Nama dan Peristiwa: Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu. Saya kenal dia ketika pada awal tahun 2002 ketika kumpulan cerpen pertamanya, “Mereka Bilang, Saya Monyet!” terbit. Waktu itu saya masih membantu Harian Warta Kota. Waktu itu saya ingat, ngobrol bareng Djenar di Pisa Cafe, Menteng, Jakarta (bersama Mas Hertanto) pada suatu malam yang cerah, disinari bulan purnama. Ngobrol di luar, menikmati suasana alfresco dining, karena di dalam musik band terlalu keras suaranya.
Ternyata buku pertama Djenar itu meledak, mengalami cetak ulang sampai 8 kali, masuk dalam nominasi 10 besar Khatulistiwa Literary Award tahun 2003. Buku keduanya, “Jangan Main-main dengan Kelaminmu!” terbit tahun 2005, mengalami cetak ulang dalam dua hari setelah diluncurkan.
Karya Djenar lainnya, “Nayla” terpilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2003. Djenar hingga kini tetap menulis. Selain itu terjun dalam film. “Pemahat Borobudur” adalah film pertamanya, tapi diluncurkan baru belakangan ini. Sedangkan “Koper” garapan Richard Oh, film kedua Djenar, malah lebih dulu ditayangkan di bioskop layar lebar.
Pada peluncuran buku kumpulan cerpen Kompas 2007 “Ripin”, Djenar muncul lagi. Salah satu cerpennya, “Air” masuk dalam sepuluh cerpen pilihan Kompas.
KOMPAS
Senin, 02 Jul 2007
Halaman: 32
Penulis: ksp


Nama & Peristiwa
Djenar Maesa Ayu
“PEMAHAT BOROBUDUR”

Akhirnya, film pertama yang melibatkan cerpenis Djenar Maesa Ayu
(34) sebagai pemain akan diputar di bioskop-bioskop. Film pertama
Djenar arahan sutradara Arswendo Atmowiloto itu berjudul Pemahat
Borobudur. Rencananya, film tersebut diputar perdana pada 3 Juli
besok.

Dalam film itu, Djenar berperan sebagai Mbak Mi, ibu seorang anak
yang lumpuh layuh. Dia bekerja sebagai pedagang asongan di kawasan
wisata Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

“Saya suka ceritanya. Inti pesan Pemahat Borobudur adalah
kejujuran,” ungkap Djenar di Jakarta, pekan lalu.

“Zaman sekarang kejujuran itu barang mewah. Ketika kita berkata
benar, ada risiko dimarjinalkan. Dalam film ini, konflik muncul
setelah tokoh Amat secara jujur menolak penghargaan yang diberikan
bupati. Amat merasa tak layak menerimanya karena pahatan itu bukan
karyanya. Kejujuran itu membuat dia dimusuhi warga desa.”

Meski bermain film, dia tak melupakan “tugasnya” menulis cerpen.
Salah satu cerpennya, Air, termasuk dalam Cerpen Kompas Pilihan 2005-
2006.

“Tahun ini cerpenku di Kompas bukan yang terbaik. Kecewa sih,
tetapi enggak apa-apalah, kan, masih ada tahun depan ya,” ujarnya.
(KSP)

FOTO di blog ini foto Djenar Maesa Ayu, oleh R Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s