Menunggu Janji PT K Jabotabek

KOMPAS

Senin, 25 Agustus 2008

Metropolitan

oleh R Adhi Kusumaputra

PT Kereta Api bertekad meningkatkan layanan kereta rel listrik atau KRL yang melayani penumpang di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Jika selama ini urusan KRL Jabotabek ditangani Divisi Jabotabek dan di bawah kendali PT KA Daerah Operasi I Jakarta, mulai pertengahan Agustus 2008 dibentuk PT KA Jabotabek.

Pembentukan PT KA Jabotabek yang dipimpin Kusniadi Atmosasmito, yang pernah bertugas di PT Aneka Tambang, ini menarik disimak. Ini menjadi lembaran baru sejarah perkeretaapian Jabotabek. Pengguna jasa KRL berharap banyak pada pembenahan layanan angkutan umum massal ini.

Kebutuhan angkutan umum massal yang nyaman dan aman, khususnya KRL yang melayani wilayah Jabotabek, saat ini kian terasa. Terlebih setelah harga bahan bakar minyak atau BBM kian melambung. Kehadiran KRL malam yang melayani penumpang komuter sejak 9 Juni lalu disambut gembira.

Ini salah satu indikator betapa masyarakat mendambakan angkutan umum yang nyaman, aman, dan dapat dijangkau dari wilayah tempat tinggal. Saat ini KRL malam sudah melayani penumpang Bogor, Depok, Serpong, Tangerang, dan Bekasi dengan jumlah penumpang mencapai 300.000 per hari. Sementara jumlah penumpang KRL pagi hingga sore hari tercatat 400.000-an per hari.

Direktur PT Kereta Api Ronny Wahyudi menargetkan ada peningkatan jumlah penumpang KRL Jabotabek pada tahun 2009. Saat ini volume penumpang KRL Jabotabek sekitar 700.000 per hari. Tahun depan, setelah PT KA Jabotabek ini beroperasi penuh, jumlah penumpang KRL diprediksi mencapai 2,1 juta per hari. Ini berarti naik tiga kali lipat. Sungguh target yang luar biasa.

Mampukah PT KA Jabotabek memenuhi target itu? Dengan sejumlah persoalan yang menghadang, Kusniadi dan kawan-kawan memiliki banyak ”pekerjaan rumah” yang perlu diselesaikan. Wajah stasiun-stasiun di Jabotabek masih kusam, kotor, dan terkesan kurang aman. Ini diakui Direktur Operasi PT KA Jabotabek Ahmad Marzuki. Untuk itu, dalam waktu dekat, pihaknya menggandeng pihak ketiga untuk mempercantik wajah stasiun-stasiun tersebut.

Salah satu pihak swasta yang berminat menggarap jalur KA Serpong-Bintaro-Jakarta adalah PT Pembangunan Jaya. Pengembang yang membangun perumahan Bintaro dan sejumlah properti lainnya itu, menurut Direktur Operasi PT Pembangunan Jaya Tribudi, berminat membenahi stasiun-stasiun yang melintas di jalur tersebut serta mempercantik gerbong KRL agar kalangan profesional ”meninggalkan” mobil dan memilih naik KRL saat pergi ke kantor dan pulang dari kantor.

Pengamatan Kompas menunjukkan, baru Stasiun Serpong dan Stasiun Tanah Abang yang ”pantas” disebut stasiun. Sementara Stasiun Sudimara, Stasiun Pondok Ranji, Stasiun Kebayoran, dan Stasiun Palmerah masih harus dibenahi, termasuk Halte Rawabuntu.

Ambil contoh Stasiun Palmerah. Tak ada bangku-bangku bagi calon penumpang yang menunggu di stasiun itu. Tak ada pedestrian yang nyaman menuju stasiun sehingga pejalan kaki waswas disambar kendaraan. Padahal, pada jam-jam sibuk, jumlah penumpang yang naik dan turun di Stasiun Palmerah relatif tinggi.

Lahan parkir kendaraan roda empat dan roda dua di Stasiun Sudimara, Stasiun Pondok Ranji, dan Halte Rawabuntu juga masih terbatas, padahal peminat KRL kian bertambah sebab naik KRL AC Sudimara Ekspress dengan tarif Rp 8.000 per orang maupun KRL AC Ekonomi Ciujung dengan tarif Rp 5.000 per orang boleh dibilang relatif terjangkau. Bandingkan jika harus naik mobil sendiri atau naik taksi, berapa ongkos transpor yang harus dikeluarkan?

Revitalisasi stasiun juga akan dilakukan di Stasiun Mangga Dua, Stasiun Juanda, dan Stasiun Cikini. Juga Stasiun Kemayoran dan Stasiun Tanjung Priok. Pada umumnya wajah stasiun di Jabotabek masih kusam. Entah mengapa, selama bertahun-tahun pemerintah membiarkan potensi KA dan KRL sebagai angkutan umum massal.

Sementara lalu lintas Jakarta makin macet. Setiap hari, sedikitnya 700.000 mobil dari Bodetabek masuk Jakarta. Ini yang membuat Jakarta kian sesak.

Rencana membangun mass rapid transit sudah digulirkan sejak 18 tahun silam, tetapi tertunda berkali-kali. Baru sekarang saat Fauzi Bowo menjabat Gubernur DKI Jakarta, rencana pembangunan MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas segera direalisasikan. Pembangunan akan dimulai tahun 2009 dan akan beroperasi pada tahun 2014. Artinya, kita masih harus menunggu lima tahun lagi baru dapat menikmati MRT itu.

Meski demikian, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali

FOTO di blog ini foto suasana KRL malam Jakarta-Serpong. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s