Rizal Mantovani Bosan dengan Hantu


Rizal Mantovani Bosan dengan Hantu

Rizal Mantovani sudah bosan dengan hantu. Kini Rizal mengarap film drama cinta anak muda bertajuk “Ada Kamu, Aku Ada”.

Sutradara yang menggarap film horor “Jelangkung” dan bertahan sampai lima bulan di bioskop-bioskop. Film yang digarap Rizal bersama Jose Purnomo itu sampai diputar 13 kali midnight di Pondok Indah Mall, dan menjadi film nasional yang diputar di empat layar sekaligus di sejumlah bioskop karena peminatnya membeludak.

Film “Jelangkung” juga menjadi tiket Rizal untuk merambah Hollywood. Bersama Jose Purnomo, sepanjang Februari-Maret 2002, ia menawarkan konsep modernisasi horor tradisional ke beberapa produser Hollywood. Usaha mereka berhasil. Michael Bay, sutradara dan produser film Armegeddon dan Pearl Harbour, menawarkan dua proyek, yaitu menggarap ulang Jelangkung menjadi “The Uninvited” (Yang Tak Diundang) untuk konsumsi penonton negeri Paman Sam serta pembuatan film “The Well” (Sumur).

Film terbaru garapan Rizal Mantovani “Ada Kamu Aku Ada” ini diputar perdana Kamis 8 Mei 2008. Saya berkesempatan nonton bareng pemeran film itu. Berikut ini hasil obrolan dengan Rizal yang dimuat di rubrik Nama dan Peristiwa Harian Kompas.

KOMPAS

Senin, 12 Mei 2008

Nama dan Peristiwa

Rizal Mantovani

Bosan Hantu

Sutradara Rizal Mantovani (40) bosan dengan film horor yang menampilkan hantu. ”Saya ingin ganti suasana supaya ada variasi dalam film Indonesia. Jadilah saya bikin film drama percintaan anak muda Jakarta,” kata Rizal di Jakarta, pekan lalu.


Sebelum menggarap film terbarunya itu, Ada Kamu, Aku Ada, dia menyutradarai film-film bertema hantu, seperti Jelangkung dan Kuntilanak. Namun, tahun ini Rizal memfokuskan diri pada film drama anak muda.

”Saya memotret masalah perselingkuhan (dalam Ada Kamu, Aku Ada) dari sisi yang lebih manusiawi, tidak menghakimi,” ujarnya tentang film ke-7 yang disutradarainya itu.
Tentang Ada Kamu, Aku Ada, kata Rizal, digarap dalam 23 hari dan shooting-nya di Jakarta, Depok, dan Anyer. Di sini ia ingin menekankan, cinta itu tidak hitam putih, tetapi abu-abu. Dalam kehidupan ini tak ada karakter yang ”putih bersih”. Demikian pula para tokoh dalam film itu.

Salah satu pesan yang ingin dia sampaikan lewat film ini adalah realitas perselingkuhan itu terjadi dalam masyarakat kita. Namun, dia tak ingin menghakimi mereka yang berselingkuh. ”Saya ingin memotret realitas itu.” (KSP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s