Teropong: Fukuoka, Kota Hijau dengan "Hakata Bi jin"


Fukuoka adalah kota kedua yang dikunjungi setelah Kitakyushu City dalam acara yang digelar UN HABITAT. Di kota ini, 10 jurnalis mengikuti Asian City Journalist Conference, termasuk saya mewakili Indonesia. Kami diterima Gubernur Prefektur Fukuoka, Wataru Aso dan Deputi Wali Kota Fukuoka City Hiroyuki Takada di Balai Kota Fukuoka di kawasan Tenjin. Setelah itu, kami diajak berkeliling ke pusat perbelanjaan bawah tanah New Tenjin Underground Shopping Arcade, salah satu ikon di kota ini.
Selesai berkeliling di kawasan Tenjin, kami langsung menuju ACROS Building, tempat Asian City Journalist Conference. Kami bertemu dengan Direktur UN HABITAT Wilayah Asia Pasifik Toshi Noda dan Pemimpin Redaksi The Nishin Nippon, penyelenggara konferensi jurnalis ini.

Ini pengalaman pertama saya hadir dalam acara konferensi berskala internasional, dan berbicara dalam forum internasional. Biasanya saya meliput seminar dan konferensi internasional. Tapi kali ini, jurnalis yang menjadi subyek. Saya merasa bersyukur dan beruntung mengikuti konferensi jurnalis Asia ini.


Satu hal yang menarik dari Fukuoka City adalah komitmen pemerintah dan warga untuk menjadikan kota ini kota yang
berwawasan lingkungan. Fukuoka juga berambisi menjadi kota konvensi dan kota wisata kelas dunia. Infrastruktur transportasi seperti subway tersedia dengan mudah.


Yang membuat saya terkesan adalah kota ini penuh dengan perempuan Jepang yang cantik-cantik, modis dan wangi. Cobalah datang ke pusat perbelanjaan di Tenjin. Perempuan Jepang yang putih dan cantik terlihat di mana-mana. Hakata bi jin, kota penuh perempuan cantik.

Berikut ini catatan dari Fukuoka yang dimuat di Harian KOMPAS.

Teropong
Senin, 20 Agustus 2007

WISATA

Fukuoka, Kota Hijau dengan “Hakata Bi jin”

R Adhi Kusumaputra

Musik jazz dari grup Shakatak terdengar saat menyusuri lorong-lorong Tenjin Underground Shopping Arcade. Pusat perbelanjaan yang dibangun di bawah tanah itu dipenuhi orang yang lalu lalang.

Ini tidak heran karena lorong-lorong bawah tanah itu diciptakan sebagai pusat perbelanjaan dan pusat mode dunia. Kawasan bawah tanah ini terkoneksi dengan 20 gedung perkantoran, pusat perbelanjaan di atasnya, dan stasiun subway.

Tenjin adalah salah satu pusat belanja, bisnis, dan hiburan di kota Fukuoka, salah satu kosmopolitan di Jepang. Setiap akhir pekan, kawasan ini dibanjiri kaum muda yang datang dari segala penjuru Kyushu, salah satu pulau di Jepang.

Fukuoka City adalah ibu kota Prefektur Fukuoka. Kota tua yang dibangun April 1889 ini kini menjadi kota modern seluas 340,60 kilometer persegi (separuh luas kota Jakarta) dan berpenduduk 1,4 juta jiwa. GNP kota Fukuoka saat ini 6.172 miliar yen Jepang.

“Kami ciptakan kota yang aman didukung sistem transportasi yang nyaman,” kata Deputi Wali Kota Fukuoka Hiroyuki Takada kepada peserta Asian City Journalist Conference, awal Agustus lalu.

Fukuoka sebuah kota yang sibuk, namun harmoni dengan alam. “Kami ciptakan Fukuoka sebagai tempat bagi masyarakat dunia untuk bertemu, berdiskusi, dan juga rileks,” kata Takada.

Jumlah turis yang datang ke kota Fukuoka meningkat, dari 15,6 juta orang pada tahun 2000 menjadi 16,3 juta orang pada tahun 2004. Berbagai konvensi internasional digelar di kota ini.
Salah satu tempat favorit di Fukuoka adalah Tenjin. Di sini, pejalan kaki mendapat tempat karena pedestrian dibangun lebar dan nyaman. Sejumlah department store berdiri, selain gedung perkantoran berarsitektur modern. Pemerintah setempat juga membangun ruang publik dengan taman nan hijau. Kicau burung terdengar nyaring di antara gedung-gedung jangkung.

Ada yang menarik dari Tenjin. Sejak tahun 2005, dikembangkan New Tenjin Shopping Arcade, pusat perbelanjaan dan gaya hidup di bawah tanah, yang dibangun pengembang swasta. Tenjin Underground sudah ada sejak 1976. Namun, melihat kemacetan lalu lintas kian parah, pihak swasta pun mengembangkan New Tenjin Underground menjadi pusat gaya hidup yang memesona.

