Lumpuhnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Lumpuhnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta

BAGAIMANA jadinya jika sebuah bandara internasional tiba-tiba lumpuh total? Ya, itulah yang terjadi pada Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sejak hari Jumat (1/2) lalu, jadwal penerbangan di Terminal 1 dan 2 kacau-balau. Pertama, bandara ini ditutup selama lima jam akibat jarak pandang di bawah 300 meter, sedangkan normalnya 600 meter. Dampaknya terasa sampai hari Sabtu (2/2) dan mungkin hari Minggu (3/2) ini.

Kedua, akses tol Sedyatmo terputus akibat terendam banjir antara Km 24 dan Km 27 dengan ketinggian 70 cm – 160 cm. Situasi ini berakibat pada pengalihan lalu lintas menuju bandara melalui Kota Tangerang. Mereka yang akan terbang pun terjebak macet berjam-jam di dalam Kota Tangerang. Kota itu pada hari Sabtu tiba-tiba sesak.

Karena akses tol Sedyatmo belum normal, mereka yang baru mendarat di bandara pun mau tak mau harus lewat pintu belakang dan melalui jalan di dalam Kota Tangerang. Jadi bisa terbayang nggak sih, betapa ruwet, sesak dan semrawutnya semua jalan di Kota Tangerang, terutama yang punya akses ke bandara?

Di bandara ini, ribuan orang marah. Mereka paham pada cuaca dan kondisi alam, tetapi mereka jengkel pada maskapai penerbangan yang seolah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Uang tiket calon penumpang dinyatakan hangus, dipotong dan pada intinya merugikan konsumen. Berulang kali saya melihat “keributan” di kantor-kantor maskapai penerbangan di Terminal 1. Kata-kata kasar pun acap terdengar, bahkan dengan nuansa ancam-mengancam.

Kepala Polres Metro Bandara Soekarno-Hatta Komisaris Besar Guntur Setyanto mengerahkan anggotanya siang-malam untuk mengamankan bandara yang terlihat makin kacau. Banyak orang marah-marah. Bisa dibayangkan, mereka sudah terjebak macet berjam-jam, terlambat, uang tiket dinyatakan hangus, lalu terkatung-katung di bandara, duit terkuras untuk ongkos taksi yang melonjak drastis, apa lagi yang bisa diungkapkan kepada otoritas bandara dan maskapai penerbangan?

Pebisnis asal Mesir, Rushdi Mohammed marah karena tak jadi berangkat sehingga transaksi bisnisnya dengan pengusaha CPO di Bengkulu batal. Hilangnya kesempatan bisnis bernilai 20.000 dolar AS pada hari itu. Dewi Aryani bersama teman-temannya kehilangan kesempatan menyaksikan “sunset” di Pantai Kuta, Bali akibat pesawat terlambat terbang.

Eddy Aprianto jengkel karena tak bisa menghadiri pemakaman orangtuanya di Bengkulu. Padahal dia sudah berangkat sejak pagi dari Sukabumi, kemudian bela-belain naik taksi dari Bogor ke Bandara menghabiskan Rp 300.000-an dan akhirnya terlantar berjam-jam di bandara. Itu pun mendapat jawaban tiketnya hangus. Apa nggak naik darah tuh orang-orang?

Kisruhnya bandara bisa jadi mencerminkan wajah bangsa negeri ini, bangsa ini. Banyak persoalan yang penyelesaiannya tak pernah tuntas, seolah dibiarkan. Sudah tahu persoalan di Km 24-27 adalah banjir yang menutup akses ke bandara, mengapa tetap dibiarkan sampai sekarang?

Serpong, 3 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s