Bali yang Eksotis

Kolom Blog Adhi Ksp

Bali yang Eksotis

SELAMA liburan panjang pekan lalu, saya bersama keluarga menikmati Bali yang eksotis. Menginap di Novotel Benoa, kami menikmati suasana berbeda. Resor di tepi pantai di Tanjung Benoa ini ternyata disukai wisatawan mancanegara.Sebelumnya saya sudah cek di Google Earth di mana lokasi Novotel Benoa.

“Resor ini lebih disukai orang asing,” kata seorang staf Novotel Benoa. Dan ternyata benar. Di tepi pantai, banyak orang asing berjemur di terik panas matahari. Sejak Kamis 10 Januari 2008 hingga Minggu 13 Januari 2008, cuaca di Bali cerah. Kami sungguh beruntung. Sebelumnya saya sempat mengecek di WorldMate di N95 8GB ihwal ramalan cuaca di Bali. Ternyata benar.

Selama empat hari itu, cuaca partly cloudy.Pantai Tanjung Benoa memang lebih sepi dibandingkan Pantai Kuta. Menikmati dinner di tepi pantai dengan lilin di meja dan obor, membuat suasana menjadi lebih romantis. Pizza spesial Bali dengan seafood-nya, istimewa.

Meneguk red wine di tengah suara deburan ombak. Sungguh ini liburan dalam suasana yang mengesankan.Kami juga datang ke Pantai Kuta yang lebih ramai. Lama tidak ke Bali, saya terkejut ternyata sudah berdiri mal baru, Discovery Mall di lahan Hotel Kartika Plaza. Yang menarik, mal ini memiliki akses langsung ke Pantai Kuta.

Tak hanya itu. Beberapa resto dan kafe dibangun dengan suasana alfresco menghadap pantai. Terbayang nggak sih, ngopi di Black Canyon Coffee atau Baroque Cafe, atau menikmati hidangan seafood segar di Segara sambil menyaksikan sunset di KutaBali memang tetap eksotis. Karena itu, saya selalu mempromosikan Bali kepada teman-teman saya dari mancanegara. Banyak tempat di Bali yang dapat dikunjungi tanpa rasa bosan.

Kintamani dengan Danau Batur-nya atau ke lokasi seniman lukis dan ukir di Ubud, Gianyar. Tanah Lot, Pura Besakih, nonton Tari Barong, belanja kerajinan perak di Batubulan, menikmati kebun binatang, mengikuti arung jeram dan banyak laginya.Wajar jika Bali disebut Pulau Dewata. Pariwisatanya komplet.

Wisata budaya, wisata alam dari pantai sampai gunung, dan wisata belanja. Jaringan hotel internasional hampir semuanya ada di Bali. Dari jaringan Accor dengan Mercure, Novotel dan Sofitel-nya, sampai Aston International. Masyarakat Bali juga lebih mengutamakan harmonisasi dengan Yang di Atas, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Mereka percaya jika seseorang melakukan perbuatan jahat, maka perbuatan jahat itu akan kembali kepada orang tersebut.

“Kami melihat Pak Harto sekarang mengalami apa yang disebut Karma Pala,” kata Kadek, yang membawa kami berkeliling dengan mobilnya. (Saya tidak intens mengikuti berita-berita tentang Soeharto yang kritis tapi sempat membaca berita BBC dari Opera Mini di N95 8GB). Mungkin karena suasana liburan yang santai, kami jadi tidak tertarik membaca suratkabar.

Karma? Saya kemudian ingat nasib Soekarno sebelumnya yang “diperlakukan” rezim Soeharto. Sejarah berulang?Kembali ke Bali. Kadek bercerita, separuh dari hotel di Bali milik keluarga dan kroni Soeharto. Entahlah benar atau tidak, saya tidak mengeceknya lagi. Tapi berita tentang Soeharto kritis memang diberitakan secara luas oleh media asing. Orang asing di Bali juga mendengar berita ini.

Kadek melanjutkan ceritanya, dalam waktu dekat akan digelar Pilkada Bali. Dua dari empat calon diunggulkan, yaitu Gede Winasa (Bupati Jembrana) dan Made Mangku Pastika (Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional). Winasa berhasil menerapkan kebijakan sekolah gratis meskipun APBD-nya tidak lebih besar dari PAD parkir Kota Denpasar. Sedangkan Pastika, mantan Kepala Polda Bali, salah satu polisi yang berperan mengungkap kasus bom Bali. Siapa yang terpilih, tentu masyarakat Bali lah yang paling tahu.

Ketika akan kembali ke Jakarta hari Minggu lalu, saya melihat betapa Bandara Internasional Ngurah Rai sangat ramai. Luar biasa. Bali sudah pulih. Bali sudah aman. Saya berjanji akan kembali lagi ke Bali untuk berlibur, menikmati suasana eksotis.

Serpong, 16 Januari 2008

One response to “Bali yang Eksotis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s