Margonda, Etalase Kota Depok yang Gersang dan Sesak

KOMPAS
Metropolitan
Kamis, 25 Oktober 2007


Margonda, Etalase Kota Depok yang Gersang dan Sesak

R Adhi Kusumaputra

Margonda. Nama sepotong jalan di Kota Depok yang diambil dari nama pahlawan itu merupakan etalase utama kota penyangga DKI Jakarta.

Jalan ini membentang panjang mulai dari gapura perbatasan dengan DKI Jakarta atau Jakarta Selatan hingga persimpangan ke arah Sawangan. Pada jam-jam sibuk pagi hari, jalan ini dipadati kendaraan yang akan menuju Jakarta. Sejak pukul 05.30, pengendara motor dan pengemudi mobil memenuhi jalan ini. Mereka berangkat kerja masih dengan wajah segar.

Pada sore hingga malam hari, Jalan Margonda dipadati ribuan kendaraan dari Jakarta. Terlihat wajah-wajah lelah, pulang dari Ibu Kota. Mereka bertanya-tanya kapan Margonda bebas dari macet karena mereka selalu terlambat tiba di rumah untuk bertemu dengan keluarga.

Di sepanjang Jalan Margonda, aneka usaha bermunculan, terutama terkait dengan mahasiswa. Mulai dari rumah indekos, apartemen, usaha fotokopian, warnet 24 jam, sampai tempat makan harga mahasiswa. Kehadiran Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma yang memiliki ribuan mahasiswa ikut menghidupkan Jalan Margonda.

Dulu Margonda memiliki rumah tuan tanah Pondokcina yang menjadi ikon Depok. Namun rumah tua itu sudah dipugar tanpa menghilangkan bentuk aslinya, berubah menjadi kafe, dan bagian dari pusat perbelanjaan modern Margo City.

Mal mewah milik keluarga Budi Hartono (Grup Djarum) ini menyediakan semua yang ada di Jakarta. Kelas menengah di Depok menghabiskan malam dan akhir pekan di mal ini.

Ngopi di Starbucks Coffee, makan donat yang renyah di J.Co, belanja baju di Centro, atau nonton di Platinum Screen, bioskop dengan teknologi baru di Indonesia, yang konon hanya baru ada di Depok.

Persis di seberang Margo City berdiri Depok Town Square, yang juga ramai dikunjungi. Kedua pusat perbelanjaan ini sering dituding sebagai salah satu penyebab kemacetan di Jalan Margonda karena kendaraan harus memperlambat laju, menunggu penyeberang jalan lewat.
Pembangunan jembatan penyeberangan orang belum juga direalisasikan. Untuk menyeberang jalan di Margonda saja susahnya bukan main.

Di jalan ini juga berdiri ITC Depok, Plaza Depok, dan Mal Depok, yang lebih dulu berdiri.

Lahan kosong di tepi jalan itu betul-betul berubah menjadi berbagai tempat bisnis tanpa menyisakannya untuk perpustakaan daerah atau gedung kesenian dan kebudayaan, misalnya.

Untung ada Toko Buku Gramedia yang “menghidupkan” kota ini, yang kini menjadi pilihan karena mahasiswa, dosen, kaum cendekia butuh buku-buku yang mencerahkan.

Di Margonda berdiri apartemen pertama di kota ini yang laris manis. Sebagian besar dibeli untuk disewakan kepada mahasiswa yang menimba ilmu di Depok.

Tak ada jalur pedestrian
Hingga kini Jalan Margonda tidak ramah bagi pejalan kaki karena tak ada jalur pedestrian yang nyaman. Lahan tersisa digunakan untuk lahan parkir dan “disewa” pedagang kaki lima. Semua dijadikan duit.

Kita tak bisa memimpikan Margonda dapat diwujudkan seperti Orchard Road di Singapura, Bintang Walk di Kuala Lumpur, Malaysia, apalagi mengidamkan Margonda punya jalur pedestrian lebar Champs Elysees di Paris, Perancis.

Pemerintah Kota Depok malah akan melebarkan Jalan Margonda agar kendaraan yang menyesaki jalan itu setiap hari dapat lebih leluasa melintas.

Ribuan kendaraan yang lewat Jalan Margonda setiap pagi dan sore hingga malam hari memang membuat jalan ini sesak. Termasuk angkot-angkot yang berhenti sembarangan demi mengejar setoran untuk juragan.

Kawasan Margonda yang sebelumnya dipenuhi pepohonan kini gersang dan kering. Ke mana gerangan pepohonan rindang yang membuat daerah ini sejuk? Semua sudah sesak dengan hutan beton yang tidak ramah lagi.

Margonda seakan tumbuh tanpa terkendali. Seakan tak ada yang menyangka, Depok yang sebelumnya nama kecamatan di Kabupaten Bogor ini betul-betul berubah menjadi kota baru.
Margonda akan bertambah “hidup” dan mungkin “liar” jika Jalan Tol Cinere-Jagorawi selesai dibangun dan beroperasi dua atau tiga tahun mendatang. Jalan tol sepanjang 14,7 kilometer ini kelak akan berpotongan dengan Jalan Margonda.

Tapi, siapa yang peduli menjadikan Jalan Margonda lebih manusiawi, memiliki jalur pedestrian yang lebar dengan pepohonan hijau?

Iklan

2 responses to “Margonda, Etalase Kota Depok yang Gersang dan Sesak

  1. i do really care bout margonda!walopun angkotnya pada kurang ajar, walopun motor lewat udah kaya lalat sekampung, walopun kaki pegal nahan kopling. but i really care, untuk 4taun terakhir hidup saya disitu mas,fyi, mau nyari tempat putbal (puter balik) ajah lamanya satu jam!!!
    satu lagi mas…polisi depok galakgalak bangeeeeeeedddddd!hiii.
    yes it is, waktu pertama tinggal di depok, margonda itu ga sesempit sekarang, sama ky ui yang ga sesesak sekarang.hehe.

    rgrds,
    dita.

  2. Mari kita wujudkan Depok yg sedap…

    Salam,
    Latief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s