Merindukan Oase yang Menyejukkan di Antara Hutan Beton Jakarta

KOMPAS

Selasa, 26 Agustus 2008

Metropolitan

Jakarta makin sesak oleh ”hutan beton”. Di mana-mana dibangun pusat perbelanjaan baru dan gedung-gedung tinggi. Tetapi di manakah gerangan taman kota dengan pepohonan hijau yang meneduhkan? Di manakah oase yang dapat menyejukkan warga kota?

Kota Jakarta seluas 650 kilometer persegi ini dihuni 12 juta jiwa pada siang hari. Kota ini disesaki 5,6 juta kendaraan pribadi dan hampir 90.000 kendaraan umum, yang lalu lalang setiap hari.

Bayangkan. Mengalami kemacetan tanpa henti dan menghadapi kesemrawutan lalu lintas setiap hari, sangat wajar jika banyak warga kota yang cepat marah dan naik darah. Di mana-mana, yang dibangun hanya gedung-gedung perkantoran, apartemen, dan pusat perbelanjaan baru.


Lahan hijau yang ada malah acapkali disulap menjadi stasiun pengisian bahan bakar umum atau diokupasi warga pendatang untuk pemukim ilegal. Naifnya, warga di kawasan ini sengaja dipelihara sebagai ”lahan” ekonomi oknum instansi terkait.

Ruang terbuka hijau di Jakarta masih sangat kurang, masih sekitar 10 persen dari luas wilayah kota. Padahal mengacu kepada Undang-Undang Tata Ruang, Jakarta harus menyediakan 30 persen lahan untuk ruang terbuka hijau, yang berfungsi sebagai paru-paru kota.

Sudah banyak pemerintah kota di dunia yang berkomitmen membangun taman kota dan hutan kota. Kota Kuching di Sarawak, Malaysia, misalnya, sejak lebih dari 10 tahun silam, bertekad memiliki banyak taman kota agar dapat menyaingi Singapura sebagai kota taman.

Kota Shenzhen di China, yang diciptakan dalam waktu 20 tahun oleh rezim Deng Xiao Ping, tidak hanya dikepung oleh hutan beton sebagai simbol pembangunan, tetapi juga diimbangi dengan tumbuhnya taman-taman kota yang hijau dan menyejukkan.

Taman kota menjadi tempat warga bertemu muka, berolah raga, menghirup udara segar, ataupun sebagai tempat duduk-duduk santai. Namun, di manakah taman kota semacam ini dibangun di Jakarta?

Jumlahnya tidak banyak. Entah kenapa, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih suka mengeluarkan izin untuk pembangunan gedung-gedung jangkung, apartemen, atau kondominium, dan mal-mal baru.

Sulit
Asisten Pembangunan Pemprov DKI Jakarta Sarwo Handayani mengakui sulitnya mencari lahan untuk dijadikan ruang terbuka hijau di Jakarta. Selain berharap para pengembang properti menyediakan taman hijau di kawasan permukiman, Pemprov DKI akan mengembalikan fungsi lahan hijau yang kini digunakan untuk kepentingan lain.

Sarwo Handayani, mantan Kepala Dinas Pertamanan DKI, mengajak pula segenap warga kota untuk ”menghijaukan” atap dan dinding gedung-gedung jangkung agar pemandangan kota senantiasa hijau.

Kantor Wali Kota Fukuoka di Jepang, misalnya, ”dilapisi” tanaman hijau morning glory yang memperindah gedung itu. Atap dan dinding rumah warga di Fukuoka banyak dihijaukan.

Di Jabodetabek, Depok memiliki hutan kota Universitas Indonesia 100 hektar dan Bumi Perkemahan Cibubur 25 hektar. BSD di Serpong, Tangerang, memiliki dua taman kota masing-masing 2,5 hektar dan 9 hektar. Jakarta? Warga kota ini merindukan oase di antara hutan beton. (ADHI KSP)
FOTO diblog ini foto suasana Taman Kota 2 BSD, Serpong, Tangerang. Foto oleh KSP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s