Belajar dari Kota Kitakyushu, dari "Gray City" ke "Green City"

Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Asian-Pacific City Summit di Kitakyushu City, Jepang, dan dilanjutkan dengan Asian City Journalist Conference di Fukuoka, Jepang 28 Juli-2 Agustus 2007. Saya satu-satunya jurnalis dari Indonesia, mewakili Harian Kompas Jakarta. Pada hari kedua, peserta Asian-Pacific City Summit mendapatkan kesempatan berkunjung ke sejumlah industri di Kitakyushu yang merupakan industri ramah lingkungan, termasuk industri pengolah sampah.

Berikut catatan dari Kitakyushu City, Jepang, yang dimuat di Harian Kompas.

KOMPAS

Rabu, 01 Aug 2007
Halaman: 25
Penulis: R. Adhi Kusumaputra
Lingkungan
BELAJAR DARI KOTA KITAKYUSHU, DARI “GRAY CITY” KE “GREEN CITY”
Oleh R Adhi Kusumaputra
Kitakyushu adalah kota perdagangan dan industri berkelas
internasional yang saat ini berpenduduk hampir satu juta jiwa. Kota
Kitakyushu terbentuk tahun 1963, gabungan dari kota-kota sekitarnya,
yakni Moji, Kokura, Wakamatsu, Yahata, dan Tobata.
Tahun 1960-an, ketika Zona Industri Kitakyushu dibangun dan
menjadi empat besar zona industri utama di Jepang, kota ini
menghadapi persoalan serius dalam hal polusi. Saat itu Jepang
mencapai kemajuan luar biasa di bidang ekonomi.
Namun, kemajuan itu harus “dibayar” mahal dengan kondisi
lingkungan hidup di kota ini yang mengalami titik nadir. Bayangkan,
kawasan Teluk Dokai menjadi kawasan penuh polusi. Langit gelap karena
polusi udara. Perairan sekitar Teluk Dokai tercemar.
Menghadapi persoalan pencemaran lingkungan hidup yang teramat
parah, masyarakat Kota Kitakyushu bersama pemerintah setempat dan
sektor industri bergandengan tangan memperbaiki kerusakan lingkungan
tersebut.
Kini lebih dari 100 spesies ikan dapat hidup kembali di perairan
Teluk Dokai. Langit kota pun kini menjadi biru lagi. Kitakyushu
berhasil mengembalikan keindahan laut dan langitnya.
Bagaimana caranya Kitakyushu membersihkan polusi di kota industri
itu? Semua pihak serius mencari solusi atas problem ini. Tahun 1971,
setelah Pemerintah Jepang membentuk Badan Lingkungan Hidup,
Pemerintah Kota Kitakyushu membentuk Biro Pengawas Polusi Lingkungan.
Membuat peraturan daerah dengan sanksi lebih keras, upayapenting
mencegah polusi berkelanjutan di Kitakyushu. Pemerintah setempat juga
membuat gerakan “Green Kitakyushu Plan”.
Upaya serius berbagai elemen masyarakat dan pemerintah ini
membuahkan hasil memuaskan. Organization for Economic Co-operation
and Development memperkenalkan perbaikan lingkungan Kitakyushu kepada
masyarakat dunia, sebagai contoh sukses dari gray city menjadi green
city. Kini, ribuan orang dari seluruh dunia belajar soal lingkungan
di Kitakyushu, termasuk dari Indonesia.
Serius di segala lini
Keseriusan Kitakyushu ini terlihat pula dari pencanangan kota ini
menjadi Kitakyushu Eco-Town Project sejak tahun 1997. Taman Riset dan
Iptek yang mendalami riset lingkungan hidup dibentuk.
Kota ini juga memiliki industri ramah lingkungan, seperti Yaskawa
Electric, industri robot terkemuka di dunia. “Semua bisnis Yaskawa
memperoleh sertifikasi ISO 14001 pada tahun 2001,” kata General
Affairs Division Yaskawa Electric Corporation Takuya Suematsu kepada
peserta Asian-Pacific City Summit yang mengunjungi industri itu,
Selasa (31/7).
Wali Kota Kitakyushu Kenji Kitahashi mendorong sektor swasta
mengembangkan industri daur ulang. Kitakyushu Akikan Recycle Station
(KARS), yang mendaur ulang sampah kaleng minuman, botol plastik, dan
gelas menjadi barang bermanfaat. “Bisnis KARS sejak tahun 2000 ini
mengumpulkan barang bekas dan mendaur ulangnya,” kata Direktur KARS
Chikumoto Yuuki.
Pemerintah Jepang mendorong swasta membangun industri daur ulang
dan memberi subsidi. EcoWood, misalnya, mendaur ulang semua bahan
dari kayu dan kemudian menjadikannya kayu baru untuk bahan proyek
properti di Jepang.
Yang juga menarik, pemerintah setempat membangun museum
lingkungan hidup, di mana anak-anak prasekolah sampai mahasiswa
belajar, memperoleh informasi, dan melakukan aktivitas terkait
lingkungan di museum ini.
“Anak-anak harus diingatkan sejak awal, persoalan lingkungan ini
adalah problem serius,” kata Morofuzi Miyoko, kepala museum setempat.

FOTO di blog ini foto saya bersama jurnalis Asia yang mengikuti Asian-Pacific City Summit dan Asian City Journalist Conference 28 Juli-2 Agustus 2007 di Kitakyushu dan Fukuoka (atas) dan foto pemandangan Kitakyushu City dari lantai 24 Rihga Hotel Kokura Kitakyushu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s