Category Archives: Uncategorized

“Mamma Mia” dan Legenda ABBA

“Mamma Mia” dan Legenda ABBA

ANDA sudah menonton film “Mamma Mia”? Film drama komedi musikal ini dibuat berdasarkan lagu-lagu grup band asal Swedia, ABBA yang pernah populer tahun 1972-1982. Film garapan sutradara Phyllida Llyod ini menampilkan bintang Pierce Brosnan (sebagai Sam Carmichael), Merryl Streep (sebagai Donna Sheridan) Amanda Syefried (sebagai Sophie Sheridan), Stellan Skarsgard (Bill Anderson), Colin Firth (Harry Bright), dengan syuting di salah satu pulau nan indah di Yunani.

Dibesarkan di sebuah pulau di Yunani oleh seorang ibu (Donna) yang tak pernah mengatakan identitas sang ayah, seorang calon pengantin wanita (Sophie) mengundang tiga pria yang mungkin adalah ayahnya ke perkawinannya yaitu Sam Carmichael, Bill Anderson, dan Harry Bright. Siapa dari ketiga lelaki itu yang sesungguhnya ayah Sophie? Tentu saja lebih baik Anda simak sendiri film ini supaya lebih seru.

Dalam kolom ini, saya ingin mengulas sekilas tentang ABBA. Meskipun lagu-lagu ABBA dirilis 20-30 tahun silam, namun beberapa lagu grup band ini masih abadi seperti “Dancing Queen” dan “I Have a Dream”. Bagi mereka yang saat ini berusia 40-50 tahun, menonton film ini seperti bernostalgia. Sebab lagu-lagu ABBA populer saat mereka masih remaja. 

ABBA merupakan akronim dari nama-nama empat anggota grup ini yaitu Agnetha Faltskog,  Bjorn Ulvaeus, Benny Anderson, dan Anni-Frid Lyngstad. Faltskog dan Ulvaeus menikah, demikian pula Anderson-Lyngstad menjadi pasangan suami-istri. Kedua pasangan ini menggetarkan dunia selama kurun waktu sepuluh tahun dengan lagu-lagu berjenis rock, pop dan disko. 

ABBA grup band pop pertama dari daratan Eropa yang menikmati kesuksesan berkat lagu-lagu mereka selalu di tangga lagu teratas di Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Irlandia, Afrika Selatan, Australia, dan Selandia Baru.  ABBA adalah salah satu grup band di dunia yang berhasil menjual lebih dari 400 juta album di seantero dunia.

Tahun 1973, album pertama ABBA “Ring Ring” langsung memikat penggemar lagu di sejumlah negara di Eropa. Tahun 1974, single “Waterloo” berada di tangga lagu-lagu di banyak negara di Eropa. Di Inggris misalnya, “Waterloo” di peringkat 1, di Amerika Serikat  “Waterloo” meraih posisi ke-6 tangga lagu-lagu Billboard Hot 100. Sementara single lainnya “Honey, Honey” menggapai posisi ke-27 di AS dan masuk tiga besar lagu terpopuler di Jerman.

Januari 1976, lagu “Mamma Mia” masuk posisi nomor satu tangga lagu-lagu populer di Inggris, sementara lagu “SOS” masuk urutan ke-10 dalam tangga lagu-lagu Record World Top 100  dan posisi ke-15 tangga lagu Billboarad Hot 100. Lagu “SOS” termasuk salah satu lagu yang paling sering diputar dan dinyanyikan di Amerika pada tahun 1975.

Di Australia, video “I Do I Do I Do I Do I Do” dan “Mamma Mia” sangat populer pada tahun 1975. Kedua lagu itu pun berada di posisi pertama tangga lagu-lagu di negeri kanguru tersebut.

Lagu “Fernando” salah satu lagu dalam album “Greatest Hits” bertahan di urutan pertama tangga lagu di 12 negara di dunia. Bahkan di Australia, posisi nomor satu bertahan sampai 14 minggu, mendekati lagu “Hey Jude”-nya The Beatles yang juga bertahan berbulan-bulan lamanya. 

Lagu “Money, Money, Money”, :Knowing Me, Knowing You”, dan “Dancing Queen” dari album “Arrival” melesat tinggi. Grup band ABBA sangat, sangat populer di Inggris, sebagian besar negara-negara Eropa Barat dan Australia. 

