Otomotif: Suzuki Merah Putih Hijaukan Lereng Merapi


KOMPAS
Jumat, 12 September 2008

Otomotif

Barisan mobil merek Suzuki dari berbagai jenis dan tipe beriring-iringan menyusuri jalan mendaki di lereng Gunung Merapi. Hari Sabtu (30/8), sekitar 250 mobil merek Suzuki dari sembilan kota di Jawa bergabung bersama untuk satu acara, Suzuki Go Green. Sedikitnya seribu pohon ditanam di lereng Merapi, persisnya di Dusun Nganggring, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keluarga besar Suzuki se-Jawa selama dua hari melakukan konvoi bersama dalam acara yang diberi nama Suzuki Merah Putih. Rombongan dari Jakarta berangkat hari Jumat (29/8) dari Wisma Indomobil tepat pukul 08.10. Sekitar 25 mobil menyusuri Jalan Tol Jakarta-Cikampek, kemudian menembus ke Tol Cipularang dan melintasi jalur selatan Jawa Barat.

Mengendarai Suzuki Grand Vitara, kami menyusuri jalur selatan Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar yang kondisi jalannya beraspal mulus. Meskipun jalan berkelok-kelok, perjalanan tetap nyaman. Rombongan singgah di sebuah restoran makanan Sunda di Ciamis untuk makan siang. Suasana hijau di sekeliling rumah makan itu setidaknya memberi kesegaran baru.

Memasuki wilayah Jawa Tengah, klub Suzuki dari Purwokerto dan Cirebon bergabung. Konvoi pun makin panjang. Senja pun tiba ketika konvoi memasuki wilayah Kebumen. Memasuki wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, rombongan Suzuki dari Solo dan Semarang menyemarakkan suasana.

Semarak Suzuki Merah Putih terasa pada hari Sabtu ketika 250-an mobil merek Suzuki (Karimun, APV, Swift, Grand Vitara, SX4, New Baleno) menguasai jalan di seputar Yogyakarta. Iring-iringan mobil Suzuki diwarnai suara sirene kendaraan polisi pengawal, membuat Yogyakarta ”lautan” Suzuki.

Lereng Merapi, yang biasanya tenang, pada pagi itu diramaikan dengan konvoi Suzuki Merah Putih. Tentu saja ini bukan sekadar acara rame-rame tanpa makna. ”Pemberian seribu bibit pohon untuk ditanam di lereng Merapi ini mempunyai arti bahwa Suzuki peduli pada lingkungan hidup,” kata Direktur Pemasaran PT Indomobil Niaga International Endro Nugroho.

Seribu bibit pohon itu diserahkan Endro bersama tuan rumah acara Suzuki Merah Putih di Yogyakarta, Hendra Kurniawan, yang juga Presiden Direktur PT Sumberbaru Anekamotor, dealer utama Suzuki wilayah Yogyakarta. Bibit pohon itu secara simbolis diterima oleh Sambyah, penerima Kalpataru 2007.

Sambyah, pemimpin informal dalam kelompok tani dan ternak mandiri di Dusun Nganggring, Desa Girikerto, Sleman, berterima kasih atas kepedulian komunitas Suzuki atas lingkungan di lereng Merapi.

Sabtu malam, komunitas pengguna Suzuki menikmati makan malam bersama di kawasan Candi Prambanan di bawah terang bulan sambil menonton pertunjukan sepotong episode Hanoman Obong yang legendaris dan aneka hiburan lainnya. ”Ini bukti bahwa Suzuki peduli lingkungan dan konservasi budaya,” kata Ketua Panitia Penyelenggara Suzuki Merah Putih Bebin Djuana.

Pelihara komunitas

Acara Suzuki Merah Putih memang salah satu cara ATPM menjaga komunikasi dan tali silaturahmi dengan sejumlah komunitas pengguna Suzuki. Saat ini bermunculan komunitas pengguna Estillo, Karimun, APV, Swift, New Baleno, Grand Vitara, dan SX4. ”Kami tak ingin sekadar ngumpul-ngumpul tanpa arti. Kami ingin anggota komunitas melihat bahwa Suzuki peduli penghijauan di lereng Merapi dan konservasi budaya,” katanya.

Suzuki Merah Putih yang digelar kali keempat ini akan tetap diadakan setiap tahun. Langkah ini sangat efektif dalam memelihara langgengnya komunitas.

Suzuki dalam pasar otomotif Indonesia saat ini berada di posisi ketiga setelah Toyota dan Mitsubishi. Suzuki sesungguhnya mengincar posisi nomor dua. Namun, meledaknya pasar bioenergi menyebabkan industri kelapa sawit dan batu bara berjaya. Ini berdampak pada melonjaknya permintaan truk-truk Mitsubishi.

Meski demikian, Suzuki kini berhasil mengubah citra dari kendaraan angkot menjadi ken daraan kompak 1.500 cc. Beberapa tahun ke depan, Suzuki malah akan masuk ke pasar high-end dengan pasar menengah atas. Saat ini desain Suzuki pun berubah secara radikal, dari konsep angkot menjadi kendaraan berkelas dengan New Baleno, Swift, Grand Vitara, dan SX4. Desain Suzuki kini digarap oleh perusahaan desain otomotif terkemuka dari Italia.

Niat Suzuki menguasai pasar otomotif Indonesia diimbangi dengan langkah menggelar acara-acara bermanfaat yang bertujuan memelihara hubungan dengan komunitas-komunitas pemilik kendaraan Suzuki. Inilah cara efektif ATPM Suzuki menjaga komunikasi dengan konsumen dan pengguna. 
(R Adhi Kusumaputra)

foto di blog ini foto penanaman simbolis bibit pohon di lereng Merapi. foto oleh R Adhi Kusumaputra



Kolom Blog Adhi Ksp: Universitas Multimedia Nusantara dan Industri Kreatif

PENGANTAR
Grup Kompas Gramedia yang selama ini sukses dalam bisnis media (Kompas dan puluhan jenis media lainnya), penerbitan buku (Gramedia Pustaka Utama, Elex, Grasindo, BIP dll), toko buku (Gramedia), perhotelan (Santika) dan sejumlah bisnis lainnya, kini merambah ke bidang jasa pendidikan. Pada 5 September 2008, Kompas Gramedia membangun kampus Universitas Multimedia Nusantara. Bekerja sama dengan raksasa properti PT Summarecon Agung Tbk (yang sukses membangun dan mengembangkan kawasan Kelapa Gading dari “tempat jin buang anak” menjadi lokasi permukiman berkelas). Pak Jakob Oetama mengaku bangga dengan kampus UMN karena dari kampus inilah, diharapkan muncul lulusan yang mampu mendirikan industri kreatif yang menggerakkan ekonomi Indonesia. Dan siapa tahu, dari kampus UMN, lahir orang-orang seperti Bill Gates dan Steve Jobs? Siapa tahu? (KSP)

Kolom Blog Adhi Ksp

Universitas Multimedia Nusantara dan Industri Kreatif

HARI Jumat (5/9) pagi, saya menghadiri acara pemancangan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Kelurahan Curugsareng, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, yang masuk wilayah kawasan perumahan Summarecon Serpong di Gading Serpong.

Hadir pada pagi itu, pemilik Kompas Gramedia, Pak Jakob Oetama dan pemilik Summarecon Agung (yang sukses membangun kawasan Kelapa Gading dan kini Summarecon Serpong) Sutjipto Nagaria. Juga tampak CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Ketua Yayasan Multimedia Nusantara Teddy Surianto, Rektor UMN Yohanes Surya, Direktur PT Summarecon Sjarif Benjamin dan undangan lainnya.

Pak Jakob dalam sambutannya mengaku minder ketika masuk kawasan Gading Serpong, karena beliau membandingkan dengan Palmerah (kawasan kantor pusat Kompas Gramedia) yang saat dibangun disebut sebagai lokasi “jin buang anak”, sedangkan kawasan Gading Serpong itu disebutnya sebagai “tempat para malaikat memuji”. Kata-kata bersayap Pak Jakob itu menyiratkan kekagumannya pada wilayah berkembang seperti Gading Serpong.

Kampus UMN seluas delapan hektar itu akan dibangun dalam waktu satu tahun, dan dijadwalkan beroperasi pada September 2009. Mungkin tanggal 9 bulan 9 tahun 09. Lantai tertinggi pada gedung kampus UMN adalah lantai 9. Angka 8 dan 9 agaknya menjadi angka keramat yang diyakini membawa kesuksesan bagi UMN.

Tetapi di luar utak-atik angka itu, yang terpenting adalah Pak Jakob Oetama berharap UMN sebagai salah satu elemen penggerak industri kreatif, mempersiapkan tenaga berbakat tersebut menjadi trampil dan berdaya saing tinggi untuk berhasil dalam industri kreatif. UMN merancang kurukulum berorientasi kreatif dan kewirausahaan berikut sarana laboratorium yang baik di bidang ICT dan multimedia.

Pak Jakob mengatakan Indonesia memiliki potensi kekayaan seni budaya yang beragam sebagai pondasi tumbuhnya industri kreatif. Keragaman budaya ini merupakan bahan baku industri kreatif, munculnya aneka ragam kerajinan dan berbagai produk Indonesia, memunculkan juga berbagai bakat dari masyarakat Indonesia di bidang industri kreatif.

Nah, yang menarik adalah kuliah umum dari Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Mari menegaskan industri kreatif saat ini bagian penting perekonomian Indonesia. Kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu bagiannya. Industri kreatif harus terus dikembangkan agar dapat membantu mengurangi kemiskinan di negeri ini. Peranan perguruan tinggi sangat penting untuk mendukung suburnya industri kreatif di Tanah Air.

Menurut Mari Pangestu, bahan dasar industri kreatif adalah ide yang muncul dari pemikiran. Ide akan menjadi nilai tambah jika dimanfaatkan dan dilindungi hak ciptanya. Yang harus dikembangkan adalah bagaimana mengomersialisasi kreativitas agar memiliki nilai ekonomi, dan bagaimana kreativitas dapat menjadi sumber ekonomi.

Saat ini terdapat 14 subsektor industri kreatif di Indonesia, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, riset dan pengembangan, dan film, video dan fotografi.

Mengapa peduli industri kreatif
Mengapa kita harus peduli pada industri kreatif? Mari Pangestu mengatakan industri kreatif mampu mengangkat citra bangsa, sumber daya terbarukan dan menciptakan inovasi dan menjadi unggulan. “Pekerja industri kreatif pasti lebih happy dan biasanya memiliki penghasilan lebih besar dibandingkan pekerja lainnya,” ungkapnya.

Menurut Mari, kita perlu memiliki visi dan misi industri kreatif karena industri ini mampu meningkatkan kualitas hidup insan Indonesia, meningkatkan muatan lokal dalam semangat kontemporer, meningkatkan lapangan kerja. “Warisan budaya dapat dikemas dalam seni kontemporer agar tetap hidup dan berkembang. Misalnya wayang. Jika wayang hanya diperagakan dalam bahasa Jawa, wayang tak dipahami banyak orang, namun jika dikemas dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan kemasan kontemporer, wayang akan diminati,” ujarnya.


Kontribusi PDB industri kreatif Indonesia dalam tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB Nasional dengan nilai Rp 104,6 triliun. Sedang nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp 81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total nilai ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta orang. PDB industri kreatif menduduki peringkat ketujuh dari 10 lapangan usaha utama di Indonesia.
Peluang dalam industri kreatif, menurut Mari Pangestu, terjadinya perubahan perilaku konsumen dalam pasar berbasis teknologi. “Cara kita melakukan marketing saat ini berbeda dengan masa lalu akibat perkembangan teknologi dan kecanggihan peralatan yang dimiliki konsumen. Konsumen akan menghakimi produk melalui blog, dan ini di luar ‘way of marketing’. Perusahaan harus kreatif memanfaatkan blog. Di negara maju, bahasan produk tertentu di blog sudah berkembang,” ungkapnya.
Mari mengungkapkan, di masa lalu, pabrik memproduksi dalam jumlah besar. Kini, akibat dampak teknologi informasi, kita masuk dalam produksi nonmassal. Contohnya produk distro, distribution store, bisnis yang berkembang di tengah kelompok anak muda di Bandung. Modal bisnis ini adalah desain t-shirt dan dibuat dalam jumlah terbatas. Ternyata bisnis mereka berhasil, mendapatkan pembeli dari luar negeri, dan menjadikan Bandung kota kreatif.
Dalam dunia internasional, kata Mari, 60 persen pasar dihabiskan untuk industri kreatif. “Di Indonesia, kita harus menanamkan mindset dalam pendidikan. Peranan lembaga pendidikan seperti UMN yang mendalami teknologi informasi sangat besar untuk menanamkan mindset ini. Dari kampus ini diharapkan muncul penciptaan bari dari inovasi, seperti yang dilakukan i-pod,” ujarnya.
Keberpihakan lembaga pembiayaan pada industri kreatif. juga disorot. Tapi, seperti di negara maju, yang berperan adalah modal ventura. Nah, bagaimana dengan industri kreatif di Indonesia? Pangsa pasar masih terbuka lebar, bahkan sangat lebar. UMN diharapkan mampu mencetak lulusan yang bisa menciptakan industri-industri kreatif baru sekaligus menyediakan lapangan kerja. Semoga!

FOTO di blog ini foto ketika Presiden Komisaris Komas Gramedia Jakob Oetama menandatangani prasasti pemancangan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Multimedia Nusantara milik Kompas Gramedia di kawasan Perumahan Gading Serpong, Tangerang, Banten. Foto diambil 5 September 2008, oleh Robert Adhi Kusumaputra

Kolom Blog Adhi Ksp: Blog Kompasiana: Reformasi Birokrasi dan Filosofi Orkestra

Kolom Blog Adhi Ksp

Blog Kompasiana

Reformasi Birokrasi dan Filosofi Orkestra

ADA yang menarik di Balaikota DKI Jakarta hari Selasa (19/8) malam. Gubernur DKI Fauzi Bowo menghadirkan orkestra musik di Balai Agung. Di depan 60-an pimpinan Satuan Kerja Pelaksana Daerah, Fauzi Bowo ingin mengingatkan kepada para pembantunya bahwa memimpin organisasi besar seperti Pemprov DKI Jakarta itu layaknya memimpin orkestra musik.

Semua orang dalam orkestra memainkan peran masing-masing dengan baik. Jika salah satu saja bermain buruk, maka seluruh penampilan orkestra otomatis buruk.

Saat ini Fauzi Bowo diibaratkan sebagai konduktor yang memimpin orkestra raksasa bernama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebagai Gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat, Fauzi Bowo bertekad melakukan reformasi birokrasi. Fauzi ingin melakukan perubahan mendasar dalam pelayanan masyarakat. Untuk itu dia mengajak pimpinan SKPD dari kepala dinas sampai kepala biro, juga pimpinan BUMD DKI, untuk merenungkan filosofi sebuah orkestra.

Fauzi mengutip buku yang memuat pemikiran Alfred P Sloan, pendiri General Motors dan pakar manajemen dunia. Organisasi, swasta atau pemerintah, pasti dihadapkan pada perubahan yang konstan. Untuk itu, Fauzi meminta jajarannya siap menghadapi perubahan, bukan sekadar formalitas.

Demi perubahan, Pemprov DKI harus melakukan reformasi birokrasi. Fauzi mengajak para pimpinan SKPD untuk memiliki sikap yang pro-perubahan, yang dapat menjadi teladan bagi orang lain.

Apa yang dilakukan Fauzi Bowo dengan menghadirkan orkestra pimpinan Widya Kristanti di Balai Agung, Balaikota DKI, tentu memiliki makna filosofi yang mendalam. Bukan sekadar mendengarkan musik, tetapi ikut memahami bagaimana proses sebuah orkestra menampilkan pertunjukan musik yang indah.

Obsesi Fauzi sebagai Gubernur, dia ingin menjadi “konduktor” bagi orkestra bagi 80.000 pegawai Pemprov DKI Jakarta, yang mampu “memainkan musik indah” sesuai harapan masyarakat.

Persoalannya, apakah aparat birokrasi Pemprov DKI sudah siap berubah? Inilah soalnya. Layanan kependudukan seperti pembuatan KTP, masih menjadi “ladang” uang bagi oknum birokrat. Pedagang kaki lima yang menempati trotoar dan lokasi ilegal, acapkali sudah “membayar” ke oknum petugas Tramtib. Pungli-pungli dalam penerbitan perizinan, sudah menjadi semacam rahasia umum. Bahkan dalam urusan kematian pun, masih ada saja pungli.

Fauzi Bowo tentu tak ingin menjadi konduktor orkestra, di mana menampilkan pertunjukan musik yang amburadul. Dia ingin menjadi konduktor orkestra di mana para pemainnya yang berjumlah 80.000 orang dengan aneka peran, dapat menyajikan pertunjukan yang baik.

Tidak gampang memang mengelola 80.000 pegawai. Namun tak ada satu orang pun yang diabaikan. Ibarat sebuah arloji, bagian-bagian terkecil sekali pun harus berfungsi dengan baik agar jam itu berjalan semestinya, selalu tepat waktu. Lagi-lagi Fauzi memaknai fungsi arloji untuk analogi organisasi besarnya di Pemprov DKI. Pegawai kecil sekali pun, harus tetap dihargai karena mereka juga memainkan peran masing-masing.

Inilah cara Fauzi Bowo, “tukang insinyur” lulusan Jerman, memberi motivasi jajarannya. Siap menjadi “konduktor” orkestra Pemprov DKI, Pak?

Palmerah, Jakarta, 20 Agustus 2008

*) Catatan: Tulisan di blog ini juga dimuat di Blog Kompasiana http://adhikusumaputra.kompasiana.com

FOTO ILUSTRASI diambil dari http://orbitingfrog.com/blog/wp-content/uploads/2007/04/orchestra.jpg

Sudahkah Waktunya ERP Diterapkan di Jakarta?

KOMPAS

Sabtu, 30 Agustus 2008

TEROPONG

oleh R Adhi Kusumaputra

Jakarta makin macet. Hampir semua sudut jalan di Ibu Kota dipadati kendaraan bermotor. Dari 5,7 juta kendaraan yang ada di Jakarta, sebesar 98 persen merupakan kendaraan pribadi. Kalau tak ada aksi solusi, kemacetan di Jakarta dua-tiga tahun lagi akan stagnan, tak bergerak! Belum lagi dampak polusi udara yang merusak kesehatan. Sungguh mengerikan.

Sementara jumlah kendaraan baru setiap hari terus bertambah dengan pertumbuhan rata-rata 9 persen per tahun. Ironisnya, industri otomotif tak henti-hentinya mengeluarkan produk-produk terbaru dengan berbagai tipe dan jenis.

Catatan Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, dalam lima tahun terakhir ini di Jakarta setiap hari bertambah 1.127 kendaraan baru (236 mobil dan 891 motor). Jika digabung dengan Depok, Tangerang, dan Bekasi (tidak termasuk Bogor), jumlahnya menjadi 2.027 kendaraan baru (320 mobil dan 1.707 motor).

Persoalannya, mungkinkah jalan di Jakarta menampung jutaan kendaraan itu? Sebab, faktanya panjang jalan di DKI hanya 7.650 kilometer dengan luas jalan 40,1 kilometer persegi.
”Harus ada solusi yang dapat mengatasi keadaan ini dan tentunya bukan solusi tunggal,” kata Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Bambang Susantono, Kamis (28/8). Solusi yang dimaksud Bambang adalah kemungkinan Jakarta menerapkan konsep electronic road pricing (ERP) seperti yang telah dilakukan di banyak negara di dunia.

Bambang Susantono memberi gambaran, Jakarta merupakan kota yang paling siap menerapkan ERP. Kebijakan pembatasan kendaraan melalui kebijakan three in one atau satu mobil untuk tiga penumpang pada jam-jam sibuk pagi dan sore-malam hari di jalan-jalan protokol merupakan embrio bagi penerapan ERP.

”Saat 3 in 1, banyak pengemudi rela membayar joki di atas Rp 10.000. Ini artinya membayar uang sejumlah itu bukan masalah. Namun, berapa tarif ideal ERP di Jakarta, saya belum tahu,” kata Bambang.

Membatasi jumlah kendaraan
Apa yang disampaikan Bambang memang bukan sekadar mengumpulkan uang. Tujuan utama ERP sesungguhnya untuk membatasi jumlah kendaraan masuk ke jalan tertentu pada jam-jam sibuk. Jika ada kendaraan yang ingin melintas di sana, pengemudinya diwajibkan membayar sejumlah uang.

Uang yang diperoleh dari ERP kemudian digunakan untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur transportasi umum. Jika ini diterapkan di Jakarta, harus ada jaminan bahwa uang dari ERP betul-betul dikembalikan untuk pembangunan transportasi publik. Nah, siapa yang dapat menjamin hal itu? Selama tak ada jaminan soal ini, masyarakat akan mempertanyakan kebijakan ERP dan khawatir uang ERP akan dikorup.

Untuk itu, dibutuhkan institusi mandiri yang mengelola khusus ERP, seperti halnya Badan Layanan Umum Transjakarta mengelola bus transjakarta. Institusi ini harus diaudit secara transparan dan diketahui publik. Dari hasil sejumlah kajian disebutkan, dibutuhkan anggaran antara Rp 200 miliar dan Rp 1,2 triliun sebagai biaya infrastruktur ERP.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Mochammad Tauchid mengisyaratkan, penerapan ERP di Jakarta bakal dilaksanakan. ”Membangun jalan baru terus-menerus di Jakarta tak mungkin dilakukan. Harus ada cara mengatasi kemacetan lalu lintas di Jakarta. Harus ada kebijakan pembatasan kendaraan,” katanya.

Tauchid mengatakan, idealnya angkutan umum massal tersedia lebih dahulu baru ERP diterapkan. Namun, dia memberi contoh saat Singapura menerapkan pembatasan kendaraan tahun 1975, negeri itu belum memiliki MRT yang sempurna seperti sekarang. Demikian juga Stockholm, Swedia, saat memberlakukan ERP, kota itu belum memiliki angkutan umum massal yang nyaman.

Namun, apakah ERP sudah waktunya diterapkan di Jakarta? Pengamat transportasi Darmaningtyas mengingatkan pemerintah untuk menyediakan transportasi publik yang nyaman dan aman terlebih dahulu, baru kemudian menerapkan ERP. Jika ERP bertujuan membatasi jumlah kendaraan dan mengajak warga naik angkutan umum massal, sediakanlah transportasi perkotaan yang layak yang menjadi hak rakyat.

”Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sebaiknya menyelesaikan pembangunan 15 koridor bus transjakarta karena ini menjangkau hampir semua wilayah Jakarta,” kata Darmaningtyas. Saat ini baru tujuh koridor bus transjakarta yang beroperasi dan dalam waktu dekat bertambah tiga koridor.

Infrastruktur pendukung bus transjakarta yang belum tersedia, seperti bus pengumpan (feeder) dan lahan parkir (park and ride) di halte-halte bus transjakarta, sebaiknya segera direalisasikan agar fasilitas bus transjakarta makin sempurna. Penumpang yang baru turun dari satu halte punya pilihan akan naik kendaraan umum apa untuk melanjutkan perjalanannya.

Darmaningtyas juga menyoroti mubazirnya jaringan rel kereta api sepanjang 512 kilometer di Jakarta. Jaringan rel KA ini perlu direvitalisasi agar dapat dimanfaatkan sebagai alat transportasi massal yang layak. Banyak stasiun yang kusam, kotor, dan tak terawat. Aset-aset PT KA seakan disia-siakan, padahal itu semua berpotensi besar memberi kontribusi bagi layanan angkutan umum massal.

Penerapan ERP memang efektif mengurangi jumlah kendaraan. Andrew TW Pickford, penulis buku Road User Charging and Electronic Toll Collection, mengungkapkan, jumlah kendaraan di London berkurang 16 persen setelah ERP diterapkan di kota itu. Sementara di Stockholm, setelah diterapkan ERP antara pukul 07.00 dan 18.30, terdapat pengurangan jumlah kendaraan sebesar 36 persen.

Namun, Kepala Subdirektorat Penyidikan dan Rekayasa Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Chryshnanda mengingatkan, penerapan ERP bukan sekadar persoalan hitung-hitungan pengurangan jumlah kendaraan, melainkan ini juga masalah sosial dan politik. Pengambil kebijakan mesti memerhatikan berbagai aspek agar ERP tidak menjadi pemicu gejolak sosial.

Jangan sampai terkesan ERP hanya tambang uang bagi pemerintah daerah. Sebab, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pajak kendaraan bermotor selalu naik dan naik, tetapi hasilnya: fasilitas transportasi publik tetap buruk, banyak jalan rusak, dan belum ada angkutan umum massal yang dibanggakan seperti MRT.

Angkutan umum massal yang nyaman dan aman memang harus menjadi prioritas pemerintah. Menerapkan kebijakan ERP mungkin akan lebih mudah jika pemerintah sudah menyediakan angkutan umum massal, seperti KRL dan bus transjakarta yang melayani ke semua wilayah Jakarta serta Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, termasuk angkutan antarmodanya.

FOTO di blog ini foto suasana kemacetan lalu lintas di Jakarta, olh TOTOK WIJAYANTO/KOMPAS

Minum Air Gaya Eropa di Halte Bus Transjakarta

KOMPAS

Kamis, 28 Agustus 2008

Metropolitan

Anda pengguna bus transjakarta? Jika Anda haus dalam perjalanan, jangan khawatir. Bus transjakarta atau dikenal dengan sebutan ”busway” kini memiliki fasilitas baru: air siap minum di Halte Karet, Dukuh Atas, dan Kuningan Pasar Festival.

Tinggal tekan tombol, air keluar dari pipa kecil dan langsung dapat diminum. Pengguna bus transjakarta dapat melepas dahaga dengan air siap minum yang tersedia di halte bus itu.

Amankah air siap minum yang disediakan di halte bus transjakarta itu? ”Kami mengacu pada standardisasi peraturan Menteri Kesehatan tentang air bersih. Air siap minum ini sudah diuji di laboratorium Yamaha Water Purifier dengan standar ISO,” kata Presiden Direktur PT Yamaha Motor Nuansa Indonesia (YMNI) Hidetoshi Ohta saat meresmikan uji coba penggunaan air siap minum, Rabu (27/8).

Ohta menambahkan, Yamaha berdiri sejak 53 tahun lalu dan beroperasi di Indonesia selama 37 tahun. Yamaha Water Purifier yang merupakan anak perusahaan PT YMNI sudah 15 tahun beroperasi. Perusahaan ini di Indonesia sudah melayani ratusan perusahaan, hotel, dan pabrik di Indonesia.

Selama uji coba dalam dua bulan ke depan, semua peralatan air siap minum ini disediakan Yamaha secara gratis. Nilai peralatan per unit Rp 20 jutaan.

Dievaluasi
”Setelah dua bulan, hasilnya dievaluasi. Jika bermanfaat bagi masyarakat, ada kemungkinan kerja sama ini dilanjutkan,” kata Kepala Subdinas Teknik Lalu Lintas Jalan, Dinas Perhubungan DKI Jakarta, M Akbar.

Halte Karet, Dukuh Atas, dan Halte Kuningan yang dipilih karena pengguna bus transjakarta di tiga halte tersebut dianggap representatif.

Selain itu, di tiga lokasi ini terdapat sumber air tanah. Air itu diolah dengan teknologi Yamaha Water Purifier sampai layak dikonsumsi masyarakat.

Bagaimana dengan halte-halte lain yang air tanahnya sudah mengalami intrusi air laut? ”Air tanah yang tercemar air laut tetap bisa diolah, tetapi sistemnya berbeda,” kata Marketing General Manager PT YMNI Brilyan Sudjana.

Bagaimana dengan keamanan peralatan air siap minum ini? ”Tabung-tabung pengolah air disimpan di luar halte dan dikerangkeng,” kata Marketing Manager Sincere Store, Water Purifier Division, Sugeng.

Peralatan air siap minum disediakan di dalam halte. Agar tidak menjadi ”mainan”, petugas di halte bus transjakarta akan mengawasi setiap saat.

Memang, minum langsung air siap minum belum menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Kebiasaan semacam ini acapkali terlihat di sejumlah negara maju seperti Singapura, Jepang, dan negara-negara di Eropa.

Apakah fasilitas air siap minum ini bakal mubazir seperti yang acapkali terlihat di sejumlah tempat di Jakarta?

Manajer Operasional Sarana dan Prasarana Badan Layanan Umum Transjakarta Taufik Widianto berharap masyarakat pengguna bus transjakarta dapat memanfaatkan fasilitas publik ini dengan baik.

”Pada bulan Ramadhan nanti, fasilitas ini pasti bermanfaat bagi pengguna bus transjakarta yang akan berbuka puasa,” kata M Akbar.

Bus transjakarta sudah lima tahun beroperasi. Air siap minum salah satu fasilitas publik yang bermanfaat. Namun, fasilitas lain seperti lokasi parkir dan bus-bus pengumpan tetap perlu disediakan agar bus transjakarta betul-betul menjadi sarana transportasi umum yang diandalkan. (ADHI KSP)


FOTO di blog ini foto seorang pegguna bus transjakarta mencoba air siap minum di salah satu halte. Foto oleh WISNU WIDIANTORO/Kompas

Hobi: Mobil Antik, Makin Tua Makin Dicari

KOMPAS

Rabu, 27 Agustus 2008

Metropolitan

Siapa bilang mobil tua menjadi barang tak berguna? Di tangan para kolektor, mobil-mobil tua bisa menjadi mobil antik yang bernilai tinggi.

Itulah yang dilakukan kolektor seperti Stanley Atmadja yang memiliki sedikitnya 20 mobil antik. Tidak mudah memang membuat mobil tua menjadi mobil antik.

Stanley yang juga Ketua Umum Indonesia Classic Car Owners Club (ICCOC) ini membutuhkan waktu satu sampai dua tahun untuk memoles mobil tua agar betul-betul layak disebut mobil antik.

”Untuk mobil Eropa, saya harus memesan suku cadang mobil-mobil tua hingga ke Inggris,” kata Stanley dalam percakapan dengan Kompas di sela-sela Pameran Indonesia Classic Car Owners Club di Jakarta Convention Center, hari Jumat (22/8). Pameran ICCOC berlangsung tiga hari, 22-24 Agustus.

Sedikitnya seratus mobil antik milik 20 kolektor dipamerkan di sana. Mobil-mobil antik itu buatan Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris, yang diproduksi antara rentang waktu tahun 1930 dan 1980.

Stanley yang sehari-hari Chief Executive Officer (CEO) PT Adira Finance itu mengaku tertarik dengan mobil antik sejak tahun 1980-an. Mobil koleksinya sebagian produksi Eropa, Jepang, dan Amerika.

Hal senada disampaikan Sekjen ICCOC Robert Suhardiman, pengusaha batu bara dari Kalimantan Timur. Robert mengaku memiliki puluhan mobil antik dari berbagai jenis dan merek.

”Koleksi mobil antik di Indonesia lebih lengkap dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Koleksi Indonesia lebih lengkap,” kata Robert menjelaskan.

Pakar manajemen Hermawan Kartajaya yang datang ke pameran itu berpendapat, koleksi mobil-mobil antik ini menunjukkan kepada dunia bahwa orang Indonesia sesungguhnya memiliki peradaban yang tinggi.

Menurut Hermawan, jika ada bangsa yang mengoleksi benda-benda produk masa silam dan merawatnya dengan kasih sayang, berarti bangsa itu punya peradaban yang tinggi. (ksp)
FOTO di blog ini foto salah satu mobil antik dalam pameran Indonesia Classic Car Owners Club di Jakarta Convention Center, 22-24 Agustus 2008. Foto oleh KSP

Merindukan Oase yang Menyejukkan di Antara Hutan Beton Jakarta

KOMPAS

Selasa, 26 Agustus 2008

Metropolitan

Jakarta makin sesak oleh ”hutan beton”. Di mana-mana dibangun pusat perbelanjaan baru dan gedung-gedung tinggi. Tetapi di manakah gerangan taman kota dengan pepohonan hijau yang meneduhkan? Di manakah oase yang dapat menyejukkan warga kota?

Kota Jakarta seluas 650 kilometer persegi ini dihuni 12 juta jiwa pada siang hari. Kota ini disesaki 5,6 juta kendaraan pribadi dan hampir 90.000 kendaraan umum, yang lalu lalang setiap hari.

Bayangkan. Mengalami kemacetan tanpa henti dan menghadapi kesemrawutan lalu lintas setiap hari, sangat wajar jika banyak warga kota yang cepat marah dan naik darah. Di mana-mana, yang dibangun hanya gedung-gedung perkantoran, apartemen, dan pusat perbelanjaan baru.


Lahan hijau yang ada malah acapkali disulap menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum atau diokupasi warga pendatang untuk pemukim ilegal. Naifnya, warga di kawasan ini sengaja dipelihara sebagai ”lahan” ekonomi oknum instansi terkait.

Ruang terbuka hijau di Jakarta masih sangat kurang, masih sekitar 10 persen dari luas wilayah kota. Padahal mengacu kepada Undang-Undang Tata Ruang, Jakarta harus menyediakan 30 persen lahan untuk ruang terbuka hijau, yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Sudah banyak pemerintah kota di dunia yang berkomitmen membangun taman kota dan hutan kota. Kota Kuching di Sarawak, Malaysia, misalnya, sejak lebih dari 10 tahun silam, bertekad memiliki banyak taman kota agar dapat menyaingi Singapura sebagai kota taman.

Kota Shenzhen di China, yang diciptakan dalam waktu 20 tahun oleh rezim Deng Xiao Ping, tidak hanya dikepung oleh hutan beton sebagai simbol pembangunan, tetapi juga diimbangi dengan tumbuhnya taman-taman kota yang hijau dan menyejukkan.

Taman kota menjadi tempat warga bertemu muka, berolah raga, menghirup udara segar, ataupun sebagai tempat duduk-duduk santai. Namun, di manakah taman kota semacam ini dibangun di Jakarta?

Jumlahnya tidak banyak. Entah kenapa, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih suka mengeluarkan izin untuk pembangunan gedung-gedung jangkung, apartemen, atau kondominium, dan mal-mal baru.

Sulit
Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta Sarwo Handayani mengakui sulitnya mencari lahan untuk dijadikan ruang terbuka hijau di Jakarta. Selain berharap para pengembang properti menyediakan taman hijau di kawasan permukiman, Pemprov DKI akan mengembalikan fungsi lahan hijau yang kini digunakan untuk kepentingan lain.

Sarwo Handayani, mantan Kepala Dinas Pertamanan DKI, mengajak pula segenap warga kota untuk ”menghijaukan” atap dan dinding gedung-gedung jangkung agar pemandangan kota senantiasa hijau.

Kantor Wali Kota Fukuoka di Jepang, misalnya, ”dilapisi” tanaman hijau morning glory yang memperindah gedung itu. Atap dan dinding rumah warga di Fukuoka banyak dihijaukan.

Di Jabodetabek, Depok memiliki hutan kota Universitas Indonesia 100 hektar dan Bumi Perkemahan Cibubur 25 hektar. BSD di Serpong, Tangerang, memiliki dua taman kota masing-masing 2,5 hektar dan 9 hektar. Jakarta? Warga kota ini merindukan oase di antara hutan beton. (ADHI KSP)
FOTO diblog ini foto suasana Taman Kota 2 BSD, Serpong, Tangerang. Foto oleh KSP