Pembangunan Kawasan: Kota Kekerabatan Maja Masih Sebatas Angan


KOMPAS

Senin, 08 Oct 2007

Halaman: 27

Penulis: Saju, Pascal S Bin; Kusumaputra, R Adhi

Pembangunan Kawasan
KOTA KEKERABATAN MAJA MASIH SEBATAS ANGAN

Oleh Pascal S Bin Saju dan R Adhi Kusumaputra

Setelah 15 menit berlalu dari kantor Camat Maja di Maja, kami
tiba di gerbang Regency Maja di Jalan Raya Maja-Cikoneng, Kabupaten
Lebak, Rabu (3/10) lalu. Di puncak enam tiang pengapit tiang utama di
gerbang itu bertengger patung burung berukuran besar. Badan tiang-
tiang itu kotor penuh coretan dan tulisan tangan-tangan iseng.

Tulisan itu merefleksikan kekacauan pikiran, sekaligus protes
warga sekitar atas kegagalan Regency Maja membangun komunitas baru.
Regency adalah kawasan yang dipersiapkan untuk perumahan sejak tahun
1996. Meski demikian, saat ini tak ada tulisan atau tanda apa pun
yang menunjukkan Regency Maja dibangun oleh PT Majasani Pratama.

Juga tidak ada tanda, simbol, atau tulisan apa pun yang
menunjukkan kata Regency Maja, kecuali enam tiang yang penuh coretan
itu, yang dijadikan gapura dengan dua jalur jalan masuk dan keluar.
Di sisi kanan gerbang ada tiga rumah toko atau ruko yang dibangun
dalam satu paket bangunan. Kondisinya juga sudah rusak.

Di dua sisi jalan masuk tumbuh pohon-pohon palem. Di sisi kiri
juga terdapat sejumlah tiang listrik untuk penerangan jalan meski
jaringan listrik belum ada. Di dalam kompleks itu tidak ada satu pun
bangunan rumah, kecuali hamparan padang ilalang dan rumput liar yang
menghiasi bukit-bukit kecil.

Rusak dan dijarah
M Yusuf Supiadin (38), warga yang membangun rumah di Jalan Raya
Maja-Cikoneng, tepat di seberang gerbang Regency Maja, menuturkan,
sebenarnya PT Majasani Pratama sudah pernah membangun lebih dari 100
rumah di Regency Maja. Tetapi, tahun 2002-2003 rumah-rumah itu tidak
kelihatan wujudnya lagi.

Seluruh material bangunan, mulai dari atap, plafon, kaca jendela,
daun pintu, dan kusen, dijarah orang-orang yang tidak dikenal.
Bahkan, batu-batu fondasi dicungkil dan diambil setelah terlebih
dahulu membongkar lantai semen. Tulisan atau coret-coretan di tiang
gapura itu juga adalah bentuk lain dari tindakan kriminal serupa.

Regency Maja terletak di Desa Tanjung Sari, salah satu desa di
Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak. PT Majasani Pratama memiliki lahan
seluas 153,89 hektar dari luas lahan yang dimohon 200 hektar. Namun,
tanah yang telah dibuka 37 hektar, dengan pembangunan fisik untuk
lebih dari 100 rumah itu sekitar 2,27 hektar.

Saat ini Regency Maja hanya berupa lahan kosong. PT Majasani
Pratama adalah salah satu dari 16 pengembang yang menguasai lahan di
belasan desa di kawasan Maja. Setelah pemekaran pada tahun 2004, Maja
dibagi menjadi dua, yakni Kecamatan Maja (12 desa) dan Kecamatan
Curug Bitung (9 desa).

Tidak hanya itu, pengembang lain, semisal PT Casso Utama yang
memohon tanah seluas 50 hektar di Desa Cilangkap, juga sudah dapat
membebaskan 48,98 hektar. Namun, perusahaan itu belum pernah
melakukan pembukaan lahan dan pembangunan fisik. Saat ini sebagian
kecil lahan digarap warga.

Hingga saat ini pula, lahan milik lebih dari 10 pengembang
ditinggal kosong. Kompleks yang sudah memiliki bangunan rumah pun,
seperti PT Bambu Kuning Mitra Serasi di Desa Maja, masih bermasalah.
Lahan yang dibebaskan 211,71 hektar melebihi luas yang
dimohonkan,yakni 200 hektar.