Januari 1979, ABBA menampilkan “Chiquitita” dalam konser musik UNICEF yang digelar di Sidang Umum PBB untuk memperingati Tahun Anak Internasional. Single itu langsung berada di urutan satu tangga lagu-lagu di 10 negara. Lagu lainnya “Does Your Mother Know”, “Voulez-Vous”. “I Have a Dream”, “Gimme Gimme Gimme” tetap menjadi lagu-lagu hits di sejumlah negara.

Perceraian kedua pasangan ini agaknya mempengaruhi penampilan grup ABBA. Keempat anggota band ini muncul terakhir kali sebagai ABBA pada Desember 1982. Setelah itu, mereka seakan menghilang dari peredaran. 

Sampai akhirnya pada 4 Juli 2008, keempatnya berkumpul kembali, mengadakan reuni saat premiere film “Mamma Mia” di Swedia. “Kami tak akan pernah muncul di panggung bersama-sama lagi,” kata Ulvaeus kepada The Sunday Telegraph. “Tak ada motivasi buat kami untuk berkumpul lagi. Uang bukanlah faktor utama. Biarlah orang mengenang kami seperti apa adanya,” kata Ulvaeus. 

Setelah lebih 30 tahun, lagu-lagu ABBA kini hadir kembali. Album soundstrack Mamma Mia kembali diburu orang, bahkan kini berada di urutan pertama tangga lagu Billboard di Amerika pada Agustus 2008. Sungguh luar biasa, legenda ABBA. 

Serpong, 28 September 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Apa Arti Sukses bagi Anda?

Kolom Blog Adhi Ksp

Apa Arti Sukses Bagi Anda?

Kita sukses apabila kita sampai pada pencapaian tertinggi apa pun dalam diri kita – ketika kita memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Kesuksesan adalah suatu proses, bukan hasil akhir. Kehidupan tidak menuntut kita untuk selalu berada di puncak. Yang diharapkan adalah bahwa kita mengerjakan yang terbaik sesuai dengan tingkat pengalaman kita. (Hal Urban)

Apa artinya menjadi sukses bagi Anda, kita? Bagi sebagian orang, sukses mungkin identik dengan memiliki mobil mewah, jabatan dan memiliki banyak uang. Definisi sukses seperti ini sebetulnya hal yang semu. Sebab banyak orang yang menganggap diri “sukses” dengan memegang definisi itu, malah ternyata koruptor. Contoh ini dapat kita lihat dari sejumlah pejabat yang diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Gelimangan uang yang dimiliki, ternyata hasil korup.

Definisi “sukses” sesungguhnya bukanlah memiliki harta atau tahta. Dr Hal Urban, doktor psikologi dari Universitas San Francisco dan Universitas Stanford Amerika Serikat dalam bukunya yang mengguncang dunia, yang bertajuk Life’s Greatest Lessons: 20 Things That Matter menulis ihwal apa yang dilakukan oleh orang-orang sukses dalam beberapa wilayah terpenting kehidupan.

Pertama, orang-orang sukses menerima kehidupan apa adanya, dengan segala kesulitan dan tantangannya. Mereka tidak mengeluh melainkan beradaptasi dengan keadaan. Daripada menyalahkan situasi atau berdalih, mereka menerima tanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri. Mereka mengatakan “ya” kepada kehidupan meskipun ada unsur-unsur negatifnya dan mengupayakan yang terbaik, apa pun situasinya.

Kedua, orang-orang sukses mengembangkan dan mempertahankan sikap positif terhadap kehidupan. Mereka mencari hal yang baik dalam diri orang lain dan dunia, dan tampaknya mereka selalu menemukannya. Mereka melihat kehidupan sebagai serangkaian kesempatan dan kemungkinan, dan mereka selalu mengeksplorasi kesempatan dan kemungkinan tersebut.

Ketiga, orang-orang sukses membina hubungan baik. Mereka peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain. Mereka penuh tenggang rasa dan penuh hormat terhadap orang lain. Mereka punya cara untuk menampilkan sesuatu yang terbaik dari diri orang lain.

Keempat, orang-orang sukses mempunyai orientasi arah dan tujuan. Mereka tahu kemana tujuan mereka, menetapkan sasaran, mencapainya dan kemudian menetapkan sasaran baru. Mereka menerima dan menikmati tantangan-tantangan.

