Fauzi Bowo Jadi Gubernur


KOMPAS
Kamis, 09 Aug 2007
Halaman: 1
Penulis: ksp; sut; nwo; mam; har; mzw

FAUZI BOWO JADI GUBERNUR
Pencapaian Kubu Adang-Dani Prestasi Tersendiri
Jakarta, Kompas
Pasangan Fauzi Bowo-Prijanto memenangi Pilkada DKI 2008
berdasarkan penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga
independen, termasuk Litbang Kompas. Menanggapi hal itu, pasangan
Adang Daradjatun-Dani Anwar menyatakan siap menerima hasil apa pun,
tetapi tetap akan menunggu hasil resmi yang dikeluarkan Komisi
Pemilihan Umum DKI Jakarta.
Hasil penghitungan cepat lembaga independen menunjukkan, pasangan
Fauzi-Prijanto unggul di kisaran 56-58 persen, sedangkan pasangan
Adang-Dani meraih 42-44 persen.
Kemenangan ini disambut sukacita kubu Fauzi-Prijanto, yang
menyebutnya sebagai “kemenangan seluruh warga Jakarta”.
Fauzi menilai hasil penghitungan cepat itu dapat
dipertanggungjawabkan. “Memang ada margin error. Akan tetapi, tentu
itu taruhan profesionalisme mereka yang membuat quick count,”
katanya.
Ditanya soal kemenangannya yang tidak mutlak, Fauzi mengatakan,
baginya yang penting pemenangnya sudah mendapatkan legitimasi.
“Di kota-kota besar seperti Jakarta, hasil perolehan suara dalam
pilkada umumnya seperti ini, tapi yang menentukan adalah
legitimasi,” katanya, Rabu (8/8) malam.
Mengenai kemungkinan bahwa ia harus berbagi kekuasaan dengan 20
parpol pendukungnya, Fauzi mengatakan isu itu tidak relevan. “Bagi
saya, parpol-parpol itu punya komitmen menjaga Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), mengawal Pancasila sebagai dasar negara,”
katanya.
Bagi Adang Daradjatun, menang kalah adalah hal biasa. Ia
menyatakan siap dengan hasil apa pun, tetapi meminta semua pihak
untuk menunggu hasil resmi dari KPU DKI Jakarta.
“Ini semua masih proses, jadi sekarang menunggu saja hasil-hasil
quick count lainnya dan penghitungan yang dilakukan tim PKS (Partai
Keadilan Sejahtera),” kata Adang di kediamannya di Cipete, Rabu
malam.
Adang mengaku tidak akan menyalahkan siapa pun jika memang
dinyatakan kalah. “Saya bukan model orang yang kalau kalah lalu
nyalahin orang,” katanya sambil menambahkan, semua lembaga bebas
melakukan penghitungan cepat, tetapi hasil resmi merupakan wewenang
KPU DKI Jakarta.
“Tidak tegang, tidak kepikiran, ya, santai sajalah. Kalau memang
kalah, saya kan masih ada istri, cucu-cucu, dan anak-anak juga,”
ujar Adang.
PKS petik keuntungan
Kendati pasangan Adang-Dani kalah, Rektor Universitas Paramadina
Anis Rasyid Baswedan menilai PKS mendapatkan keuntungan politis yang
sangat besar.
“Ibarat mesin yang dipakai pada 2004 dan akan dipakai lagi 2009,
mesin partai lain tidak dipanasi, sedangkan PKS sudah diminyaki di
tahun 2007 dan dengan dana orang lain,” paparnya.
Anis Rasyid menilai koalisi 20 parpol gagal mengoptimalkan
upayanya untuk meraih suara yang signifikan, tetapi hanya berhasil
menghentikan Adang.
“Bagaimana mungkin koalisi yang menghimpun 78 persen malah
mengkerut. Pemilihnya pergi ke mana?” kata Anis Rasyid sambil
menegaskan, Pilkada DKI sekaligus menunjukkan pentingnya
pengorganisasian partai.
Hal senada disampaikan pengamat politik Ryaas Rasyid. Menurut
dia, kemenangan Fauzi sudah diprediksi sebelumnya. “Sejak awal, saya
sudah yakin Fauziunggul,” kata Ryaas yang menjadi penasihat Fauzi
Bowo dalam Pilkada DKI Jakarta.
Namun, angka kemenangan Fauzi di bawah target. “Kami menargetkan
Fauzi menang di atas 60 persen, tapi ternyata di bawah itu. Jadi,
meski Adang kalah, PKS sesungguhnya menang,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta berpandangan serupa. “Pilkada
DKI ini menjadi bukti kemenangan mesin politik PKS, apalagi jika
dibandingkan dengan kekuatan 20 partai politik. Pengeroyokan seperti
ini tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia,” ujar
Anis Matta.
Itu artinya, kata Anis Matta, ada perluasan basis massa PKS yang
tidak semata massa Islam, tetapi meluas ke kalangan non-Islam, bahkan
kalangan etnis China.
Modal besar
Namun, di sisi lain, pasangan Fauzi-Prijanto dianggap memiliki
modal besar untuk mewujudkan Jakarta yang lebih baik, kata peneliti
senior CSIS, J Kristiadi. Sebab, selain didukung sekitar 58 persen
suara rakyat, lebih dari 70 persen suara kursi di DPRD DKI Jakarta
juga ada di belakang mereka.
Fauzi juga dinilai amat mengenal Jakarta karena sudah 30 tahun
menjadi birokrat, sedangkan Prijanto dikenal sebagai sosok yang
rendah hati dan sederhana. “Sekarang tinggal bagaimana pasangan itu
bekerja dan bagaimana rakyat mengontrol mereka,” tutur Kristiadi.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai kemenangan Fauzi-Prijanto
dipastikan akan melanjutkan kesinambungan program pembangunan kota
Jakarta yang selama ini telah dijalankan.
Kesinambungan itu akan mewujudkan Jakarta sebagai ibu kota negeri
yang sekaligus menjadi semacam “ruang pamer” bagi citra kondisi
Indonesia secara menyeluruh. (KSP/SUT/NWO/MAM/ HAR/MZW/**)

FOTO di blog ini foto billboard Fauzi Bowo dan Prijanto di gedung Fauzi Bowo Center, Jalan Diponegoro, beberapa saat setelah Fauzi menyampaikan pernyataan pertama kemenangannya dalam Pilkada DKI Jakarta (kiri) dan foto Fauzi dan istrinya seusai mencoblos di TPS Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, 8 Agustus pagi (kanan). Foto-foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s