Namun, dari 40 hektar lahan Bambu Kuning yang sudah dibuka untuk
rumah-rumah tipe 21 hanya sebagian kecil yang telah dihuni dan dibeli
warga. Sebagian lain rusak tidak terawat dan banyak materialnya
hilang diambil orang. Lahan sisa seluas 170 hektar dibiarkan merana.
Iming-iming

Pasangan suami-istri Nanang (36) dan Suharia (35), misalnya,
sudah mengambil rumah tipe 21 di Bambu Kuning. Pasangan Ery (37) dan
Yanti (31) juga sudah sembilan tahun tinggal di Bambu Kuning. Namun,
setiap hari warga kesulitan transportasi dan air bersih. “Dahulu,
ketika kompleks itu dibangun, ada promosi besar-besaran bahwa akan
ada jaringan air leding dan jalan, serta mobil penumpang,” kata
Yanti.

Banyak lahan yang dahulu kala milik warga, negara, dan hak ulayat
telah beralih kepada pengembang pada tahun 1994-1996. Warga beramai-
ramai melepaskan lahan meski ada di antaranya telah berupa kebun atau
lahan pertanian, baik sawah tadah hujan maupun tegalan. Ternyata
tanah yang dulu sempat menghasilkan bagi warga, kini menjadi lahan
tanpa hasil.

Kasim (80), warga Desa Cilangkap yang menjual 7.000 meter persegi
pada tahun 1994 kepada PT Casso Utama, adalah salah satu contoh. Dia
merasa kecewa. H Suari (70), warga Desa Tanjung Sari yang melepas
lebih dari 20.000 meter persegi kepada Regency Maja, adalah contohnya
yang lain. Warga saat itu mau melepas kebunnya karena diiming-imingi
kemajuan dan peningkatan kesejahteraan rakyat Maja.

Data yang diperoleh dari Badan Pertanahan dan Badan Perencanaan
dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lebak menyebutkan, lahan
yang dimohon oleh 16 pengembang itu seluas 5.796 hektar. Lahan yang
telah dibebaskan hingga tahun 2003 seluas 3.565,49 hektar. Namun,
pembukaan lahan sangat terbatas, yakni baru 291 hektar, dan
pembangunan fisik terjadi di lahan seluas 78,82 hektar.

Saat itu Maja hendak dibangun menjadi kota baru bersama dua
wilayah lain, yakni Kecamatan Tenjo di Kabupaten Bogor serta
Kecamatan Cisoka di Kabupaten Tangerang. Kota baru itu dalam satu
kawasan kota baru bercitra Indonesia dengan pusatnya di Maja.
Segitiga Maja, Tenjo, dan Cisoka itu lalu dinamai kawasan Kota
Kekerabatan.

Ada tujuh pengembang yang telah menguasai lahan di Cisoka, dengan
total lahan 2.650 hektar. Satu pengembang, yakni PT Gunung Pertiwi,
juga diberi keleluasaan untuk menguasai 3.000 hektar di Tenjo, tetapi
kemudian lahan itu dijual ke PT Mitra Abadi Utama. Oleh karena itu,
total pengembang kawasan yang menguasai lahan di segitiga Maja,
Cisoka, dan Tenjo sebanyak 24 badan usaha. Total luas lahan yang
dikuasai 10.900 hektar.

Mimpi buruk
Dicekoki berbagai iming-iming akan masa depan baru yang jauh
lebih baik, warga pada tahun-tahun itu rela melepaskan tanah mereka
kepada pengembang. Kota baru yang dilukiskan sebagai Kota Kekerabatan
pada 10-12 tahun silam itu hingga saat ini belum terwujud, sementara
warga kehilangan tanah dan tidak bisa lagi leluasa menggarap
lahannya. Kondisi itu adalah mimpi buruk yang panjang bagi warga.

Kepala Bappeda Lebak Amir Hamzah mengatakan, pembangunan
permukiman di Maja itu berhenti, lebih karena faktor krisis moneter
yang melanda bangsa ini pada tahun 1997/1998. Banyak pengembang,
berikut bank yang mendanai proyek-proyek perumahan di kawasan Maja
gulung tikar.

Rencana membangun Maja menjadi Kota Kekerabatan, yang ditandai
terhubungnya satu perumahan dengan kompleks perumahan lain menjadi
satu kesatuan, tidak terwujud. Infrastruktur tidak juga dibangun.
Sementara tanah warga telah telanjur beralih kepada para pengembang
kawasan.

Maja menjadi simbol kapitalisasi tanah rakyat dan rakyat menjadi
terpinggirkan. Simbol keterpinggiran itu dapat dilihat di Tanjungsari dan
Cilangkap. Di dua desa itu tampak rumah-rumah penduduk yang reyot dan
sulit diperbaiki serta jalan-jalan desa rusak parah. Jaringan jalan
antara kota Maja, Tenjo, dan Cisoka sama buruknya. Revitalisasi
kawasan Maja memang masih sebatas angan-angan.

FOTO di blog ini foto rumah-rumah kosong dan dibiarkan rusak di Perumahan Bambu Kuning, Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s