Kelima, orang-orang sukses mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar tentang kehidupan, dunia dan diri mereka sendiri. Mereka melihat proses belajar sebagai suatu kegembiraan, bukan beban. Mereka terus-meneris memperkaya kehidupan mereka dengan mempelajari hal-hal baru dan menyempurnakan diri mereka. Orang-orang sukses selalu menemukan hal-hal baru dan mengembangkan diri.

Keenam, orang-orang sukses adalah orang-orang yang selalu melakukan tindakan. Mereka selalu menyelesaikan masalah karena mereka tidak takut kerja keras, dan mereka tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka melakukan tindakan dengan cara membangun. Mereka tidak terjebak dalam rutinitas ataupun bosan karena mereka terlalu sibuk mencari pengalaman-pengalaman baru.

Ketujuh, orang-orang sukses selalu memelihara standar tinggi dalam perilaku personalnya. Mereka tahu kejujuran adalah bahan dasar utama bagi karakter seseorang yang baik. Mereka secara konsisten berlaku jujur, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial mereka.

Kedelapan, orang-orang sukses menghasilkan yang terbaik dalam kehidupan mereka. Mereka menuai apa yang mereka tanam dan mereka menikmati kehidupan mereka seutuhnya.

Saya sengaja mengutip buku Hal Urban dalam blog ini. Saya sependapat dengan apa yang disampaikannya. Sikap dasar saya dalam memandang kehidupan adalah mengembangkan dan mempertahankan sikap positif, mencari hal yang baik dalam diri orang lain dan saya selalu menemukannya.

Menjadi jurnalis, menjelajahi banyak tempat di pelosok Indonesia dan mancanegara, dan menulis berbagai pengalaman dan perjalanan itu merupakan berkah bagi saya. Jika Anda bertanya, apakah saya sukses menjadi jurnalis? Bagi saya, yang terpenting adalah saya bersyukur dan mencintai pekerjaan sebagai jurnalis. Itulah definisi sukses, menurut pendapat saya. Setiap hari saya menikmati pekerjaan ini, prosesnya dan hasilnya. Dan seorang jurnalis selalu dilihat dari karya-karya, tulisannya.

Biarkan kita menjadi segala sesuatu yang sesuai dengan kemampuan yang diberikan pada saat kita diciptakan (Thomas Carlyle)

Serpong, 13 Oktober 2007

Tol Serpong-Jakarta Km 8.800 Terendam Banjir

KOMPAS CYBER MEDIA

Jumat, 02 Februari 2007 – 12:25 wib

Tol BSD-Bintaro Km 8.800 Terendam Banjir

Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

TANGERANG, KOMPAS — Jalan tol BSD-Bintaro di Km 8.800 sepanjang 200 meter terendam banjir setinggi lebih dari ban mobil. Puluhan mobil tersendat menunggu air surut. Menurut petugas tol yang mengatur lalu lintas, genangan air di jalan tol itu mulai terjadi Kamis malam, namun mulai meninggi sejak Jumat pukul 09.00.

Pengamatan Kompas di lokasi, sebuah truk tampak mogok, sementara puluhan mobil lainnya menunggu air surut. Sebagian lainnya tetap nekat melintasi banjir setinggi lebih satu ban mobil itu. Sebagian lagi memilih memutar arah.
Di Km 8.800 hingga Km 8.600 itu letak jalan tol agak di bawah.

Dampak dari banjir di jalan tol, muncul anak-anak dan remaja warga setempat yang menawarkan memandu mobil yang tetap melintasi jalan tol yang terkena banjir itu. Yang unik, banyak warga setempat memanfaatkan genangan air di tepi jalan tol itu dengan memancing.

KOMPAS
Teropong
Kamis, 18 Mei 2006


Pendidikan di Depok
Biaya Sekolah Gratis Butuh
Kemauan Politik

Kota Depok berambisi menggratiskan pendidikan dasar. Siswa sekolah dasar negeri (SDN) mulai tahun ajaran 2006/2007 tak perlu lagi membayar biaya SPP setiap bulan karena akan ditutup dengan dana bantuan operasional sekolah yang dikucurkan pemerintah pusat dan sisanya ditutup oleh Pemerintah Kota Depok.

