Selamatkan Elang Bondol


KOMPAS

Kamis, 16 Aug 2007 Halaman: 26 Penulis: ksp Ukuran: 2872

SELAMATKAN ELANG BONDOL
Fauzi Bowo Harus Kembangkan Ekowisata Kepulauan Seribu

Jakarta, Kompas

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dinilai kurang memerhatikan
pelestarian elang bondol (Haliastur indus), padahal satwa langka ini
menjadi maskot Jakarta. Perhatian terhadap elang bondol justru
dilakukan oleh lembaga asing, didampingi Taman Nasional Laut
Kepulauan Seribu.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebaiknya peduli pada
pelestarian lingkungan di Kepulauan Seribu, termasuk pelestarian
satwa langka elang bondol,” kata Kepala Taman Nasional Laut
Kepulauan Seribu (TNLKpS) Sumarto di sela-sela kunjungan ke Pulau
Kotok Besar, Kabupaten Kepulauan Seribu, Rabu (15/8).

Hal yang sama diungkapkan Femke Jen Haas, warga negara Belanda,
yang sudah lima tahun bekerja untuk pelestarian satwa langka di
Kepulauan Seribu. “Semula LSM asing, yakni International Animal
Rescue (IAR), memberi bantuan hingga Rp 500 miliar. Tetapi setahun
terakhir ini mereka menghentikan bantuan setelah melihat Pemprov DKI
tidak berbuat apa-apa untuk mendukung pelestarian,” katanya.

Hal ini terbukti dari masih adanya perdagangan elang bondol di
Pasar Pramuka, Jakarta Timur. “Tidak ada kebijakan Pemprov DKI yang
mengarah pada larangan perdagangan satwa langka,” kata Femke.
TNLKpS pada Juni 2004 mendata jumlah elang bondol yang tersisa di
kawasan itu. Jumlahnya tinggal 15 ekor, tersebar di Pulau Rambut,
Bokor, Kotok Besar, Yu, Pantara, Penjaliran Barat, dan Pulau
Penjaliran Timur.

IAR dan TNLKpS kemudian melakukan program rehabilitasi elang
bondol, termasuk mengambil satwa langka itu dari pedagang burung dan
masyarakat. Hingga tahun 2007, sudah 35 elang bondol yang dilepas.
“Yang menarik, dari elang yang dilepas, ada yang sudah membuat
sarang di Pulau Kotok Besar. Kalau elang itu menetas, itu luar
biasa,” kata Sumarto.

Kembangkan ekowisata
Sementara itu, Sekretaris Menteri Koordinator Perekonomian Komara
Djaja mengatakan, Gubernur DKI Jakarta yang baru, Fauzi Bowo, sudah
seharusnya mengembangkan ekowisata Kepulauan Seribu.

Hal senada disampaikan Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang
Investasi Firman Tamboen. “Pengalaman Fauzi ketika menjadi Kepala
Dinas Pariwisata DKI pasti memberinya pemahaman menyeluruh akan
pentingnya pariwisata Kepulauan Seribu dikembangkan,” katanya.

Kepala TNLKpS sejak empat tahun lalu membangun ekowisata di
permukiman Pulau Pramuka. Wisatawan nusantara diajak melihat
pelestarian penyu sisik, abalone, tripang, dan elang bondol. Mereka
juga diajak melakukan transplantasi karang hias, menanam mangrove,
dan menyelam. Paket wisata ini harus dikembangkan.

Dinas pariwisata dan biro perjalanan juga harus membantu menjual
keindahan Kepulauan Seribu. “Ada di depan mata, kok dibiarkan begitu
saja,” kata Komara Djaja. (KSP)

FOTO di blog ini foto elang laut di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s