Kitakyushu, dari Istana Kokura hingga Riverwalk

Saya baru kali pertama mengunjungi Kitakyushu City, sebuah kota di tepi laut di utara Pulau Kyushu, Jepang. Tiga puluh sampai 40 tahun silam, Kitakyushu adalah kota industri yang penuh polusi. Namun kini Kitakyushu adalah kota yang menjadi contoh dan studi banding para wali kota dan bupati seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Kitakyushu adalah contoh sukses sebuah kota yang mampu mengubah citra dari kota penuh polusi menjadi kota yang bersih dari polusi, bahkan menjadi kota hijau dan peduli lingkungan. Saya ditugaskan kantor tempat saya bekerja (Kompas) untuk menghadiri Asian-Pacific City Summit di Kitakyushu yang digelar UN HABITAT, sebuah badan PBB yang bermarkas di Fukuoka, Jepang.


Semua delegasi menginap di Rihga Hotel Kokura, yang sangat dekat dengan Stasiun Kokura. Di Kitakyushu, saya bertemu dengan empat WN Indonesia yang tinggal di Iizuka (Melani dan suaminya Julius Sirait, Iskandar Rizki dan Eko Prasetiyo). Kami menjadi sahabat dari jagat maya (weblog). Kami berjalan-jalan ke Kokura Castle dan Riverwalk. Kami juga sempat ngopi di Starbucks Coffee di Riverwalk.
Saya melihat lima perempuan Jepang berpakaian tradisional masuk ke Starbucks, gerai kopi asal Amerika Serikat. Hebat bener Starbucks. Padahal kalau dipikir-pikir, mengapa mereka tidak minum teh khas Jepang? Saya jadi ingat pernah bertanya kepada Miss Universe Riyo Mori asal Jepang saat berkunjung ke Jakarta tempo hari. Riyo Mori berkeinginan agar anak-anak muda Jepang kembali ke identitas diri sebagai bangsa Jepang yang mencintai budaya sendiri. Lha, mereka semua mengenakan pakaian tradisional, tapi tetap ngopi di Starbucks kok. Saya kira keadaan ini sama dengan di Indonesia. Starbucks juga laku. Ngopi di Starbucks jadi bagian gaya hidup. Dampak globalisasi ternyata tak dapat ditahan.


Berikut ini catatan dari Kitakyushu yang dimuat di Harian Kompas.

PENGEMBANGAN KOTA

Kitakyushu, dari Istana Kokura hingga Riverwalk
oleh R. Adhi Kusumaputra
Kitakyushu, kota seluas 485 kilometer persegi dan berpenduduk 1,1 juta jiwa ini, terletak di utara Pulau Kyushu di sebelah barat Jepang. Lokasinya strategis, berada di poros antara Tokyo dan Shanghai (China).
Kitakyushu, salah satu dari empat pusat industri terbesar di Jepang, hampir saja menjadi salah satu korban bom atom pada Perang Dunia II tahun 1945. Target utama pasukan Sekutu setelah Hiroshima adalah Kitakyushu. Namun, karena saat itu kota ini ditutupi awan, target pun pindah ke Nagasaki. Selamatlah Kitakyushu dari serangan bom atom.
Dibentuk tahun 1963, gabungan dari sejumlah daerah, yaitu Moji, Kokura, Tobata, Yawata, dan Wakamatsu, kota Kitakyushu saat ini dikenal sebagai kota yang berhasil memperbaiki kondisi lingkungan hidupnya, dari gray city kini menjadi green city. Kitakyushu acap menjadi contoh dalam studi banding kota-kota di dunia, yang berhasil dalam perbaikan lingkungan hidup.
“Saat ini Kitakyushu bukan hanya berhasil menciptakan udara dan laut bersih dari pencemaran, tetapi juga mampu mengajak industri besar menjadi industri ramah lingkungan,” kata Wali Kota Kitakyushu Kenji Kitahashi kepada peserta Asian-Pacific City Summit, akhir Juli 2007.
Kota ini memiliki stasiun terpadu untuk monorel, KA dan shinkansen (KA super cepat), serta bandara internasional sehingga memudahkan akses antarkota dan antarnegara.
Selain dikenal sebagai contoh kota yang berhasil mengelola lingkungan, Kitakyushu juga dikenal memiliki Istana Kokura, warisan budaya yang berusia lebih dari 400 tahun, yang dibangun Hosokawa Tadaoki pada tahun 1603.
Pada perang sipil tahun 1866, kastil ini terbakar. Setelah itu, kota ini berubah menjadi kawasan militer dan industri. Kokura Castle baru direnovasi tahun 1959. Meskipun bangunannya bukan asli lagi, kastil ini menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik di Kitakyushu.
Riverwalk
Tujuan lainnya di Kitakyushu yang wajib dikunjungi jika berada di kota ini adalah kawasan Riverwalk, kawasan tepi Sungai Murasaki. Tempat ini dapat dicapai berjalan kaki 10 menit dari Stasiun Kokura. Lokasi ini tak jauh dari Istana Kokura dengan taman kota nan hijau.
Di kawasan Riverwalk ini, wisatawan dapat menikmati suasana tepi sungai, sambil ngopi di Starbucks Coffee atau tempat ngopi lainnya yang banyak ditemukan. Kawasan terpadu terdiri dari restoran, toko, bioskop, kafe, pusat kebudayaan dibuka tahun 2003 sebagai bagian dari kebijakan Kitakyushu Renaissance.
Riverwalk menjadi simbol pemersatu kota Kitakyushu, gabungan dari lima wilayah. Ini tercermin dari lima warna yang mendominasi bangunan Riverwalk Kitakyushu, yaitu warna merah, kuning, putih, hitam, dan coklat, representasi dari setiap distrik.
Nongkrong di kafe-kafe di sepanjang Riverwalk, menikmati matahari terbenam, akan membuat Anda terkesan dengan suasana romantis ini.

FOTO di blog ini foto suasana Riverwalk di Kitakyusshu City (atas) foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS, dan foto saya dengan latar belakang Kokura Castle. Terima kasih untuk Julius yang mengambil foto ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s