Kemauan politik (political will) Pemerintah Kota (Pemkot) Depok memerhatikan masalah pendidikan dasar selayaknya didukung oleh siapa saja. Nur Mahmudi Ismail yang baru tiga bulan menjabat Wali Kota Depok ini menyadari betul bahwa anak-anak harus bersekolah agar tak ada yang buta aksara lagi di wilayah pinggiran Jakarta ini. Jangan sampai ada keluarga yang mengeluhkan tak ada biaya untuk menyekolahkan anak- anaknya di SD negeri mana pun di Depok.

Menurut catatan Badan Perencana Daerah Depok, angka putus sekolah untuk tingkat SD/MI tahun 2004 sebanyak 302 siswa, tingkat SMP/MTs sebanyak 154 siswa, dan tingkat SMA/MA sebanyak 198 siswa. Angka tidak mampu baca tulis di Kota Depok tercatat 2,84 persen dari jumlah penduduk atau 30.922 orang.

Kebijakan menggratiskan biaya pendidikan dasar serta meringankan biaya pendidikan menengah, sedikit banyak mengacu pada pengalaman Nur Mahmudi ketika duduk di bangku SMA. “Ibu saya harus merengek- rengek kepada kepala sekolah agar meringankan biaya SPP. Kepala sekolah akhirnya memberi keringanan. Ibu saya membayar separuhnya. Ini saya ingat betul,” ungkap Nur Mahmudi belum lama ini.

Pada tahun 2006/2007 mendatang, 21.000 siswa SDN yang digratiskan dan pada tahun berikutnya terus bertambah. Jumlah SDN di Depok tercatat 284 dengan 102.000 siswa. Yang dimaksud SDN gratis adalah orangtua murid tidak dikenai iuran karena biaya investasi dan bantuan fisik sekolah ditanggung pemerintah. Biaya operasional sekolah (BOS) dari APBN sudah turun. Kekurangannya ditutup oleh Pemkot Depok.

Kepala Dinas Pendidikan Depok Sriyamto memberi contoh, di sebuah SDN setelah ada dana BOS Rp 19.500 untuk tiap siswa, masih ada biaya Rp 10.500 per siswa. “Biaya inilah yang ditanggung Pemkot,” katanya. Untuk keperluan ini, Pemkot Depok menyediakan anggaran Rp 16 miliar per tahun. Kebijakan ini akan dimulai tahun ajaran 2006/2007 bulan Juli mendatang. “Kami utamakan berlaku untuk sekolah dasar negeri yang secara ekonomi kemampuan orangtuanya rendah,” katanya.

Niat untuk tidak membebani orangtua siswa sudah dimulai dengan larangan bagi semua pengelola SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, mengutip biaya ujian siswa kelas VI SD dan kelas III SMP tahun 2006 ini. “Tidak ada alasan untuk memungut biaya ujian sebab sudah ada dana BOS. Sekolah dengan manajemen bagus akan dapat mengalokasikan dana dengan baik. Sekolah yang sudah memungut biaya ujian sebaiknya dikembalikan,” tandas Nur Mahmudi Ismail, pekan lalu.

Bahkan mulai tahun ajaran 2007/2008 mendatang, Pemkot Depok melarang semua sekolah, SD hingga SMA, memungut dana sumbangan pendidikan (DSP) atau yang dikenal sebagai uang gedung.

Selama ini beban orangtua sudah cukup berat, terutama dari masyarakat yang kurang dan tidak mampu. Meski belum ada berita ada anak keluarga tak mampu terpaksa drop-out, namun banyaknya biaya ini-itu membuat orangtua pusing memikirkan biaya pendidikan.

Untuk itu, pengelola sekolah diingatkan agar disiplin menaati Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). “Jika pengelola sekolah pandai mengatur keuangan, termasuk dana BOS, tidak perlu ada pungutan-pungutan seperti biaya ujian dan uang gedung,” kata Sriyamto.

Sebelumnya memang ada keluhan sejumlah kepala sekolah yang merasa berat jika dilarang mengutip biaya ujian. Namun, diingatkan lagi, yang paling penting adalah perencanaan dan pengelolaan keuangan yang benar. Yang perlu ditekankan dari kebijakan ini adalah filosofinya. Nur Mahmudi tidak ingin ada pemborosan yang tidak perlu, termasuk di dunia pendidikan.

Kemauan politik
Kemauan politik pemerintah memang salah satu kunci membenahi masalah pendidikan. Tahun anggaran ini disediakan dana Rp 81,63 miliar untuk menuntaskan wajib belajar sembilan tahun (SD hingga SMP). Sebagian besar digunakan untuk rehabilitasi sekolah yang rusak dan pembangunan ruang kelas baru (RKB) selama tiga tahun ke depan.

Dari jumlah itu, Pemkot Depok mengalokasikan 20 persen APBD, selebihnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat 30 persen, dan pemerintah pusat 50 persen.

Wakil Ketua DPRD Depok Amri Yusra menyampaikan dukungan atas rencana pemkot menggratiskan pendidikan dasar di wilayah ini. Bentuk dukungan akan diwujudkan dalam pembahasan APBD, yang anggarannya sebagian dikucurkan untuk kepentingan dunia pendidikan.

Anggota DPRD Dedy Martoni dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang membidangi masalah pendidikan mengingatkan Wali Kota Nur Mahmudi untuk “membereskan” pungutan dan kutipan yang membebani orangtua siswa maupun sekolah. Salah satu contoh yang dikemukakan Dedy adalah kutipan oleh oknum petugas Dinas Pendidikan Depok yang melakukan akreditasi sekolah. Tentu masih banyak persoalan lain yang membutuhkan perhatian Dinas Pendidikan dan Wali Kota Depok.

Komitmen Wali Kota Nur Mahmudi Ismail menggratiskan pendidikan dasar dan meringankan biaya pendidikan menengah di Kota Depok merupakan angin segar bagi dunia pendidikan. Karena itu, kita tunggu realisasinya. (R Adhi Kusumaputra)

KOMPAS
Jawa Tengah
Selasa, 24 Januari 2006


GABRIELLA, LOSARI
DAN CINTA JAWA TENGAH

Keindahan Jawa Tengah membuat Gabriella Teggia (63) jatuh cinta pada daerah ini. Lihatlah, alamnya nan hijau dan permai, kebudayaannya yang beragam dan eksotik, serta orang Jawa yang ramah.

Perempuan Italia itu menemukan ini semua ketika tahun 1965, ia kali pertama ke Indonesia dan berkeliling Jawa. “Saya sangat beruntung mengenal Jawa (Tengah) dan Jogja. Saya ke Keraton Jogja dan Solo, sampai mengenal petani di desa-desa. Mereka sangat hangat dan ramah,” kata Gabriella dalam percakapan dengan Kompas di Losari Coffee Plantation Resort & Spa di Kabupaten Magelang, Senin (23/1).

Saat kali pertama menjelajahi desa-desa di Jawa Tengah, ia masih bisa menemukan pergelaran wayang kulit dengan mudah. “Sayang, sekarang makin sedikit pergelaran wayang kulit di desa,” ujarnya. Di desa-desa di Jawa, kata Gabriella, orang masih punya waktu dan ruang.

Inilah kemewahan yang sesungguhnya, the real luxury. Ini tidak terlihat di kota-kota besar yang serbasibuk dan serbacepat. “Di sinilah letak keindahan desa-desa di Jawa,” ungkapnya. Menurutnya, orang kota melawan prinsip hidup.

“Mereka jarang jalan kaki, hanya duduk di ruang ber-AC. Itu bisa jadi penyakit,” jelasnya. Menghirup udara segar setiap hari di daerah dengan ketinggian 900 meter di atas permukaan laut tanpa polusi udara, berjalan kaki sedikitnya 10 kilometer setiap hari, meneguk jamu tiga kali sehari, dan menyantap makanan sehat tanpa bahan kimia, menjadi kegiatannya sehari-hari.

Karena itu, tidaklah heran jika Gabriella masih tampak segar dan enerjik. Pemilik Losari Coffee Plantation Resort & Spa ini masih sering mengecek sendiri ke lapangan ihwal pekerjaan stafnya. Perempuan kelahiran Roma, Italia, ini memang masih tampak sehat dan segar. Rupanya doktor biologi Universitas Roma yang mengambil spesialisasi gizi ini menerapkan hidup sehat tanpa bahan kimia.

“Saya tidak makan gorengan, hanya sayur dan ikan. Beras yang dipilih pun beras merah,” katanya. Mengacu dari itu semua, Gabriella membuat konsep resort di pedesaan. Di resort yang didominasi alam pedesaan dengan view delapan gunung ini, tamu bisa menelusuri kebun kopi, singgah di warung sambil meneguk kopi, minum jamu.

