Transportasi Jabodetabek: Nyaman dan Aman, Mungkinkah?


KOMPAS

Jumat 20 Juni 2008

Metropolitan

Gracia, perempuan yang mengajar di London School, Sudirman Park, Jakarta, gembira dengan pengoperasian kereta rel listrik malam jurusan Jakarta-Serpong.

Biasanya saya naik taksi ke rumah di BSD, menghabiskan biaya Rp 60.000. Sekarang saya cukup mengeluarkan biaya Rp 6.000 sekali naik KRL (kereta rel listrik) ke arah Serpong. Saya bisa hemat biaya transportasi,” kata Gracia yang ditemui Kompas, Selasa (17/6) malam.

Gracia dijemput di dekat Stasiun Rawabuntu oleh keluarganya. Namun, sering pula dia naik ojek ke rumahnya di kawasan The Green BSD, tak jauh dari Stasiun Rawabuntu. Memang bukan hanya Gracia yang menikmati pengoperasian KRL malam yang diberlakukan PT KA Divisi Jabotabek sejak 9 Juni lalu. Ribuan komuter yang bekerja di Jakarta dan tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) sejak lama berharap pemerintah menyediakan angkutan umum massal yang aman dan nyaman.

Momen kenaikan harga BBM dimanfaatkan oleh PT KA dan Departemen Perhubungan (Dephub) untuk meningkatkan pelayanan KRL Jabotabek. Awalnya Ketua Komisi V DPR Ahmad Muqowam mendorong PT KA memaksimalkan pelayanan KRL dengan mengoperasikan KRL hingga tengah malam.

Aspirasi itu ditanggapi positif oleh Kepala PT KA Divisi Jabotabek Ahmad Marzuki. Janjinya menyediakan KRL malam ditepati. Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal, Direktur Jenderal Perkeretaapian Wendy Aritenang, dan Direktur Utama PT Kereta Api Ronny Wahyudi langsung turun sendiri meresmikan pengoperasian KRL malam pada 9 Juni.

Perjalanan KRL jurusan Jakarta-Bogor dan Jakarta-Serpong ditambah hingga tengah malam. ”Jumlah penumpang terus meningkat. Peminat KRL malam relatif tinggi,” kata Kepala Humas PT KA Daerah Operasi I Akhmad Sujadi.

Pengamatan Kompas Selasa malam lalu, delapan gerbong KRL Jakarta-Serpong yang berangkat dari Stasiun Manggarai pukul 21.00 sudah penuh ketika singgah di Stasiun Palmerah. Fakta ini merupakan salah bukti betapa selama ini masyarakat mendambakan angkutan umum yang nyaman dan aman dari Jakarta menuju Bodetabek.

Pengoperasian KRL malam juga bertujuan agar banyak pengguna kendaraan pribadi beralih naik KRL. Namun, harapan itu dapat terwujud jika pemerintah, dalam hal ini Dephub, membenahi kondisi stasiun-stasiun di jalur Jakarta-Bogor dan Jakarta-Serpong.

Sebagian besar kondisi stasiun masih kusam, kotor, dan juga gelap pada malam hari sehingga terkesan kurang aman. Sujadi mengatakan, PT KA secara bertahap membenahi kondisi stasiun dan KRL agar makin banyak warga Bodetabek yang selama ini naik mobil dan motor pribadi beralih naik KRL. Ini juga sesuai dengan harapan pemerintah agar warga mengurangi konsumsi BBM.

Kondisi stasiun memang kurang memadai jika PT KA ingin mengajak pemilik mobil pribadi beralih naik KRL. PT KA juga harus menambah lahan lokasi parkir untuk mobil dan motor di stasiun-stasiun di Bodetabek.

Langkah Dephub dan PT KA menambah perjalanan KRL hingga tengah malam memang langkah kecil. Namun, jika dilakukan dengan konsep yang matang, pada masa depan KRL akan menjadi salah satu primadona angkutan umum massal dari Bodetabek ke Jakarta dan sebaliknya.

700.000 per hari
Data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, kebutuhan perjalanan per hari dengan angkutan umum dari Bodetabek ke Jakarta dan sebaliknya makin meningkat.
Pada tahun 2002, misalnya, tercatat 7,3 juta perjalanan per hari, tahun 2010 diperkirakan menjadi 9,9 juta perjalanan per hari, dan pada tahun 2020 meningkat menjadi 13 juta perjalanan setiap hari.

Perjalanan ulang alik Tangerang-Jakarta pada tahun 2010 akan mencapai 1.078.963 dan tahun 2010 menjadi 1.465.912. Adapun perjalanan Bogor-Depok-Jakarta dan sebaliknya pa- da tahun 2010 diperkirakan 791.295 dan pada tahun 2020 melesat menjadi 1.148.528. Perjalanan Bekasi-Jakarta dan sebaliknya cenderung lebih rendah. Tahun 2010 diprediksi 693.099 dan tahun 2020 mencapai 940.834.

Angka-angka prediksi ini masuk akal karena pertumbuhan kawasan perumahan baru ke arah Tangerang dan Banten, juga masih ke arah Depok dan Bogor. Namun, pertanyaannya kemudian, transportasi massal apa yang paling pas bagi warga komuter? KRL memang salah satu solusi. Namun, itu tidak cukup.

