, dan
mempromosikan masakannya.

Jika pada masa awalnya Amrizal dan istri harus membeli sendiri
semua bahan baku ke Pasar Ciputat, kini justru ada yang mengantarkan
semuanya ke rumahnya dengan harga diskon pula. “Sekarang saya tak
punya utang kepada siapa pun,” ungkap Amrizal yang berputra satu ini
dengan nada bangga.

Ia menambahkan, “Hidup ini merupakan ibadah. Apa pun yang kita
kerjakan adalah ibadah, karena itu harus dilakukan dengan ikhlas demi
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.” (ADHI KSP)

Foto: 1
Kompas/Adhi Kusumaputra
Amrizal, pedagang kaki lima yang menjual nasi padang bermodal awal Rp
120.000 ini memiliki omzet Rp 1,5 juta per hari. Kunci sukses
usahanya adalah rendah hati dan ulet. Sabtu (6/5)

Jajan Jazz Rayakan Ulang Tahun Pertama

Pengantar

Jajan Jazz sudah menjadi salah satu ikon jazz. Ini komunitas penggemar jazz yang setiap Kamis pekan pertama, manggung di Taman Jajan BSD, Tangerang, Banten. Hari Kamis 1 Maret, Jajan Jazz merayakan hari jadi pertama dengan tumpengan dan bagi-bagi kaos “Jajan Jazz Lover”. (KSP)

KOMPAS CYBER MEDIA

Kamis, 01 Maret 2007 – 23:57 wib

Jajan Jazz Rayakan Ulang Tahun Pertama

Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

TANGERANG, KOMPAS – Jajan Jazz, pertunjukan jazz yang digelar sebulan sekali di Taman Jajan BSD Tangerang, Kamis (1/3) ini merayakan hari jadi pertama. Dalam penampilan Kamis malam, Jajan Jazz menghadirkan musisi jazz senior dan yunior.

Penggagas Jajan Jazz BSD Yunus Arifin kepada Kompas Kamis malam mengatakan, pada ulang tahun pertama ini, digelar acara potong tumpeng dan bagi-bagi kaos.

Musisi jazz Jeffrey Tahalele mengatakan, yang istimewa pada Jajan Jazz malam ini hadir musisi jazz Belanda, Rick (keyboard) dari Grup Triba. “Rick datang bersama istrinya dari Hotel Sultan Jakarta datang ke Jajan Jazz BSD,” kata Jeffrey.

Grup jazz yang akan tampil di Java Jazz besok, Tiga Mawarni dan Triad, juga tampil di Jajan Jazz malam ini. “Jajan Jazz jadi ajang latihan tampil bagi musisi jazz kita,” katanya.

Jeffrey bersyukur Jajan Jazz bisa tampil rutin setiap Kamis pekan pertama di Taman Jajan berkat kesetiaan penggemar jazz. Hal senada diungkapkan musisi Abadi Soesman, yang berharap Jajan Jazz dapat melahirkan musisi jazz baru.

General Manager Corporate Communication Sinar Mas Group Real Estate and Property Dhony Rahajoe yang memberi sambutan menyampaikan rasa bangganya atas kreativitas warga BSD yang berhasil membangun komunitas jazz di BSD City. Jajan Jazz diselenggarakan secara konsisten setiap bulan, diisi oleh musisi pemula dan musisi legenda.

Penonton Jajan Jazz Kamis malam lebih ramai. “Mungkin bulan lalu, Jajan Jazz diserbu hujan sehingga kerinduan akan Jajan Jazz dilampiaskan malam ini,” kata Abadi Soesman.

FOTO di blog ini pertunjukan Jajan Jazz di Taman Jajan BSD, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS