Cerita Kriminal: Mely Diculik dan Dijadikan Pengemis

KOMPAS
Minggu, 16 Sep 2007
Halaman: 4
Penulis: Kusumaputra, R Adhi

Cerita Kriminal
MELY DICULIK DAN DIJADIKAN PENGEMIS

Oleh R Adhi Kusumaputra

Melyaningsih (4), yang kerap dipanggil Mely, seakan tidak
mengenali ayahnya lagi. Ketika sang ayah, Muhammad Melodi Nur, hendak
menggendongnya, Mely menangis keras. Delapan bulan berpisah membuat
anak perempuan itu tak ingat Nur lagi, ayah kandungnya. “Ah, mungkin
dia masih bingung,” ungkap Nur kepada pers di Markas Kepolisian
Resor Metro Depok, Selasa (11/9) sore.

Wajahnya sudah berubah. Anak perempuan seberat 11 kilogram dan
tinggi 60 sentimeter itu tidak lagi berambut panjang sebahu.
Rambutnya sudah dipotong pendek.

Mely hilang sejak 8 Januari 2007 silam. Ketika itu sang ayah,
pedagang keliling yang mangkal di Stasiun KA Depok Baru, tidak
mengawasi anak perempuannya yang bermain-main di kawasan publik itu.
Nur baru sadar ketika dia memanggil-manggil nama Mely, tak terdengar
sahutan apa pun. Dia menunggu tiga hari, tetapi Mely tak juga kembali.

Pada 11 Januari 2007, Nur melaporkan kasus kehilangan anaknya ke
Kepolisian Resor (Polres) Metro Depok. Selama delapan bulan, Nur
mengaku selalu menunggu anaknya kembali, tetapi Mely belum juga
kembali. Sang ibu, Ny Dian, mengalami stres. “Kami tak tahu lagi
harus melapor ke siapa lagi. Setiap malam kami berdoa agar Mely
kembali,” kata Nur.

Kasus penculikan Mely seakan “hilang” tanpa bekas. Ketika kasus
penculikan Raisah mendapat perhatian Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, kasus Mely mencuat kembali. Jajaran Polres Metro Depok
seakan ditantang untuk mengungkap kasus penculikan Mely. Polisi ingin
membuktikan bahwa mereka tidak hanya peduli pada korban penculikan
dari keluarga kelas menengah. “Tapi korban dari keluarga menengah
bawah pun kami peduli,” kata Kepala Polres Metro Depok Komisaris
Besar Imam Pramukarno kepada wartawan, Selasa lalu.

Ayah Mely dan ibunya tinggal di rumah kontrakan di RT 03 RW 01,
Bojonggede, Kabupaten Bogor. Wilayah itu masuk dalam wilayah hukum
Polres Metro Depok. Hidupnya pas-pasan, kalau tidak disebut
kekurangan. Telepon seluler pun Nur tak punya.
“Selama dua minggu terakhir ini, kami menelusuri stasiun dan
terminal, juga perempatan di Jakarta, di mana banyak anak yang
menjadi pengamen dan pengemis. Tapi hasilnya nihil,” kata seorang
anggota Reserse Polres Metro Depok.

Namun, hasil kerja keras jajaran Polres Metro Depok tidak sia-
sia. Hari Minggu (9/9) menjelang tengah malam, polisi meringkus
Suprihati (34), perempuan tunawisma di halaman sebuah department
store di Kota Depok. Suprihati baru saja pulang dari Slipi, Jakarta
Barat, mengemis di perempatan.

Polisi menangkap Suprihati setelah sejumlah saksi menyebutkan
sering melihat perempuan itu bersama Mely beberapa bulan lalu.
Ternyata selama enam bulan, Januari hingga Agustus 2007, Mely selalu
diajak Suprihati mengemis di perempatan Slipi dan beberapa lokasi di
Jakarta. Namun, saat ditangkap, Suprihati mengaku tidak lagi bersama
Mely.

Suprihati mengaku Mely hilang di Manggarai, Jakarta Selatan,
sejak dua bulan lalu. Namun, polisi mengatakan, Mely ditemukan
seorang warga di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, yang kemudian
dibawa ke Pos Polisi Kalibata. Oleh polisi, Mely lalu dibawa ke Rumah
Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Departemen Sosial Bambu Apus, Jakarta
Timur.

“Mely diantar anggota Pos Polisi Kalibata,” kata Sekretaris RPSA
Bambu Apus Achmad Sahidin kepada pers, Selasa siang. Achmad mengantar
Mely ke Polres Metro Depok setelah menonton siaran televisi dan
membaca media cetak soal tertangkapnya Suprihati dan hilangnya Mely.

“Semula kami agak ragu anak perempuan di RPSA itu adalah Mely.
Sebab namanya di RPSA adalah Dewi Alfabet. Tapi, setelah kami cek
melalui teknik kepolisian, kami yakin anak itu memang Mely yang
hilang diculik delapan bulan lalu,” kata Imam.

Polisi menjerat Suprihati dengan Pasal 328 Kitab Undang-undang
Hukum Pidana (KUHP) soal penculikan dengan ancaman maksimal sembilan
tahun penjara. Namun, Sekjen Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka
Sirait berharap polisi menjerat Suprihati dengan Undang-Undang No 23
Tahun 2002 soal Perlindungan Anak, di mana hukuman maksimal penculik
adalah 15 tahun penjara.

Arist menyebutkan, selama sembilan bulan terakhir sepanjang tahun
2007, pihaknya menerima laporan 54 kasus penculikan anak di bawah 12
tahun. Sebelas kasus di antaranya kasus penculikan dengan motif
eksploitasi anak.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s