Pilkada DKI Jakarta: Idealisme Seorang Fauzi


Saya mendapat kesempatan mewawancarai Fauzi Bowo, salah satu kandidat Gubernur DKI Jakta. Saya bersama rekan E Caesar Alexey dan Neli Triana ngobrol dengan Bang Fauzi tentang konsepnya membangun Jakarta. Fauzi kemudian meraih suara terbesar dalam Pilkada DKI Jakarta 8 Agustus lalu, dan menjadi Gubernur baru DKI Jakarta.

KOMPAS

Kamis, 02 Aug 2007

Halaman: 33

Penulis: E Caesar Alexey; Neli Triana ; R Adhi Kusumaputra

IDEALISME FAUZI BOWO

oleh E Caesar Elexey, Neli Triana, R Adhi Kusumaputra

“Untuk membangun Jakarta, serahkanlah kepada ahlinya dan kepada
yang sudah berpengalaman. Jika tidak, kehancuran hanya tinggal
menunggu waktunya.”

Kalimat itu diucapkan berulang-ulang dan seakan menjadi salah
satu slogan utama dalam masa-masa kampanye calon gubernur Fauzi Bowo.
Di antara keempat calon gubernur dan wakil gubernur yang maju
dalam pilkada DKI Jakarta, Fauzi merupakan satu-satunya calon
gubernur yang paling berpengalaman di birokrasi Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta. Ia sudah masuk dalam jajaran birokrasi sejak 30 tahun
lalu dan tahun depan akan menjadi tahun terakhirnya sebagai pegawai
negeri sipil.

Karier Fauzi di birokrasi terhitung cepat. Latar belakang
pendidikannya yang tinggi membuat pria campuran Jawa-Betawi ini
hampir tidak pernah menjadi staf di suatu instansi. Sejak zaman
Gubernur Tjokropranolo sampai Soerjadi Soedirja, Fauzi selalu menjadi
kepala biro atau kepala dinas.

Fauzi mengawali pendidikannya di Jurusan Teknik Arsitektur
Universitas Indonesia pada 1966-1967. Karena memperoleh beasiswa,
Fauzi melanjutkan studinya di Jurusan Teknik Arsitektur Perencanaan
Kota dan Wilayah dari Technische Universitat Braunschweig Republik
Federasi Jerman pada 1968 dan lulus pada 1976.

Selama menjadi mahasiswa, Fauzi aktif di berbagai organisasi
kemahasiswaan, mulai dari KAMI sampai organisasi pelajar Indonesia di
Jerman Barat. Keaktifan itu yang membuat Fauzi matang dalam
pengelolaan organisasi dan membangun jaringan.

Pada 1979 atau dua tahun setelah lulus dari Jerman, Fauzi
langsung dipercaya sebagai pejabat sementara Kepala Biro Kepala
Daerah DKI Jakarta. Kariernya terus meningkat sampai menjadi
Sekretaris Daerah pada 1998.

Pada 2002, Fauzi sempat mengajukan diri sebagai gubernur dalam
pemilihan gubernur yang masih dilakukan DPRD. Namun, setelah dibujuk
beberapa tokoh, Fauzi akhirnya memilih mendampingi Sutiyoso sebagai
wakil gubernur dan bukan menjadi pesaingnya.

Oleh rekan dan anak buahnya, Fauzi dikenal sebagai pribadi yang
serius. Semua pekerjaan harus dipastikan beres secara detail. Semua
itu buah pendidikan sejak kecil sampai dewasa.

Latar belakang
Fauzi Bowo merupakan anak Djohari Bowo bin Adipoetro dari Malang,
Jawa Timur, dan Nuraini binti Abdul Manaf yang asli Betawi. Fauzi
yang lahir di kalangan masyarakat Betawi mendapat pendidikan agama
Islam yang ketat di bawah bimbingan kakeknya, Abdul Manaf, dan
beberapa ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) saat itu. Ketaatan
beribadah dan penguasaan ilmu agama yang unggul membuatnya mudah
bergaul di kalangan NU. Fauzi bahkan dipercaya menjadi Ketua Pengurus
Wilayah NU Jakarta.

Meskipun berdarah setengah Jawa setengah Betawi, Fauzi lebih
banyak mendapat pembelajaran budaya Betawi. Kecintaan terhadap budaya
Betawi dan kedekatan dengan berbagai kelompok dan tokoh Betawi
membuatnya diangkat menjadi Ketua Badan Musyawarah Betawi.

