Bandara Internasional Lumpuh, Ribuan Orang Tersiksa

KOMPAS
Senin, 04 Feb 2008
Halaman: 1
Penulis: R Adhi Kusumaputra

BANDARA INTERNASIONAL LUMPUH, RIBUAN ORANG TERSIKSA

Oleh R Adhi Kusumaputra

Bagaimana jadinya jika sebuah bandara internasional tiba-tiba
lumpuh total? Itulah yang terjadi pada Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tidak terhitung jumlah orang yang tersiksa dan terlantar.


Sejak hari Jumat (1/2) lalu, jadwal penerbangan di Terminal 1 dan
2 bandara tersebut kacau-balau. Pertama, bandara ini ditutup selama
lima jam akibat landasan pacu tergenang air dan jarak pandang di
bawah 300 meter, sedangkan normalnya 600 meter. Penutupan ini
dampaknya terasa sampai hari Sabtu dan Minggu. Banyak calon penumpang
dengan berbagai tujuan telantar dan marah-marah.

Kedua, akses Jalan Tol Sedyatmo yang menuju bandara itu terputus
akibat terendam banjir antara Km 24 dan Km 27 dengan ketinggian 70-
160 sentimeter (cm).


Situasi ini berakibat pada pengalihan lalu lintas menuju bandara
melalui Kota Tangerang. Mereka yang akan terbang pun terjebak macet
berjam-jam di dalam Kota Tangerang.

Pada hari Sabtu kota itu tiba-tiba sesak. Karena akses Jalan Tol
Sedyatmo belum normal, mereka yang baru mendarat di bandara pun mau
tak mau harus lewat pintu belakang dan melalui jalan di dalam Kota
Tangerang. Betapa ruwet, sesak, dan semrawutnya semua jalan di Kota
Tangerang, terutama yang berakses ke bandara. Sementara rambu-rambu
yang diharapkan dapat membimbing pengguna jalan tidak memadai di
persimpangan-persimpangan jalan. Singkatnya, banyak orang yang
tersesat.

Di bandara ini banyak orang marah. Sebagian mereka bisa memahami
kekacauan ini akibat cuaca buruk dan kondisi alam, tetapi mereka tak
bisa paham mengapa maskapai penerbangan seolah “mengambil kesempatan
dalam kesempitan”. Uang tiket calon penumpang dinyatakan hangus,
dipotong, dan pada intinya merugikan konsumen.

Berulang kali terjadi “keributan” di kantor-kantor maskapai
penerbangan di Terminal 1 ataupun Terminal 2. Kata-kata kasar pun
acap terdengar, bahkan dengan nuansa ancam-mengancam.
Kepala Kepolisian Resor Metro Bandara Soekarno-Hatta Komisaris
Besar Guntur Setyanto mengerahkan anggotanya pada siang dan malam
untuk mengamankan bandara, mengantisipasi meluasnya kekacauan. Bala
bantuan dari Polda Metro Jaya pun diturunkan.

Gagal
Pebisnis asal Mesir, Rushdi Mohammed, juga marah karena tak jadi
berangkat sehingga transaksi bisnisnya dengan pengusaha CPO di
Bengkulu batal. Hilanglah kesempatan bisnis bernilai 20.000 dollar AS
pada hari itu.


Dewi Aryani, karyawati yang berkantor di kawasan
Kuningan, Jakarta Selatan, bersama teman-temannya kehilangan
kesempatan menyaksikan “sunset” di Pantai Kuta, Bali, akibat pesawat
terlambat terbang.

Eddy Aprianto, pegawai negeri sipil Pemerintah Kota Sukabumi
jengkel karena tak bisa menghadiri pemakaman orangtuanya di Bengkulu.
Padahal, ia sudah berangkat sejak pagi dari Sukabumi, kemudian naik
taksi dari Bogor ke Bandara menghabiskan Rp 300.000-an agar mengejar
waktu check-in, tetapi akhirnya malah telantar berjam-jam di bandara.
Bagaimana Eddy tidak mengamuk ketika setiba di bandara, ia mendapat
jawaban tiketnya sudah hangus.

Sebanyak 51 mahasiswi Akademi Kebidanan Gorontalo yang baru
mengikuti studi banding di RSAB Harapan Kita, Jakarta, telantar
seharian di bandara pada hari Sabtu hanya karena terjebak macet
berjam-jam dalam perjalanan menuju bandara.

Mereka sudah berangkat sejak pukul 01.30, tetapi karena bus yang
ditumpangi berputar-putar, sempat ke Jalan Tol Sedyatmo, “dilempar”
ke Tangerang, sampai akhirnya tiba di bandara pukul 09.05. Sementara pesawat mereka lepas landas pukul 09.00! Sang dosen sempat pingsan setelah adu mulut dengan pihak maskapai penerbangan.

Cerita-cerita semacam ini terus mengalir tanpa ada yang dapat
memberi solusi. Mereka sudah menunggu berjam-jam di bandara tanpa
diberi kompensasi makan atau minum.

Administrator Bandara Internasional Soekarno-Hatta Herry Bakti
menyebutkan, sudah ada kesepakatan antardireksi maskapai penerbangan
bahwa tidak akan ada penghangusan ataupun pemotongan uang tiket.
Namun, implementasi di lapangan tidaklah demikian.

Selama akses Jalan Tol Sedyatmo direndam banjir, selama itu
pulalah jadwal penerbangan tidak teratur. Saat ini bandara sudah
siap, tetapi bagaimana dengan pilot, kopilot, pramugara, pramugari,
dan para penumpang yang terjebak macet di jalan menuju bandara?
Kisruhnya bandara bisa jadi mencerminkan wajah negeri ini, bangsa
ini. Banyak persoalan yang penyelesaiannya tidak pernah tuntas,
seolah dibiarkan.

FOTO di blog ini foto suasana di Terminal 1 A Bandara Internasional Soekarno-Hatta, di mana 51 mahasiswi Akademi Kebidanan Gorontalo terlantar setelah pesawat Lion Air sudah terbang duluan. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas Daily

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s