Tag Archives: Adrian Maelite

Sahur Bersama dengan Warga Miskin

KOMPAS
Metropolitan
Kamis, 18 September 2008
Aksi Sosial

Suasana di bawah jembatan Tol Cilincing-Pluit, Jakarta Utara, pada Rabu (17/9) dini hari ramai. Ratusan warga di sekitar Jalan Kakap, Penjaringan, berkumpul, menunggu pembagian nasi kotak untuk makanan sahur.

Sejumlah artis dipimpin Donni Kusuma mengikuti acara ”Sahur on The Road” yang digelar grup Hotel Alexis dan melibatkan ratusan staf dan karyawan grup perusahaan milik pengusaha Alex Tirta itu.

Iring-iringan ratusan mobil dan motor berangkat dari halaman Hotel Alexis di Jakarta Utara. Rombongan kemudian singgah di Klub 36 di kawasan Kota. Di sana, sejumlah artis menyerahkan secara simbolis nasi kotak untuk sahur kepada masyarakat miskin yang tinggal di sekitar Klub 36.

Dengan dikawal polisi, rombongan ”Sahur on The Road” kemudian menuju kawasan Jembatan Tiga. Di depan pos polisi, masyarakat yang tinggal di bawah jembatan layang tol menerima bingkisan.

Pembagian bingkisan dilanjutkan di Jalan Kakap, masih di kolong jembatan Tol Cilincing-Pluit. ”Saya bersyukur ada yang peduli kepada warga miskin. Meski hanya nasi kotak, lumayan untuk makan sahur,” kata Ny Wati.

Setelah itu, rombongan kembali ke Hotel Alexis. Di sana, masyarakat sekitar hotel itu di Kelurahan Ancol Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, sudah menunggu. Acara hiburan digelar sampai saat sahur tiba.

Bermanfaat

Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan Indonesia Adrian Maelite mengatakan, kegiatan sosial yang dilakukan pengusaha Alex Tirta patut dipuji dan sangat bermanfaat. ”Sebaiknya pengusaha hiburan malam lain mengikuti langkah ini,” kata Adrian.

”Sahur on The Road” menghadirkan sejumlah artis Indonesia seperti Sammy ”Kerispatih” Simorangkir, Cici Tegal, Nani Wijaya, Gading Marten, dan Yadi Sembako.

”Berbagi sahur dengan masyarakat miskin merupakan kewajiban. Bagi kami, ini anugerah karena kami seolah memiliki induk semang,” kata Nani Wijaya.

Sammy dan Gading Marten, dua artis yang hadir, bukan Muslim, tetapi mereka mengaku gembira dilibatkan dalam aksi sosial yang positif itu. ”Kami menghormati dan menjunjung tinggi perbedaan agama,” kata Sammy dan Gading.

Alex Tirta, pengusaha dan pemilik sejumlah tempat hiburan malam yang menggelar ”Sahur on The Road”, mengatakan, aksi sosial ini adalah kali keenam. ”Kami ingin berbagi kepada sesama,” kata Alex.

Aksi sosial ini unik karena melibatkan ratusan staf dan karyawan tempat hiburan malam. Mereka diajak untuk mengasah kepekaan dan kepedulian dalam bulan suci Ramadhan ini. (KSP)


Mungkinkah Jakarta Belajar dari Malaysia?

Pengantar
Meskipun Malaysia negara Islam, namun pemerintah negeri jiran itu memberi izin pembangunan dan pengoperasian lokasi perjudian kelas dunia di Genting Highlands. Pemerintah melarang keras warga muslim Malaysia masuk lokasi kasino, tapi memberi kebebasan seluas-luasnya bagi orang asing yang akan menghabiskan uangnya di meja judi. Pajak yang diperoleh dari usaha itu digunakan untuk membangun negeri itu dan menyejahterakan rakyat. Di Jakarta, omzet dari meja judi sekitar Rp 200 miliar setiap hari, tapi uangnya entah masuk ke kantong siapa. (KSP)

KOMPAS
Jumat, 09 May 2003
Halaman: 19
Penulis: ksp

MUNGKINKAH JAKARTA BELAJAR DARI MALAYSIA?

SUDAH lama para penjudi asal Indonesia sering bermain di Genting
Highlands, Malaysia. Mereka datang ke kota wisata terpadu di puncak
gunung setinggi 1.800 meter itu, menginap di hotel berbintang,
sekaligus berbelanja di pusat perbelanjaan yang lengkap.

Kedatangan sekitar 70.000-an orang Indonesia ke Genting pada
tahun 2002 lalu tentunya menambah devisa bagi negeri jiran itu. Belum
termasuk mereka yang datang dari Singapura, Thailand, Cina, dan
Taiwan. Tentu kasino bukan satu-satunya tujuan mereka ke Genting
karena lokasi itu merupakan entertainment city yang menakjubkan.

Mengapa Pemerintah Malaysia melegalkan praktik perjudian di
Genting, padahal Malaysia adalah negara Islam? Deputi Direktur Divisi
Promosi Internasional Badan Pariwisata Malaysia Nor Aznan Sulaiman
mengatakan, pemerintah dan rakyat Malaysia memiliki satu visi ke
depan bahwa pajak yang diperoleh akan dapat menggerakkan roda ekonomi
dan membangun negeri sehingga pada gilirannya menyejahterakan rakyat.

“Memang benar Malaysia adalah negara Islam. Akan tetapi,
Pemerintah Malaysia tidak melarang warga bukan Islam untuk melakukan
kegiatan yang menjadi hak mereka. Pemerintah memperbolehkan warga
negara Malaysia keturunan Cina dan India untuk menjalankan ibadah
sesuai agama yang dianut dan mengekspresikan kebudayaan masing-
masing. Ini penting agar masyarakat internasional paham, Malaysia
bukanlah negara yang serba tertutup dan terlarang,” tandasnya.

