Surat dari Sahabat: Buruk Muka, Cermin Dibelah

Pengantar
“Surat dari Sahabat” adalah rubrik baru di blog ini. Isinya berupa uneg-uneg para sahabat, yang tertuang dalam bentuk artikel, surat dan apa pun. Semua isinya merupakan tanggung jawab penulis. Saya menerima e-mail dari sahabat saya, Rahman Andi Mangussara, Kepala Produksi Berita Liputan 6 SCTV. Rahman berharap pendapatnya ini dimuat di dalam blog ini. Berikut ini tulisan Rahman selengkapnya. Terima kasih buat Rahman, yang telah berbagi pendapat di blog ini. Saya mengundang para sahabat yang ingin berbagi pendapat dan pandangan di blog ini. Salam hangat, Adhi Ksp


Surat dari Sahabat


Buruk Muka, Cermin Dibelah

Rahman Andi Mangussara
Kepala Produksi Berita Liputan 6 SCTV

Dibawah judul, ‘Gejolak Pasokan dan Harga Pangan’, Menteri Pertanian Anton
Apriyantono menulis di Kompas (16/01/08) dengan pretensi menempatkan media massa, setidak-tidaknya televisi, sebagai salah satu sumber kekacauan
pangan dan harga komoditi pertanian belakangan ini. Televisi dipersalahkan
karena sudut pengambilan gambar yang melulu memperlihatkan banjir diatas
hamparan tanaman padi siap panen. Akibatnya, dalam pandangan Pak Menteri,
muncul persepsi bahwa ketahanan pangan kita terganggu, pasar pun bereaksi
seakan-akan seluruh sentra produksi padi hancur sehingga pedagang
melakukan spekulasi.

Tuduhan Pak Menteri ini sangat kuat tendesi pembelaannya. Karena pasar
komoditi pertanian, khususnya beras, tidak sensitif terhadap informasi
yang bersifat rumors, seperti di pasar modal. Berita banjir itu, tidak
serta merta direspon oleh pedagang beras dan hortikultura dengan langsung
menaikkan harga. Sepanjang pasokan mencukupi, harga tidak bergerak. Itulah
hukum besinya.

Tidak berhenti di situ, sambil memuji – muji kunjungan Presiden ke
Departemen Pertanian, Pak Menteri juga meminta kontribusi positif media
massa dalam mendorong diversifikasi dan tidak memojokkan pemerintah jika
ada warga yang memakan tiwul dan nasi aking. Pak Menteri melihat bahwa
hanya berita positiflah yang mendorong kemajuan di negeri ini, kritik dan
berita negatif, yang memang adalah fakta, harusnya dihilangkan dari
halaman-halam media atau gambar televisi. Tentu kita heran ada pola
berpikir seperti ini. Kesimpulan saya, Pak Menteri menghadapi situasi
seperti yang dimaksud dalam kata-kata ini: muka buruk, cermin dibelah.

Secara keseluruhan tulisan Pak Menteri baik-baik saja, tapi harusnya opini
seperti dalam tulisannya itu datang dari seorang ahli, pengamat, atau
akademisi, bukan dari seorang pembuat dan pengambil kebijakan seperti
dirinya. Pak menteri justru disana-sini mengkritik, mengeluh, ya itu tadi
peran negatif media, dan memberi solusi yang seakan-akan dia berdiri di
luar pusat kekuasaan. Lihatlah, Pak Menteri membuka tulisannya dengan
mengatakan masalah kenaikan harga kedelai ini harus dicari solusinya.
Harga kedelai ini, mengutip data Pak Menteri sendiri, sudah terjadi sejak
3 bulan silam, lah.. kok pemerintah baru berekasi sekarang ini, setelah
ratusan produsen tahu tempe demo di depan kantor Presiden, (untung liputan
televisi mengenai demo ini tidak disebutkan sebagai telah mengaburkan
fakta bahwa ada produsen tahu tempe yang tidak demo), itupun dengan respon
yang bisa dikatakan sangat terlambat dan sangat minim: menurunkan tarif impor.

Dalam paragraf lainnya disebutkan peningkatan produksi pertanian akan
membantu menyediakan bahan pangan dan mengurangi ketergantungan pada
impor — sebuah pernyataan yang sudah jamak dan memang begitu adanya – dan
khusus kedelai dapat mengurangi tekanan kenaikan harga. Karena itu, lanjut
Pak Menteri, petani kedelai dan produsen perlu menjalin kemitraan. Ilmu
ekonomi mengajarkan bahwa segala sesuatu bisa diatasi dengan insentif, tak
ada itu yang namanya himbauan. Berikan insentif dan petani akan bereaksi.

Pak Menteri juga menyoal pasokan komoditi pertanian kita yang tidak terus
menerus dengan standar kualitas yang tidak memadai serta kuantitas yang
kurang menyebabkan harganya tidak bersaing. Bukankan masalah ini sudah
diketahui lama sekali, saya sudah mendengarnya lebih dari 12 tahun lalu
dan mengherankan saya masih mendengarnya saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s