Sosok: Femke den Haas, Merawat Satwa Sitaan

KOMPAS

Rabu, 05 Sep 2007

Halaman: 16

Penulis: Kusumaputra, R Adhi


Sosok

FEMKE DEN HAAS, MERAWAT SATWA SITAAN


Oleh R Adhi Kusumaputra

Pada saat satwa-satwa langka disita di Bandara Soekarno-Hatta,
Jakarta, maka Femke den Haas-lah yang selanjutnya bertanggung jawab
untuk menangani masalah ini. Ia berusaha menyelamatkan nyawa para
satwa sitaan itu, dengan membawanya ke lokasi Pusat Penyelamat Satwa
di Tegal Alur, Jakarta Barat.

Persinggungannya dengan satwa sitaan dimulai sejak dia bergabung
dengan lembaga penyelamat satwa Gibbon Foundation pada Agustus 2002.
Lembaga nonprofit ini telah menyiapkan dana sekitar Rp 500 miliar
untuk membantu penyelamatan satwa di Indonesia.

Akan tetapi, cerita Femke, perempuan asal Belanda yang fasih
berbahasa Indonesia ini, Gibbon Foundation kemudian memutuskan
menghentikan bantuan karena kecewa melihat Pemerintah Indonesia
nyaris tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kekayaan satwanya
sendiri.

Perdagangan satwa tetap saja terus berlangsung. Bahkan, Femke
mengaku nyaris frustrasi setelah dia semakin paham siapa saja yang
berkaitan dengan perdagangan satwa tersebut.

Dia tak ingin menjelaskan “mafia” dalam perdagangan satwa itu
lebih lanjut. Menurut dia, hal itu sepenuhnya bergantung pada
kebijakan Pemerintah Indonesia. Namun, satu hal pasti, kecintaannya
pada satwa membuat Femke tetap bertahan.

“Saya sebenarnya tidak tega melihat satwa-satwa itu terlalu lama
berada di Tegal Alur. Lahan di sini hanya sekitar 3.000 meter
persegi, terlalu sempit untuk menampung sekitar 1.500 satwa,”
ujarnya menggambarkan kondisi Pusat Penyelamat Satwa (PPS). Dalam
setahun, sedikitnya 2.000 ekor satwa disita di Bandara Soekarno-Hatta.

“Jumlah itu belum termasuk satwa jenis reptil, seperti biawak
dan ular kobra yang dijual ke China untuk dikonsumsi,” ungkapnya.
Satwa sitaan yang dipelihara di PPS pun amat beragam jenisnya,
mulai dari reptilia, primata, dan hingga mamalia seperti beruang, ada
pula burung elang dan burung kakaktua. Satwa-satwa itu berada di PPS
sambil menunggu kesempatan untuk dikembalikan ke dalam habitatnya.

Pada September 2006, Femke memutuskan berhenti sebagai Manajer
PPS. Sebelum resmi berhenti, sejak tahun 2004, sebenarnya ia juga
kerap bepergian dan tinggal di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Di
tempat ini dia merawat satwa-satwa langka yang dilindungi, seperti
burung elang bondol dan elang laut.

Bekerja sebagai penyelamat satwa memang tak bisa ditentukan jam
kerjanya. “Ketika masih di PPS, sewaktu-waktu ada panggilan dari
Bandara, saya harus selalu siap,” tuturnya.

Femke lalu bercerita tentang nasib satwa-satwa sitaan. Mereka
yang diselamatkan tak hanya yang masih berada di Bandara Soekarno-
Hatta, tetapi ada pula yang dibawa kembali ke Indonesia dari beberapa
negara di Eropa.

“Biasanya, setelah kami rawat beberapa waktu di PPS, satwa itu
siap dikembalikan ke habitatnya. Kami akan melepas mereka lagi di
alam bebas,” tuturnya sambil mencontohkan, pada tahun 2005 sebanyak
33 biawak hijau asal Papua yang disita di Eropa dilepaskan kembali di
habitatnya.

Hak hidup
Femke mengaku sudah jatuh cinta dan menjadi penyayang satwa sejak
dia berusia delapan tahun. Maka, tak heran kalau kini pun dia hafal
nama 35 monyet yang dirawatnya sejak sekitar lima tahun lalu di Pulau
Penjaliran Barat, di sebelah utara Kepulauan Seribu.

“Saya juga hanya makan sayur-mayur. Saya tak tega makan daging
hewan karena hati saya saja sakit melihat satwa-satwa itu
diperjualbelikan. Bagaimanapun, mereka juga punya hak untuk hidup
bebas. Semua satwa punya hak untuk tidak sakit dan tidak takut,”
tuturnya.