Namun, tamu yang datang tetap mendapatkan fasilitas modern berstandar internasional. Misalnya, menikmati spa Hamam Turki dengan ramuan tradisional Jawa. Saat awal membangun resort ini, ia dan suaminya Pietro, membangun resort dengan arsitektur rumah khas Jawa, melibatkan penduduk desa setempat. “Sebanyak 60 persen karyawan Losari penduduk desa sekitar.

Karena itulah tempat ini selalu aman karena mereka punya sense of belonging,” kata Gabriella, yang juga mengajak warga desa ikut kegiatan seni dan budaya seperti menari Jawa, membatik, main gamelan, yang diadakan rutin di Losari, bersama tamu. Air kolam renang diambil dari air sungai bawah tanah, 200 meter dari lokasi. Ini bagus untuk kesehatan kulit.

Ia juga tidak membeli selai ataupun cokelat dari luar negeri. “Kalau bisa dibuat sendiri di sini, mengapa harus membeli mahal?” tanyanya. Punya potensi besar Pemilik resort seluas 22 hektar ini mengatakan sebenarnya Jawa Tengah punya potensi besar menjadi daerah tujuan wisata utama bila digarap maksimal.

“Saya heran, mengapa investor lebih suka menanamkan modalnya di Bali, padahal di sana sudah banyak resort. Saya imbau pemilik uang untuk melirik Jawa Tengah,” katanya. Gabriella tak habis pikir mengapa Jawa Tengah kalah dari Bali. Mengapa Kota
Lama Semarang tak bisa berkembang? Mengapa pemilik uang selalu membangun hotel di tengah kota dan takut bikin resort di desa?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Gabriella penasaran hingga kini. “Percayalah, membangun resort di desa seperti Losari ini tetap bisa untung. Itu bukan lagu urusan kapan bisa titik impas, tapi how you love to do,” ujarnya.

Gabriella membantah keras ketika disebutkan ada kesan Losari sangat mahal. “Itu persepsi yang salah. Dengan paket Rp 300.000, tamu bisa menjelajah kebun kopi, makan siang atau makan malam, dan menikmati spa tanpa harus menginap,” jelasnya.

Dibandingkan hotel berbintang lima di kota besar, kata Gabriella, menginap di Losari dalam suasana alam pedesaan “tidak mahal” karena di tempat seperti ini banyak orang kota mencari keseimbangan hidup. Ia berharap tamu Losari 60 persen wisatawan nusantara, sisanya wisatawan mancanegara.

Gabriella, nenek dari empat cucu, ibu dari tiga anak ini mengaku hatinya tetap di Jawa Tengah. Perempuan Italia dengan rambut putih dan gemar membaca buku travelling dan sejarah ini sudah telanjur jatuh cinta pada Jawa Tengah yang indah dan eksotis.
(robert adhi kusumaputra)

KOMPAS
Metropolitan
Kamis, 27 April 2006

Berambisi Jadi Kota Niaga dan Jasa

R Adhi Kusumaputra

Kota Depok kini bukan lagi sekadar tempat tidur, “asrama” bagi mereka yang bekerja di Jakarta dan Bogor, tetapi sudah menjadi sasaran investasi. Kota seluas 200,29 km2 dengan penduduk 1,3 juta orang ini berambisi menjadi kota niaga dan jasa. Namun sayangnya, belum diimbangi dengan infrastruktur kota yang memadai.

Di masa lalu, pada pertengahan tahun 1970-an, jika orang menyebut Depok, konotasinya adalah kota tempat tinggal dengan proyek percontohan perumnas yang dinilai sukses. Ribuan unit rumah perumnas dibangun di daerah ini. Tahun 1987, setelah Universitas Indonesia (UI) memindahkan kampusnya dari Salemba ke Depok, daerah ini mulai menggeliat.

Usaha kos-kosan menjamur di sekitar kampus, termasuk usaha pendukungnya seperti toko kelontong, warung makanan, usaha fotokopi, wartel, dan warnet. Di Jalan Margonda Raya, salah satu jalan utama di kota ini, puluhan warnet berdiri dan rata- rata selalu penuh. Beberapa di antaranya buka 24 jam.

