Mari Berhimpun….

Catatan: Artikel ini dapat dibaca juga di blog http://pewartamultimedia.blogspot.com. Anda dapat menanggapi artikel atau gagasan ini dengan menulis artikel dan mengirimkannya ke email pewartamultimedia@gmail.com.

oleh Iskandar Siahaan

Di tengah euforia masyarakat menggunakan multimedia sebagai alat baru buat mengekspresikan diri, mencari, dan berbagi informasi, sontak sebuah Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) disetujui oleh pemerintah dan DPR. Salah satu pasal dalam undang-undang ini mengancam pengguna multimedia dengan hukuman penjara jika isi informasi yang ia produksi mencemarkan atau mencederai kehormatan orang lain.

Masih dekat dengan masa itu, Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh mengeluarkan kebijakan menutup akses publik terhadap situs Youtube. Menteri yang konon doktor di bidang teknologi informasi itu ingin menghalangi publik menonton video Youtube.

Kalau UU ITE mengatur perilaku pengguna, maka kebijakan menteri itu justru menghantam terknologinya. Dua kasus ini mestinya menjadi perhatian siapa pun yang menggunakan internet sebagai produk multimedia. Terlihat jelas belum ada visi yang jelas pada pemerintah dalam menyikapi perkembanngan pesat di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Tidak tertutup kemungkinan, di masa datang kebijakan yang “aneh-aneh” di bidang yang membuat banyak orang Indonesia euforia ini akan lahir.

Ada ratusan ribu, atau mungkin sudah mencapai angka jutaan, dan jumlah ini akan terus bertambah di masa datang, pengguna internet di Indonesia. Macam-macam tujuan orang menggunakannya. Bentuknya pun beragam. Ada yang membangun portal berita, ada yang membuat blog, ada pula yang mengembangkan mailing-list dan website. Isinya pun tak kalah beraneka. Ada yang benar-benar bernilai, ada yang betul-betul sampah. Seperti apa mentalitas dan perilaku orang Indonesia, sedikit banyak, bisa dibaca lewat pola, bentuk, cara, dan corak mereka menggunakan internet.

Tentulah sayang disayangkan jika peluang yang sudah dibuka lebar oleh teknologi multimedia buat memberdayakan diri dan masyarakat ini justru digunakan untuk mencaci-maki sesama dan mengumbar pornografi. Di masa euforia, perilaku tak senonoh ini mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, sampai kapan euforia ini berjalan?

Tiba saatnya para pengguna teknologi multimedia, terutama internet, ini mengatur dirinya sendiri. Etika dalam berkomunikasi di dunia maya ini sudah perlu mulai dipikirkan. Sudah pasti ini tak mudah dan bayang-bayang kegagalan ada di depan mata. Dari ratusan ribu atau jutaan pengguna pastilah tetap ada yang sakit jiwa dan suka berlaku biadab. Tapi dengan kesadaran betapa luas dan beragamnya sifat dan perilaku orang, sebuah keinginan untuk berbuat ke arah lebih baik dan percaya bahwa pengguna bisa mengatur dirinya sendiri sebelum diatur lebih keras oleh pemerintah agaknya tetap perlu dilakukan.

Ini sebuah undangan buat Anda, atau siapa pun yang membaca tulisan ini, untuk memikirkan hal-hal tersebut di atas. Adakah sesuatu yang bisa dilakukan untuk mendorong pengguna internet memanfaatkan teknologi baru ini secara bermanfaat dan lebih bermartabat?

Kami menawarkan pembentukan sebuah “institusi” – entah apa namanya tergantung kesepakatan bersama – untuk mengorganisasikan para pengguna internet. Pada awalnya kami hanya ingin menghimpun mereka yang disebut pewarta. Mereka adalah yang sehari-hari menggunakan internet untuk menyebarkan informasi berita baik berupa teks maupun foto. Anda berminat? Atau, punya komentar tentang tawaran berhimpun ini? Tabik…

* Iskandar Siahaan adalah Kepala Litbang SCTV, salah seorang penggagas Perhimpunan Pewarta Multimedia Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s