Pilkada DKI Jakarta: Idealisme Seorang Adang


Saya berkesempatan mewawancarai kandidat Gubernur DKI Jakarta Adang Daradjatun di rumah pribadinya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan pada hari Minggu 1 Juli 2007 silam. Saya bersama rekan saya, Iwan Santosa mendatangi rumah Adang pada Minggu petang. Pada pagi harinya, saya hadir dalam acara Kumpul Keluarga Kompas di Ancol. Tapi saya tak bisa menikmati acara sampai selesai karena tugas lain sudah menunggu. Hasil wawancara itu dituangkan dalam halaman Kandidat yang dipublikasikan menjelang masa tenang.


KOMPAS

Rabu, 01 Aug 2007

Halaman: 33

Penulis: R. Adhi Kusumaputra, Iwan Santosa


IDEALISME SEORANG ADANG

Oleh R Adhi Kusumaputra dan Iwan Santosa

Adang Daradjatun, jenderal polisi yang murah senyum dan santun.
Sikap itu sudah ditunjukkannya sejak menjadi Ajudan Menteri
Hankam/Panglima ABRI tahun 1977 dengan pangkat kapten. Ia
berpenampilan correct, ramah, santun, dan profesional.

“Pada saat itu saya berpikir suatu hari kelak Kapten Adang akan
mencapai posisi tinggi di jajaran Polri,” ungkap Letjen TNI (Purn)
Himawan Soetanto, seperti tertulis dalam buku Pengabdian Tanpa
Henti, Siap Mengabdi untuk Bangsa, Adang Daradjatun yang ditulis Threes
Emir dan Julius Pour.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, tahun 2004, Adang Daradjatun
menjabat Wakil Kepala Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal.
Koleganya, Jenderal (Pol) Sutanto, menilai Adang sebagai sosok
perwira Polri yang memiliki komitmen jelas, punya dedikasi dan
loyalitas tinggi terhadap kepentingan institusi Polri sepanjang
pengabdiannya. “Inilah yang menjadikan Adang tetap eksis di
lingkungan Polri ataupun di luar Polri. Adang teguh memegang prinsip
dan disiplin tinggi, yang patut jadi teladan bagi generasi muda
Polri,” ungkap Sutanto.

Kini Adang menjadi salah satu calon Gubernur DKI Jakarta periode
2007-2012. Diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Adang
berpasangan dengan Dani Anwar, bertarung dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.
Mengapa Adang bersedia dicalonkan menjadi orang nomor satu di
pemerintahan Provinsi DKI Jakarta?

Dalam percakapan dengan Kompas hari Minggu (1/7) di rumahnya di
kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Adang mengungkapkan
alasannya. “Sebetulnya ini alasan sentimental. Saya sudah 58 tahun
hidup di Jakarta. Saya ingin berbuat lebih banyak lagi untuk bangsa
ini,” kata Adang.

Awalnya, tahun 2006, Adang berjumpa dengan Dani Anwar (39),
generasi muda yang penuh idealisme dari PKS. Selama satu tahun
terakhir ini, Dani Anwar dan Triwisaksana (Ketua Umum Dewan Pimpinan
Wilayah PKS DKI Jakarta) “bergaul” dengan Adang. “Kami sering
bertemu dan ternyata memiliki kimiawi yang sama,” katanya.

Sepanjang hidupnya, Adang mengaku dia tak pernah lepas dari
idealisme dan pembaruan. “Kalau ada orang yang tak punya idealisme
dan tak mau berubah, orang itu sudah lama mati. Hidup ini harus
punya nilai tambah,” ungkap ayah dari tiga anak ini.

Selama 36 tahun pengabdiannya bertugas di Polri, Adang berproses
sebagai pemimpin, mulai dari kepala kepolisian sektor, kepala
kepolisian resor, kepala kepolisian daerah, sampai wakil kepala
Polri. “Kalau saya diizinkan dan dipilih masyarakat sebagai Gubernur
DKI, lihat saya sebagai pemimpin, manajer yang mengelola Kota
Jakarta,” ujar Adang.