Sejak awal Januari 2007 ia bergabung dengan Yayasan International
Animal Rescue. Lembaga tersebut menjadi salah satu referensi
Pemerintah Indonesia jika muncul masalah satwa.

Salah satu upaya yang dilakukan Femke bersama teman-temannya di
lembaga tersebut adalah menyelamatkan orangutan dan satwa lain yang
dibunuh ataupun terbunuh akibat pembakaran serta penebangan hutan
untuk lokasi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah pada Juli
2007.

Sayang, perjuangan mereka tak berhasil. Femke malah terheran-
heran ketika sejumlah pejabat pemerintah justru memakai “topi”
perusahaan kelapa sawit ketika berbicara dengan dia. “Bagaimana bisa
mereka tega mengorbankan kehidupan satwa dan tanaman di hutan itu?”
ucapnya sedih.

Relawan
Tahun 1996 Femke yang bergabung sebagai relawan pada Pusat
Reintroduksi Orangutan Wanariset di Kalimantan Timur datang ke
Indonesia. Dia mengaku langsung terpesona dengan kekayaan alam,
terutama flora dan fauna negeri ini.

Ketika dia pergi ke Kalimantan, kebetulan sang ayah, Dirk
Cornelis Bernard Haas, tengah bertugas sebagai diplomat pada Kantor
Kedubes Belanda di Jakarta. “Waktu itu ayah saya sempat marah. Dia
bilang, untuk apa saya mengurusi satwa di hutan Kalimantan? Dia minta
saya segera kembali ke Belanda karena di hutan itu risikonya besar.

Mungkin dia khawatir karena saya perempuan,” cerita Femke.
Akan tetapi, bagi perempuan yang sejak usia 13 tahun sudah aktif
sebagai relawan di Pusat Penyelamat Burung di Den Haag, Belanda, ini,
ketakutan sang ayah tidaklah beralasan.

“Tetapi, setelah ayah saya tahu apa yang saya lakukan, dia jadi
sangat mendukung. Apalagi dia juga tahu dan prihatin dengan semakin
rusaknya hutan- hutan di Indonesia,” kata anak bungsu dari tiga
bersaudara ini.

Sebelumnya, pada tahun 1999 ia pernah terlibat dalam penyelamatan
satwa di Yunani, dan tahun 2000 di Guinea, Afrika Barat. Femke
bercerita, saat berusaha menyelamatkan 20 bayi simpanse di Guinea
itu, mobil yang ditumpanginya sempat diberondong rentetan tembakan.

Bagi dia, satwa adalah makhluk yang juga punya hak hidup di Bumi
ini. Dia tak bisa memahami mengapa satwa harus dijadikan tontonan
dalam pertunjukan sirkus, atau dibunuh sebagai pemuas nafsu makan
manusia.

“Sirkus itu termasuk penyiksa satwa. Coba saja lihat ketika
harimau disuruh melompati api. Kalau satwa itu menolak, manusia akan
memukul tubuhnya. Itu kan penyiksaan,” ujarnya tegas.

Memang, tak hanya di Indonesia satwa menjadi makhluk yang
terpinggirkan. Namun, karena telanjur cinta pada Indonesia, kata
Femke, apa pun yang mesti dihadapi, ia akan tetap memerhatikan
kelangsungan hidup satwa-satwa kekayaan negeri ini.

BIODATA
* Nama : Femke den Haas
* Lahir : Yaoende, Kamerun, 8 September 1977
* Ayah : Dirk Cornelis Bernard Haas
* Ibu : Joke Nellen
* Suami : Sudarno
* Pendidikan :
– Lulus sebagai paramedik satwa di Leiden, Belanda, 1999
* Pengalaman:
– Januari 1997-Januari 1998 bekerja pada pusat penyelamatan satwa di
Kota Almere, Belanda
– Juli-Desember 1999 bekerja pada pusat anjing dan kucing di Yunani
– Tahun 2000 menjadi paramedik satwa di klinik satwa di Den Haag,
Belanda
– Tahun 2001 turut serta dalam pelestarian penyu di Yunani
– Tahun 2002-2006 bergabung dengan Gibbon Foundation
– Tahun 2007 bergabung dengan Yayasan International Animal Rescue
FOTO di blog ini foto Femke den Haas, dengan latar belakang papan nama International Animal Rescue di Pulau Kotok Besar, Kepulauan Seribu. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s