Fauzi Bowo: Lima Tahun Luas Banjir Berkurang 35 Persen


KOMPAS

Sabtu, 21 Jul 2007

Halaman: 5

Penulis: eca; nel; ksp

Fauzi Bowo
LIMA TAHUN LUAS BANJIR BERKURANG 35 PERSEN

Banjir tetap menjadi salah satu masalah Jakarta yang menjadi
perhatian saya. Selama lima tahun ke depan, dengan pelaksanaan
program tepat dan sistematis, luasan banjir di Jakarta akan dapat
ditekan hingga 35 persen.

Pertama, yang harus diselesaikan adalah proyek Banjir Kanal Timur
(BKT). Akan ada kebijakan baru agar BKT selesai dalam lima tahun
pertama. Kalau BKT terselesaikan, akan ada 270 kilometer persegi
daerah tangkapan air baru. Genangan akan tetap ada, tetapi
ditargetkan dapat mengurangi luasan banjir hingga 35 persen.
BKT yang saat ini memasuki tahap pembebasan lahan dan penggalian
akan dipercepat sehingga selesai pada awal tahun 2009.

BKT yang akan menampung air dari lima sungai diharapkan dapat mengatasi banjir di
Jakarta Utara bagian timur dan sebagian Jakarta Timur bagian utara.
Bagi yang terus menolak proyek BKT, pemerintah akan mendesak
pembebasan lahan melalui proses pengadilan dan konsinyasi. Pembebasan
lahan akan ditangani sekretaris kota sehingga lebih cepat dan efektif.

Pemerintah bertanggung jawab menyediakan dan memperbaiki
fasilitas besar yang dibutuhkan, seperti perbaikan Banjir Kanal Barat
(BKB), BKT, pengadaan dan perawatan rutin pompa air, serta pengerukan
rutin di 13 daerah aliran sungai yang mengalir di Jakarta. Perawatan
saluran air mikro di permukiman adalah tanggung jawab masyarakat.

Masalah banjir bukan semata masalah Jakarta, tetapi juga imbas
dari kerusakan lingkungan di bagian hulu, yaitu di Bogor, Depok, dan
wilayah lain di sekitar Jakarta. Jakarta hanya salah satu pihak dan
harus berkoordinasi dengan wilayah lain untuk menanggulangi banjir.

Saat ini, kita harus menempatkan konsep megapolitan sebagai
konsep pikir, bukan entitas pemerintahan. Megapolitan bukan berarti
semua daerah nanti di bawah Jakarta sebagai ibu kota, tetapi saling
membutuhkan dan mendukung untuk maju bersama.

Banjir adalah masalah bersama dan dengan konsep megapolitan, saya
mencoba menstimulasi agar ada kesediaan serta tanggung jawab
antarpemerintah daerah untuk menanggulangi banjir. Di dalamnya
termasuk imbal balik peningkatan ekonomi bagi kawasan yang tercakup
dalam konsep megapolitan jika banjir berhasil ‘diusir’.

Banjir rutin tahunan, secara langsung dan tidak langsung, selama
ini menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi.
Pembenahan dan perawatan pompa-pompa air juga akan diefektifkan
agar semua pompa dapat dioperasikan untuk mengurangi genangan saat
terjadi hujan. Tidak berfungsinya belasan pompa pada saat puncak
musim hujan pernah terjadi sehingga genangan sulit diatasi.
Semua usaha di hilir sungai itu tidak akan banyak gunanya jika di
kawasan hulu tidak ada penahan air.

Saya berencana membangun waduk Ciawi untuk menahan laju air
Sungai Ciliwung, sejak dari Bogor.” (ECA/NEL/KSP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s