Catatan Asian City Jounalist Conference: Belajar dari Jepang yang Peduli

KOMPAS

Senin, 17 Desember 2007, halaman 46

Catatan Asian City Journalist Conference:
Belajar dari Jepang yang Peduli Lingkungan

oleh R. Adhi Kusumaputra

JEPANG termasuk negara di dunia yang sangat peduli pada lingkungan. Beragam aspek kehidupan di negeri itu, mengacu pada komitmen peduli lingkungan. Mulai dari melakukan daur ulang sampah, membangun kawasan industri bebas polusi sampai pada memproduksi kendaraan yang ramah lingkungan. Inilah langkah konkret Jepang meminimalisir bahaya pemanasan global.


Proyek Eco-town Kitakyushu misalnya, salah satu contoh betapa Jepang memegang komitmennya untuk peduli lingkungan. Selain di Kitakyushu, Proyek Eco-town juga dikembangkan di 25 lokasi lainnya. Namun Eco-town di Kitakyushu adalah yang terbesar dan terluas di Jepang. Eco-town di Kitakyushu dibangun di area Hibikinada di Wakamatsu sejak tahun 1997.
Proyek ini buah kebijakan regional yang unik. Kebijakan Konservasi Lingkungan yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup terintegrasi dengan Kebijakan Promosi Industri yang diluncurkan Kementerian Perdagangan dan Industri. Tujuannya membangun masyarakat industri berbasis sumberdaya daur ulang.

Kebijakan nasional Pemerintah Jepang ini kemudian dijabarkan oleh masing-masing pemerintah provinsi (prefektur) dan pemerintah kota. Salah satunya Pemerintah Kota Kitakyushu, yang masih masuk wilayah Prefektur Fukuoka. Yang menarik, pemerintah kota bersama warga kota dan masyarakat industri bergabung dan berupaya mengatasi dampak kerusakan lingkungan di kota itu.

Kawasan industri yang berkembang di Kitakyushu, termasuk empat besar di Jepang. Pertumbuhan ekonomi Jepang melesat tanpa memperhatikan kerusakan lingkungan. Tahun 1960-an, polusi udara di Kitakyushu sangat mencemaskan. Kondisi ini mungkin kurang lebih sama dengan kondisi kawasan industri di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Di Kitakyushu, saat itu bakteri hidup bebas di perairan Teluk Dokai, yang disebut “Sea of Death”. Udara di kota itu acap disebut “langit dengan tujuh warna”. Namun kini setelah proyek eco-town dikembangkan, lebih dari 100 jenis ikan dapat hidup tenang di Teluk Dokai dan warga kota dapat menikmati langit biru di Kitakyushu. Anak-anak sejak dini diperkenalkan pada konsep eco-town dan pentingnya memegang komitmen peduli lingkungan melalui Meseum Lingkungan Hidup di Kitakyushu.

