Gaya Hidup: Oase di Metropolitan yang Sesak

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 10 November 2007


Gaya hidup

Oase di Metropolitan yang Sesak

r adhi kusumaputra

Jakarta yang macet dan sesak membuat warga kota butuh suasana berbeda. Tetapi, di mana kita bisa menikmati makan dalam suasana alfresco dining di alam terbuka?
Tidak banyak memang resto bersuasana alam terbuka di Jakarta. Salah satunya adalah Kafe Pisa Menteng di Jakarta Pusat. Udara Jakarta yang selalu penuh oleh polusi menjadi kendala utama mengapa Jakarta tidak terlalu tertarik pada konsep alfresco dining, makan di alam terbuka.

Jangan bayangkan Jakarta seperti Singapura yang memiliki Clarke Quay, tempat kaum yuppies Negeri Singa itu berkumpul, menikmati makan malam, ngopi atau meneguk wine di tepi sungai yang bersih.

Kita juga tak bisa terlalu berharap Jakarta memiliki kafe-kafe di tepi jalan utama di ruas Jalan MH Thamrin atau Jalan Sudirman, seperti yang terdapat di Champs Elysees di Paris, Perancis, La plus belle avenue du monde, The most beautiful avenue in the world. Sebab, Jakarta sudah terlalu sesak, sumpek, dan macet.

Kita juga sulit berharap Jalan MH Thamrin-Sudirman menjadi Orchard Road Singapura yang memiliki jalur pedestrian lebar. Kita bisa ngopi di Coffee Bean atau Starbucks Coffee di alam terbuka, menghirup udara bersih Singapura.

Bintang Walk di Kuala Lumpur, Malaysia, juga menjadi kawasan wisata yang menyenangkan. Di sini kita dapat menghabiskan malam di kafe-kafe yang menyediakan suasana alfresco dining.
Lalu, di mana warga Jakarta menemukan suasana makan yang berbeda, bukan di resto konvensional?

Cilandak Town Square atau dikenal dengan nama Citos serta Dharmawangsa Square, keduanya di Jakarta Selatan, berhasil memindahkan suasana makan di alam terbuka ke dalam bangunan sehingga terbebas dari polusi udara.

Dharmawangsa Square terinspirasi oleh Champs Elysees di Paris, di mana orang jalan-jalan sambil berbelanja. Walaupun masyarakat kelas menengah di Jakarta dan sekitarnya suka dengan suasana tersebut, itu masih suasana artifisial, bukan alfresco dining yang sebenarnya.

Untuk urusan alfresco dining, Jakarta masih kalah dengan Bandung yang memiliki Paris van Java, pusat gaya hidup, belanja dan makan di Jalan Sukajadi.
Setiap malam, apalagi pada akhir pekan, tempat-tempat makan dalam suasana alfresco dining di Paris van Java selalu penuh. Bandung yang sejuk merupakan salah satu faktor mengapa orang suka dengan alfresco dining.

Sebagian pengunjung Paris van Java adalah orang Jakarta dan Bodetabek yang mencari suasana berbeda setelah sumpek di Jakarta. Apalagi setelah Jalan Tol Cikunir dibuka sehingga waktu tempuh Jakarta-Bandung kurang dari dua jam.

Butuh oase
Fenomena ini setidaknya menunjukkan betapa orang Jakarta dan sekitarnya membutuhkan semacam oase yang menyegarkan. Dan, itu dapat ditemukan ketika menikmati makan di alam terbuka yang segar.

Benton Junction di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang, memenuhi harapan itu. Kawasan ini salah satu contoh alfresco dining yang berhasil.

Dengan 24 resto yang menyediakan meja dan tempat duduk di luar, Benton Junction menjadi salah satu lokasi nongkrong favorit. Gregory Ernoult, pejabat Grup Lippo yang menangani bidang leisure, mengatakan, konsep ini ditonjolkan karena polusi udara Karawaci tidaklah seburuk Jakarta.

Mahasiswa Universitas Pelita Harapan dan pekerja profesional yang berkantor di kawasan Karawaci serta penghuni perumahan di sekitar itu merupakan pangsa pasar utama Benton Junction.

Suasana alfresco dining makin disukai masyarakat kita. Lihatlah Downtown Walk di Summarecon Mal Serpong (SMS), Tangerang. Setiap malam tempat makan di alam terbuka ini senantiasa penuh, terlebih lagi pada akhir pekan. Jam buka sampai pukul tiga dini hari.

Pengunjungnya datang dari Bintaro, Pamulang, Serpong dan Kota Tangerang. “Kami membuat tema berbeda setiap minggu, latin, country, sampai jazz,” kata Eky Mary dari Bagian Humas Summarecon.

Setelah Benton Junction dan SMS sukses dengan konsep ini, Supermal Karawaci langsung membangun Cocowalk, konsep baru fine dining. “Ini merupakan kombinasi alfresco dining dan indoor. Orang bisa makan di luar dengan pemandangan lapangan golf, tetapi dapat pula menikmati santapan di ruangan,” kata Marketing Communications Supermal Karawaci, Jannywati.

Alfresco dining, oase di tengah metropolitan yang sesak.

FOTO di blog ini suasana alfresco dining di Downtown Walk, Summarecon Mal Serpong, Tangerang. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s