Teropong: Polisi "Well-Paid" Bukan Jaminan Profesional

KOMPAS
Teropong
Jumat 15 Agustus 2008, halaman 63

Polisi “Well-Paid” Bukan Jaminan Profesional

Pembahasan mengenai gaji dan kesejahteraan polisi berulang kali digelar. Ada yang berpendapat, polisi hanya dapat bekerja profesional jika well-paid, dibayar dengan gaji yang baik. Mantan Kepala Polda Jawa Barat Sidharto, yang kini aktif sebagai wakil rakyat, menyebutkan, sikap profesionalisme itu tak pernah murah. Di Singapura, Swiss, dan negara-negara di Skandinavia, jumlah kasus korupsi oleh polisi relatif kecil karena polisi sudah well-paid, digaji dalam jumlah memadai.

Gaji polisi di negara-negara tersebut bisa sampai 15-20 kali gaji polisi Indonesia. Bahkan, gaji polisi Indonesia mungkin hanya cukup untuk hidup selama satu minggu. Sidharto melihat maraknya pungli di jalan terjadi karena sebagian besar merupakan corruption by needs, karena kebutuhan, dan bukan corruption by dreams.

Namun, mantan Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional Togar Sianipar bertanya, apakah peningkatan kesejahteraan merupakan jawaban penting untuk mengubah kultur polisi Indonesia. Togar lalu teringat, beberapa puluh tahun lalu ada kebijakan pemerintah memberikan insentif khusus yang lebih baik kepada para hakim. Tetapi, yang terjadi kemudian, perilaku sebagian hakim masih tetap sama dan tidak berubah.

Pakar hukum dari Universitas Airlangga, JE Sahetapy, melihat persoalan ini secara holistik. Diibaratkan Polri seperti ”ikan” dan masyarakat sebagai ”air”. Kalau airnya kotor, ikan pun akan kotor. Polisi di Amerika Serikat pun masih ”kotor”. Perilaku seperti ”minum di kafe tidak membayar” masih dilakukan polisi Amerika.

JE Sahetapy berpendapat, solusi persoalan ini adalah teladan dari pimpinan dan harus dimulai dari Presiden. Masalah kultur masyarakat yang harus dibenahi. Contoh pola hidup sederhana harus datang dari atasan, pimpinan, komandan. Tapi, teladan itu sulit ditemukan. JE Sahetapy beberapa kali berkeliling ke sejumlah asrama Polri. Ternyata kondisi sebagian besar asrama Polri ”lebih jelek” dibandingkan garasi rumah seorang jenderal polisi. Pendapat ini dibenarkan Anton Tifaona (74), mantan Wakil Kepala Polda Jawa Barat, yang menegaskan dibutuhkan teladan pimpinan Polri dalam segala hal untuk memperbaiki wajah Polri.

Guru besar kriminologi Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengingatkan kita agar tidak terjebak pada situasi ”menaikkan gaji atau tidak” dalam konteks ”memelihara” moral personel Polri. Dia berpendapat, sebaiknya Polri menghilangkan ”job basah” dan ”job kering”. Selama job-job itu masih ada, kultur Polri tetap tak berubah.

Adrianus juga melihat Polri perlu menghilangkan korelasi antara kepangkatan dan fasilitas yang diperoleh. Jika makin tinggi pangkat seorang polisi, fasilitas yang diterima makin besar, sangat manusiawi jika banyak polisi ingin menjadi perwira tinggi.

Pakar Undip, Erlyn Indarti, menyatakan, tetap tak boleh ada excuse karena polisi tidak well-paid, maka polisi boleh tidak profesional sebab polisi tetap harus profesional dalam kondisi apa pun. Pada saat rekrutmen, seseorang yang masuk menjadi polisi harus dites secara psikologi, akademis, dan intelektual. Polisi yang memang pekerjaan dan tugasnya berat, apakah well-paid atau belum well-paid, tetap siap mati, siap bertugas selama 24 jam dalam mara bahaya. Polisi seperti itu tetap profesional karena panggilan hatinya memang demikian. Erlyn memberi contoh profesinya sebagai dosen. Ketika memutuskan menjadi dosen, dia sudah ”siap miskin”.

Persoalan well-paid memang dilematis. Ini sama dengan pertanyaan ”telur” atau ”ayam” dulu. Namun, JE Sahetapy mengacu pada sejumlah kitab suci menyebutkan bahwa Tuhan menciptakan ”ayam” lebih dulu, baru kemudian ayam bertelur. Sahetapy menilai, untuk mengubah wajah Polri, yang harus dibenahi adalah kultur lebih dahulu. Tanpa pembenahan kultur, sulit melihat polisi bermental dan bermoral baik.

Kepala Polsek harus mau mengunjungi RT-RT agar ada hubungan dekat dengan masyarakat di wilayah hukumnya sebab Polsek adalah ujung tombak polisi dalam masyarakat.
Erlyn melihat persoalan well-paid dapat diatasi jika polmas berjalan baik. Masyarakat akan membantu polisi, bahkan mungkin polisi bisa ”duduk manis” karena masyarakat dengan sukarela mengupayakan kamtibmas di lingkungan masing-masing.

Mantan Kepala Polda Jawa Timur Wik Djatmika melihat saat ini kepala polsek dan kepala polres masih melambangkan sebagai ”kepala polri kecil”. Mereka tidak memberikan keleluasaan dan kesempatan kepada anak buahnya untuk berinovasi dan berimprovisasi untuk lebih efektif dan efisien melaksanakan tugas-tugasnya.

Koesparmono Irsan, moderator diskusi ini, secara tegas menyebutkan profesionalisme Polri masih ”mengambang”, masih belum terbebas dari KKN, dan kedekatan dengan masyarakat masih rendah. Dari sisi kultural, reformasi di tubuh Polri masih membutuhkan upaya perubahan dalam mental dan moral.

Jumlah anggota Polri di seluruh Indonesia saat ini tercatat 363.000 orang dan jumlah PNS sekitar 23.000 orang. Namun, 96 persen dari jumlah itu berpangkat bintara dan sebagian besar rumah mereka masih sangat sederhana. Baru 30 persen anggota Polri yang memiliki rumah sendiri. Ini pun merupakan persoalan lain yang harus dipecahkan.

Wajah Polri saat ini memang wajah masyarakat Indonesia umumnya. Masyarakat korup, wakil rakyat terhormat korup, pejabat pemerintah korup, polisi pun korup. Masih sulit memberantas praktik ”bayar-membayar” ketika seorang polisi muda ingin melanjutkan pendidikan ke PTIK atau Sespati. Bagaimana berharap polisi tidak korup jika dalam tubuh internal Polri sendiri masih acap terjadi praktik semacam ini yang sudah ”mengakar”.

Kita butuh gerakan massal untuk memberantas korupsi yang sudah menggerogoti bangsa ini. Kepolisian Hongkong saja membutuhkan waktu 20 tahun untuk memberantas praktik korupsi dan kolusi di tubuh institusi itu dengan kehadiran Independent Comission Againts Corruption (ICAC). Lebih dari 1.000 polisi yang terlibat korupsi ditindak. Bagaimana dengan polisi Indonesia? (R ADHI KUSUMAPUTRA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s