Kolom Blog Adhi Ksp: Universitas Multimedia Nusantara dan Industri Kreatif

PENGANTAR
Grup Kompas Gramedia yang selama ini sukses dalam bisnis media (Kompas dan puluhan jenis media lainnya), penerbitan buku (Gramedia Pustaka Utama, Elex, Grasindo, BIP dll), toko buku (Gramedia), perhotelan (Santika) dan sejumlah bisnis lainnya, kini merambah ke bidang jasa pendidikan. Pada 5 September 2008, Kompas Gramedia membangun kampus Universitas Multimedia Nusantara. Bekerja sama dengan raksasa properti PT Summarecon Agung Tbk (yang sukses membangun dan mengembangkan kawasan Kelapa Gading dari “tempat jin buang anak” menjadi lokasi permukiman berkelas). Pak Jakob Oetama mengaku bangga dengan kampus UMN karena dari kampus inilah, diharapkan muncul lulusan yang mampu mendirikan industri kreatif yang menggerakkan ekonomi Indonesia. Dan siapa tahu, dari kampus UMN, lahir orang-orang seperti Bill Gates dan Steve Jobs? Siapa tahu? (KSP)

Kolom Blog Adhi Ksp

Universitas Multimedia Nusantara dan Industri Kreatif

HARI Jumat (5/9) pagi, saya menghadiri acara pemancangan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Kelurahan Curugsareng, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, yang masuk wilayah kawasan perumahan Summarecon Serpong di Gading Serpong.

Hadir pada pagi itu, pemilik Kompas Gramedia, Pak Jakob Oetama dan pemilik Summarecon Agung (yang sukses membangun kawasan Kelapa Gading dan kini Summarecon Serpong) Sutjipto Nagaria. Juga tampak CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Ketua Yayasan Multimedia Nusantara Teddy Surianto, Rektor UMN Yohanes Surya, Direktur PT Summarecon Sjarif Benjamin dan undangan lainnya.

Pak Jakob dalam sambutannya mengaku minder ketika masuk kawasan Gading Serpong, karena beliau membandingkan dengan Palmerah (kawasan kantor pusat Kompas Gramedia) yang saat dibangun disebut sebagai lokasi “jin buang anak”, sedangkan kawasan Gading Serpong itu disebutnya sebagai “tempat para malaikat memuji”. Kata-kata bersayap Pak Jakob itu menyiratkan kekagumannya pada wilayah berkembang seperti Gading Serpong.

Kampus UMN seluas delapan hektar itu akan dibangun dalam waktu satu tahun, dan dijadwalkan beroperasi pada September 2009. Mungkin tanggal 9 bulan 9 tahun 09. Lantai tertinggi pada gedung kampus UMN adalah lantai 9. Angka 8 dan 9 agaknya menjadi angka keramat yang diyakini membawa kesuksesan bagi UMN.

Tetapi di luar utak-atik angka itu, yang terpenting adalah Pak Jakob Oetama berharap UMN sebagai salah satu elemen penggerak industri kreatif, mempersiapkan tenaga berbakat tersebut menjadi trampil dan berdaya saing tinggi untuk berhasil dalam industri kreatif. UMN merancang kurukulum berorientasi kreatif dan kewirausahaan berikut sarana laboratorium yang baik di bidang ICT dan multimedia.

Pak Jakob mengatakan Indonesia memiliki potensi kekayaan seni budaya yang beragam sebagai pondasi tumbuhnya industri kreatif. Keragaman budaya ini merupakan bahan baku industri kreatif, munculnya aneka ragam kerajinan dan berbagai produk Indonesia, memunculkan juga berbagai bakat dari masyarakat Indonesia di bidang industri kreatif.

Nah, yang menarik adalah kuliah umum dari Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Mari menegaskan industri kreatif saat ini bagian penting perekonomian Indonesia. Kreativitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu bagiannya. Industri kreatif harus terus dikembangkan agar dapat membantu mengurangi kemiskinan di negeri ini. Peranan perguruan tinggi sangat penting untuk mendukung suburnya industri kreatif di Tanah Air.

