Hiburan Rakyat Menjelang Kenaikan BBM

Hiburan Rakyat Menjelang Kenaikan BBM

HARI-hari ini, jutaan mata penonton tersorot ke Istora Senayan. Di sana sedang berlaga putra-putri terbaik Indonesia memperebutkan Piala Thomas dan Piala Uber. Saya sempat menonton pertandingan Piala Uber saat tim Indonesia melawan tim Belanda, Senin 12 Mei lalu. Dalam kolom ini, saya tidak mengulas kemenangan Indonesia, akan tetapi ingin memberi deskripsi betapa suasana nasionalisme penonton terasa sangat kental.

Saya merinding ketika berada di dalam gedung Istora. Merasakan gegap gempita sorak-sorai penonton yang membela tim Indonesia yang sedang berlaga demi Merah Putih. Dan memang, lagu “Merah Putih”-nya Cokelat ataupun “Kebyar-Kebyar“-nya Gombloh, mampu membangkitkan rasa nasionalisme, kecintaan pada Indonesia. Semua orang menyanyi lantang. Semua orang meneriakkan “Indonesia…”

Sungguh ini hiburan rakyat menjelang kenaikan harga BBM. Masih ada rasa cinta Tanah Air dan masih ada rasa kebanggaan pada Indonesia yang tersisa ketika ekonomi negeri ini kian terpuruk. Sebab pada Senin pagi hari sebelumnya, ribuan orang terdiri dari mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM seluruh Indonesia dan elemen masyarakat mengeritik kinerja pemerintahan SBY-JK. Massa menolak kenaikan harga BBM dan mengeluhkan keterpurukan bangsa.

Sungguh kontras pemandangan yang saya lihat dan rasakan pada Senin pagi dan Senin malam lalu. Pada pagi hari, massa mencaci-maki pemerintah, malam hari penonton di Istora mengelu-elukan tim bulutangkis Indonesia yang sedang berlaga.

Tapi saya yakin semuanya bermuara pada satu hal yaitu semuanya mencintai bangsa Indonesia. Mahasiswa dan elemen masyarakat mencintai bangsa ini dan menginginkan Indonesia keluar dari keterpurukan. Penonton Piala Thomas dan Piala Uber juga mencintai Indonesia.

Kemenangan tim bulutangkis Piala Thomas dan Piala Uber rupanya sangat didambakan. Masyarakat agaknya sudah haus akan prestasi Indonesia di kancah internasional. Seolah rakyat tak ingin Indonesia direndahkan dan dilecehkan.

Salah satu indikatornya betapa penonton di Istora mengungkapkan rasa kurang senang pada tim Malaysia. Siapapun lawan tim Malaysia, didukung suporter Indonesia di Istora. Mungkin ini ada kaitan dengan peristiwa masa lalu di mana Malaysia mengklaim Reog Ponorogo sebagai seni budaya mereka dan lagu Rasa Sayange lagu mereka.

Sorak-sorai dan gegap-gempita di Istora Senayan mampu melupakan sejenak kesulitan hidup menjelang kenaikan harga BBM. Jutaan rakyat Indonesia di pelosok pun menyaksikan siaran langsung Trans7 yang merekam pertandingan-pertandingan bulutangkis Piala Thomas dan Piala Uber itu.

Jakarta, 14 Mei 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s