Cina Benteng dan Akulturasi di Tangerang: Miskin Tetapi Masih Pertahankan Budaya

KOMPAS

Metropolitan

Jumat, 8 Februari 2008,

Cina Benteng dan Akulturasi di Tangerang

R ADHI KUSUMAPUTRA

Seperangkat alat gambang kromong dan tehyan tersimpan di rumah Khow Peng Tjuk (64) di Kelurahan Selapangjaya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Peng Tjuk dikenal sebagai pemain tehyan. Bersama adiknya, Khow Peng Ok (57), Peng Tjuk sering mendapat pesanan tampil mengiringi pesta perkawinan di kawasan pinggir Bandara Soekarno-Hatta tersebut. Gambang kromong memang salah satu bukti akulturasi budaya China dan Indonesia.


Peng Tjuk dan Peng Ok adalah dua warga Tangerang yang acap disebut sebagai China Benteng. Kulit mereka gelap, tidak seperti warga Tionghoa lainnya. E
mpat puluh persen warga Kelurahan Selapajangjaya adalah orang Tionghoa yang sudah hidup turun-temurun di sana. Mereka adalah generasi ketiga. Hingga kini, sebagian dari mereka hidup pas-pasan, bahkan serba kekurangan.

Rumah Peng Ok (57) sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari tripleks dan atapnya atap rumbai. Peng Ok tinggal di sana sejak lahir. Namun, lelaki lulusan sekolah rakyat (SR) atau sekolah dasar itu terjerat kemiskinan struktural karena tak punya keterampilan lain.
”Dulu kakek punya sawah luas, tapi sudah digusur untuk bandara. Bahkan, SR di Kedaung Wetan pun ikut tergusur,” ceritanya kepada Kompas, Selasa (5/2) siang.

Masyarakat China Benteng di Tangerang sejak dulu memang dikenal berkulit gelap dan menghadapi kehidupan yang keras. Sebagian berhasil menjadi pedagang dan pengusaha, namun lebih banyak yang hidup sebagai pedagang kecil bahkan tukang cuci.

Mereka yang tinggal di sekitar bandara umumnya kakek-nenek mereka dulu pernah memiliki sawah di lahan yang sekarang berubah menjadi bandar udara internasional. Tetapi, ganti rugi yang diperoleh pada saat itu tidak dapat mengangkat mereka dari kemiskinan struktural.

Istri Peng Tjuk bekerja sebagai pembuat dan penjual kue. Sang istri, Ny Neni, bersama empat anaknya bekerja keras siang malam agar dapat memperoleh uang dari hasil kue jajanan pasar itu. Namun, Peng Tjuk sendiri mengaku tidak bekerja dan ikut dalam grup kesenian itu. Dia mempraktikkan memainkan alat tehyan dan memainkan lagu Jali-Jali. Setiap kali dapat pesanan tampil di rumah kawin, Peng Tjuk dan Peng Ok bersama grupnya dibayar Rp 100.000 untuk dua malam.

Pemerintah Kota Tangerang sejak tahun 2004 menjadikan gambang kromong dan barongsai sebagai bagian dari promosi pariwisata. ”Grup-grup kesenian Tionghoa ini bahkan sering kami ajak pentas di mana-mana,” kata Kepala Seksi Promosi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Pariwisata Kota Tangerang Yusef Zaenal.

Jeffrey (24), pemuda Tionghoa, misalnya, sudah berulang kali diajak pemkot menggelar pertunjukan liong dan barongsai di berbagai kota di Indonesia. Ketua Umum Perkumpulan Barongsai Kelenteng Boen Tek Bio, Tangerang, ini memiliki 80 anggota. Pada bulan Februari ini, grup ini sembilan kali tampil.

FOTO di blog ini foto warga Cina Benteng di Selapajang Jaya, Neglasari, Kota Tangerang, yang masih mempertahankan seni dan budaya gambang kromong secara turun-temurun. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas Daily

Iklan

One response to “Cina Benteng dan Akulturasi di Tangerang: Miskin Tetapi Masih Pertahankan Budaya

  1. mas adhi boleh saya tahu alamat lengkap Khow Peng Tjuk.terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s