Krisis Air Bersih: Anak Balita di Jasinga Paling Menderita


KOMPAS

Sabtu, 06 Oct 2007

Halaman: 26

Penulis: Saju, Pascal SB; Kusumaputra, R Adhi


Krisis Air Bersih
ANAK BALITA DI JASINGA PALING MENDERITA

Udeng (70), warga Desa Setu, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor,
merasakan betapa musim kemarau saat ini membuat warga desa betul-
betul menderita. Pasokan air bersih dari perusahaan air minum tidak
masuk ke Jasinga, sementara banyak sumur kering. Kalaupun ada, airnya
tak layak minum lagi.

Setiap malam, kakek itu berjalan kaki sepanjang satu kilometer,
begadang antara pukul 00.00 dan 02.00, hanya untuk antre mendapatkan
air dari sumur warga yang masih memiliki sisa air di Kampung
Penggilingan. Namun, sering kali dia hanya mendapatkan seember air,
bahkan beberapa kali hanya setengah ember. Itu pun airnya
keruh. “Saya terpaksa mengendapkan dulu air keruh itu di ember.
Sungguh sulit mendapatkan air di sini,” keluh Udeng, Jumat (5/10)
siang.

“Musim kemarau tahun ini boleh dikatakan parah. Sejak Juli
sampai Oktober ini warga Jasinga kesulitan air bersih. Tidak ada
jaringan PAM, sumur kering semua. Kedalaman sumur 15-20 meter pun
kering,” kata staf Kecamatan Jasinga, Isra Purnama, di kantornya,
Jumat pagi.

Kecamatan Jasinga, wilayah paling barat di Kabupaten Bogor, Jawa
Barat, yang berbatasan dengan Provinsi Banten, merupakan dataran
tinggi dengan ketinggian 150-250 meter di atas permukaan laut.

Ny Lia (32), warga Desa Pamegarsari, Jasinga, mengungkapkan,
krisis air bersih di wilayah itu membuat rakyat menderita, terutama
mereka yang memiliki anak balita seperti dirinya. “Untuk kebutuhan
balita, mulai untuk air minum, cuci botol susu, sampai untuk mandi,
saya harus beli air isi ulang Rp 2.500 per galon,” kata Lia, istri
dokter Puskesmas Jasinga itu.

Lia yang berasal dari Jakarta dan pernah bekerja di perusahaan
production house itu mengaku hanya mandi sekali dalam sehari. Dia
lebih mementingkan bayinya yang berusia dua bulan. “Malah kadang-
kadang saya tidak mandi,” kata Lia yang satutahun terakhir ini
berada di Jasinga, ikut suaminya dinas di Jasinga.

Lia masih beruntung karena suaminya dokter puskesmas. Tapi banyak
warga Jasinga yang tak mampu membeli air bersih di galon ataupun
jeriken. Ny Enjun, misalnya. Warga Desa Setu ini tak punya sumur dan
tak punya cukup uang untuk membeli air di galon sekalipun.

Ibu empat anak ini menyatakan musim kemarau tahun ini benar-benar
parah. Sehabis makan sahur, dia langsung mencari air di sumur-sumur
warga yang airnya masih tersisa.

Dia harus berjalan kaki ratusan meter melintasi kebun hanya untuk
mendapatkan satu jeriken air sumur. Ny Enjun mengaku setiap hari
hanya membasahkan badannya menggunakan setengah ember
air. “Pokoknya, asal badan basah saja dan asal bisa untuk wudu,”
katanya.

Untuk mandi dan mencuci, ratusan warga desa di Kecamatan Jasinga
memenuhi Kali Cidurian yang melintasi wilayah tersebut. Sejak pukul
15.30 hingga menjelang maghrib, warga berbondong-bondong turun ke
sungai untuk mengambil air. Meskipun warnanya keruh, warga tak punya
pilihan lain.

Beberapa kali warga berharap hujan segera turun jika terdengar
suara gelegar halilintar. Tapi hujan masih enggan menyiram Jasinga.
(PASCAL SB SAJU/R ADHI KUSUMAPUTRA)
Foto di blog ini foto Sungai Cidurian di Jasinga, Kabupaten Bogor yang nyaris kering kerontang. Namun demikian, banyak warga desa sekitar setiap sore memenuhi sungai ini untuk mengambil air ataupun mandi dan mencuci. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s