Transportasi Jakarta Tak Bisa Bergantung Pada Busway

KOMPAS

Metropolitan
Rabu, 12 Desember 2007

Angkutan Massal
Transportasi Jakarta Tak Bisa Bergantung Pada Busway

R. Adhi Kusumaputra

FUKUOKA, KOMPAS – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan pada satu moda transportasi massal, yakni bus dengan jalur khusus atau busway. Pemprov DKI Jakarta harus segera membangun sistem transportasi massal lainnya secara terpadu. Hal ini untuk mengatasi kemacetan dan menekan pencemaran udara.

Menurut pakar transportasi Surya Raj Acharya dari Institute for Transport Policy Studies Tokyo, di Fukuoka, Jepang, bus jalur khusus tidak cocok diterapkan di Jakarta. “Busway diadopsi dari pengalaman Bogota, Kolombia. Jalan-jalan di Bogota punya 16 lajur kiri dan kanan. Di Jakarta hanya 6 lajur hingga 9 lajur. Begitu koridor busway dibangun, menimbulkan kemacetan di Jakarta,” ujarnya.

Dampak dari proyek itu, jalan yang kondisinya tidak lebar dikorbankan untuk busway. “Jakarta sangat terlambat membangun sarana transportasi massal dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Asia,” lanjutnya.

Oleh sebab itu, Pemprov DKI harus segera membangun sarana transportasi massal selain bus jalur khusus. Tidak mungkin Pemprov DKI hanya mengandalkan bus jalur khusus sebagai satu-satunya sarana transportasi publik.

“Prioritaskan pengadaan kereta api yang melayani kawasan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi). Ini yang mendesak dibangun,” kata Raj.

Direktur United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) Toshi Noda dalam acara Asian City Journalist Conference Part II, di Fukuoka, mengatakan, sudah saatnya pemerintah kota di kawasan Asia Pasifik mengubah cara pandang dalam penggunaan transportasi berkelanjutan (sustainable transportation). Antara lain, menggunakan moda transportasi dengan energi lebih efisien, misalnya menggalakkan berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan transportasi publik ramah lingkungan.

Noda juga menegaskan pentingnya menambah pilihan sarana transportasi publik serta fasilitas bersepeda dan pejalan kaki. “Menggunakan bahan bakar ramah lingkungan dengan teknologi baru juga mendesak dilakukan oleh penduduk kota-kota besar di Asia Pasifik,” katanya.

Selain itu, pemerintah kota juga harus merencanakan rancangan kota yang bersahabat dengan lingkungan. Dengan demikian, warga kota dekat satu sama lain.

Asian City Journalist Conference Part II digelar di Fukuoka, Jepang, 7-10 Desember 2007, oleh The Nishinippon dan UN Habitat Fukuoka. Sebanyak 10 jurnalis dari 10 kota di Asia hadir dalam acara ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s