Kuliner: Rahasia Bumbu Ayam Goreng Bu Min

KOMPAS
Sabtu, 28 Jul 2007
Halaman: 26
Penulis: R. Adhi Kusumaputra
Kuliner
RAHASIA BUMBU AYAM GORENG BU MIN
Oleh R Adhi Kusumaputra
Warung Bu Min berlokasi di Gang Kampung Lima, persis di sebelah
Menara BDN di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Seperti lazimnya
warung kaki lima, kondisi warung ayam goreng Bu Min sederhana, hanya
terdiri atas meja kayu, bangku plastik, dapur seadanya.
Namun, siapa sangka, makanan yang dijual di warung berukuran 7
meter x 2 meter itu selalu habis terjual? “Andalan kami terutama
ayam goreng kampung dengan bumbu kacang, yang dikombinasi dengan
sambal terasi, taoco, bawang, cabai, dan kecap. Bumbu inilah yang
menjadi ciri khas Warung Bu Min,” kata Lukman Arifin (26), pemilik
Warung Bu Min.
Ayah Lukman, H Yusuf (alm), sejak tahun 1972 membuka Warung Bu
Min di lokasi yang sama di Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng.
Nama Bu Min diambil dari nama ibu Lukman, Aminah (alm).
“Waktu itu kami masih dikejar-kejar petugas kamtib (maksudnya
tramtib). Dagangan selalu dibongkar pasang. Sekarang kami menempati
lokasi permanen milik Pemprov DKI Jakarta,” kenang Lukman.
Kelezatan ayam goreng kampung dengan racikan bumbu yang pas
membuat warung ini selalu penuh. Ketika Kompas datang hari Jumat
(27/7) pukul 12.15, warung itu penuh. Dari kapasitas 40 tempat duduk,
tak satu bangku pun yang tersisa.
“Ayam goreng kampung sudah ludes, namun masih ada bandeng,” ujar
Yulianti (23), istri Lukman, yang sibuk mengelola warung itu.
“Setiap hari Jumat, dagangan kami lebih cepat habis daripada
hari biasanya. Banyak pegawai Pemprov DKI maupun Polda Metro Jaya
yang selesai berolahraga makan di warung kami mulai pukul 07.00
hingga 09.30. Setelah itu, saat makan siang tiba, warung ini diserbu
dari pukul 11.00 hingga 12.30. Makanya cepat habis,” ungkap Lukman.
Tidak jelas mengapa banyak polisi dan karyawan Polda Metro Jaya
rela bermacet-macet datang ke warung Bu Min di gang sempit itu. Akan
tetapi, Lukman mengatakan, melihat banyaknya pelanggan dari Polda
Metro Jaya, dalam waktu dekat dia akan membuka cabang Warung Bu Min
di Kantin Pujasera di markas kepolisian di kawasan Semanggi itu.
Rasa ayam goreng Bu Min memang berbeda karena racikan bumbu
kacang yang khas. Menurut Ujang, koki yang bekerja sejak 25 tahun
lalu, bumbu itulah yang membuat ayam goreng Bu Min berbeda.
Kepada setiap pembeli, selalu disajikan sop daging sebagai
pelengkap agar makanan tidak seret masuk ke tenggorokan. Ini sudah
termasuk dalam paket. Harga setiap paket selalu Rp 11.000. Misalnya,
nasi, ayam goreng kampung, bumbu kacang, sop daging, plus tahu
dihargai Rp 11.000. Harga ini berlaku juga untuk paket bandeng presto.
Lukman menyediakan pula empal, babat, iso, paru-paru goreng,
serta soto ayam dan soto daging sebagai variasi hidangan di warungnya.
Dekat perkantoran
Lokasinya yang strategis, dekat dengan gedung perkantoran,
membuat Warung Bu Min makin dikenal. Pelanggannya juga karyawan yang
berkantor di Menara BDN, Menara Thamrin, Bank Indonesia, Bank
Mandiri, Indosat, BPPT, dan banyak lagi. Para pembelinya termasuk
kelas menengah. Ini terlihat dari pakaian dan tas yang dikenakan
serta penampilan mereka.
Yang juga menarik di Gang Kampung Lima itu, adanya pedagang
barang-barang impor dari Hongkong yang dijual dengan harga miring.
Mulai dari dompet kulit asli sampai kacamata branded.
Menikmati ayam goreng Bu Min yang populer sejak 25 tahun lalu di
gang sempit itu, kita dapat mendengarkan lagu dari CD bajakan yang
juga dijual dengan harga murah. Apa pun suasananya, orang lebih suka
menikmati ayam goreng Bu Min apa adanya.
Dalam sehari, warung itu membutuhkan sedikitnya 60 ekor ayam atau
sekitar 240 potong ayam. Pada hari Jumat, jumlahnya menjadi 70 ekor
atau 280 potong. Kebutuhan bandeng presto setiap hari 70 ekor, khusus
hari Jumat 100-an ekor. Empal daging 3 kilogram dan pada Jumat naik
jadi 4,5 kilogram.
Setiap hari Sabtu dan Minggu, Warung Bu Min tutup karena
pelanggannya memang pekerja kantoran. Dari sektor informal ini, dua
adik Lukman mampu mengenyam pendidikan tinggi.

FOTO di blog ini foto suasana di Warung Ayam Goreng Bu Min di sebuah lorong kecil di Jalan MH Thamrin, tak jauh dari Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s