Kolom Blog Adhi Ksp: Indonesia Tanah Air Beta…

Kolom Blog Adhi Ksp

Indonesia Tanah Air Beta…

Hasil riset seorang peneliti dari Universitas Leicester, Inggris, Adrian White yang dikutip Business Week tahun 2006 lalu, menyebutkan bahwa Denmark adalah negara di urutan pertama sebagai negara paling asyik dan menyenangkan sebagai tempat tinggal.

Denmark, sebuah negara kecil seluas 43.094 km2 dengan jumlah penduduk 5,4 juta jiwa (2005) dan tingkat kepadatan 126/km2, sedangkan produk domestik bruto per kapita 34.718 dollar AS (2005) atau di urutan ke-6 dunia. PDB dengan perhitungan paritas kemampuan membeli/purchasing power parity per kapita adalah nilai seluruh produk dan jasa yang dihasilkan sebuah negara dalam satu tahun, dibagi dengan rata-rata jumlah penduduk pada tahun yang sama.

Penelitian White menyebutkan Denmark memiliki keunggulan keindahan alami, rakyatnya makmur sentosa, pemerintahnya mengutamakan pendidikan dan kesehatan rakyat. Swiss, Austria dan Eslandia termasuk dalam sepuluh besar negara ternyaman sebagai tempat tinggal. Sementara Zimbwabwe dan Burundi berada di urutan paling bawah dari 178 negara yang diteliti.

Yang menjadi ukuran Adrian White, analis di bidang psikologi sosial di Universitas Leicester yang mengembangkan peta “World Map Happiness” itu terutama adalah kesehatan, angka kemiskinan, akses pada pendidikan, dan jumlah penduduk. Negara berpenduduk lebih sedikit, cenderung mendapat skor angka besar dibandingkan negara berpenduduk banyak seperti China, India, Amerika Serikat, Rusia.

Bagaimana dengan Indonesia? Sudah diduga, sebagai negara besar berpenduduk 220 juta, Indonesia pasti bukan masuk 10 besar. Tetapi melihat ukurannya akses pada pendidikan dan kesehatan, serta tingkat kemiskinan, Indonesia masih bukan negara yang nyaman sebagai tempat tinggal.

Tahun lalu, saya melakukan perjalanan ke pedalaman Kabupaten Pandaglang dan Lebak di Provinsi Banten. Apa yang ditemukan? Akses rakyat Banten di pedalaman untuk menikmati pendidikan berkualitas dan kesehatan, sangatlah kurang. Saat ada pemilihan gubernur tempo hari, mereka menjawab polos, “tergantung siapa yang mau kasih uang”.

Tak heran jika ada calon yang bermain politik uang. Tapi setelah si calon terpilih, apakah ada jaminan sektor pendidikan dan kesehatan bakal diperhatikan serius? Jangan-jangan jawabnya, ah siapa peduli? Mereka mungkin tak paham apakah calon yang membagi-bagikan uang itu kelak akan memperhatikan nasib mereka, bakal membuat pendidikan gratis dan kesehatan gratis atau tidak. Ini semua terjadi karena tingkat pendidikan masyarakat di pedalaman juga relatif rendah, dan mudah diiming-imingi, diadudomba, bahkan bisa jadi diprovokasi.

Kemiskinan yang diderita sebagian besar rakyat republik ini, jika tidak ditangani serius, akan sangat berbahaya. Bahkan pernah disinyalir, kemiskinan dapat menumbuhkan semangat radikal yang arahnya pada aksi teroris. Rakyat mudah menerima “ajaran menyimpang” yang pada gilirannya dapat merugikan negara.

Pemerintah, siapapun yang jadi Presiden, harus mengutamakan sektor pendidikan dan kesehatan. Ini harus jadi prioritas dalam semua kebijakan. Kalau perlu pendidikan gratis sampai SMA untuk semua rakyat Indonesia. Saya memberi apresiasi pada Yayasan Bina Anak Indonesia (YBAI) pimpinan Rizal Sikumbang, yang membuka sekolah berkualitas gratis di Desa Lengkong, Serpong, Tangerang. Rizal dan kawan-kawan ingin mengubah Indonesia, dimulai dari desa. Kalau pola pikir anak-anak desa itu berubah, mudah-mudahan kelak, bisa mengeluarkan keluarga Indonesia dari kemiskinan struktural. Cita-cita mulia yang harus didukung bersama.