Proyek Eco-town ini juga mengembangkan Pusat Penelitian dan Ilmu Pengetahuan Kitakyushu. Di dalamnya, ada universitas dan lembaga pendidikan. Selain itu juga dikembangkan pusat riset dan teknologi, serta pusat komersial. “Pemerintah Jepang mengucurkan dana 60 miliar yen dalam 10 tahun ini untuk membangun eco-town. Kawasan industri eco-town di Kitakyushu menampung 1.040 tenaga kerja,” kata Manager West-Japan Auto Recycle Co (WARC) Ltd, Hirofumi Kamioda kepada 10 jurnalis Asia, peserta Asian City Journalist Conference yang mengunjungi kawasan Eco-town di Kitakyushu pada pekan pertama bulan Desember 2007 lalu.
Asian City Journalist Conference diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme atau dikenal dengan nama UN Habitat dan The Nishinippon Shimbun, surat kabar terbesar di kawasan Kyushu, Jepang bagian barat. Sebanyak 10 jurnalis dari 10 kota di Asia mengikuti program ini, untuk memahami problem lingkungan di kawasan perkotaan dan upaya mengatasinya secara komprehensif.
West-Japan Recycle Co Ltd, salah satu perusahaan yang memproduksi otomotif hasil daur ulang. Usaha daur ulang otomotif ini dimulai sejak tahun 2000. Di atas lahan seluas 20.000 m2, WARC mengumpulkan mobil bekas dan kemudian mengolahnya kembali menjadi produk baru. “Jepang tak punya sumber daya alam sehingga proyek daur ulang ini didukung dan dipahami masyarakat Jepang,” kata Kamioda. Yang menarik, mobil yang baru dua tahun dipakai pun, dikirim ke pusat daur ulang otomotif ini.
Menurut Kamioda, pemilik mobil di Jepang harus memeriksakan kendaraannya setiap tahun dan harus mengeluarkan 25.000 yen. “Kalau ada yang salah pada mesin mobil, pemilik harus membuat keputusan, mengirimkan mobilnya ke pusat daur ulang otomotif ini dan membeli yang baru. Kalau mobil itu masih bernilai dan berharga, tak perlu buru-buru dibawa ke sini,” jelasnya. Setiap mobil bekas yang masuk, pemiliknya mendapat 30.000 yen. Sebagai perbandingan, harga mobil baru di Jepang rata-rata 2 juta yen.
Kamioda menegaskan keuntungan yang diperoleh dari bisnis daur ulang ini tidak banyak. Sebab harga jual produk otomotif daur ulang lebih mahal dua kali lipat dari harga otomotif umumnya. “Kami memang tidak untung saat ini tapi kami tahu masa depan Jepang ada di sini,” katanya. Saat ini WARC bernegosiasi dengan sejumlah industri otomotif terkemuka di negeri itu untuk mengembangkan otomotif hasil daur ulang.
Selain otomotif daur ulang, benda-benda lain yang didaur ulang adalah peralatan kantor seperti mesin fotokopi, mesin faks, printer dan komputer, peralatan rumah tangga seperti kulkas, AC, TV, mesin cuci, juga gelas dan lampu, peralatan kesehatan, berbagai jenis sampah, sampai aneka jenis plastik. Benda-benda ini didaur ulang dan dijadikan produk baru yang dapat digunakan kembali.
Ramah lingkungan
Jepang tak hanya piawai dalam urusan daur ulang. Saat ini sejumlah industri otomotif seperti Toyota, Nissan, Subaru, Mitsubishi, Mazda memperkenalkan produk-produk ramah lingkungan. Toyota Kyushu misalnya, memproduksi 61.000 unit Lexus dan Harrier yang sudah ramah lingkungan pada tahun 2006. “Mobil hybrid sudah diterima pasar internasional. Kami masuk dalam komunitas global yang peduli lingkungan,” kata Assistant General Manager, General Affairs Toyota Motor Kyushu Inc, Fuminori Itou.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, Toyota secara umum memproduksi satu juta unit mobil hybrid ramah lingkungan. Ke depan, pada tahun 2010-2015, semua pabrik Toyota di Jepang, akan memproduksi satu juta unit mobil ramah lingkungan setiap tahun. “Memang, harganya 1,2 kali lebih mahal dari harga mobil umumnya. Tapi kami punya komitmen untuk memperkenalkan kendaraan dengan emisi rendah atau nol,” kata Itou.
Komitmen Jepang terlihat jelas dalam Fukuoka Motor Show yang digelar pada 7-10 Desember lalu. Dalam ajang pameran mobil pertama di kota itu, sejumlah mobil ramah lingkungan diperkenalkan. Mobil-mobil futuristik ini antara lain i-REAL dari Toyota, sebuah konsep kendaraan personal yang dapat dibawa ke kawasan pejalan kaki sekalipun. Nissan juga menciptakan konsep kendaraan elektrik yang bersahabat, yang dinamakan PIVO 2.
Jepang agaknya menyadari betapa kendaraan dari industri otomotifnya selama ini memberikan kontribusi polusi di berbagai negara. Kesalahan itu diperbaiki Jepang. Masa depan otomotif di dunia pada kendaraan ramah lingkungan.
Catatan lainnya adalah Jepang membangun instalasi nuklir yang ramah lingkungan. Peserta ACJC yang berkunjung ke Genkai Nuclear Power Station, melihat instalasi nuklir yang dibangun sejak tahun 1966 itu bukan lokasi menakutkan. “Bahkan yang menarik, instalasi nuklir Genkai menjadi lokasi pembelajaran bagi anak-anak di Jepang, untuk memahami tenaga nuklir itu digunakan untuk kepentingan damai dan bersama,” kata General Manager Genkai Energy Park, Kenshi Fukuyama.
Instalasi nuklir Genkai dioperasikan Kyushu Electric Power Inc untuk memasok suplai listrik di kawasan Kyushu sebesar 3.478 Megawatt. Jepang berada di urutan kedua negara yang memiliki instalasi nuklir terbanyak di dunia, yaitu 69 unit, di bawah Amerika Serikat (103). Menurut Fukuyama, energi yang dihasilkan instalasi nuklir Genkai lebih ekonomis dan lebih ramah lingkungan.
Direktur UN Habitat kawasan Asia-Pasifik, Toshi Noda mengatakan, kepedulian Jepang untuk meminimalisir bahaya pemanasan global yang merusak bumi, merupakan komitmen pemerintah bersama pihak swasta dan masyarakat.
Institusi yang dipimpinnya akan terus berupaya mengingatkan masyarakat global di kawasan Asia Pasifik akan pentingnya upaya menuju kehidupan yang lebih aman. Noda bahkan memberi contoh konkret yang dapat dilakukan kota-kota besar di Asia Pasifik, antara lain mengajak warga kota menggunakan kendaraan ramah lingkungan dan lebih sering menggunakan sepeda dan berjalan kaki.
Toshi Noda juga mengajak pemerintah merancang dan membangun kota yang dapat memberi rasa nyaman kepada warganya. “Memanfaatkan teknologi canggih untuk menggantikan banyak perjalanan di dalam kota seperti teleworking dan teleshopping, salah satu solusi menciptakan kota yang ramah lingkungan. Kampanye ini harus dilakukan terus-menerus,” ujarnya. “Jurnalis di kawasan Asia diminta lebih peduli persoalan lingkungan dengan membagi pengalaman dan pengetahuan tentang lingkungan, terutama ancaman bahaya pemanasan global,” kata Pemimpin Redaksi The Nishinippon Shimbun, Kukuchi Megumi.
Indonesia dan negara-negara Asia memang perlu belajar dari Jepang, terutama atas komitmen yang kuat untuk menciptakan kawasan sehat dan bersih dari polusi, dan menggunakan aneka produk yang ramah lingkungan. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s