Sosok: Mahmudin, Karang Hias dari Kepulauan Seribu



KOMPAS

Jumat, 13 Jul 2007

Halaman: 16

Penulis: R. Adhi Kusumaputra


Sosok
MAHMUDIN, KARANG HIAS DARI KEPULAUAN SERIBU

Oleh R Adhi Kusumaputra

Dia tak takut untuk berubah. Pria yang awalnya bercita-cita
menjadi guru ini harus bertahan hidup sebagai nelayan selama puluhan
tahun. Kini, Mahmudin berhasil menjadi pengusaha karang hias dari
Kepulauan Seribu yang beromzet jutaan rupiah per bulan.

Pria kelahiran Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta,
yang kini berusia 45 tahun itu memulai budidaya karang hias sekitar
awal tahun 2003. Mahmudin yang suka belajar dan mengajar ini tak ragu
mencoba pengetahuan yang didapatnya dari Kepala Balai Taman Nasional
Laut Kepulauan Seribu atau BTNLKpS Sumarto.

“Pak Sumarto mengajarkan kami, nelayan di sini, untuk mencoba
melakukan transplantasi karang hias,” kata Mahmudin. Dia termasuk
nelayan yang rajin mencoba pengetahuan baru dari 108 nelayan yang
dibina Kepala BTNLKpS waktu itu.

Mereka terbagi dalam 18 kelompok masyarakat nelayan, yang
kemudian beralih melakukan budidaya karang hias. Dengan melakukan
budidaya karang hias, nelayan tak melulu menyandarkan penghasilan
mereka dari hasil laut, tetapi mendapat tambahan dengan usaha karang
hias.

Di sisi lain, budidaya karang hias yang mereka lakukan juga
merupakan upaya membangun konservasi sumber daya alam laut,
memulihkan lingkungan, serta memperbaiki kondisi terumbu karang.
Kelebihan Mahmudin lainnya adalah kejujuran dan rasa tanggung
jawabnya.

“Bapak angkat yang memberinya modal jadi senang karena dia
jujur, mau belajar manajemen, teknologi, dan pengetahuan tentang
pasar. Dia kayaknya pantang putus asa, juga jeli melihat peluang
pemasaran,” kataSumarto tentang Mahmudin.

Keberhasilan Mahmudin menjalankan usaha karang hias juga telah
menjadi “promosi” bagi warga lain di Kepulauan Seribu. Kabar sukses
dia yang menyebar dari mulut ke mulut membuat warga lain tak ragu
untuk mencontohnya membudidayakan karang hias.

Padahal, cerita Mahmudin, dia memulai usaha karang hias dengan
modal beberapa ribu rupiah saja. Modalnya bisa dikatakan hanya semen
dan paralon.

Kini, dia bisa menjual karang hias hasil budidaya tersebut
seharga mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 67.000. Menurut dia, tak
kurang dari 114 jenis karang hias yang sudah berhasil dibudidayakan.

Penghasilan meningkat
Sejak budidaya karang hias dikembangkan di Kepulauan Seribu, bisa
dikatakan penghasilan warga yang melakukan budidaya itu meningkat.
Sebagai perbandingan, sebelumnya warga yang semula langsung mengambil
karang hias dari bawah laut hanya memperoleh sekitar Rp 1 juta per
bulan.

Namun, dengan budidaya karang hias yang dilakukan di daratan,
penghasilan mereka bisa meningkat pesat. Mahmudin, misalnya, bisa
berpenghasilan sampai jutaan rupiah per bulan. Ini antara lain karena
konsumen pun lebih menghargai karang hias dari hasil budidaya.

Tak hanya penghasilannya yang meningkat, Mahmudin juga mampu
menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar tempat tinggalnya. Dari
awalnya hanya mengerjakan sendiri budidaya karang hias, kini dia bisa
mempekerjakan 21 orang.

“Ada delapan orang yang mengerjakan budidaya karang hias di
Pulau Pramuka, tujuh orang di Pulau Panggang, dan enam orang lainnya
di Pulau Karya,”tutur Mahmudin.

Kebutuhan ekonomi
Mahmudin bercerita, dia sebenarnya bercita-cita menjadi guru.
Karena itu, dia memilih belajar di sebuah pondok pesantren di Jawa
Tengah. Dia lalu melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Situ
Gintung, Balaraja, Tangerang, Banten.

“Selepas dari pesantren, saya merasa punya kewajiban untuk
mengajar. Saya ingin membagi pengetahuan yang saya miliki. Saya
memilih kembali ke Pulau Pramuka,” ujarnya.

Akan tetapi, desakan kebutuhan ekonomi membuat Mahmudin tak dapat
hanya mengandalkan penghasilan dari mengajar. Dia lalu melakukan hal
yang juga dikerjakan warga pulau lainnya, yakni mencari karang hias
di laut dan menjualnya ke pasar meski diakui ini pun hasilnya tidak
seberapa.

Ketika itu, meski hal itu merusak lingkungan, seperti warga
Kepulauan Seribu pada umumnya, mereka tak menyadari hal itu. Kalaupun
sebagian ada yang tahu, umumnya beralasan karena tak ada penghasilan
lain demi mempertahankan hidup.

“Makanya, saya bersyukur sekali bisa mendapat ilmu budidaya
karang hias dari Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu,” ujar
Mahmudin.

Ia mengaku tak langsung meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan
untuk menekuni budidaya karang hias. Bedanya, nelayan yang sudah
mendapat pengetahuan tentang budidaya karang hias biasanya tak
lagi “semena-mena” ketika mencari ikan tangkapan.

“Kami jadi lebih berhati-hati kalau lagi menyelam. Kami berusaha
tidak menginjak atau menyentuh terumbu karang. Alasannya, kata Pak
Sumarto, menyentuh terumbu karang itu sajabisa merusak habitat,”
ujar Mahmudin.

Segi positif usaha budidaya karang hias ini adalah mampu
mengalihkan kebiasaan buruk nelayan. Semula, mereka merusak habitat
terumbu karang dan menjual karang hias ke pasar, kini mereka sudah
mengandalkan hasil budidaya.

Ketekunan dan kejujuran Mahmudin mulai membuahkan hasil. Selama
bertahun-tahun sebelumnya dia hanya mamputinggal di rumah kontrakan
di Pulau Pramuka. Kini, dari hasil budidaya karang hias tersebut dia
bisa membeli tanah seluas sekitar 180 meter persegi.

“Ah, jangan dibilang saya sudah berhasil. Masih jauh…,” ucap
Mahmudin merendah. Katanya, tanah itu dibelinya dengan harga sekitar
Rp 26 juta. “Buat saya, itu jumlah uang yang tidak sedikit ya,” kata
Mahmudin menambahkan.

Meski dia telah “berhasil”menjadi pengusaha budidaya karang
hias, Mahmudin tetap melaut. “Mungkin memang karena punya darah
nelayan, jadi kalau tidak melaut rasanya kurang lengkap,” ujar pria
yang kini melaut hanya sebagai pengisi waktu itu.

Bagaimanapun, dari hasil ketekunannya berbudidaya karang hias,
Mahmudin bisa mempunyai usaha sendiri, bahkan dia mampu memberi
lapangan kerja bagi 21 orang lain.


BIODATA
* Nama :Mahmudin
* Lahir :Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, tahun 1962
* Pendidikan:
-Pondok Pesantren di Jawa Tengah
-Pondok Pesantren Situ Gintung, Balaraja, Tangerang
* Istri: Rubi’ah (36)
* Anak:
1.Choirul Umam (8)
2.Nur Asinah (6)

FOTO di blog ini foto Mahmudin, oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s