Tersisih di Kampung Sendiri

KOMPAS
Kamis, 04 Oct 2007
Halaman: 27
Penulis: Saju, Pascal S Bin; Kusumaputra, R Adhi

Kawasan
TERSISIH DI KAMPUNG SENDIRI

Haji Kasim (80) menjual kebunnya seluas 7.000 meter persegi pada
tahun 1994 dengan harapan agar tanah itu betul-betul bermanfaat untuk
pengembangan kawasan Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Namun, setelah 13
tahun berlalu, tak ada satu bangunan pun yang berdiri di tanah itu.
Yang terlihat hanya hamparan tanah kosong yang luas.

Kasim, warga Desa Cilangkap, Kecamatan Maja, Lebak, hanya salah
satu dari ribuan warga yang menjual tanah mereka kepada para
pengembang yang pada masa itu berencana membangun Kota Kekerabatan
Maja. Kasim merasa kontribusinya menjual kebunnya seperti sia- sia.

“Waktu itu tanah yang dijual kakek berupa kebun pisang, sayuran,
timun, kacang, yang masih produktif. Dulu kakek mau jual tanah itu
karena dijanjikan akan ada pabrik, ada toko, dan lainnya. Kakek
dijanjikan bahwa hidup di kampung ini tak bakalan susah lagi,” kata
Roni (30), cucu Kasim, dalam percakapan dengan Kompas di Maja, Lebak,
Rabu (3/10). Namun kini kebun itu sudah lenyap tak berbekas, tinggal
tanah kosong yang gersang.

Pada waktu itu, kakeknya termasuk yang diiming-imingi janji
pengembang bahwa kawasan Maja akan menjadi kota baru sehingga akan
tercipta banyak lapangan kerja baru.

Tapi impian Kasim kandas. Setelah krisis ekonomi melanda
Indonesia, dunia properti di Maja mati suri. Lima belas pengembang
yang semula akan membangun Kota Kekerabatan Maja dan sudah
membebaskan lahan di 16 dari 21 desa di Kecamatan Maja tak mampu
melanjutkan pembangunan. Tanah yang sudah dikuasai pengembang kini
menjadi hamparan lahan kosong yang mangkrak.

“Sebetulnya sudah dibangun 150 unit rumah di Regency Maja milik
pengembang PT Panca Muara Jaya, tapi rumah-rumah itu sekarang sudah
rata dengan tanah. Rakyat Desa Tanjung Sari kecewa dengan janji
kosong pengembang,” kata M Yusuf, tokoh masyarakat Desa Tanjung
Sari,kepada Kompas, Rabu siang.

Roni, cucu Kasim, kini bekerja sebagai pengojek di depan gapura
Regency Maja yang masih berdiri. Roni termasuk warga yang berharap
pembangunan dilanjutkan agar dia dan orang muda di Maja tak perlu
mencari kerja ke Jakarta. “Sekarang banyak teman saya yang cari
kerja di Jakarta, kerja serabutan,” ungkapnya. Setiap kali memandang
gapura, Roni ingat janji- janji “angin surga” pengembang.

Ingin garap lahan telantar
Titan Bastaman, Sekretaris Kecamatan Maja, mengakui banyak warga
desa yang kini terpinggirkan di kampung sendiri. Mereka bekerja
serabutan untuk dapat mempertahankan hidup. Padahal, dulu mereka
memiliki kebun dan sawah, yang hasilnya lebih dari cukup untuk makan
sehari-hari.

Sejumlah warga terpaksa menggarap lahan yang sudah dikuasai
pengembang dari Jakarta itu hanya untuk mempertahankan hidup mereka.
Sardawi (43), misalnya, menggarap lahan seluas setengah hektar milik
PT Kaso Utama hanya sebatas menanam padi, jagung, dan singkong.
“Saya tak punya tanah lagi. Ini saya lakukan untuk menyambung
hidup,” kata Sardawi, warga Desa Cilangkap, Maja, yang memiliki enam
anak.
(Pascal S Bin Saju/ R Adhi Kusumaputra)

FOTO di blog ini foto gapura Regensi Maja, yang rencananya masuk dalam Kota Kekerabatan Maja di Kabupaten Lebak, Banten. Tapi kawasan ini hanyalah hamparan tanah kosong. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s