Mengajari Napi Mengolah Sampah Jadi Barang Ekonomis

KOMPAS
Kamis, 06 Mar 2008
Halaman: 26
Penulis: R Adhi Kusumaputra

Narapidana
MENGAJARI NAPI MENGOLAH SAMPAH JADI BARANG EKONOMIS

Andi (32) tampak sibuk membawa tumpukan gelas air mineral yang
tidak terpakai lagi. Narapidana yang divonis lima tahun atas kasus
perampokan itu mengaku senang punya kesibukan selama mendekam di
Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur.

David (25), narapidana (napi) yang tersangkut kasus narkoba, juga
sibuk membersihkan gelas plastik air mineral yang masih kotor. Gelas
plastik itu sampah dari dalam lembaga pemasyarakatan (LP), biasanya
dari keluarga napi yang berkunjung ke sana. Sampah itu dikumpulkan
untuk kemudian menjadi sesuatu yang berguna.

Inilah kesibukan yang terlihat di LP Kelas I Cipinang seminggu
terakhir ini. Mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis.
Bahkan yang menarik, napi akan mendapat penghasilan dari sini.
Napi yang bekerja akan memperoleh sepertiga dari hasil olahan sampah
yang dijual. Sepertiga lagi untuk LP sebagai biaya operasional dan
sepertiga lagi untuk negara.

Inilah terobosan yang dilakukan Direktorat Jenderal
Pemasyarakatan, Departemen Hukum dan HAM. Bekerja sama dengan Yayasan
Pemulihan Insan Indonesia dan Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Ditjen
Pemasyarakatan berupaya mengatasi persoalan sampah dengan cara cerdas.

Lampaui kapasitas
LP Cipinang saat ini melampaui kapasitas, yang seharusnya 1.500
orang diisi 3.500 orang. Menurut Kepala LP Cipinang Haviluddin, dari
3.500 penghuni LP ini, 1.800 orang berstatus tahanan dan 1.700 lagi
berstatus napi. Dengan jumlah napi sebanyak itu, produksi sampah LP
mencapai satu ton sehari. Tidak terbayangkan jika sampah itu tidak
diangkut keluar, tentu akan berdampak pada kebersihan LP dan kesehatan
napi.

“Kini kami menjadikan sampah sebagai sahabat. Sampah sebagai
barang yang bernilai,” kata Dirjen Pemasyarakatan Untung Sugiyono saat
meresmikan pengolahan sampah pupuk organik di LP Kelas I Cipinang,
Rabu (5/3) pagi. Sugiyono akan menerapkan pengolahan sampah ini di LP-
LP lainnya di sejumlah kota.

Ketua Yayasan Pemulihan Insan Indonesia Payaman Simanjuntak
mengungkapkan, pihaknya menyediakan alat pengolahan sampah yang nilai
investasinya Rp 150 juta hingga Rp 300 juta. LP Cipinang menyediakan
lahan seluas 300 meter persegi untuk lokasi pengolahan sampah.
“Semua hasil olahan sampah diserahkan untuk LP dan napi. Yayasan
tidak minta bagian apa pun,” kata Payaman.

Di LP Cipinang ada tiga kelompok yang mengerjakan langsung
pengolahan sampah. Satu kelompok terdiri atas 17 orang, bekerja mulai
pukul 09.00 sampai 15.30. Tenaga napi siap pakai seluruhnya 250 orang,
diseleksi dari rekam jejak kelakuan napi selama di LP. Jika napi sudah
bebas, diharapkan mereka dapat melanjutkan usaha ini. (R ADHI
KUSUMAPUTRA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s