Dia merencanakan memberi kewenangan penuh kepada wali kota di
wilayah DKI Jakarta untuk mengatur daerah masing-masing. “Kelak
persaingan antar-wali kota sangat ketat untuk memajukan wilayah
masing-masing,” kata Adang yang banyak meneriakkan slogan
kampanye, “Ayo Benahi Jakarta.”

Tidak akan ke arah ekstrem
Tampilnya Adang-Dani sebagai calon gubernur DKI Jakarta yang
diusung PKS, partai pemenang pemilu di Jakarta, tak luput
menimbulkan kekhawatiran dari sebagian masyarakat Jakarta mengenai ke mana
Jakarta akan dibawa. “Ada kampanye hitam yang menyebutkan, jangan
pilih Adang sebab nanti tempat hiburan dan mal akan ditutup dan
semua perempuan di Jakarta diwajibkan memakai jilbab. Saya tak akan
membawa Jakarta ke arah ekstrem. NKRI dan Pancasila adalah harga mati,”
katanya.

Adang menceritakan pernah bertemu dengan sejumlah pengusaha muda
di Hotel Ritz-Carlton. Mereka meminta Adang tidak menjadikan Jakarta
seperti Kota Tangerang. “Saya balik bertanya, Wali Kota Tangerang
berasal dari mana? Bukan dari PKS, kan? Saya lihat PKS ini anak-anak
muda yang berpendidikan tinggi,” tuturnya.

Adang juga melihat saat ini pertarungan politik dalam pilkada
sudah masuk dalam situasi kampanye hitam, menyudutkan dirinya dan
PKS. Misalnya, anaknya dikabarkan pernah terlibat narkoba atau PKS
akan meniadakan maulid dan tahlil. “Saya melihat, dalam
pertandingan, selalu ada yang menang dan yang kalah. Demikian juga
dalam pilkada ini. Saya berharap masyarakat didewasakan untuk
berpolitik,” ujarnya.

Menurut Adang, PKS memaklumi sikap Adang soal NKRI. “Sejak
bertugas sebagai perwira Polri, saya selalu mengingatkan banyak
pihak bahwa NKRI dan Pancasila adalah harga mati. Jakarta adalah kota
internasional, kota dengan keberagaman, kota tempat perwakilan luar
negeri bermukim. Semua warga Jakarta harus maju, termasuk non-Muslim
dan orang Tionghoa punya hak yang sama,” janji Adang. “Kita tidak
bisa melawan kebhinekaan itu,” kata Adang yang menegaskan
koalisinya, koalisi dengan rakyat.

Kekayaan Adang senilai Rp 17,34 miliar tak luput mengundang
pergunjingan dan pertanyaan. Namun, ia menegaskan, “Itu rezeki
keluarga. Kalau saya sih enggak punya apa-apa,” katanya. Istrinya,
Nunun Nurbaiti, adalah seorang pengusaha. Dia juga mengaku tak punya
mahar politik ke PKS. “Kalau PKS mau buka rekening, silakan saja,”
katanya lagi.

Tokoh reformasi Polri
Salah satu prestasi Adang saat mengabdi di jajaran Polri saat
menjadi Ketua Tim Reformasi Polri adalah memisahkan Polri dari ABRI.
Bersama Letjen TNI Agus Widjojo, Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah
(alm), Prof Satjipto Rahardjo, Prof Awaloedin Djamin, dan Prof JE
Sahetapy, diterbitkanlah kajian bertajuk Reaktualisasi Kedudukan,
Fungsi dan Peran Polri.

Adang lalu dibantu sejumlah perwira Polri membuat “Buku Biru
Polri” berjudul Reformasi Menuju Polri yang Profesional meski
menghadapi banyak tantangan. Buku itu dibuat menjelang 1 Juli 1999
di Sespim Polri Lembang, Bandung. Yang paling mendasar dari buku itu
adalah Polri harus segera mengubah paradigma di bidang instrumen,
struktur, dan kultur.

Di mata ketiga anaknya, Adang sangat teguh dan disiplin. “He is
a wonderful father. Setiap saya butuh pendapat dan nasihatnya, papa
selalu ada dan bisa menyelesaikan masalah,” kata Ratna Farida (27),
anak ketiga Adang.

