Mangrove: Belajar dari Kepulauan Seribu

Ke Kepulauan Seribu lagi! Kali ini fokus garapan lebih pada mangrove. Bagaimana penanaman mangrove di Kepulauan Seribu, yang dirintis oleh Sumarto, Kepala Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, berhasil melibatkan masyarakat setempat. Penanaman mangrove di pulau sangat kecil di media pasir berkarang yang dilakukan di Kepulauan Seribu, menjadi model nasional.

KOMPAS
Metropolitan
Minggu, 08 Juli 2007

mangrove

Belajar dari Kepulauan Seribu

R Adhi Kusumaputra dan Iwan Santosa

Mangrove merupakan salah satu ekosistem di daerah pasang surut di wilayah pesisir. Mangrove bermanfaat bagi perlindungan pulau dari abrasi, intrusi air laut, dan angin.

Kehadiran mangrove sangat dibutuhkan untuk kehidupan biota laut, baik sebagai rumah, tempat berlindung, bermain, kawin, maupun berkembang biak.
Kita perlu belajar dari Kepulauan Seribu, Jakarta, terutama bagaimana penanaman mangrove di 15 pulau di Kepulauan Seribu dapat berhasil dan mengajak serta masyarakat setempat.

Awalnya, penanaman mangrove di sejumlah pulau di Kepulauan Seribu sejak tahun 1973 selalu gagal. Ini terjadi karena penanaman mangrove di pulau sangat kecil di Kepulauan Seribu disamakan dengan pola penanaman di pulau besar yang berlumpur dan tak ada arusnya.

“Di pulau sangat kecil, medianya pasir karang dan tak ada lumpur. Selain itu, miskin hara (tak ada lumpur), ada arus laut, dan kondisi laut dangkal menjadi lokasi mata pencarian masyarakat untuk menangkap ikan dan menjaring kerang,” kata Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu Sumarto dalam percakapan di Pulau Pramuka, Sabtu (7/7).

Akan tetapi, pada tahun 2003, Sumarto mencoba menanam mangrove dengan sistem rumpun berjarak. Ide ini muncul setelah secara tidak sengaja ia menemukan 2.000 batang pohon mangrove yang tertinggal di laut yang masih hidup. Ini “peninggalan” penanaman tahun 1997 dengan pola tanam 2 x 2, tetapi ternyata semuanya mati.

Tahun 2003, percobaan ini dilakukan di Pulau Pramuka dengan cara swadana, swakarya, dan swakarsa. Pada tahun 2004, hasilnya bagus.

Melalui program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Nasional (Gerhan) tahun 2005- 2006 oleh Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan, ditanamlah mangrove dengan sistem rumpun berjarak. Dalam satu tahun itu ditanam 1,81 juta mangrove di 15 pulau di Kepulauan Seribu, yang tingkat keberhasilannya di atas 70 persen-80 persen.

Penanaman mangrove di Kepulauan Seribu sangat bergantung pada musim. Yang terbaik sebenarnya mangrove berdaun dua (satu pasang) sampai berdaun enam (tiga pasang). Penanaman mangrove yang baik dilakukan saat musim ombak tidak besar. Biasanya bulan Maret, Juni, Juli, September, dan Oktober.

Peran serta masyarakat sangat penting dalam penanaman mangrove ini. Dulu, kata Sumarto, tak ada masyarakat yang mau menanam mangrove. Namun, setelah mereka tahu ilmunya, masyarakat pun mulai mandiri. Bahkan, sebetulnya mangrove yang ditanam masyarakat lebih bagus karena ditanami pupuk.

Jarak per rumpun adalah satu meter. Satu rumpun berisi 550 batang dengan panjang 50 batang dan lebar 11 batang.

Ada beberapa tahapan menanam mangrove. Pertama, memilih persemaian mangrove dan mencari bibit yang sehat berdaun dua sampai enam. Kedua, prakondisi, dengan aklimatisasi salitinas (kadar garam) antara 30 dan 35 ppm selama 7-10 hari. Pada waktu persemaian disiram air tawar sehingga salitinas rendah. Ketiga, penanaman rapat per rumpun berjumlah 550 batang, 50 batang (panjang), dan 11 batang (lebar) dengan kedalaman 20-25 cm. Dalam empat tahun, tinggi mangrove itu 3 meter. Tinggi mangrove maksimal 4-5 meter.

Mengapa perlu berumpun? Ini berfungsi untuk kekokohan, selain menjerat hara (lumpur) dan tanda ada kegiatan sehingga nelayan tidak menebar jaring di sana. Selain itu, dilakukan pula pemagaran di luar lokasi penanaman mangrove dengan besi bekel berjarak 4 meter, disisipi bambu rangkap setiap meternya, lalu diberi jejaring. Fungsinya untuk menahan sampah agar tak masuk ke lokasi mangrove.

Tahap berikutnya dilakukan pengawasan intensif 3-6 bulan terhadap pagar dan bibit mangrove yang ditanam. Kalau, misalnya tercabut, mangrove akan ditanami lagi. Pengawasan dilakukan sampai akarnya mangrove mencengkeram.

Mengapa masyarakat mau menanam mangrove? Masyarakat melihat ekosistem mangrove bermanfaat bagi keberlanjutan usaha mata pencaharian nelayan. Semua biota laut akan datang ke sana karena menganggap mangrove sebagai rumah, tempat bermain, mencari makan, kawin, dan berkembang biak. Beberapa satwa buruan ada di mangrove, seperti kerang dara dan kepiting bakau.

Masyarakat setempat melalui proyek Gerhan ini memperoleh uang Rp 1.000 setiap batang mangrove yang ditanam, mulai dari survei lokasi, mencari benih dan merawatnya, hingga tumbuh selama 2-4 bulan. Kini ada 23 kelompok, masing-masing 3-8 orang. Mereka menanam 1,81 juta mangrove di 15 pulau pada tahun 2005-2006, ekuivalen dengan 600 hektar, senilai Rp 4 miliar.

Program ini sukses. Sejak Januari 2007, masyarakat secara swadana membangun tempat persemaian mangrove dan menanam mangrove di semua pulau permukiman. Masyarakat akan dibayar pada September 2007 untuk 3,5 juta mangrove yang ditanam di 15 pulau.
FOTO di blog ini foto mangrove di Kepulauan Seribu. Foto-foto oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s