KOMPAS

Selasa, 09 Oct 2007

Halaman: 27

Penulis: Saju, Pascal S Bin; Kusumaputra, R Adhi


Wisata
SAWARNA, KEINDAHAN YANG TERSEMBUNYI

Oleh Pascal S Bin Saju dan R Adhi Kusumaputra

Keindahan Desa Sawarna, desa di pantai selatan Kabupaten Lebak,
Banten, sejak lama menjadi buah bibir. Namun, hingga kini, keindahan
Sawarna yang memiliki pantai berpasir serta hutan suaka alam dan goa-
goa karst seakan sia-sia.

Salah satu persoalan utama yang menyebabkan Sawarna
tetap “tenggelam” adalah buruknya sarana jalan menuju desa itu, yang
berjarak 137 kilometer dari Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak.

Akibat buruknya kondisi jalan, waktu tempuh dari Rangkasbitung ke
Desa Sawarna hampir lima jam dengan menggunakan jip gardan dobel.
Kompas, yang melakukan perjalanan Sabtu (6/10) dari
Rangkasbitung, mengambil jalan menuju kota Kecamatan Malingping.
Namun, saat ini jalan rusak parah antara Cileles-Malingping sepanjang
27 kilometer, membuat laju kendaraan tersendat.

Namun, selepas Malingping, jalan beraspal dan mulus hingga kota
Kecamatan Bayah. Di sini pemandangan indah pantai selatan Bayah
dengan persawahan membuat pikiran pun sejuk. Deburan ombak pantai
selatan membuat hati tenang.

Dari Bayah, ambil jalan menuju Desa Wisata Sawarna. Dari sini,
kondisi jalan berbatu-batu dengan turunan tajam sampai 60 derajat,
membuat Anda kembali menikmati suasana off road. Namun, dari puncak
bukit di kawasan hutan yang dilintasi, terlihat jelas keindahan
Pantai Ciantir, pantai berpasir dengan garis pantai sepanjang 3,5
kilometer. Tak jauh dari pantai terlihat pula gerombolan kerbau di
sawah nan hijau. Sungguh indah suasana alami desa ini.

Jalan berbatu yang menurun dengan kemiringan 60 derajat hanya
dapat dilintasi jip bergardan dobel. Sulit bagi kendaraan seperti
sedan untuk melintasi kawasan desa wisata itu.

Setelah melintasi jalan berbatu-batu dengan medan yang sulit,
akhirnya kami tiba di homestay milik Husada Ata (62), mantan Kepala
Desa Sawarna (1977-1999). Meski ada lebih dari 30 homestay di Desa
Sawarna, tamu-tamu dari mancanegara lebih sering menginap di rumah
Husada.

Menginap di homestay di desa ini tarifnya antara Rp 50.000 per
orang per hari (tanpa makan) dan Rp 100.000 per orang per hari
(dengan makan tiga kali). Tidak sedikit pula yang memilih memasang
tenda dan kamping di tepi Pantai Ciantir.

Untuk menuju Pantai Ciantir, kami harus melintasi jembatan
gantung dari seberang rumah Husada, menyeberangi Sungai Cisawarna,
berjalan kaki sejauh satu kilometer. Dalam perjalanan yang ditempuh
selama 20 menit, kami melewati sawahnan hijau di kiri kanan jalan
setapak dan rumah-rumah penduduk berdinding bambu. Ada beberapa
homestay di dekat pantai, tapi mobil tak bisa masuk karena belum ada
jembatan menuju pantai.

“Surga” pencinta “surfing”
Sebaliknya, ombak besar menjadi “surga” bagi pencinta olahraga
surfing. Ombak pantai di Sawarna ini dianggap salah satu yang terbaik
bagi penggemar olahraga ini. Mike Neely (35) yang berasal dari Byron
Bay, Australia, tampak sedang berselancar di tengah gulungan ombak
laut selatan.

“Pantai yang indah, ombak yang bagus,” kata Mike, yang menginap
di homestay Sawarna hanya untuk surfing selama tiga hari. Hal senada
diungkapkan Kannenori Miura (58), warga negara Jepang, penasihat
Bupati Lebak urusan pendidikan lingkungan dan ekowisata.

“Penggemar surfing dari mancanegara sengaja datang ke Sawarna.
Potensi wisata sangat besar, tapi sayang infrastruktur jalan masih
kurang. Toilet di homestay-homestay di sini tidakmemenuhi standar
internasional. Makanan yang disajikan pun seharusnya hasil tangkapan
laut karena itu jauh lebih berkesan,” kata Miura.

Desa Sawarna ditetapkan sebagai desa wisata binaan Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten sejak tahun 2000.
“Pejabat dinas kebudayaan dan pariwisata waktu itu membangun
beberapa saung dan lesehan di tepi Pantai Ciantir. Tapi untuk apa itu
semua jika sarana jalan menuju desa kami tetap dibiarkan rusak?”
ungkap Pelaksana Tugas Kepala Desa Sawarna Suhanda (37) kepada
Kompas, Minggu (7/10).

Jalan di desa ini baru diaspal tahun 2001. Sebelumnya masih jalan
berbatu, itu pun hasil pekerjaan tentara, tiga kali program ABRI
Masuk Desa.

Listrik masuk desa berpenduduk 5.755 jiwa ini tahun 1998.
Sebelumnya, hingga tahun 1990 warga desa yang berbelanja atau berobat
harus berjalan kaki ke Bayah sejauh 12 kilometer minimal empat jam
atau ke Cisolok sejauh 39 kilometer selama 10 jam. Sawarna
baru “terbuka” enam tahun terakhir ini.

Memang hanya orang-orang yang gemar berpetualang yang mau
menghabiskan waktu berjam-jam menuju Desa Sawarna.
Orang-orang asing datang untuk berselancar di ombak pantai
Sawarna, seperti dari Australia, Selandia Baru, Swedia, Meksiko,
Jepang, Perancis, dan Inggris, seperti tercantum dalam buku tamu di
homestay Husada.

“Kalau semua infrastruktur sudah memadai, Sawarna bisa
jadi ‘Bali kedua’. Bahkan Palabuhanratu pun bakal kalah pamornya,”
kata Husada, yang berharap desa yang dibangun kakek moyangnya itu
segera bersinar.

Foto: 1
Kompas/Adhi Kusumaputra
Pantai Ciantir, Desa Sawarna, Kecamatan Lebak, Banten, sekitar 237
kilometer dari Jakarta memiliki panorama indah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s