Adang dan istrinya berhasil mengantar anak-anak mereka menjadi
anak-anak yang sukses. Adang juga ikut merancang pemisahan Polri
dari ABRI dan tumbuh mandiri seperti saat ini. Akankah Adang
Daradjatun, jika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, juga
berhasil mengelola Kota Jakarta? Waktulah yang akan menjawabnya!

Harta Kekayaan Adang Daradjatun
Per 31 Januari 2007

Tanah dan bangunan Rp 12.638.278.000
Alat transportasi (5 mobil + 2 motor) Rp 1.335.000.000
Logam mulia, batu mulia, barang-barang seni dan antik, dan benda
bergerak lainnya Rp 1.220.250.000
– Surat berharga Rp 1.550.000.000
– Giro dan setara kas lainnya Rp 656.311.681
– Dollar AS: 42.592

Total kekayaan: Rp 17.399.839.681
42.592 dollar AS

Komisaris Jenderal (Purn) Drs H Adang Daradjatun
* Nama Lengkap: Adang Daradjatun
* Tempat, tanggal Lahir: Bogor, Jawa Barat, 13 Mei 1949
* Agama: Islam
* Jabatan terakhir: Wakil Kepala Polri (16 Juli 2004-Desember 2006)
* Pendidikan:
* Umum:
– SD, Jakarta
– SMP, Jakarta
– SMA 1 Budi Utomo, Jakarta (tidak selesai, pindah ke Bandung)
– SMA 3, Bandung (1968)
– Akademi Kepolisian (1971)
– Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1980)
* Khusus:
– Susjur Pa Intel (1973)
– Suspa Rengar Hankam (1983)
– Suspa Senior Intel (1986)
– Sespimpol (1986)
– Sus Manajemen Hankam II (1987)
– Tar Sospol ABRI (1989)
– Sesko ABRI (1994)
* Perjalanan Karier:
– Inspektur Dinas Komando Sektor Kota 711, Jakarta Pusat (1971)
– Kasi Pengawasan Keselamatan Negara (PKN) Komando Sektor Kota
711,
Jakarta Pusat (1972)
– Kasi Sabhara Komando Sektor Kota 722, Jakarta Utara (1975)
– Ajudan Menhankam/Pangab (1976)
– Kepala Polsek Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (1980)
– Kasubbag Anev Srena Polda Metro Jaya (1983)
– Karoops Polres Jaksel Polda Metro Jaya (1983)
– Wakil Kepala Polres Jaksel Polda Metro Jaya (1984)
– Kabag Sosbud Dit Intelijen dan Pengamanan Polda Metro Jaya (1986)
– Kabag Sospol Dit Intelijen dan Pengamanan Polri (1987)
– Kabag Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak Dit Intelpam
Polri
(1989)
– Kadit Intelijen dan Pengamanan Polda Maluku (1990)
– Wakil Kepala subdit Pengawasan Senjata Api dan Bahan Peledak Dit
Intelpam Polri (1992)
– Instruktur Utama/Gadik Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (1993)
– Perwira Pembantu III/Perencanaan Program dan Anggaran Srena
Polri
(1994)
– Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Polri (1997)
– Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Polri (1997)
– Kepala Polda Jawa Barat (2000)
– Koordinator Staf Ahli Kepala Polri (Koorsahli) (2001)
– Kepala Badan Pembinaan Keamanan Polri (Kababinkam) (2002)
– Wakapolri (2004-2006)
* Keluarga :
– Istri: Nunun Nurbaeti
– Anak: 4 orang
1. Adri Achmad Daradjatun (lahir, 26 Oktober 1972)
2. Tuza Junius Daradjatun (lahir, 21 Juni 1975)
3. Ratna Farida Daradjatun (lahir, 11 April 1980)
4. Muhammad Azara Daradjatun (lahir, 30 September 1995)


FOTO di blog ini foto saya bersama Adang Daradjatun, salah satu kandidat Gubernur DKI Jakarta, saat mewawancarai di rumah pribadinya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s