Pemberdayaan: Menekan Kemiskinan Melalui Kegiatan RW

KOMPAS
Kamis, 20 Sep 2007
Halaman: 1
Penulis: Kusumaputra, R Adhi

Pemberdayaan
MENEKAN KEMISKINAN MELALUI KEGIATAN RW

Oleh R Adhi Kusumaputra

Masli (21), warga RT 05 RW 02 Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan
Kebon Jeruk, Jakarta Barat, merasa mendapat berkah setelah ikut
Pelatihan Mekanik Sepeda Motor di Rumah Srikandi. Ia melihat ada masa
depan, yang telah lama terlepas dari genggamannya.

Sejak lulus madrasah aliyah tiga tahun lalu, anak yatim piatu itu
menganggur. Masli kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya sejak
usia delapan tahun ketika ayah dan ibunya tewas dalam kecelakaan
sepeda motor. Ia ikut pamannya di Kelapa Dua, yang juga bekerja
serabutan sebagai penjahit keliling.

Dalam tiga tahun terakhir ini, Masli mencari pekerjaan, dari
pintu ke pintu. Bahkan, ia bersedia bekerja sebagai buruh cuci
pakaian di rumah, tetapi tak ada satu pun yang menerimanya. Sampai
kapankah pemuda itu menganggur dan keluar dari jerat kemiskinan?

Masli hanyalah salah satu contoh betapa kemiskinan membuat banyak
kaum muda putus asa. Mereka yang berusia produktif itu acap kali
pulang dengan tangan hampa. Angka putus sekolah terus membengkak.
Siapa yang bertanggung jawab memberikan pekerjaan kepada anak
muda yang sebetulnya masih berada di sekitar kita?

Ketika Lurah Kelapa Dua Firman Ibrahim mengumumkan akan digelar
Pelatihan Mekanik Sepeda Motor pada 19-29 September 2007, Masli
langsung mendaftarkan diri. Ia berharap dapat meraih masa depan, yang
sudah lama terlepas dari genggamannya.

Pelatihan itu diadakan Dana Kemanusiaan Kompas, Yayasan Dharma
Bhakti Astra, dan Sari Husada serta diikuti 17 peserta, semuanya
pemuda. Acara itu digelar di Rumah Srikandi, sebuah rumah berlantai dua,
bergaya minimalis yang dibangun Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) di RW
02, Kelurahan Kelapa Dua.

Wajah-wajah anak muda itu tampak serius mengikuti kata sambutan
petinggi perusahaan penyelenggara pelatihan itu. Mereka tentu
berharap ada secercah harapan untuk menggapai masa depan yang lebih
baik.

“Tiga lulusan terbaik pelatihan ini akan mendapat bantuan modal
untuk mendirikan bengkel. Ketiganya harus membentuk tim,” kata
Pemimpin Redaksi Harian Kompas Suryopratomo, Rabu (19/9) pagi. Modal
yang diberikan kelak harus dikembalikan agar dapat digunakan oleh
lulusan lain. Peserta diajak belajar menolong teman dan tak egois.

Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra Aminuddin mengatakan, setelah
lulus pelatihan, peserta akan dimagangkan di bengkel resmi Honda,
Ahass, dan bengkel umum di Jakarta.

Namun, Aminuddin mengingatkan syarat seseorang berhasil adalah
tetap menjaga kepercayaan dan tidak berkelahi dengan teman. Ia ingin
semua peserta pelatihan berhasil.

“Mereka yang ikut pelatihan ini dipastikan bisa kerja di
bengkel,” kata Manajer Yayasan Dharma Bhakti Astra Alex Widjaja.
Pelatihan mekanik sepeda motor itu memang langkah kecil, yang
dapat membantu menekan angka kemiskinan. Akan tetapi, langkah kecil
ini bisa menjadi karya besar jika dikerjakan secara berkesinambungan
dan merata di semua wilayah.

“Pelatihan di RW 02 Kelapa Dua ini bisa menjadi proyek
percontohan dan bisa diterapkan di wilayah lain,” kata Suryopratomo.
Mekanik sepeda motor dipilih sebagai materi pelatihan dengan
pertimbangan saat ini jumlah sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya
lebih dari 5 juta unit. Banyak bengkel dan tenaga mekanik yang
dibutuhkan untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah sepeda motor.

Untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran, pemerintah tak
mungkin sanggup berjalan sendirian. Kehadiran dunia usaha seperti
Kompas, Astra, dan Sari Husada di RW 02 Kelurahan Kelapa Dua ini
contoh betapa dibutuhkannya peran dunia usaha dan masyarakat dalam
mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Peran masyarakat
Kerelaan warga seperti Neneng Robby (53) yang memberikan sebagian
tanahnya untuk kepentingan kegiatan RW menjadi cahaya bagi warga
setempat. Di atas lahan seluas 150 meter persegi itulah, Kompas
membangun gedung minimalis untuk kegiatan RW 02.

Yang menarik, Rumah Srikandi itu juga menjadi pusat posyandu, pos
pendidikan anak usia dini, dan pos bina keluarga balita, terutama
untuk masyarakat prasejahtera. Bersama Aan Sumarni (59), Neneng
mencurahkan waktu, tenaga, dan harta tanpa pamrih. Mereka merangkul
relawan yang mau menjadi guru pendidikan anak usia dini (PAUD),
dibayar honor sebesar Rp 150.000 per bulan. Di tengah derasnya arus konsumtivisme, guru-guru itu masih mau bekerja demi masa depan anak balita dari keluarga prasejahtera.

Dari RW 02, Kelapa Dua, Jakarta Barat, langkah kecil sudah
dibuat. Lima, sepuluh tahun mendatang, atau lebih, langkah kecil ini
diharapkan menjadi karya besar. Wajah-wajah dengan mata kosong tanpa
harapan hari ini kelak dapat berganti menjadi cahaya yang menerangi
gelap di lorong-lorong kota kita.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s