Kolom Blog Adhi Ksp: Perjalanan Jurnalistik ke Pedalaman Banten

Perjalanan jurnalistik ke wilayah Banten kali ini sungguh berarti. Bagi saya, inilah kesempatan mengasah kepekaan sosial ketika melihat problem nyata di depan mata. Pengangguran bertambah di desa-desa, tanah dan sawah rakyat tergusur untuk pembangunan megaproyek, dan potensi pariwisata nan indah yang masih disia-siakan. Yang berkesan bagi kami, pada zaman teknologi canggih, kami dapat menulis berita dan laporan dari manapun, termasuk di tepi Pantai Ciantir, Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. (KSP)

Kolom Blog Adhi Ksp

Perjalanan Jurnalistik ke Pedalaman Banten

Saya beruntung memiliki kesempatan melakukan perjalanan jurnalistik selama satu minggu sejak tanggal 2 Oktober 2007 ke pedalaman Banten. Saya bersama kolega di Kompas, Pascal SB Saju menjelajahi Banten tengah ke selatan, melalui Kecamatan Cisoka dan Solear di Kabupaten Tangerang, kemudian singgah di Kecamatan Maja dan Rangkasbitung di Kabupaten Lebak. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Banten selatan, melintasi Kecamatan Malingping dan Kecamatan Bayah, masih di Kabupaten Lebak.

Mengapa perjalanan jurnalistik ke pedalaman Banten menjadi pengalaman berarti? Sejak dulu saya senang berpetualang dalam arti sesungguhnya. Ketika bertugas di Kalimantan (1997-1999) misalnya, saya lebih suka jalan, menjelajahi hutan Borneo yang eksotis, bertemu dengan penduduk asli setempat dan melihat kesenjangan pembangunan antara Jakarta dan daerah.

Demikian halnya ketika melakukan perjalanan jurnalistik ke wilayah Banten tengah-selatan ini. Meskipun jarak Cisoka-Solear tidak terlalu jauh dari gemerlap Jakarta, namun anak-anak muda di Cisoka dan Solear, wilayah paling barat Kabupaten Tangerang yang berbatasan dengan Kabupaten Lebak, banyak yang menganggur. Dari rata-rata 6.000 penduduk desa di Cisoka misalnya, 2.000 di antaranya berusia produktif dan mereka menganggur! Sungguh menyedihkan!

Dalam perjalanan jurnalistik ke kawasan Kota Kekerabatan Maja (Maja, Cisoka, Tenjo), kami melihat sisa-sisa kawasan yang pernah direncanakan sebagai kota baru tersebut. Ribuan warga sudah menjual tanah, rumah, sawah dan kebunnya kepada para pengembang. Tapi kini mereka menyesal karena “kota baru” yang dijanjikan, sudah lebih 10 tahun, tak pernah terwujud. Kini banyak warga yang terpinggirkan di kampung mereka sendiri.

Kami juga menyaksikan di mana-mana sawah di wilayah Banten tengah kering kerontang. Termasuk juga wilayah Jasinga, Kabupaten Bogor, poros tengah antara Pandeglang dan Bogor, penduduknya menderita akibat kemarau panjang.

Di Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, kami singgah di rumah-rumah penduduk, yang bakalan lenyap untuk pembangunan dam Karian. Bendungan yang akan menghabiskan dana Rp 3,3 triliun itu butuh lahan 1.740 hektar di lima desa di tiga kecamatan di Lebak. Kabarnya, jika dam ini beroperasi tahun 2012, pasokan air di Jakarta, Tangerang, Cilegon dan wilayah Banten lainnya tak bakalan kurang. Untuk itu, rakyat kecil di pedalaman Banten harus “berkorban” lagi, merelakan rumah, tanah, sawah mereka tergusur!

Sama ketika kami mendatangi wilayah Kecamatan Bayah di selatan Banten. Sebuah proyek raksasa lagi-lagi membutuhkan lahan seluas 1.040 hektar di lima desa di Kecamatan Bayah. PT Boral Indonesia, PMA dari Australia akan membangun pabrik semen, dermaga, areal pertambangan, perumahan dan fasilitas umum dan sosialnya di Bayah. Sawah produktif penduduk, warisan nenek moyang yang dikelola turun-temurun pun harus digusur demi pembangunan industri semen.

Lebak juga menyimpan banyak potensi, termasuk potensi pariwisata. Kami menginap di rumah penduduk di Desa Sawarna, masih di Kecamatan Bayah selama dua malam. Di Sawarna, kami menikmati keindahan Pantai Ciantir dan Gua Lalay. Ombak Pantai Ciantir sangat ideal bagi pencinta “surfing”, terutama orang-orang asing. Sedangkan Gua Lalay, yang dihuni kelelawar, sering dikunjungi anak-anak sekolah dan mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia. Sungguh pengalaman dan perjalanan jurnalistik yang menyenangkan!

Satu hal lagi yang patut menjadi perhatian pemerintah adalah infrastruktur jalan yang tidak memadai. Jalan rusak berat di wilayah Banten cukup banyak. Termasuk di antaranya dari Rangkasbitung ke Malingping, dan dari Bayah ke Desa Sawarna. Ini mempengaruhi minat wisatawan nusantara maupun mancanegara datang ke Sawarna yang eksotik. Kalau saja pemerintah memperbaiki infrastruktur jalan ke Sawarna, kami yakin seyakin-yakinnya, Sawarna akan mengalahkan Pelabuhan Ratu, bahkan Bali sekalipun.

Inilah catatan ringan perjalanan jurnalistik selama sepekan menjelajahi wilayah Banten tengah-selatan awal Oktober 2007 ini.

Bayah, 8 Oktober 2007

FOTO di blog ini, foto saya bersama rekan Pascal SB Saju saat menulis laporan dari tepi Pantai Ciantir nan indah di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten selatan (atas) dan suasana sunset (matahari tenggelam) di pantai yang sama (bawah). Foto atas oleh Kannenori Miura, thanks Mr Miura! dan foto sunset bawah oleh R Adhi Kusumaputra/Kompas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s