Sektor kesehatan juga harus menjadi prioritas. Bayangkan jika makin banyak balita Indonesia kekurangan gizi, Indonesia bisa-bisa kehilangan satu generasi! Kalau pemerintah “lupa” memperhatikan sektor kesehatan, bencana itu bakal terjadi. Sebab, seperti halnya pendidikan, biaya kesehatan relatif mahal. Rakyat miskin yang tak punya uang, sampai kapan pun, tak bisa menyentuh pendidikan berkualitas dan kesehatan yang bagus. Siapa yang salah? Sementara nelayan di Muara Binuangeun, Kabupaten Lebak terjerat utang. Berhari-hari melaut, sampai di darat, bukan uang yang didapat, tetapi utang sudah menjerat. Sungguh tak masuk diakal.

Tapi demikianlah yang dialami sebagian besar nelayan Indonesia. Padahal kekayaan laut Indonesia berlimpah ruah. Siapa yang menikmatinya? Saya tak tahu apakah Indonesia salah urus. Korupsi tetap merajalela meskipun KPK aktif bekerja. Uang yang seharusnya dapat dinikmati sebagian besar rakyat Indonesia, entah pergi kemana. Gaji PNS, TNI, Polri yang merupakan abdi negara, seharusnya dinaikkan berlipat-lipat ganda sampai mereka menerima penghasilan yang wajar, bukan harus “berakrobat” sehingga lupa tugas utama karena harus nyambi sana-sini.

Sudah berapa Presiden yang mengelola republik ini, tapi belum ada satu pun yang mampu mengangkat sebagian besar rakyat Indonesia dari keterpurukan. Siapa yang salah? Padahal Indonesia sangatlah kaya. Kekayaan alamnya sangat luar biasa. Mestinya dari sektor pariwisata saja, Indonesia sudah bisa mendulang devisa negara.

Belasan tahun lalu saya pernah ke sebuah pulau kecil di Karibia, yaitu Aruba, kolonial Belanda dengan ibukotanya Oranjestaad. Saya pikir, Bali pasti lebih bagus dari Aruba yang luasnya cuma 193 km2 dan jumlah penduduk 102.695 jiwa. Mengapa pulau di Karibia itu dipilih sebagai tempat berlibur selebriti dunia? Di Indonesia, ada berapa banyak pulau yang indah seperti Bali? Ratusan bahkan mungkin ribuan jumlahnya. Tapi? Ya disia-siakan. Bayangkan kalau dibuat sedemikian rupa seperti Bali atau Aruba.

Sementara Malaysia kini “ngebut” membangun infrastruktur dan membenahi sektor pariwisata, sehingga negeri itu makin dilirik wisatawan asing. Singapura, pulau kecil yang luasnya mirip luas Kota Jakarta? Tak ada sumber daya alam pun, negeri itu mampu menjadi negara kaya raya. Mengapa? Lagi-lagi karena pendidikan dan kesehatan. Sumber daya manusia sangat diperhatikan.

Sepuluh tahun lalu, banyak negara di Asia dilanda krisis dan kolaps, termasuk Thailand. Tapi kini Thailand sudah bangkit, Baht perkasa lagi, sementara Indonesia? Jumlah penganggur makin banyak, jumlah rakyat miskin dan balita kurang gizi terus bertambah. Duh! Bencana pun datang silih berganti, entah mengapa. Bencana tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di mana-mana, banjir dan longsor, kecelakaan pesawat terbang, kapal laut dan kereta api terus terjadi. Lagu Ebiet G Ade yang pernah populer, akhirnya selalu terdengar keras,”Mungkin Tuhan sudah bosan, melihat tingkah kita…”

Tapi, bagaimanapun, rakyat Indonesia tetap mencintai negeri tumpah-darahnya dan ingin negeri ini maju, bersaing dengan negara lainnya. Indonesia tanah air beta. Persoalannya, mampukah Indonesia bersaing dalam era globalisasi ini dengan negara lain yang sumber daya manusianya luar biasa? Saya yakin Indonesia pun punya SDM yang andal. Banyak putra terbaik yang belajar di luar negeri. Tetapi pertanyaannya, apakah mereka diberdayakan dengan maksimal oleh republik ini? Jangan-jangan setelah sekolah di luar negeri, sampai di negeri sendiri malah di-cuekin dan akhirnya frustrasi. Siapa yang salah?

Membaca Majalah Fortune yang menyebutkan, kota terkaya di dunia saat ini adalah Abu Dhabi di Uni Emirat Arab, atau membaca Business Week yang melaporkan, negara ternyaman menjadi tempat tinggal adalah Denmark di Skandinavia, Eropa, kita semua pasti gregetan.

Kapan Indonesia Tanah Air Beta bangkit menjadi negeri kaya, penduduknya sejahtera? Harus menunggu berapa Presiden lagikah agar Indonesia Tanah Air Beta menjadi sejajar dengan negeri lainnya yang makmur sentosa?

Serpong, 19 Maret 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s