Untuk pendidikan formal, Fauzi justru mendapat pendidikan formal
di sekolah Katolik, SD St Belarminus, sampai SMP-SMA Kanisius.
Prestasi akademiknya tergolong sangat baik. Fauzi bahkan dapat
berbicara bahasa Belanda dan Inggris dengan fasih.

Keluarga besar Fauzi merupakan keluarga tuan tanah yang kaya.
Itulah yang membuat ia bisa bersekolah di sekolah elite dan kuliah ke
luar negeri. Kekayaan keluarganya juga sangat mendukung hobinya
membaca berbagai buku dan fotografi.

Saat remaja, Fauzi gemar berkeliling sampai ke pelosok Jakarta
sehingga mengerti persis perkembangan kawasan sejak masa lalu sampai
saat ini. Di sisi lain, Fauzi juga mempunyai kegemaran membaca semua
jenis surat kabar dan buku.

Dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, Fauzi
menyusun berbagai program untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
Jakarta. Salah satu programnya yang masih berjalan sampai saat ini
adalah program pemberdayaan masyarakat kelurahan (PPMK) yang
memadukan partisipasi masyarakat untuk memperbaiki perekonomian mikro.

Pada masa pemerintahan Sutiyoso, Fauzi juga merintis proyek
transportasi massal, seperti bus Transjakarta dan mass rapid transit
(MRT) atau angkutan massal cepat. Fauzi memang sering menangani
proyek infrastruktur berskala besar karena dinilai mampu mengatur
perencanaan sampai implementasi proyek raksasa.

Keseriusan Fauzi untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta
kali ini ditunjukkan dengan penggalangan massa sejak 2004. Dengan
berbagai pendekatan, Fauzi merangkul berbagai elemen massa, baik yang
berbasis keagamaan maupun kesukuan.

Berdasarkan data Fauzi Bowo Center, terdapat 20 partai politik
yang berhasil digalang untuk mendukung Fauzi. Dukungan juga datang
dari 42 organisasi kemasyarakatan dan 47 kelompok masyarakat lainnya.

Fauzi yang sejak kecil dididik ajaran Islam yang ketat, tetapi
juga disekolahkan di sekolah Katolik dan mengenyam pendidikan tinggi
di Jerman, berhasil menyatukan kelompok yang berbeda aliran politik.

Pluralitas tampaknya sudah menjadi jiwa dalam dirinya. “Saya sangat
mudah bergaul dan bekerja sama dengan semua kalangan karena sejak
dulu komunitas saya sudah beragam. Keberagaman justru merupakan modal
yang kuat untuk percepatan pembangunan,” kata Fauzi.

Rekan-rekannya semasa sekolah dan kuliah di Jerman ataupun di
Jakarta dia galang untuk mendukungnya. Untuk memperkuat pengaruhnya
dan karena kepercayaan publik, Fauzi juga masuk ke dalam struktur
beberapa organisasi, baik sebagai ketua maupun sebagai pengurus
lainnya.

Keseriusan Fauzi mencalonkan diri juga ditunjukkan dengan menjual
rumah pribadinya senilai sekitar Rp 9 miliar sebagai modal awal
kampanye dan penggalangan organisasi pendukung. Paling tidak itulah
pengakuannya. “Saya bukan orang yang terlalu kaya, tetapi juga tidak
miskin-miskin amat. Saya dapat menyediakan modal awal kampanye tanpa
minta bantuan siapa pun meskipun harus menjual rumah. Namun, untuk
selanjutnya, jika ada donasi untuk kampanye, kami akan menerimanya,”
kata Fauzi, sebelum masa pilkada dimulai.

Fauzi mengaku meneladani mantan gubernur Ali Sadikin yang sering
turun ke tengah masyarakat untuk melihat langsung keadaan dan masalah
serta mencari solusi yang paling tepat. Untuk pilkada ini, Ali
Sadikin juga mendukung Fauzi sebagai calon gubernur.

Fauzi mempunyai gambaran ideal mengenai kota Jakarta. Ia
mempunyai obsesi: mewujudkan Jakarta untuk semua! Sebuah Jakarta
tanpa diskriminasi!
FOTO di blog ini foto saya bersama Bang Fauzi Bowo, usai mewawancarainya di Balai Kota DKI Jakarta. Foto oleh E Caesar Alexey.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s