Setelah Depok berubah status dari kota administratif menjadi kota otonom baru sejak 27 April 1999, wilayah penyangga DKI Jakarta ini makin berkembang pesat. Selama tujuh tahun terakhir ini, jumlah penduduk naik dua kali lipat, dari 800.000-an orang pada tahun 1999 menjadi 1,3 juta lebih pada 2006. Tiga kecamatan yang sebelumnya masuk Kabupaten Bogor, yaitu Sawangan, Limo, dan Cimanggis, masuk teritorial Depok sehingga kota ini memiliki enam kecamatan. Tiga kecamatan lainnya adalah Pancoran Mas, Beji, dan Sukmajaya.

Laju pertumbuhan ekonomi Kota Depok 2004 tercatat 6,44 persen, sedangkan PDRB Depok berdasarkan harga berlaku tahun yang sama Rp 4,85 juta.

Lebih dari 75 persen warga Depok tinggal di kompleks perumahan dengan jumlah 85 lebih pengembang. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Depok (2004), 42,76 persen warga Depok memiliki rumah dengan luas lantai 50-99 m2, 16,3 persen dengan luas lantai 100-149 m2, dan 16,62 persen di atas 150 m2.

Kemudahan transportasi kereta api (KA) Jakarta, Depok, Bogor merupakan salah satu alasan mengapa begitu banyak kaum pekerja kelas menengah memilih Depok sebagai tempat tinggal. Dari lima stasiun KA (Pondok Cina, Depok Baru, Depok Lama, UI, dan Citayam), PT KA memperoleh pendapatan dari karcis terjual sepanjang tahun 2005 senilai Rp 29,7 miliar.

Terminal Kota Depok di Jalan Margonda Raya, yang semula diperuntukkan sebagai terminal tipe C, kini makin kewalahan. Terminal itu sudah tak sanggup lagi menampung ribuan angkutan umum. Terminal itu tak hanya melayani 3.260 angkutan kota dari 18 trayek, tetapi juga ratusan angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP).

Kepala Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Depok Ety Suharyati mengakui ribuan angkutan umum itu memberi kontribusi bagi kemacetan di Jalan Margonda Raya dan jalan-jalan di seputar Depok. Sudah ada rencana memindahkan terminal ke Jatijajar dengan kapasitas lebih besar agar beban Jalan Margonda tidak terlalu berat.

Perkembangan Depok sebagai kota otonom makin kentara setelah rencana pembangunan dua jalan tol diumumkan pemerintah. Pemburu tanah dan pengembang swasta melirik daerah yang akan dilalui jalan tol itu. Di Kecamatan Limo, misalnya, belasan pengembang membangun perumahan dengan embel-embel nama Cinere. Namun umumnya para pengembang itu lupa memikirkan infrastruktur kota. Ini menyebabkan Jalan Raya Meruyung-Limo-Cinere sepanjang 10 km, yang sempit dan sebagian dibiarkan rusak itu, kian sesak dan padat.

Demikian halnya dengan kondisi Jalan Margonda Raya yang makin padat pada jam sibuk pagi dan sore atau malam hari, apalagi pada akhir pekan dan hari libur. Dua tahun terakhir ini, tiga pusat perbelanjaan besar dibangun, yaitu ITC Depok yang dikelola Grup Sinarmas, Depok Town Square (Detos) yang dikelola PT Lippo Karawaci, dan Margo City Square (PT Puri Dibya Property/Grup Djarum). Investasi miliaran rupiah yang ditanam investor dengan nama besar itu seakan ingin mengukuhkan Depok sudah berubah menjadi kawasan emas.

Kota niaga dan jasa
Dalam dua puluh tahun ke depan, Depok berambisi mewujudkan diri sebagai kota niaga dan jasa. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Depok Herman Hidayat optimistis Jalan Tol Pangeran Antasari-Citayam-Bojonggede sepanjang 22 km dan Jalan Tol Cinere-Cimanggis-Jagorawi sepanjang 14,5 km akan memacu pertumbuhan kota di berbagai sektor, terutama perdagangan dan jasa. Rencana dua jalan tol itu hingga kini masih dibahas pemerintah dan menelan biaya triliunan rupiah yang bakal dikucurkan konsorsium investor swasta.

Dua jalan tol itu rencananya dibangun serentak setelah pembebasan lahan dimulai tahun ini, Jika dua tol itu rampung dan beroperasi empat hingga lima tahun ke depan, kawasan usaha di Depok akan tersebar merata, tidak hanya di seputar Jalan Margonda dan kawasan Cinere.