Bayangkan, kendaraan pribadi yang masuk Jakarta harus dkurangi. Sampai akhir tahun 2007 ini sekitar 700.000 kendaraan pribadi dari Bodetabek per hari masuk Kota Jakarta.
Jumlah kendaraan bermotor DKI Jakarta sampai akhir 2007 tercatat 5,7 juta unit, dengan pertumbuhan rata-rata 9 persen per tahun dalam lima tahun terakhir ini. Namun, panjang jalan di DKI Jakarta hanya 7.650 kilometer dengan luas jalan 40,1 kilometer persegi.

”Luas jalan di seluruh DKI Jakarta saat ini 6,2 persen dari luas wilayah DKI Jakarta. Ini artinya pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01 persen per tahun,” ungkap Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di depan Komisi V DPR beberapa waktu lalu.

Melihat fakta dan angka ini, tak dapat terbayangkan bagaimana kondisi Jakarta tahun-tahun mendatang jika pemerintah tidak berbuat sesuatu. Kerugian akibat kemacetan lalu lintas setiap tahun mencapai Rp 12,8 triliun. Ini sudah mencakup waktu yang hilang, bahan bakar yang makin boros, dan biaya kesehatan yang melonjak sebagai dampak lanjutan kemacetan lalu lintas.
”Jika penggunaan kendaraan pribadi tidak dikendalikan, pada tahun 2014 Jakarta akan macet total. Bahkan macet total akan terjadi lebih cepat, pada tahun 2011,” kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono.

Catatan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, dari kecenderungan angka lima tahun terakhir ini, di Jakarta setiap hari bertambah 1.127 kendaraan baru (236 mobil dan 891 motor). Jika digabungkan dengan Depok, Tangerang, dan Bekasi (tidak termasuk Bogor), jumlahnya menjadi 2.027 kendaraan baru (320 mobil dan 1.707 motor).

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo membuat langkah terobosan yang signifikan. Mass rapid transit (MRT) Lebak Bulus-Dukuh Atas yang dibiayai oleh Japan Bank for International Cooperation (JBIC) tahun 2009 mulai dibangun. MRT dijadwalkan mulai beroperasi tahun 2014.
Tidak hanya sampai Dukuh Atas, JBIC setuju membiayai pembangunan MRT hingga ke kawasan Kota. Seperti halnya di kota-kota besar lain di dunia, MRT sangat membantu masyarakat melakukan perjalanan di dalam kota yang sudah sesak.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini mengembangkan sistem bus rapid transit (BRT) yang biayanya menelan 2 juta-5 juta dollar AS per kilometer. Bandingkan dengan biaya pembangunan MRT (subway) yang 45 juta-105 juta dollar AS per kilometer dan biaya pembangunan light rail transit (monorel) 20 juta-24 juta dollar AS per kilometer.

Tiga sistem transportasi massal ini akan dikembangkan di DKI Jakarta sebagai upaya mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas yang akut.

September 2008 tiga koridor baru bus transjakarta sebagai bagian dari sistem BRT dioperasikan. Bertambahnya Koridor VIII Lebak Bulus-Harmoni, Koridor IX Pinang Ranti-Grogol-Pluit, dan Koridor X Cililitan-Tanjung Priok memperluas jangkauan operasi bus transjakarta.

Dalam dua tahun ke depan, sistem BRT ditambah lima koridor lagi sehingga pada tahun 2010 bus transjakarta memiliki 15 koridor. Tambahan lima koridor baru itu adalah Koridor XI (Pulo Gebang-Kampung Melayu), Koridor XII (Pluit-Tanjung Priok), Koridor XIII (Pondok Kelapa-Blok M), Koridor XIV (UI-Pasar Minggu-Manggarai) dan Koridor XV (Ciledug-Blok M).

Namun, yang masih menjadi ganjalan adalah bagaimana agar warga Bodetabek dapat menikmati sistem BRT ini langsung dari wilayah mereka tinggal? Pristono berpendapat, pemkot dan pemkab di Bodetabek harus melanjutkan sistem BRT ke setiap wilayah.

”Mereka dapat menata ulang trayek dari angkot kecil ke bus besar. Ini akan membuat pengguna kendaraan pribadi beralih ke BRT karena sistem ini tersambung-sambung ke seluruh wilayah Jabodetabek. Jangan pikirkan kendala jalan sempit dulu, tetapi pikirkan bagaimana sistem BRT ini dapat berkembang juga di Bodetabek,” kata Pristono.

Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal mendukung dan mendorong pemkab dan pemkot di Bodetabek melanjutkan sistem BRT. Namun, bagaimana dengan respons para kepala daerah di Bodetabek?

”Kami berharap pemerintah menyediakan angkutan umum yang nyaman dan aman. Mengapa kami membeli mobil pribadi? Ini karena tak ada angkutan umum massal yang aman dan nyaman. Ini yang kami dambakan sejak dulu,” kata Agung, warga Serpong.

KRL dan BRT memang selayaknya melayani seluruh wilayah Jabotabek. Lalu MRT dan LRT beroperasi maksimal di dalam Kota Jakarta. Semua moda angkutan umum massal yang nyaman dan aman ini sejak lama didambakan masyarakat. Dibutuhkan kemauan politik pemerintah untuk mewujudkan sistem ini secara terpadu.

FOTO di blog ini foto suasana di gerbong KRL malam jurusan Jakarta-Serpong Selasa (17/6) malam lalu. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s