Menurut Mari Pangestu, bahan dasar industri kreatif adalah ide yang muncul dari pemikiran. Ide akan menjadi nilai tambah jika dimanfaatkan dan dilindungi hak ciptanya. Yang harus dikembangkan adalah bagaimana mengomersialisasi kreativitas agar memiliki nilai ekonomi, dan bagaimana kreativitas dapat menjadi sumber ekonomi.

Saat ini terdapat 14 subsektor industri kreatif di Indonesia, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, riset dan pengembangan, dan film, video dan fotografi.

Mengapa peduli industri kreatif
Mengapa kita harus peduli pada industri kreatif? Mari Pangestu mengatakan industri kreatif mampu mengangkat citra bangsa, sumber daya terbarukan dan menciptakan inovasi dan menjadi unggulan. “Pekerja industri kreatif pasti lebih happy dan biasanya memiliki penghasilan lebih besar dibandingkan pekerja lainnya,” ungkapnya.

Menurut Mari, kita perlu memiliki visi dan misi industri kreatif karena industri ini mampu meningkatkan kualitas hidup insan Indonesia, meningkatkan muatan lokal dalam semangat kontemporer, meningkatkan lapangan kerja. “Warisan budaya dapat dikemas dalam seni kontemporer agar tetap hidup dan berkembang. Misalnya wayang. Jika wayang hanya diperagakan dalam bahasa Jawa, wayang tak dipahami banyak orang, namun jika dikemas dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan kemasan kontemporer, wayang akan diminati,” ujarnya.


Kontribusi PDB industri kreatif Indonesia dalam tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB Nasional dengan nilai Rp 104,6 triliun. Sedang nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp 81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total nilai ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta orang. PDB industri kreatif menduduki peringkat ketujuh dari 10 lapangan usaha utama di Indonesia.
Peluang dalam industri kreatif, menurut Mari Pangestu, terjadinya perubahan perilaku konsumen dalam pasar berbasis teknologi. “Cara kita melakukan marketing saat ini berbeda dengan masa lalu akibat perkembangan teknologi dan kecanggihan peralatan yang dimiliki konsumen. Konsumen akan menghakimi produk melalui blog, dan ini di luar ‘way of marketing’. Perusahaan harus kreatif memanfaatkan blog. Di negara maju, bahasan produk tertentu di blog sudah berkembang,” ungkapnya.
Mari mengungkapkan, di masa lalu, pabrik memproduksi dalam jumlah besar. Kini, akibat dampak teknologi informasi, kita masuk dalam produksi nonmassal. Contohnya produk distro, distribution store, bisnis yang berkembang di tengah kelompok anak muda di Bandung. Modal bisnis ini adalah desain t-shirt dan dibuat dalam jumlah terbatas. Ternyata bisnis mereka berhasil, mendapatkan pembeli dari luar negeri, dan menjadikan Bandung kota kreatif.
Dalam dunia internasional, kata Mari, 60 persen pasar dihabiskan untuk industri kreatif. “Di Indonesia, kita harus menanamkan mindset dalam pendidikan. Peranan lembaga pendidikan seperti UMN yang mendalami teknologi informasi sangat besar untuk menanamkan mindset ini. Dari kampus ini diharapkan muncul penciptaan bari dari inovasi, seperti yang dilakukan i-pod,” ujarnya.
Keberpihakan lembaga pembiayaan pada industri kreatif. juga disorot. Tapi, seperti di negara maju, yang berperan adalah modal ventura. Nah, bagaimana dengan industri kreatif di Indonesia? Pangsa pasar masih terbuka lebar, bahkan sangat lebar. UMN diharapkan mampu mencetak lulusan yang bisa menciptakan industri-industri kreatif baru sekaligus menyediakan lapangan kerja. Semoga!

FOTO di blog ini foto ketika Presiden Komisaris Komas Gramedia Jakob Oetama menandatangani prasasti pemancangan tiang pertama pembangunan kampus Universitas Multimedia Nusantara milik Kompas Gramedia di kawasan Perumahan Gading Serpong, Tangerang, Banten. Foto diambil 5 September 2008, oleh Robert Adhi Kusumaputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s