Kawasan terbangun di Depok tahun 2000 tercatat 46,18 persen, sisanya ruang terbuka hijau. Tahun 2005, kawasan terbangun menjadi 49,45 persen, dan pada tahun 2010 diproyeksikan menjadi 53 persen. Ini berarti Depok masih mempertahankan wilayah sebagai daerah resapan air, mengingat di sini terdapat 25 situ yang luasnya 168,22 ha.

Ambisi mewujudkan Depok sebagai kota niaga dan kota jasa, tidak lagi kota permukiman dan kota pendidikan, dicanangkan Wali Kota Nur Mahmudi Ismail dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang bulan April ini.

Bappeda Depok merancang sembilan pusat pertumbuhan niaga dan jasa, meliputi kawasan Margonda, Tapos, Cimanggis, Bojongsari, Rangkapan Jaya Baru, Cisalak, Citayam, Sawangan, dan Cinere.
Industri ramah lingkungan akan dikembangkan di daerah Pengasinan dan Pasir Putih, sedangkan sentra budaya dan industri lokal dikembangkan di Cipayung, Cipayung Jaya, dan Bojong Pondokterong.

Sentra industri tanaman hias, ikan hias, dan belimbing dikembangkan di Sawangan, sedangkan industri pengolahan dan jasa di Cimanggis, Limo, dan Cipayung Jaya.

Jika daerah-daerah itu tumbuh, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok akan dapat menggali pendapatan asli daerah (PAD) lebih banyak lagi. Tahun 1999, PAD Depok sekitar Rp 11 miliar dan pada tahun 2006 ini menjadi Rp 65,1 miliar.

Sumbangan terbesar PAD Depok yaitu dari pajak daerah (55 persen) dan retribusi daerah (37 persen). Nilai PAD Depok 9 persen dari nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Depok 2006 sebesar Rp 581,3 miliar.

Depok agaknya belum memanfaatkan potensi yang ada. Saat ini jumlah bank tercatat 22, sebagian besar bank swasta nasional. Jumlah hotel dan penginapan (2005) “hanya” 14 dengan jumlah kurang dari 200 kamar. “Padahal melihat suasana alam yang asri dan hijau, Depok sangat ideal memiliki hotel atau resor tempat berlibur bagi keluarga,” kata Kepala Bidang Infrastruktur dan Ekonomi Bappeda Depok Dadang Wihana, Jumat (21/4).

Catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Depok, jumlah perusahaan dagang barang dan jasa sesuai izin yang diterbitkan tahun 2004 sebanyak 791, dengan rincian 568 usaha kecil, 148 usaha menengah, 42 usaha besar, dan 33 usaha cabang. Jumlah ini diperkirakan bertambah pada tahun mendatang jika Pemkot Depok memberi layanan yang baik bagi investor dengan iklim usaha kondusif. Depok kini menyiapkan layanan satu atap (one stop service) yang berlaku dua tahun mendatang.

Infrastruktur tak memadai
Yang menjadi persoalan, ambisi menjadi kota niaga dan jasa ini belum ditunjang infrastruktur kota yang memadai. Sekitar 70 persen jalan di Depok rusak dan sempit, 40 persen di antaranya rusak berat. Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Oka Barmara mengatakan, infrastruktur yang buruk ini akibat di masa lalu Depok tidak direncanakan sebagai kota metropolitan.

“Awalnya Depok hanya kota kecamatan sehingga infrastrukturnya tidak didesain sebagai pendukung kota metropolitan,” kata Oka. Sejauh pengamatan Kompas, Jalan Raya Meruyung- Limo-Cinere saat ini masih sempit dan dibiarkan rusak. Padahal, puluhan pengembang membangun rumah di kawasan itu.

Demikian pula Jalan H Asmawi Beji-Kukusan yang cukup untuk dua mobil berlawanan arah, padahal daerah itu padat permukiman dan berdiri ratusan tempat usaha di kiri kanan jalan.

Selama tujuh tahun Kota Depok berdiri, pembangunan infrastruktur jalan baru dapat dihitung dengan jari, yaitu Jalan Arteri Ir Juanda (4 km), jalan tembus Sentosa ke Jalan Juanda (1 km), Jalan Harjamukti-Pondok Rangon (1,7 km), Jalan Pasir Putih Sawangan (2 km), dan Jalan Cepit Sukmajaya (2 km). Sementara pertumbuhan jumlah penduduk 3,5 persen per tahun dan jumlah kendaraan bermotor 30 persen per tahun.