Undang-undang untuk masyarakat Islam tetap dijalankan, namun hak-
hak rakyat non-Islam pun dihormati. Visi seperti inilah antara lain
yang membuat Malaysia kini maju dalam segala bidang.

Perjudian yang dilegalkan itu dibatasi hanya untuk masyarakat non-
Islam dan semua turis yang datang ke Genting. Di pintu masuk kasino
dipasang pengumuman yang menyebutkan bahwa sesuai undang-undang,
rakyat Malaysia yang beragama Islam dilarang masuk ke lokasi
perjudian.

“Pada umumnya, mereka mematuhi aturan tersebut. Akan tetapi,
kasino yang buka 24 jam itu terbuka untuk mereka yang bukan beragama
Islam,” kata Sulaiman. Dia tidak menyebutkan berapa jumlah uang yang
berputar di kasino itu setiap hari selama 24 jam dan berapa pajak
yang diperoleh pemerintah dari kasino-kasino tersebut.

Namun, dalam kata sambutannya dalam buku memoar Tan Sri Lim Goh
Tong-pendiri Genting Highlands- Perdana Menteri Malaysia Mahathir
Mohamad mengakui, usaha Lim Goh Tong berkembang dan mampu memperkuat ekonomi negara.

Di Indonesia, kegiatan perjudian dilarang melalui UU Nomor 7
Tahun 1974. Tetapi, untuk menyebut perjudian tidak ada, sulit juga
sebab faktanya memang ada dan berkesan kucing-kucingan dengan
petugas. Tak mungkin petugas berwenang tak tahu informasi tentang
perjudian.

Ali Sadikin ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta pernah
melegalkan perjudian dan mengambil pajaknya untuk membangun prasarana
dan sarana umum di Jakarta. Tetapi, setelah diprotes, perjudian
dilarang di bumi Indonesia. Namun, pada kenyataannya, praktik
perjudian tetap hidup meski tidak dilakukan terang-terangan. Oknum
petugas memanfaatkan perjudian ilegal dan “pajaknya” masuk ke kantong
pribadi oknum.


Sekjen Asosiasi Pengusaha Hiburan Indonesia (Aspehindo) Adrian
Maelite mengatakan, ada baiknya kita belajar dari Malaysia, bagaimana
mengelola perjudian dan pemerintah memperoleh pajaknya untuk membantu
pengentasan kemiskinan. Malaysia bahkan merupakan negara Islam.

Perjudian memang dilarang untuk mereka yang beragama Islam. Akan
tetapi, bagi mereka yang non-Muslim, bermain judi merupakan hal yang
sah-sah saja. “Ajaran Islam di mana saja sama. Masalahnya, mengapa
Malaysia bisa mengelola perjudian dan memanfaatkan pajaknya untuk
memperkuat ekonomi negara, sedangkan Indonesia tidak?” ungkap Maelite.

Persoalannya, kata Maelite, ada oknum-oknum tertentu yang
mempunyai kepentingan untuk tidak melegalkan perjudian. “Sebab, jika
perjudian dilegalkan, akan banyak orang yang kehilangan pendapatan.
Sebab, jika misalnya perjudian dilegalkan, pajaknya otomatis masuk
kas negara,” katanya.

Berapa sebenarnya jumlah uang yang berputar dari tempat-tempat
judi ilegal di Jakarta? Maelite yang pernah melakukan penelitian
tahun 2002 menyebutkan, omzet perjudian dalam satu hari di Jakarta
mencapai Rp 200 miliar!

“Kalau dari jumlah omzet itu sebanyak 30 persen pajaknya masuk
kas negara, jumlahnya sekitar Rp 60 miliar per hari,” ungkap Maelite.
Uang sebanyak itu bisa digunakan pemerintah untuk membantu
mengentaskan kemiskinan di Ibu Kota, juga bisa menanggulangi masalah
banjir di Jakarta. Di samping itu, Maelite melihat, jumlah tenaga
kerja yang bakal diserap dari sini sekitar 30.000-an orang.

Sekjen Aspehindo itu menilai, jika Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta setuju judi dilegalkan, lokasi yang paling tepat adalah resor
di sebuah pulau di gugusan Kepulauan Seribu. “Sembilan puluh lima
persen penjudi adalah warga negara Indonesia keturunan Cina. Dengan
lokalisasi perjudian ini, pemain judi otomatis sudah terseleksi,
hanya orang yang punya uang dan sudah biasa berjudi. Jadi, tak
mungkin rakyat kecil ikut berjudi di lokasi-lokasi judi yang jauh,”
kata Maelite. Pemerintah bukan hanya mendapatkan pajak dari
perjudian, tetapi juga dari restoran, hotel, dan tempat hiburan di
kawasan itu.

Ditambahkan, judi togel dan jenis perjudian lainnya yang banyak
diikuti masyarakat lapisan bawah harus dilarang karena membahayakan
masa depan bangsa. Akan tetapi, perjudian untuk kelas menengah atas
akan dapat menjaring penjudi-penjudi kelas kakap, dan dari pajak
inilah, pemerintah bisa meraup banyak uang untuk tambahan ke kas
negara. Mungkinkah kita belajar dari Malaysia? (KSP)

Foto:
Kompas/Robert Adhi KSP
INTERIOR MAL DI GENTING HIGHLANDS-Interior pusat perbelanjaan di
Genting Highlands, Malaysia, ini unik dan menarik. Mal terpadu dengan
enam hotel yang ada di kawasan wisata di puncak gunung setinggi 1.800
meter dari permukaan laut.