Di kawasan bawah tanah ini, Anda dapat menikmati 150-an toko yang menjual busana, sepatu, buku, pakaian tradisional Jepang, kafe, dan restoran. Busana yang dijual mode mutakhir, sama seperti yang dijual toko-toko busana di Paris, New York, dan Tokyo.

Ketika Kompas menyusuri kawasan New Tenjin Underground Shopping Arcade, kesan yang muncul, di mana-mana terdengar musik jazz. Di mana-mana berjumpa perempuan Jepang cantik dan modis ala Barat. Di mana gerangan perempuan Jepang berpakaian tradisional?

“Mereka terlihat di keramaian dengan kimono jika ada festival,” tutur Toshiharu Onoyama, warga Fukuoka yang bekerja di UN-Habitat, sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pusat gaya hidup di bawah tanah ini memberi kenyamanan kepada pengunjung karena mereka tak khawatir tersengat matahari atau tersiram air hujan. Pengunjung dengan mudah menjangkau toko-toko di sini karena terkoneksi dengan stasiun subway dan kereta api, serta bus umum.

“Hakata bi jin”
Musik jazz terdengar di mana-mana? Ya. Di toko busana Clear Impression, misalnya, terdengar jelas musik dari grup jazz Shakatak asal Inggris yang pernah manggung dan rekaman album di Jepang.

Di Starbucks Coffee, musik jazz dari gitaris Earl Klugh menjadi teman saat ngopi. Pengunjung tampak menikmati suasana. Ada yang asyik dengan laptopnya. Ada yang serius ngobrol, juga membaca buku sambil menyeruput caramel macchiato (Starbucks yang kini dikendalikan Chairman Howard Schultz sampai awal 2007 memiliki 7.521 gerai yang dikelola sendiri dan 5.647 gerai waralaba di 40 negara, termasuk di Jepang).

Perempuan-perempuan Jepang di sini terlihat modis dengan mode busana mutakhir. Rambut mereka umumnya dicat. Ini tidak heran karena dari seluruh Jepang, Fukuoka dikenal dengan sebutan Hakata bi jin atau beautiful women, kota dengan banyak perempuan cantik.

Tak heran jika sejumlah department store yang terkoneksi dengan Underground Shopping Arcade seperti Inter Media Station (IMS), Tenjin Core, Iwataya, Vivre, dan Mitsukoshi, banyak menjual pakaian perempuan dengan mode mutakhir di lantai bawah.

Sayuri Tomita (23), yang bekerja di salah satu kantor berita di Fukuoka, mengaku merasa harus mengikuti perkembangan mode dunia. Dan itu juga dilakukan banyak perempuan Jepang lain di Fukuoka.

Selain terkenal dengan Hakata bi jin, Fukuoka juga dikenal sebagai kota yang memiliki banyak tempat berjualan ramen (mi china yang populer di Jepang). Kompas yang berjalan pada Rabu (1/8) malam menyusuri kawasan Tenjin, melihat di mana-mana terlihat gerobak ramen.
“Orang Hakata lebih suka makan ramen di tempat kaki lima seperti ini. Biasanya warung ramen buka sampai pukul lima menjelang pagi,” cerita Tomita.

Peduli lingkungan hidup
Suasana aman terasa di sini meski berjalan hingga tengah malam. Jarang terlihat ada polisi. Gubernur Prefektur Fukuoka Wataru Aso menjamin siapa saja yang mengunjungi Fukuoka akan merasa bahagia. Termasuk bahagia melihat betapa daerah ini peduli lingkungan hidup.

Di Kego Park, taman kota nan hijau, seorang perempuan Jepang berpakaian tradisional mempromosikan gaya hidup bersih. “Silakan ambil. Ini semacam tempat puntung rokok yang dapat dibawa ke mana-mana,” kata sukarelawan dari LSM Green Bird.

Bayangkan, untuk membersihkan taman kota ini, puluhan sukarelawan diturunkan. Mereka menyapu dedaunan, menghilangkan grafiti di tembok, sampai memungut sampah.
Political will menciptakan kota nan hijau ditunjukkan pula pada tanaman merambat di dinding gedung Balaikota Fukuoka. Pagar dan tembok rumah di sudut kota ini juga diberi tanaman rambat nan hijau. Gedung ACROS Fukuoka pun didesain teras hijau.

Jakarta tentu dapat belajar dari Fukuoka, bagaimana membuat kota menjadi nyaman dan aman. Ketersediaan akses transportasi yang mudah (subway, KA, dan bus), kehadiran pusat gaya hidup di bawah tanah, sampai pada kepedulian warga kota terhadap lingkungan bersih dan hijau.

FOTO di blog ini foto taman hijau di Fukuoka (atas), foto pemandangan Fukuoka City dari Fukuoka Tower (kedua dari atas), foto suasana di New Tenjin Underground Shopping Arcade (ketiga dari atas) dan foto gerobak ramen di Tenjin pada malam hari (paling bawah). Foto-foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s